
"Hiks." tangis Syakira.
"Loh sayang kenapa? pulang sekolah kok tiba tiba nangis gini?" tanya Ana yang segera menghampiri
Syakira menangis.
"Tadi kata bu guru, kalau 3 hari ke depan Syakira gak bayar uang untuk ujian dan spp, Syakira gak boleh ikut ujian dan lebih baik gak masuk sekolah. Hiks Syakira sedih..." ucap Syakira di sela sela tangisnya.
"Yaa Allah sayang, maafin Bunda ya yang belum bisa jadi bunda yang baik untuk Syakira." Ana pun segera memeluk Syakira.
"Yasudah Syakira jangan nangis ya, Insya Allah nanti bunda usahakan ya supaya Spp dan uang ujian Syakira terbayar. Pasti bunda usahakan, udah dong Syakira jangan nangis. Mending makan yuk sekarang."Ana pun segera mengajak Syakira untuk makan.
"Iya Bunda... Bunda janji kan? Bunda janji kan akan usahakan uang itu agar Syakira bisa masuk sekolah lagi dan bisa ikut ujian?" tanya Syakira ke Ana, bundanya.
"Iya sayang bunda janji. Jadi Syakira jangan sedih ya apalagi nangis. Kalau Syakira nangis nanti gak cantik lagi dan bunda sedih...". Ana pun segera merunduk di hadapan Syakira dan menghapus air mata Syakira.
"Iya Bunda, maafin Syakira ya yang sudah bikin bunda sedih. Syakira mau tetap cantik seperti Bunda. Yasudah yuk makan Bunda, Syakira juga lapar..." ajak Syakira yang menggandeng tangan
Ana, bundanya.
"Ya, yee jangan sedih ya.. senyum, kalau Syakira senyum, bunda juga akan senyum. Yaudah yuk makan." Ana pun mengajak Syakira untuk makan.
Syakira pun segera membuka tutup saji makanan.
"Loh, tempe, tahu sama kecap lagi ya Bunda?" lirih Syakira sedih.
"Iya sayang, maaf ya.. Gak papa kan? Kita harus tetap bersyukur, karena di luar sana banyak yang gak bisa makan. Jadi Syakira tetap harus bersyukur dan makan ya.." Ana pun merunduk kembali untuk menatap Syakira, dan berusaha tersenyum untuk menguatkan Syakira.
"Iya Bunda, tapi Syakira bosan... tiap hari makan ini terus, kapan kita bisa makan enak seperti orang lain? teman teman Syakira ke sekolah yang membawa bekal, kadang bawa ikan laut, ayam, mie,
__ADS_1
sayur, telur, omelet, dan masih banyak lagi yang enak enak. Kita kapan Bunda? kenapa makanan kita selalu ini dan ini aja? hiks ." Syakira pun mulai
menangis kembali di tengah curhatnya.
"Syakira..." lirih Ana yang tak tega melihat Syakira menangis.
"Syakira bukan tidak bersyukur Bunda, tapi Syakira bosan tiap hari makan seperti ini dan Syakira ingin makan enak juga seperti teman teman Syakira atau setidaknya lauk nya bukan tempe, tahu dan kecap seperti ini.. tiap hari lauknya selalu seperti ini, hiks ."
curhat Syakira kembali.
"Sayang..hiks." Ana pun tak mampu menahan tangisnya saat melihat Syakira menangis dan curhat seperti itu.
Ana pun segera menghapus bulir air matanya dan mengucapkan sesuatu kembali untuk menguatkannya Syakira, walau dirinya sendiri pun sedang rapuh.
"Syakira, sabar ya sayang. Sekarang Syakira makan ini dulu ya. Nanti bunda usahakan untuk Syakira agar bisa makan enak. Bunda akan kerja jauh lebih keras agar Syakira gak makan ini dan ini aja dan bisa makan enak ya sayang..." Ana berusaha menguatkan Syakira kembali.
"Gak, Syakira gak mau makan ini..." teriak Syakira dan segera berlari kembali ke kamarnya.
