
Setelah memenangkan dirinya, Bintang
pun menatap Anabel dan mengulang perkataannya yang barusan ia katakan tadi
"Humm, begitu ya... Ya kalau
bunda sebenarnya gak papa tapi..." Anabel menghentikan ucapannya untuk
sejenak.
"Tapi apa bunda?" tanya
Bintang.
Anabel pun melirik ke Ferdi agar Ferdi
menjawab pertanyaan Bintang.
"Bintang, maaf sebelumnya
bukannya Ayah tidak mau mengabulkan permintaan Bintang. Ayah setuju aja dengan
permintaan Bintang terlebih saat Bintang bilang apa alasan Bintang ingin mondok
di pesantren.
Ayah dukung banget. Tapi maaf, Saat
ini perusahaan ayah sedang kurang baik jadi Ayah minta Bintang paham jika
Bintang ingin pindah sekarang, ayah belum bisa wujudkan dalam waktu dekat.
Karena Bintang sendiri tau tentunya, jika pindahan akan mengeluarkan uang yang
tak sedikit sedangkan saat ini perusahaan ayah sedang kurang baik sayang.
Terlebih saat ini pembelajaran kan sudah di mulai, sayang sekali kalau keluar
Bintang. Mungkin gimana pindahannya setelah Bintang lulus SMP?" ujar
Ferdi, mencoba memberikan Bintang pengertian.
"Hemm, baik Ayah gak papa.
Bintang paham. Maafin atas permintaan Bintang ya Ayah, tapi jujur jika di suruh
milih Bintang lebih nyaman sekolah di pesantren terlebih pembelajaran juga baru
di mulai di kelas 1 SMP ini." ucap Bintang.
"Iya Bintang, ayah juga minta
maaf dan ayah paham banget keinginan Bintang. Tapi maaf, ayah benar benar saat
ini belum bisa wujudkan keinginan Bintang." ucap Ferdi dengan nada sedih.
"Iya Ayah, gak papa Bintang
paham. Bintang janji akan sekolah dengan baik, jika sudah waktunya Bintang
yakin, pasti Bintang juga akan mondok." ucap Bintang berusaha tersenyum
menutupi rasa kecewanya.
"Terimakasih ya Bintang sayang,
uda coba memahami kondisi ayah. Ayah dan bunda bangga bisa punya anak seperti
Bintang yang memahami kondisi kami.
Ayah janji jika ada rejeki lebih ayah
akan mengabulkan permintaan Bintang atau membelikan apa yang Bintang inginkan.
" ujar Ferdi dengan tersenyum.
"Iya Ayah terimakasih, maafin
Bintang sekali lagi ya, Ayah... Aamiin semoga Bintang, Bulan, Afnan dan kak
David bisa menjadi anak yang bisa membanggakan Ayah dan Bunda.
Dan kami juga doakan rezeki ayah
semoga berkah dan bertambah, Insya Allah, Aamiin." ucap doa tulus Bintang.
"Aamiin... Terimakasih ya
sayang." ujar Ferdi.
"Aamiin..." ujar mereka
juga.
"Yasudah, lanjut makannya keburu
telat nanti." ucap Ferdi kembali, yang segera memakan makanannya juga.
"Iya, ngobrolnya di lanjut nanti
__ADS_1
ya. Makan dulu gih, di habiskan, keburu telat." ucap Anabel kepada mereka,
dan mereka pun melanjutkan sarapan paginya hingga selesai.
"Alhamdulillah, sudah selesai,
yuk kita pergi sekarang." ucap keempat anak Anabel.
"Yasudah sebentar ya." ucap
Ferdi yang segera berlalu untuk mencuci mulutnya, begitupun dengan Anabel
segera membereskan sisa makanan mereka, sedangkan keempat anaknya segera
mengambil tas mereka masing masing.
Setelah semua selesai, mereka
berkumpul kembali di ruang tamu, Ferdi pun segera pamit ke Anabel dan
mengantarkan mereka pergi ke sekolah.
*********
Begitupun dengan Ana dan Syakira yang
telah selesai makan.
"Alhamdulillah habis juga ya
sayangnya bunda?" tanya Ana ke Syakira, saat melihat makanan Syahira telah
habis.
"Iya Bunda, sudah selesai
alhamdulillah, Syakira suka banget dan enak makanannya bunda. Sesekali makan
seperti ini dong bunda, tiap hari juga gak papa, Syakira mau dan gak bakal
bosan, supaya gak makan tempe, tahu dan kecap terus, hehe." ucap Syakira,
yang tanpa sadar membuat hati Ana tak menentu, antara senang bisa buat Syakira
bahagia karena makan enak, tapi juga sedih karena permintaan Syakira.
"Iya sayang, Insya Allah ya..
