
Di sebuah club hiburan malam yang terletak di ibu kota, terlihat Delvano tengah duduk seorang diri di meja bartender sambil menyanggah kepalanya menatap ke arah gelas yang berisi minuman beralkohol yang sedari tadi ia teguk bulat bulat. Pikirannya benar benar melayang memikirkan kembali kenangannya bersama dengan Akila. Sejak kepergian Akila dari sisinya, kehidupan Delvano benar benar terasa kosong dan hampa. Tidak ada satupun wanita yang mampu menarik perhatiannya kecuali Akila, ya hanya Akila yang bisa melakukannya.
Helaan nafas terdengar berhembus dengan kasar dari mulut Delvano, seiring dengan helaan nafas tersebut Delvano lantas kembali meneguk segelas minuman beralkohol itu dengan sekali tegukan, kemudian menggesernya ke arah bartender dan memintanya mengisi kembali.
Seorang wanita berpakaian s**i terlihat mulai melangkahkan kakinya dan mengambil duduk di dekat Delvano. Wanita itu sepertinya ingin menarik perhatian Delvano, terlihat dari gelagat dan juga gaya duduknya yang begitu membusungkan dadanya, seakan akan ingin menunjukkan kepada Delvano seberapa besar gunung kembar miliknya. Delvano tersenyum dengan sinis ketika melihat tingkah sok kecentilan perempuan di sampingnya itu.
"Mau aku temani?" ucapnya dengan nada yang menggoda.
Sedangkan Delvano yang mendengarkan ucapan dari gadis itu barusan, lantas hanya tersenyum dengan simpul kemudian bangkit dari tempat duduknya. Delvano mencondongkan tubuhnya tepat ke telinga sebelah kanan wanita itu, membuat wanita itu menjadi besar kepala dan mengira Delvano tertarik padanya.
"Jangan terlalu percaya diri, bahkan kemolekan yang kau tunjukkan padaku sama sekali tidak ada apa apanya di bandingkan dengan istri ku di rumah!" ucap Delvano sambil tersenyum sinis ke arah wanita itu kemudian berlalu pergi meninggalkan wanita itu di tengah tengah hiruk pikuk keramaian di club malam tersebut.
Sedangkan wanita itu yang merasa seperti terhina dengan ucapan Delvano, sama sekali tidak terima dan menatap kepergian Delvano dengan tatapan penuh kebencian.
"Aku bisa menjamin bahwa ucapannya hanyalah sebuah bualan, jika memang istrinya secantik itu aku yakin dia tidak akan berada di sini dan memasang raut wajah sendu seakan akan seperti sedang putus cinta." ucap wanita itu dengan tatapan yang sinis ke arah punggung Delvano yang kini sudah tidak lagi terlihat pada pandangannya.
***
Sementara itu setelah menyelesaikan kegiatannya di Resto barunya, Akila dan juga Elbara memutuskan untuk kembali ke apartment. Keduanya terlihat melangkahkan kakinya keluar dari area Resto menuju ke arah parkiran. Elbara membukakan pintu mobil bagian samping pengemudi agar Akila bisa masuk ke dalamnya, baru setelah itu ia memutari mobilnya dan ikut masuk ke dalam, sebelum pada akhirnya melajukan mobilnya meninggalkan parkiran Resto membelah jalan ibu kota sore itu.
__ADS_1
Dari arah tidak jauh dari tempat keluar Elbara, terlihat mobil Delvano berhenti di bahu jalan ketika melihat sosok wanita yang di rindukannya tengah tersenyum dengan bahagia memasuki mobil bersama laki laki lain. Delvano yang memang sedang dalam posisi setengah sadar akibat minuman beralkohol yang di minumnya, lantas mulai meneteskan air mata di sudut matanya, sepertinya Delvano tidak rela jika melihat Akila bahagia tanpa dirinya, rasanya begitu menyakitkan namun sayangnya tidak ada yang bisa di lakukan Delvano selain hanya menyaksikan senyum lebar mantan istrinya itu.
"Sepertinya akan sangat susah memisahkan keduanya, walau aku melakukan segala cara pun aku yakin itu akan sangat sulit..." ucap Delvano dengan nada yang lirih namun masih bisa di dengar oleh Rani yang memang saat itu tengah menjadi supir dadakan Delvano karena Delvano tengah mabuk.
