Ketika Cinta Harus Memilih

Ketika Cinta Harus Memilih
Berkas perceraian


__ADS_3

Ruangan Erik


"Apa yang sebenarnya tengah kalian lakukan ha? tidak kah kalian pikir tindakan kalian itu seperti bocah?" teriak Erik dengan kesal pada Delvano dan juga Dani ketika mereka berdua berada di ruangannya.


"Dia yang memulainya lebih dulu, saya hanya meladeni apa yang ia lakukan kepada saya tidak lebih." ucap Dani mencoba membela diri, sedangkan Delvano yang mendengar ucapan dari Dani hanya diam dan tidak menjawab ataupun menyanggah ucapan dari Dani barusan, membuat Erik menjadi semakin geram akan tingkah laku dari Delvano.


"Kau itu ya... pemberitaan tentang mu itu sudah menyebar sekaligus mencoreng perusahaan ini, apa kau itu tidak sadar akan perbuatan mu itu? bukannya memperbaiki masalah malah asyik berduel dengan rekan kerjamu, otak mu itu kamu taruh di mana?" teriak Erik dengan nada yang kesal.


Delvano yang mendengar ucapan Erik barusan, hanya menghela nafasnya dengan panjang kemudian menatap ke arah Erik dengan tatapan yang datar seolah olah kata kata pedas dari Erik sama sekali tidak berpengaruh terhadapnya.


"Maka dari itu saya ijin untuk pergi dan membereskan masalah ini, jika anda menahan saya hanya untuk memarahi saya... sebaiknya anda tahan dan simpan dulu karena ada hal penting yang harus saya urus saat ini...bukankah begitu pak?" ucap Delvano yang lantas membuat Dani dan juga Erik melongo ketika mendengar ucapan dari Delvano barusan.


"Saya permisi!" ucap Delvano kemudian berlalu pergi begitu saja tanpa menunggu terlebih dahulu jawaban dari Erik akan ucapannya barusan.


Erik dan Dani yang mendengar ucapan Delvano, hanya terdiam sambil melongo saling pandang satu sama lain karena keduanya tidak menyangka Delvano malah mengatakan hal tersebut di depan atasannya, seakan apa yang tengah terjadi saat ini hanyalah sebuah masalah kecil yang tidak perlu di besar besarkan.


"Sial! awas saja kau Delvano...." ucap Erik dengan kesal sambil menendang meja kerjanya dengan spontan.


"Dasar pria gila." ucap Dani dalam hati sambil terus menatap kepergian Delvano hingga menghilang dari pandangannya.


"Apa yang kau lihat? pergi dari sini!" teriak Erik kemudian ketika melihat Dani hanya melongo dan menatap kepergian dari Delvano begitu saja, membuat Dani langsung dengan spontan menoleh ke arah Erik ketika mendengar teriakan tersebut.


"Saya permisi pak" ucap Dani kemudian berlalu pergi dari sana dan hanya menyisakan Erik di ruangan tersebut yang terlihat masih kesal akan Delvano dan juga dirinya itu.


****


Keesokan harinya di mansion Sebastian

__ADS_1


Tok tok tok


"Masuk" ucap Sarah dari dalam ruang kerjanya.


Tepat setelah Sarah mengatakan hal tersebut, terlihat Rafi mulai membuka pintu dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam mendekat ke arah di mana Sarah berada saat ini.


Rafi yang melihat Sarah tengah sibuk mengecek beberapa dokumen di mejanya lantas langsung membuka iPad yang ia bawa dan mempause sebuah vidio untuk di lihat oleh Sarah.


"Nyonya maaf sebelumnya karena mengganggu, anda harus melihat berita ini sekarang!" ucap Rafi sambil menyodorkan sebuah iPad dengan siaran berita tentang Delvano di dalamnya.


Sarah yang tadinya sedang sibuk mengurusi dokumen, lantas langsung menaruh dokumen yang ada di tangannya kemudian melepas kacamatanya dan mulai menekan tombol play di layar iPad tersebut.


