Ketika Cinta Harus Memilih

Ketika Cinta Harus Memilih
Part 28


__ADS_3

Halaman rumah berlantai dua itu terlihat ramai. Banyak mobil-mobil mewah yang terparkir di halaman rumah itu. Sebuah mobil sedan berwarna hitam, baru saja memasuki pelataran halaman. Setelah memarkirkan mobil, terlihat seorang pria keluar bersama seorang wanita yang terlihat cantik dan elegan.


Rumah itu tidak terasa asing di matanya. Sambil menggandeng lengan pria itu, mereka mulai memasuki ke ruang utama yang sudah didekorasi sedemikian rupa agar terlihat cantik dan mewah. Sejurus, mata wanita itu melihat ke sebuah bangunan kecil di samping rumah utama. Ruangan itu tidak berubah, hanya saja fungsinya sudah kembali seperti semula, yaitu sebagai tempat penyimpanan barang yang sudah tidak terpakai.


Lani menarik nafas panjang dan sesekali memandang Adrian dengan senyum di bibirnya. Dengan menggandeng tangan kekasihnya itu, mereka masuk dan segera menemui yang punya hajat.


"Selamat datang, Pak Adrian," sapa Pak Fauzi yang tidak lain adalah ayahnya Reihan.


"Terima kasih, karena sudah datang di acara saya," lanjut Pak Fauzi sambil menjabat tangan Adrian.


"Perkenalkan, ini tunangan saya," ucap Adrian sambil memperkenalkan Lani pada Pak Fauzi dan istrinya sambil menyerahkan sekotak kado.


"Selamat ya, Om, Tante," ucap Lani dengan lemah lembut dan ramah sambil menjabat tangan pasangan suami istri itu.


"Kalian pasangan yang serasi, beda sama putra Tante yang masih suka sendiri," ucap Ibunya Reihan dengan senyum malu.


Lani hanya tersenyum. Setelah sedikit berbasa basi, akhirnya mereka berdua ikut berbaur dengan tamu lainnya.


"Sepertinya, wajah tunangannya itu tidak asing loh, Pa," ucap wanita paruh baya itu pada suaminya.


"Mungkin saja sebelumnya Mama pernah melihat dia. Tidak usah dipikirkan, fokus saja pada tamu-tamu kita."


Sementara di lantai dua, Reihan sedang berdiri sambil memandang ke lantai bawah hingga pandangannya tertuju ke wajah itu. Wajah yang terlihat selalu tersenyum hingga membuat hatinya merasa nyaman.


"Jangan terlalu melihatnya, nanti orang-orang akan salah paham kepadamu," ucap Ian yang langsung membuyarkan lamunannya dan memaksanya untuk memalingkan pandangannya ke tempat lain.


"Hai, kalian juga datang?" Iva dan Raka yang baru saja datang langsung menyapa mereka.


"Iya, mereka itu rekan bisnisnya Adrian," jelas Lani.


"Oh, begitu. Ayo kita ke atas, teman-teman pasti sudah menunggu," ajak Iva.


"Tidak usah, aku di sini saja temani Adrian," jawab Lani yang enggan meninggalkan kekasihnya itu.


"Baiklah kalau begitu, kami berdua ke atas dulu," ucap Iva sambil melangkah pergi ke lantai dua.


"Kalau kamu mau, kamu boleh gabung sama teman-temanmu itu. Lagi pula kamu pasti bosan karena yang dibicarakan di sini hanya tentang bisnis," bisik Adrian lembut.


"Tidak usah, biar aku di sini saja temani kamu," jawabnya sambil melingkarkan tangannya di lengan lelaki itu.


"Aku tidak apa-apa. Kamu pikir, aku akan cemburu kalau kamu bertemu dengan Reihan? Aku tidak seperti itu, buat apa aku harus cemburu, toh sebentar lagi kita akan menikah." 


"Tidak usah, aku temani kamu saja," ucap Lani yang masih memilih untuk bersama Adrian daripada harus kumpul bersama teman-temannya.


Dengan lembut, Adrian meraih tangan kekasihnya itu dan membawanya ke lantai dua, di mana teman-temannya sudah berkumpul. "Aku titip Lani, ya. Dia pasti bosan di bawah karena topik pembicaraan hanya soal bisnis," ucap Adrian sambil pergi meninggalkannya.

