Ketika Cinta Harus Memilih

Ketika Cinta Harus Memilih
Episode Terbaru 44


__ADS_3

Setelah memenangkan dirinya, Bintang


pun menatap Anabel dan mengulang perkataannya yang barusan ia katakan tadi


"Humm, begitu ya... Ya kalau


bunda sebenarnya gak papa tapi..." Anabel menghentikan ucapannya untuk


sejenak.


"Tapi apa bunda?" tanya


Bintang.


Anabel pun melirik ke Ferdi agar Ferdi


menjawab pertanyaan Bintang.


"Bintang, maaf sebelumnya


bukannya Ayah tidak mau mengabulkan permintaan Bintang. Ayah setuju aja dengan


permintaan Bintang terlebih saat Bintang bilang apa alasan Bintang ingin mondok


di pesantren.


Ayah dukung banget. Tapi maaf, Saat


ini perusahaan ayah sedang kurang baik jadi Ayah minta Bintang paham jika


Bintang ingin pindah sekarang, ayah belum bisa wujudkan dalam waktu dekat.


Karena Bintang sendiri tau tentunya, jika pindahan akan mengeluarkan uang yang


tak sedikit sedangkan saat ini perusahaan ayah sedang kurang baik sayang.


Terlebih saat ini pembelajaran kan sudah di mulai, sayang sekali kalau keluar


Bintang. Mungkin gimana pindahannya setelah Bintang lulus SMP?" ujar


Ferdi, mencoba memberikan Bintang pengertian.


"Hemm, baik Ayah gak papa.


Bintang paham. Maafin atas permintaan Bintang ya Ayah, tapi jujur jika di suruh


milih Bintang lebih nyaman sekolah di pesantren terlebih pembelajaran juga baru


di mulai di kelas 1 SMP ini." ucap Bintang.


"Iya Bintang, ayah juga minta


maaf dan ayah paham banget keinginan Bintang. Tapi maaf, ayah benar benar saat


ini belum bisa wujudkan keinginan Bintang." ucap Ferdi dengan nada sedih.


"Iya Ayah, gak papa Bintang


paham. Bintang janji akan sekolah dengan baik, jika sudah waktunya Bintang


yakin, pasti Bintang juga akan mondok." ucap Bintang berusaha tersenyum


menutupi rasa kecewanya.


"Terimakasih ya Bintang sayang,


uda coba memahami kondisi ayah. Ayah dan bunda bangga bisa punya anak seperti


Bintang yang memahami kondisi kami.


Ayah janji jika ada rejeki lebih ayah


akan mengabulkan permintaan Bintang atau membelikan apa yang Bintang inginkan.


" ujar Ferdi dengan tersenyum.


"Iya Ayah terimakasih, maafin


Bintang sekali lagi ya, Ayah... Aamiin semoga Bintang, Bulan, Afnan dan kak


David bisa menjadi anak yang bisa membanggakan Ayah dan Bunda.


Dan kami juga doakan rezeki ayah


semoga berkah dan bertambah, Insya Allah, Aamiin." ucap doa tulus Bintang.


"Aamiin... Terimakasih ya


sayang." ujar Ferdi.


"Aamiin..." ujar mereka


juga.


"Yasudah, lanjut makannya keburu


telat nanti." ucap Ferdi kembali, yang segera memakan makanannya juga.


"Iya, ngobrolnya di lanjut nanti

__ADS_1


ya. Makan dulu gih, di habiskan, keburu telat." ucap Anabel kepada mereka,


dan mereka pun melanjutkan sarapan paginya hingga selesai.


"Alhamdulillah, sudah selesai,


yuk kita pergi sekarang." ucap keempat anak Anabel.


"Yasudah sebentar ya." ucap


Ferdi yang segera berlalu untuk mencuci mulutnya, begitupun dengan Anabel


segera membereskan sisa makanan mereka, sedangkan keempat anaknya segera


mengambil tas mereka masing masing.


Setelah semua selesai, mereka


berkumpul kembali di ruang tamu, Ferdi pun segera pamit ke Anabel dan


mengantarkan mereka pergi ke sekolah.


*********


Begitupun dengan Ana dan Syakira yang


telah selesai makan.


"Alhamdulillah habis juga ya


sayangnya bunda?" tanya Ana ke Syakira, saat melihat makanan Syahira telah


habis.


"Iya Bunda, sudah selesai


alhamdulillah, Syakira suka banget dan enak makanannya bunda. Sesekali makan


seperti ini dong bunda, tiap hari juga gak papa, Syakira mau dan gak bakal


bosan, supaya gak makan tempe, tahu dan kecap terus, hehe." ucap Syakira,


yang tanpa sadar membuat hati Ana tak menentu, antara senang bisa buat Syakira


bahagia karena makan enak, tapi juga sedih karena permintaan Syakira.


"Iya sayang, Insya Allah ya..