Sarah yang semula penasaran akan berita apa yang sampai membuat Rafi begitu heboh memberitahukan padanya, lantas langsung di buat terkejut ketika melihat sebuah pemberitaan tentang putranya yang mulai mencuat ke permukaan dan sedang ramai di perbincangkan.


"Delvano..." ucapnya dengan nada yang lirih sambil masih terus fokus menatap ke layar iPad tersebut.


Walau Akila dan dirinya terhitung jarang sekali bertemu, namun di beberapa kesempatan ketika Sarah bertemu dengan menantunya itu, Sarah sering melihat luka lebam seperti bekas pukulan namun sudah hampir menghilang di tubuh Akila.


Awalnya Sarah mengira itu hanyalah sebuah pertengkaran kecil antar pasangan yang biasa terjadi, namun setelah melihat vidio tentang bagaimana putranya menyiksa Akila, benar benar membuat Sarah tidak habis pikir akan perbuatan putranya itu.


Sarah yang sudah tidak kuat melihat vidio tersebut, lantas langsung menekan tombol pause pada layar iPadnya.


"Redam pemberitaan ini agar tidak terlalu menyebar, jika bisa timpa dengan pemberitaan lain yang bisa menutup segalanya." ucap Sarah memberikan perintah.


"Em maaf nyonya sepertinya ini akan sangat sulit karena mengingat beberapa warga net sudah berbondong bondong membuat tagar #saveakila, jadi mungkin akan sedikit sulit kecuali tuan muda dan juga nona bercerai." ucap Rafi dengan nada yang lirih.


"Apakah tidak ada cara lain Raf?" tanya Sarah kepada asistennya itu, karena jujur saja ia tidak terlalu setuju jika Akila dan Delvano bercerai, Sarah benar benar masih percaya jika hanya Akila yang bisa mengubah Delvano menjadi lebih baik lagi.

__ADS_1


"Saya rasa tidak ada bu, pemberitaan ini sudah menyebar sejak dini hari jadi akan sangat sulit untuk meredamnya." ucap Rafi kembali.


"Ah benar benar menyebalkan, bukankah kasihan putra ku jika harus berakhir seperti ini?" ucap Sarah pada diri sendiri, sedangkan Rafi yang mendengar ucapan tersebut hanya bisa diam tanpa bisa berkata kata apa apa lagi.


***


Mansion Elbara


Viona yang baru selesai mandi dan berdandan, lantas mendengar suara ketukan pintu dari arah luar kamarnya.


Tok tok tok


Viona yang mendengar suara ketukan pintu secara berulang, lantas melangkahkan kakinya mendekat ke arah pintu kamarnya dan langsung membukanya untuk melihat siapa pengetuk pintu tersebut.


"Ada apa?" tanya Viona ketika melihat kepala maid berdiri tepat di pintu kamarnya.


"Ini ada titipan dari Arga nyonya." ucap kepala maid tersebut.


Viona yang melihat sebuah map coklat di sodorkan ke arahnya, langsung menerima map coklat tersebut dan langsung membukanya secara perlahan.


Ketika Viona sudah berhasil mengeluarkan isinya, betapa terkejutnya Viona ketika ia membaca surat di dalam map coklat tersebut yang ternyata berisi berkas perceraiannya dan juga Elbara lengkap dengan surat panggilan untuk datang ke persidangan yang akan di laksanakan minggu depan.


"Apa apaan ini?" ucap Viona sambil meremas selembar surat tersebut dan melemparnya ke sembarang arah.


Kepala maid yang melihat reaksi Viona tentu saja terkejut, jika ia tahu Viona akan sangat marah ketika menerima map tersebut, ia tentu tidak akan mau memberikannya secara langsung kepada Viona.


"Di mana Arga sekarang?" ucap Viona dengan nada yang tertahan karena kesal.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2