__ADS_1


Lani kemudian memilih duduk di dekat Iva. Dengan senyum, Lani mulai menyapa Reihan yang sedari tadi memandangnya. "Bagaimana kabarnya?" tanya Lani mencoba untuk mencairkan suasana.


"Baik, jadi kalian sudah bertunangan? Selamat, ya."


"Terima kasih," jawab Lani dengan senyum khasnya.


"Sudah lama kita tidak kumpul sama-sama seperti ini. Biasanya kan kita sering kumpul di dalam basecamp, jadi ingin masuk ke basecamp lagi," celetuk Rendi yang membuat mereka jadi bernostalgia.


"Sudah tidak bisa, basecampnya sudah jadi gudang," jawab Reihan.


"Ya elah Rei, basecamp kita kok sudah dijadikan gudang lagi," ucap Rendi sedih.


"Siapa juga yang mau datang ke situ. Daripada kosong, ya dikembalikan lagi fungsinya seperti semula."


"Si Rifal, bagaimana kabarnya?" tanya Reihan pada teman-temannya.


"Dia sudah tinggal di kampung halaman kakeknya, Italia. Bahkan, dia sudah kepincut sama gadis sana," jawab Ian.


Mereka terlihat asyik bernostalgia dengan segala kekonyolan dan kenakalan mereka di masa lalu. Terlihat senyum bahagia terpancar dari wajah mereka. Bahkan, mereka tertawa dan kadang terlihat sedih.


"Apa kamu bahagia?" tanya Reihan tiba-tiba hingga membuat sahabat-sahabatnya langsung paham dan membiarkan mereka berdua melanjutkan pembicaraan tanpa harus meninggalkan mereka, karena mereka takut Adrian akan salah paham. 


"Ya, aku bahagia, bahkan sangat bahagia," jawab Lani dengan senyum.


"Syukurlah. Aku harap, kamu selalu bahagia dengan Adrian."


"Tidak tahu. Kenapa memangnya? Apa kamu mau memperkenalkan aku dengan salah satu temanmu yang cantik?" 


"Kamu itu, sudah punya Mutia, kenapa mau cari yang lain?"


"Tidak jadi, dia sudah membatalkan perjodohan itu," jawab Reihan yang membuat Lani sempat terkejut.


"Kenapa? Apa, kamu mau kembali lagi padaku?" Sontak saja pertanyaan Reihan yang terlihat serius membuat Lani terperanjat.


"Bercanda, kok," lanjutnya dengan senyum penuh kemenangan.


Sementara di lantai bawah, Adrian sering mencuri pandang pada kekasihnya itu. Dia tidak bisa menyembunyikan rasa cemburu ketika melihat Lani tersenyum, bahkan tertawa di depan Reihan. Awalnya, dia berpikir bisa mengatasi rasa cemburunya itu, tapi nyatanya dia harus menanggung rasa penasaran hingga membuat dia tidak bisa fokus.


Sementara itu, Ibunya Reihan masih berusaha mengingat wajah wanita yang kini duduk bersama anaknya itu, hingga dia tiba-tiba tersadar kalau wanita itu adalah gadis yang pernah menjalin hubungan dengan anaknya saat masih sekolah dulu. "Apa wanita cantik itu, gadis yang dulu pernah aku temui di kafe dulu?" batinnya dalam hati.


Melihat kedekatan Lani dan teman-teman anaknya, membuatnya semakin yakin kalau gadis itu adalah gadis yang membuat Reihan tidak bisa menerima wanita manapun dalam hidupnya.


Perlahan, wajah rentanya terlihat sedih. Gadis yang dulu pernah dihinanya, kini menjelma menjadi wanita cantik yang baik dan sopan. Bukan hanya itu, dia bahkan sudah menjadi calon istri seorang pengusaha muda yang sukses di negeri ini.


"Maaf, boleh Tante menanyakan sesuatu padamu?" tanya wanita itu ketika melihat Lani berjalan di depannya.

__ADS_1


"Oh, boleh Tante. Apa yang bisa aku bantu?"


Wanita itu kemudian mengajak Lani duduk di salah satu kursi yang kebetulan sudah kosong. "Tante minta maaf. Apa sebelumnya, kamu pernah datang ke rumah ini?" tanya wanita itu penasaran.


Lani tersenyum sambil memegang tangan wanita itu. "Maaf, Tante. Aku pikir, Tante sudah tidak mengenaliku lagi. Iya, aku temannya Reihan."