Alhamdulillah kalau Syakira juga suka. Maafkan bunda ya sayang, doakan bila
bunda ada rejeki nanti insya Allah Syakira akan bunda belikan makanan yang
Syakira inginkan atau apapun yang ingin Syakira beli." Ana menatap mata Syakira,
"Bunda janji?" lirih gadis
kecil itu.
"Iya sayang, insya Allah.. bunda
akan berikan yang terbaik untuk Syakira." Ana pun memeluk Syakira karena
tak kuasa menahan air matanya, dan Ana tak ingin Syakira tau bila ia menangis.
Dalam diam Ana menangis dengan memeluk
Syakira, sebelum menatap Syakira kembali, Ana menghapus bulir bulir air matanya
yang membasahi pipinya, setelahnya Ana menatap Syakira kembali dan mencoba
berbicara padanya.
"Yaudah yuk, pergi sekolah,
keburu telat. Ohya tunggu bunda siap siap dulu ya." Ana pun segera
berberes dan berganti pakaian untuk mengantarkan Syakira sekolah.
Beberapa menit kemudian setelah
selesai bersiap, Ana pun kembali dan mengajak Syakira untuk segera pergi ke sekolah.
"Yaudah yuk, sekarang sayang kita
perginya." Ana pun menggandeng tangan Syakira.
"Iya Bunda." ucap Syakira
yang juga menggandeng tangan Ana.
Ana selalu mengantarkan Syakira
sekolah dengan berjalan kaki, karena hanya dengan berjalan kaki yang bisa di
tempuh menuju sekolah Syakira yang lumayan jauh, di desa ini.
Desa yang hampir tak ada kendaraan,
karena masih tergolong desa terpencil.
__ADS_1
Setiap pagi, Ana selalu mengantarkan
Syakira sekolah dengan di temani semilir angin yang cukup sejuk di desa ini
hingga seringkali menciptakan hawa dingin di desa ini.
Ana pun sudah menyiapkan mantel rajut
untuk Syakira agar tidak merasa kedinginan begitupun dengannya.
Pagi dan malam, hawa dingin mulai
terasa di desa ini, sehingga banyak penduduknya memakai mantel ataupun pakaian
tebal.
Begitupun dengan Ana dan Syakira akan
memakai mantel rajut mereka.
Sekolah Syakira yang cukup jauh dan
harus di tempuh dengan jalan kaki, terlebih bagi Syakira yang masih kecil,
sehingga setiap pagi Ana selalu mengantarkan Syakira sekolah.
Begitupun dengan teman seusia Syakira,
mereka selalu di antar oleh orang tua mereka.
Butuh perjuangan yang cukup melelahkan
untuk menempuh perjalanan ke sekolah Syakira, jauhnya jarak yang harus di
tempuh, terjalnya jalan, sungai kecil yang seringkali di temui di sepanjang
jalan atau air kali dan jalan prosotan yang seringkali membuat bagi siapapun
yang melewatinya hampir atau akan terprosot ke dalam kali ataupun sungai
tersebut, sesekali mereka pun tersandung dengan terjalnya jalan dan bebatuan di
sekitar yang membuat jalan makin kepayahan.
Butuh waktu hampir 1 jam atau lebih,
bisa terbilang 2 jam bila mereka berhenti sejenak sepanjang jalan untuk tiba di
sekolah.
Sekolah yang hampir kumuh, dan kecil
menjadi tempat belajar bagi Syakira dan teman temannya.
Dalam diam Ana menangis, Syakira
terpaksa harus di sekolah seperti ini karena tak ada pilihan.
Ana seringkali membandingkan dengan
anak dari Ferdi dan Anabel yang tentu akan sekolah di sekolahan yang cukup
nyaman dan mereka akan di antar supir dengan mobil menuju sekolah.
Sedangkan Syakira??.....
Seringkali dalam hatinya, ia berbisik,
adilkah itu baginya dan Syakira?? ......
Ana berjanji cepat atau lambat ia akan
membawa Syakira ke kota dan ayahnya harus tau keberadaan Syakira.
Ana tak peduli lagi bila keluarga
Anabel akan merasa terusik dengan Syakira karena bagaimanapun Syakira anak dari
Ferdi dan Ferdi sebagai ayahnya harus mengetahui keberadaan Syakira dan harus
mengakui Syakira sebagai anaknya.
Karena bagaimanapun Syakira tidak
salah di sini, dan Ana tak ingin Syakira kehilangan kasih sayang seorang
ayahnya terlebih Syakira masih terlalu kecil untuk memahami segalanya atau
mempertanggungjawabkan atas hal yang bukan kesalahan gadis kecil itu.
Ana tak ingin Syakira kehilangan kasih
sayang orang tua yang tak lengkap,
Ana Ingin Syakira di sekelilingi
cinta.
Ana rela melakukan apapun untuk
__ADS_1
menebus segalanya atas kesalahannya, ia benar benar menyesal asal setelah itu
Ferdi mengakui Syakira sebagai anaknya dan mengakui keberadaan Syakira.