Alhamdulillah kalau Syakira juga suka. Maafkan bunda ya sayang, doakan bila


bunda ada rejeki nanti insya Allah Syakira akan bunda belikan makanan yang


Syakira inginkan atau apapun yang ingin Syakira beli." Ana menatap mata Syakira,


"Bunda janji?" lirih gadis


kecil itu.


"Iya sayang, insya Allah.. bunda


akan berikan yang terbaik untuk Syakira." Ana pun memeluk Syakira karena


tak kuasa menahan air matanya, dan Ana tak ingin Syakira tau bila ia menangis.


Dalam diam Ana menangis dengan memeluk


Syakira, sebelum menatap Syakira kembali, Ana menghapus bulir bulir air matanya


yang membasahi pipinya, setelahnya Ana menatap Syakira kembali dan mencoba


berbicara padanya.


"Yaudah yuk, pergi sekolah,


keburu telat. Ohya tunggu bunda siap siap dulu ya." Ana pun segera


berberes dan berganti pakaian untuk mengantarkan Syakira sekolah.


Beberapa menit kemudian setelah


selesai bersiap, Ana pun kembali dan mengajak Syakira untuk segera pergi ke sekolah.


"Yaudah yuk, sekarang sayang kita


perginya." Ana pun menggandeng tangan Syakira.


"Iya Bunda." ucap Syakira


yang juga menggandeng tangan Ana.


Ana selalu mengantarkan Syakira


sekolah dengan berjalan kaki, karena hanya dengan berjalan kaki yang bisa di


tempuh menuju sekolah Syakira yang lumayan jauh, di desa ini.


Desa yang hampir tak ada kendaraan,


karena masih tergolong desa terpencil.

__ADS_1


Setiap pagi, Ana selalu mengantarkan


Syakira sekolah dengan di temani semilir angin yang cukup sejuk di desa ini


hingga seringkali menciptakan hawa dingin di desa ini.


Ana pun sudah menyiapkan mantel rajut


untuk Syakira agar tidak merasa kedinginan begitupun dengannya.


Pagi dan malam, hawa dingin mulai


terasa di desa ini, sehingga banyak penduduknya memakai mantel ataupun pakaian


tebal.


Begitupun dengan Ana dan Syakira akan


memakai mantel rajut mereka.


Sekolah Syakira yang cukup jauh dan


harus di tempuh dengan jalan kaki, terlebih bagi Syakira yang masih kecil,


sehingga setiap pagi Ana selalu mengantarkan Syakira sekolah.


Begitupun dengan teman seusia Syakira,


mereka selalu di antar oleh orang tua mereka.


Butuh perjuangan yang cukup melelahkan


untuk menempuh perjalanan ke sekolah Syakira, jauhnya jarak yang harus di


tempuh, terjalnya jalan, sungai kecil yang seringkali di temui di sepanjang


jalan atau air kali dan jalan prosotan yang seringkali membuat bagi siapapun


yang melewatinya hampir atau akan terprosot ke dalam kali ataupun sungai


tersebut, sesekali mereka pun tersandung dengan terjalnya jalan dan bebatuan di


sekitar yang membuat jalan makin kepayahan.


Butuh waktu hampir 1 jam atau lebih,


bisa terbilang 2 jam bila mereka berhenti sejenak sepanjang jalan untuk tiba di


sekolah.


Sekolah yang hampir kumuh, dan kecil


menjadi tempat belajar bagi Syakira dan teman temannya.


Dalam diam Ana menangis, Syakira


terpaksa harus di sekolah seperti ini karena tak ada pilihan.


Ana seringkali membandingkan dengan


anak dari Ferdi dan Anabel yang tentu akan sekolah di sekolahan yang cukup


nyaman dan mereka akan di antar supir dengan mobil menuju sekolah.


Sedangkan Syakira??.....


Seringkali dalam hatinya, ia berbisik,


adilkah itu baginya dan Syakira?? ......


Ana berjanji cepat atau lambat ia akan


membawa Syakira ke kota dan ayahnya harus tau keberadaan Syakira.


Ana tak peduli lagi bila keluarga


Anabel akan merasa terusik dengan Syakira karena bagaimanapun Syakira anak dari


Ferdi dan Ferdi sebagai ayahnya harus mengetahui keberadaan Syakira dan harus


mengakui Syakira sebagai anaknya.


Karena bagaimanapun Syakira tidak


salah di sini, dan Ana tak ingin Syakira kehilangan kasih sayang seorang


ayahnya terlebih Syakira masih terlalu kecil untuk memahami segalanya atau


mempertanggungjawabkan atas hal yang bukan kesalahan gadis kecil itu.


Ana tak ingin Syakira kehilangan kasih


sayang orang tua yang tak lengkap,


Ana Ingin Syakira di sekelilingi


cinta.


Ana rela melakukan apapun untuk

__ADS_1


menebus segalanya atas kesalahannya, ia benar benar menyesal asal setelah itu


Ferdi mengakui Syakira sebagai anaknya dan mengakui keberadaan Syakira.


__ADS_2