"Bukan hanya teman, tapi kamu kan pacarnya Reihan yang waktu itu ketemu sama Tante di kafe?" tanya wanita itu penasaran.


"Iya, Tante."


Sejenak, wanita itu tertunduk menyesal karena pernah menyakiti gadis itu. "Tante minta maaf, karena dulu pernah menyakiti dan menghina kamu, bahkan menyuruhmu untuk putus dengan Reihan. Dan sekarang, Reihan tersiksa karena tidak bisa melupakanmu," ucapnya dengan air mata yang mulai jatuh.


"Tante tahu kamu sekarang sudah bahagia bersama tunanganmu, tapi Tante mohon, tolong nasehati Reihan agar dia tidak lagi bermain-main dengan wanita-wanita di luar sana. Bahkan, dia sudah tidak mau lagi memikirkan untuk menikah dan sukanya hanya keluyuran tiap malam," jelas wanita itu dengan tangis sesenggukan.


Entah apa yang harus Lani katakan. Dia kaget dan baru mengetahui tentang kehidupan pria yang pernah menjadi orang yang paling disayanginya itu. 


Lani memeluk wanita itu dan mengelus lembut punggungnya. "Akan aku usahakan Tante, tapi aku tidak bisa janji kalau Reihan akan mendengarkanku."


"Dia pasti akan mendengarkanmu karena dia masih mencintaimu."


Ucapan wanita itu sontak saja membuat jantungnya berdetak cepat. Entah apa yang terjadi pada hatinya. Rasa yang selama ini coba dia buang dengan susah payah, tiba-tiba saja muncul kembali.


Tanpa sadar, Reihan melihat mereka yang rasanya terlihat sangat akrab. Sekilas, dia membayangkan andai saja saat ini, Lani adalah tunangannya, ah bukan, melainkan istrinya, pasti dia akan sangat bahagia. 


Sejenak, khayalan itu membuat dia tersenyum sendiri. Ah, ternyata lebih gampang menghayal daripada harus menerima kenyataan.


Malam makin larut, satu persatu tamu undangan pamit undur diri. Begitupun dengan Lani dan Adrian yang sedang pamit pada yang empunya rumah.


"Maafkan Tante, Nak," ucap Ibunya Reihan sambil memeluk Lani.


Lani memeluk wanita itu. Timbul rasa kasihan melihat wanita itu menangis sesenggukan. "Jangan menangis, Tante. Aku sudah memaafkan Tante, kok," bisik Lani lembut.


Setelah berpamitan, mereka kemudian pergi dan meninggalkan rasa penyesalan pada penghuni rumah itu.


"Kenapa menangis? Memangnya, kamu kenal dengan tunangannya Pak Adrian?" tanya Fauzi pada istrinya itu. Tanpa menjawab, yang ditanya hanya menangis sambil menyesali diri.


"Dia itu pacar Reihan yang dulu pernah bertemu dengan Mama dan Mama memintanya untuk memutuskan Reihan," jawab Reihan yang sudah berdiri di depan kedua orang tuanya.


"Kenapa? Mama menyesal karena dulu pernah menghina dia? Mama lihat kan sikap baiknya ke Mama. Dulu, dia itu miskin, tapi keluarga Adrian menerima dia apa adanya dan sekarang, Mama tidak menyangka kan dia akan menjadi wanita cantik yang menarik perhatian Mama. Mama tahu sudah berapa lama mereka bersama? Sejak Reihan putus dengan dia, Ma," ucap Reihan dengan penyesalan yang begitu menyesakkan dadanya.


Reihan kemudian pergi ke kamarnya dan mengganti pakaiannya. Tak lama kemudian, dia sudah keluar dengan menenteng helm di tangannya.


"Kamu mau kemana, ini kan sudah malam?" tanya ayahnya cemas.


"Sudah, biarkan saja dia," ucap sang istri yang membuatnya menjadi bingung.

__ADS_1


Reihan mulai melajukan motornya. Pikirannya tak menentu. Terlintas wajah Lani yang memaksanya menghentikan laju motornya. Terbesit rasa penyesalan karena telah kembali ke Indonesia. Andai dia tetap di Singapura, mungkin dia tidak akan merasakan sakit hati seperti sekarang ini.


Tanpa dia sadari, air matanya jatuh. Entah apa arti tangisannya itu. Mungkin karena penyesalan atau mungkin karena sakit hati lantaran menahan rasa cemburu.


__ADS_2