
Saat Dina mau memejamkan matanya, ia mendengar pintu kamarnya di ketuk beberapa kali. Dina pun segera mencoba berjalan dan membukakan pintu.
"Loh Bulan, David , Bintang? kok di sini? ada apa sayang? ada perlu apa?" tanya Anabel.
"Kata Bunda, besok Tante cantik mau pergi dari sini ya? katanya Tante cantik sudah keterima di tempat lain ya yang gajinya lebih mahal, sehingga tante cantik pergi dari rumah sini ya dan memilih bekerja di sana?" tanya Bulan.
"Humm, Bunda kalian bilang seperti itu ya? Humm iya, besok Tante harus pergi dari sini. Maaf ya.."
ucap Dina.
"Tapi kenapa Tante? Tante butuh uang ya? tadi Bintang coba bilang ke Bunda supaya tambahin gaji Tante saja, supaya Tante tidak keluar dari rumah ini. Tapi kata Bunda, Bunda gak punya uang
lebih untuk meng gaji Tante dengan gaji yang lebih besar dari sebelumnya dan kata Bunda, tante lebih nyaman dengan rumah di tempat baru kerjaan Tante ya? kaya Bunda tante gak sayang kami, sehingga mudah buat Tante ninggalin kami
karena uang? betul Tante? hiks." ucap Bintang menangis.
"Jika Tante gak ada uang, ini celengan kami bisa buat Tante, tapi tolong jangan pergi dari rumah ini
ya.." ucapnya kembali.
"Sayang, Tante pergi dari sini bukan karena gak sayang kalian. Tapi karena memang Tante harus pergi dari rumah ini, dan uang ini simpan buat kalian saja ya. Tante gak butuh uang ini. Okeee
tapi perlu kalian ingat , Tante tetap sayang kalian, jangan sedih ya. Nanti kita pasti bertemu lagi bila Allah mengizinkan dan Tante akan nengok kalian
bila ada waktu." ucap Dina.
"Tante janji?" tanya Bulan, Bintang dan David.
"Iya insya Allah. Yaudah sekarang kan uda malam, kalian tidur ya. Dan celengan ini simpan buat kalian, oke." ucap Dina.
"Iya Tante, makasih ya. Kami bobok dulu ya, Tante juga bobok.." ucap mereka bertiga.
"Iya sayang.." ucap Dina dengan tersenyum.
"Ohya Tante..." ucap Bulan.
"Iya sayang ada apa?" tanya Dina.
"Ayok, jangan ganggu Tante mau tidur Bulan." ucap David.
"Bentar ih, aku mau tanya.." ucap Bintang kembali.
__ADS_1
"Hehehe iya gak papa. Iya sayang, mau tanya apa?" tanya Dina.
"Besok pagi Tante pulang ya." tanya Bulan.
"Iya sayang.." ucap Dina.
"Yaaaah..." ucap Bulan , Bintang dan David sedih.
"Jangan sedih dong, bila Allah izinkan kita bertemu kembali kok." ucap Dina.
"Sinii, mendekat ke Tante ingin meluk kalian sebelum besok Tante gak ada lagi kesempatan meluk kalian. Tante sayang kalian, jangan nangis ya." ucap Dina menghapus air mata mereka dan
memeluknya.
"Pasti kami merindukan Tante..." ucap Mereka, dan memeluk kembali.
"Yaudah, udah kan kangen kangennya. Supaya besok bisa anter kepergian Tante, istirahat sekarang ya, uda malam. Bobok ya.." ucap Dina.
"Iya Tante..." ucap mereka yang memeluk Dina kembali dan kemudian keluar dari kamar Dina.
Dina pun tersenyum setelah kepergian mereka, setelah itu Dina segera memejamkan matanya untuk mengistirahatkan tubuhnya.
Keesokannya...
Pagi ini , Dina segera bersiap untuk pergi dari rumah ini.
Setelah di rasa, semua barang sudah ia bawa. Dina pun segera ke ruang tamu untuk pamit pulang, sebelum itu ia sudah menuliskan surat untuk mereka.
"Bunda, kami gak mau beli makanan. Kami ingin makan masakan Tante Dina." ucap Bulan.
"Iya Tante.." ucap David dan Bintang.
"Tapi Dina, hari ini harus pergi dari sini. Dia gak ada waktu masakin buat kalian." ucap April.
"Iya nak itu benar, kan Tante Dina harus pulang hari ini untuk segera bekerja di rumah barunya jadi gak bisa masakkin buat kita." ucap Anabel.
"Pokoknya kami gak mau makan, kalau bukan masakan Tante Dina." ucap Bulan.
"Iya Bunda, apa salahnya kan hari ini terakhir Tante Dina di sini, kami ingin merasakan masakan Tante Dina." ucap David.
"Iya Ma, Bel apa salahnya. Gak papa kali, kasian anak anak nanti gak nafsu makan." ucap Ferdi.
__ADS_1
"Mas..tapi..." ucap Anabel, yang tidak melanjutkan ucapannya karena April memotong pembicaraan mereka
"Fer, kamu harusnya paham...."ucap April yang menghentikan pembicaraannya karena Dina tiba
tiba berbicara.
"Maaf semuanya, Dina gak papa kok masakkin buat Bulan, Bintang juga David. Dina senang kok karena ini juga hari terakhir Dina di sini. Dina juga ingin memasakkan mereka yang spesial untuk
terakhir kalinya. Maaf, bila Nyonya atau Ibu berkenan." ucap Dina.
"Yeee..." ucap David, Bulan dan Bintang senang, yang semakin membuat Anabel dan April kesal.
"Maaf Bu, Nyonya.. bagaimana?" tanya Dina.
"Terserah kamu sajalah Din." ucap Anabel.
"Ya, terserah kamu. Jika emang gak bisa masakkin buat mereka jangan paksain, barangkali Nyonya barumu sudah menunggu. Setelah ini ingat perkataanmu tadi malam." ucap April dengan
ketus.
"Baik Bu, Nyonya saya masak dulu ya." ucap Dina.
"Iya, cepetan jangan lama. Kami lapar.." ucap April.
Dina pun segera membuatkan nasi goreng bakso dan jus mangga stoberinya untuk mereka, juga jus jeruk dan apel. Setelahnya ia membawa ke meja makan.
"Din, gak ikut makan bersama?" tanya Ferdi, yang justru memancing kecemburuan Anabel. Hingga
Anabel menjatuhkan sendoknya.
"Fer, kamu itu.." ucap April.
"Silahkan Dina kalau mau makan bersama di sini. Ya mas gak papa ajak Dina makan di sini, tapi aku yang akan pergi dari sini." ucap Anabel yang akan berdiri dari duduknya.
"Tolong jangan yank.." ucap Ferdi.
"Oke maafin aku. Dina, maaf kamu bisa makan di manapun yang penting jangan makan di sini bersama kami. Dan kamu Yank terusin makanmu, Dina gak makan di sini kok. Makasih Din sekali lagi sudah mau masakkin buat anak anak." ucap Ferdi.
"Iya, sama sama. Saya makan di sana saja, jadi Nyonya terusin makannya. Jangan sampai karena saya kalian bertengkar karena saya ya, toh saya akan pergi dari sini. Saya permisi..." ucap Dina yang segera berlalu ke dalam. Sedangkan Ferdi hanya mampu menatap istri dan mertuanya dengan menggelengkan kepala, dia benar benar gak habis
fikir dengan apa yang mereka fikirkan. Tapi Ferdi juga tidak berani berkata apapun takut serba salah dan acara makan bersama bubar.
__ADS_1