"Syakira tunggu... jangan tutup pintunya." teriak Ana yang sudah menyerah saat melihat Syakira menutup pintu kamarnya, namun Ana tetap berjalan ke arah kamar Syakira.
"Syakira sayang, buka dong pintunya. Bunda mau ngomong, tolong jangan seperti ini.. buka ya sayang, kalau Syakira seperti ini, Syakira bikin bunda sedih. Tolong buka ya sayang.. Syakira
ingin bunda sedih dan nangis nih? hiks..." Ana pun berusaha tetap mengetuk pintu kamar Syakira dan membujuknya hingga Syakira pun luluh dan membukakan pintu tersebut.
"Syakira sayang...." Ana pun segera memeluk Syakira saat Syakira membukakan pintu kamarnya.
"Syakira sayang, tolong jangan seperti ini ya. Kalau Syakira seperti ini, bunda juga ikut sedih." ucap
Ana kembali pada Syakira dan segera memeluk Syakira lebih erat.
__ADS_1
"Hiks, iya Bunda maafin Syakira ya.." Syakira pun segera memeluk Ana.
"Bunda, Ayah ke mana? kenapa Ayah tidak tinggal bersama kita? seperti teman teman Syakira, bunda dan ayah nya tinggal bareng, gak seperti ini. Syakira sedih..." tanya Syakira dengan nada sedih.
Setelah mendengar penuturan Syakira, Ana benar benar bingung harus menjawab apa. Ana pun perlahan menghapus bulir bulir air matanya yang mulai membasahi pipinya. Setelah merasa tenang, Ana pun mencoba menjawab kembali pertanyaan Syakira.
"Syakira sayang, bunda kan sudah bilang, kalau Ayah Syakira pergi jauh karena harus kerja untuk nafkahi kita." Ana mencoba berbohong kepada Syakira, karena ia tak mungkin menjelaskan kepada Syakira tentang apa yang sebenarnya terjadi, Syakira masih terlalu kecil untuk mengetahui semuanya.
Ana memang berniat akan memberitahukan
kepada Syakira, tapi nanti setelah Syakira tumbuh dewasa.
"Tapi kenapa harus kerja jauh? Ayah temen temen Syakira juga kerja, tapi tetap gak jauh dari keluarganya, tetap dekat sama bunda dan anaknya. Kenapa Ayah tidak? kenapa Ayah harus kerja
jauh? kenapa gak dekat dekat aja seperti ayah teman Syakira? agar kita bisa tetap kumpul bareng.. Kenapa bunda? hiks.." ucap Syakira.
"Hemmm..." Ana bingung harus menjawab apa pertanyaan Syakira.
"Sayang dengar Bunda, kita nanti pasti ketemu Ayah. Jika nanti Ayah belum datang juga, Bunda janji kita akan cari ayah dan menghampiri ayah ya?" ujar Ana berusaha tersenyum.
"Jadi ... Syakira jangan menangis dan sedih lagi ya..." Ana pun menghapus bulir bulir air mata yang membasahi pipi Syakira.
"Bunda janji, kita akan hampiri ayah? tapi kapan bunda? Syakira juga rindu ayah. Mulai lahir Syakira belum bertemu ayah." ujar Syakira yang tanpa sadar membuat Ana kembali menangis
dalam diam.
"Sayang, iya bunda janji, secepatnya ya... Nanti kalau Syakira sudah agak besar kita akan cari di mana ayah dan menghampiri ayah ya.. Bunda janji, sekarang Syakira sekolah yang tekun agar Syakira bisa jadi murid yang cerdas, pintar dapat beasiswa. Kalau Syakira bisa dapat beasiswa, kita gak perlu lagi bayar SPP atau uang ujian lagi. Dan tentu kalau Syakira jadi murid pandai, Ayah bunda akan senang. Ayah akan senang mempunyai anak Syakira, begitupun dengan Bunda. Dan ayah pasti ingin ketemu Syakira dan segera menghampiri Syakira...." Ana berusaha tersenyum dan
memberikan Syakira semangat juga berusaha menyakinkan Syakira.
__ADS_1
Ana pun memeluk Syakira untuk memberikan Syakira kekuatan juga menguatkan dirinya sendiri.