
Lani dan Adrian baru saja tiba di depan gerbang sekolah. Setelah sepekan mereka libur semester awal, kini mereka kembali bergelut dengan pelajaran karena sudah masuk semester akhir.
"Aku sudah rindu masuk sekolah lagi," ucap Lani dengan senyumnya.
"Kenapa? Biar sering bertemu denganku, ya?" canda Adrian yang membuat Lani mencubit mesra lengan kekasihnya itu.
"Cieee..., yang lagi kasmaran," canda Iva yang juga baru datang.
"Kenapa? Lihat tuh pacar kamu, jangan usil urusan orang," ucap Lani sambil menunjuk Raka yang juga baru datang.
"Iya, iya," katanya sambil berlari kecil ke arah Raka yang sudah berdiri menunggunya.
"Aku antar ke depan kelas, ya?" ucap Adrian sambil mengambil tas yang tergantung di pundak Lani dan segera dibawanya. Melihat sikap Adrian membuat Lani tersenyum, walau dia tahu ada seseorang pernah melakukan hal yang sama padanya di saat lalu.
"Ayo," ajak Adrian yang membuat Lani tersenyum dan berjalan di sampingnya.
"Hai, ternyata kalian sudah jadian, wah selamat ya," Tiba-tiba saja Aldo, sahabat Adrian datang dan menyapa mereka.
"Iya, iya. Sudah, jalan sana, ganggu orang saja," usir Ardian dengan bercanda yang membuat Lani ikut tersenyum melihat candaan mereka.
"Iya, pak bos. Maaf, aku tidak ganggu lagi," jawabnya tak kalah bercanda dengan gayanya yang menunduk seperti orang korea yang sedang meminta maaf.
Melihat tingkahnya, Lani bukan hanya tersenyum, tapi tertawa kecil yang membuat Adrian ikut tersenyum. Senyuman itu yang membuat Adrian selalu merindukannya. Senyuman yang selalu membuat dia tertawa bahagia.
"Belajar yang rajin. Jangan tidur di kelas dan jangan melirik cewek lain, paham!" ucap Lani sambil mengambil tasnya dari punggung Adrian saat sudah berdiri di depan pintu kelasnya.
"Iya," jawab Adrian dengan senyum seakan dia tidak ingin meninggalkan gadis itu.
"Ayo, pergi ke kelasmu sana," ucap Lani sambil mendorong Adrian dari belakang.
"Iya, iya," jawab Adrian walau sebenarnya dia masih ingin berlama-lama dengan kekasihnya itu.
Lani melambaikan tangannya pada Adrian yang berjalan perlahan menuju kelasnya dan sesekali mengibaskan tangannya, syarat agar Adrian segera masuk ke dalam kelas.
"Rupanya kalian sudah sedekat itu. Apa kamu sudah jadian sama Kak Adrian?" tanya Riana yang tiba-tiba saja sudah berdiri di belakangnya.
"Sudah, memangnya kenapa?" jawab Lani yang membuat Riana tidak percaya.
"Jangan bohong. Mana mungkin tante dan om mau menerima kamu yang hanya gadis miskin."
Lani hanya tersenyum. Melihat tingkah Riana yang masih seperti dulu membuat dia merasa kasihan dengan gadis itu.
"Terserah apa katamu. Kalau om sama tante Annisa tidak suka padaku, apa mungkin mereka akan membiarkanku berhubungan dengan Adrian sampai sekarang?" jawab Lani sambil pergi meninggalkannya.
"Tante Annisa? Sejak kapan dia tahu nama ibunya Kak Adrian," batinnya dalam hati.
Dengan santainya, Lani duduk di tempat duduknya sambil meletakkan tas di atas meja dan mengeluarkan buku untuk pelajaran di jam pertama.
Reihan yang dari tadi sudah duduk di tempat duduknya hanya bisa memandangi gadis itu yang tentu saja membuat Mutia jadi cemburu.
__ADS_1
"Apaan sih Reihan. Kenapa juga masih lihat tuh cewek?" ucapnya dengan nada jengkel.
"Tidak usah dipedulikan. Percuma juga dia terus melihat Lani, Lani kan udah pacaran sama Kak Adrian," ucap Riana yang membuat Mutia bisa bernapas lega.
"Apa benar? Kamu tidak bohong, kan?" tanya Mutia seakan ingin memastikan.
"Kenapa juga aku harus bohong sama kamu."
Jawaban Riana sudah cukup membuat Mutia berlega hati. Walaupun dia sudah dijodohkan dengan Reihan bahkan tinggal serumah dengan cowok itu, tidak membuat Mutia merasa puas karena selama ini, Reihan tidak pernah mempedulikannya. Di rumah, dia selalu diacuhkan dan perlakuan itu pun sama ketika di sekolah. Hanya saat pulang dan pergi sekolah saja mereka bersama, tapi gadis itu masih tetap saja diacuhkan.