Rani yang mendengar keluh kesah bosnya hanya tertegun tidak bisa berkata kata, Rani benar benar tidak menyangka bahwa tipikal bos yang galak dan juga tegas di kantor, ternyata mempunyai sisi yang rapuh juga walau tanpa di ketahui banyak orang. Jika di lihat dari raut sendu Delvano, sepertinya ia tengah patah hati saat ini. Rani sendiri sebenarnya tidak terlalu tahu akan urusan pribadi bosnya, namun menurut rumor yang beredar, sosok Delvano adalah mantan seorang pembawa berita yang melakukan KDRT kepada istrinya, hanya rumor itu yang Rani dengar dan tentu saja berkembang di masyarakat, sedangkan untuk yang lainnya Rani benar benar sama sekali tidak tahu apapun.
"Jalan sekarang Ran!" ucap Delvano kemudian memberikan perintah.
Sedangkan Rani yang mendengar perintah dari Delvano barusan, tanpa bertanya lagi lantas langsung melajukan mobilnya kembali membelah jalanan ibu kota.
****
Elbara dan Akila terlihat mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam apartment sambil mengedarkan pandangannya mencari keberadaan ibunya, karena ketika keduanya masuk suasana begitu sepi membuat Akila bertanya tanya kemana kepergian ibunya tersebut.
"Mungkin suster Dona sedang mengajak ibumu berjalan jalan di bawah." ucap Elbara kemudian yang seakan tahu tentang kegelisahan yang di rasakan oleh Akila saat ini.
"Benarkah?" tanya Akila sambil menatap ke arah Elbara dengan raut wajah yang tidak yakin.
Sedangkan Elbara yang mendengar pertanyaan Akila barusan, langsung tersenyum dengan lebar sambil mencubit pipi Akila dengan gemas.
__ADS_1
"Tentu saja, tadi suster Dona sudah mengirimi ku pesan singkat, jadi sebaiknya sekarang kamu mandi biar aku menyiapkan makan malam untuk hari ini." ucap Elbara kemudian yang lantas membuat Akila langsung mengernyit begitu mendengarnya.
"Bukankah kamu masih tidak enak badan? sebaiknya kamu istirahat saja biar aku yang akan memasak." ucap Akila kemudian sambil menyentuh kening Elbara mencoba untuk memastikan apakah demam Elbara sudah turun.
"Aku sudah tidak apa apa Ki, lagi pula tadi sudah minum obat juga bukan? jadi kamu tidak perlu khawatir." ucap Elbara sambil tersenyum dengan lebar seakan mencoba meyakinkan Akila bahwa ia sudah baik baik saja saat ini.
"Apa kamu yakin?" tanya Akila sekali lagi.
Elbara yang kembali mendengar pertanyaan dari Akila, lantas langsung menghela nasnya panjang kemudian mendorong tubuh Akila pelan, agar mulai melangkahkan kakinya menuju ke arah kamar dan mulai bebersih. Sedangkan Akila yang mendapat perlakuan tersebut pada akhirnya mau tidak mau beranjak dari posisinya dan melangkahkan kakinya menuju ke arah kamar sesuai dengan permintaan Elbara barusan.
Seulas senyum terbit dari wajah Akila sambil melangkahkan kakinya menuju ke arah kamarnya. Akila menggelengkan kepalanya dengan pelan ketika melihat tingkah Elbara barusan. Hingga langkah kaki Akila lantas terhenti ketika sebuah deringan ponsel miliknya mulai terdengar menggema.
Akila menatap ke arah layar ponselnya dengan tatapan yang bertanya tanya, ketika sebuah nomor asing tertulis jelas pada layar ponsel miliknya. Dengan gerakan yang ragu perlahan Akila mulai mengusap ikon berwarna hijau pada layar ponselnya dan mengangkat panggilan telpon tersebut.
"Halo" ucap Akila ketika panggilannya terhubung.
"Apakah kamu tidak pulang ke rumah Ki?" ucap sebuah suara di seberang sana yang lantas membuat Akila mengernyit dengan bingung.
Bersambung
__ADS_1