Kalau bukan karena perasaan sayang yang sudah dari kecil dia rasakan pada Reihan, dia pasti akan segera mengakhiri perjodohan itu, tapi dia tidak bisa melepas Reihan begitu saja.
Segala upaya sudah dia lakukan agar Reihan mau peduli padanya, tapi semua percuma karena Reihan sama sekali tidak mempedulikannya.
Jam istirahat berbunyi. Belum juga Lani merapikan buku-buku dan memasukkannya ke dalam tas, Adrian sudah berdiri di samping tempat duduknya. "Cepat sekali kamu sudah ada di sini? Jangan-jangan, kamu lari dari kelas, ya?" tanya Lani yang membuat Adrian menggaruk-garuk kepalanya.
"Tidak perlu lari, aku tidak ke mana-mana kok, ayo," lanjut Lani sambil menggandeng lengan kekasihnya itu.
"Tidak usah dilihat, dia sudah punya kehidupan sendiri dan kamu juga harus bisa melupakan dia," ucap Raka pada Reihan yang menundukan kepalanya di atas meja.
Reihan menutup matanya. Dia tidak ingin melihat kemesraan Lani dan Adrian yang membuatnya menjadi gila. Walau sekuat apapun dia berusaha untuk melupakan Lani, tapi dia tidak bisa.
Andai perjodohan itu tidak ada, dia pasti akan merasa sangat bahagia karena bisa mendapatkan cinta dan perhatian dari gadis itu. Gadis yang sudah meluluhkan hatinya, gadis yang selalu membuat dia merasakan rindu dan susah baginya untuk melupakan semua kenangan yang pernah ditorehkan bersama gadis itu.
*****
"Iya, aku tau, kok. Mama kamu sudah telepon aku tadi pagi."
"Wah, hebat kamu, ya. Sejak kapan mamaku mulai telepon kamu. Jangan-jangan, kamu lapor yang macam-macam ya, sama mama," canda Adrian.
"Iya. Aku mau melapor kalau anaknya sudah jadi pencuri," ucap Lani sedikit datar.
"Iya, aku memang sudah jadi pencuri. Pencuri hati kamu. Iya, kan?" ucap Adrian yang membuat Lani tertawa hingga wajahnya memerah.
Hubungan mereka berdua rupanya telah mendapat restu dari orang tua Adrian. Bukan hanya itu, bahkan Lani sering di minta datang ke rumahnya karena mereka ingin melihat dirinya. Mereka sudah memperlakukan Lani seperti putri mereka sendiri, terutama Annisa yang sangat sayang dengan Lani. Bahkan, Lani sering diajak menemaninya berbelanja dengan alasan untuk membeli keperluannya, padahal dia membeli semua kebutuhan Lani.
"Tidak usah, Tante. Baju yang kemarin saja Lani belum sempat memakainya, masa sudah beli yang baru lagi," ucap Lani ketika diajak Annisa belanja di salah satu mall ternama di kota itu.
"Kenapa? Salah kalau seorang ibu memanjakan putrinya?" ucap Annisa dengan senyum di wajahnya.
Lani merasa sangat beruntung diperlakukan seperti anak sendiri oleh orang tua Adrian. Dia tidak pernah membayangkan akan mendapatkan perlakuan yang istimewa dari mereka. Walaupun mereka kaya raya, tapi mereka tidak memandang seseorang dari status sosialnya. Mereka seakan berterima kasih pada gadis itu, karena sudah membuat anak mereka tersenyum lagi dan membuat keluarga mereka bersatu kembali.
"Wah, barangnya banyak sekali, punya Adrian mana?" tanya Adrian ketika melihat mereka berdua sudah pulang dengan membawa beberapa kantung tas.
"Beli sendiri. Ini punya Mama sama Lani," ucap Annisa sambil mengajak Lani ke kamarnya.
"Tadi kan Mama sudah jalan sama Lani, bahkan Adrian dilarang ikut, sekarang Lani sama Adrian saja di sini, ya," ucapnya manja sambil meraih tangan gadis itu untuk duduk menemaninya.
"Belum selesai, tunggu di sana!!" jawab Annisa sambil melepaskan tangan Adrian dan mengajak Lani ke dalam kamarnya.
__ADS_1
"Tapi, Ma," ucap Adrian yang sama sekali tidak digubris oleh Annisa.
"Adrian, sini main lagi. Sudah, jangan ikut campur urusan wanita," kata ayahnya yang sudah menunggu dari tadi di depan papan catur.
Di dalam kamar, Lani mulai didandani oleh Annisa. Setelah didandani dan memakai baju yang baru saja dibeli, Lani terlihat cantik hingga membuat Annisa berdecak kagum.
"Ternyata, anak lelakiku tidak salah memilih wanita," ucap Annisa dalam hati.
"Adrian pasti akan terpesona melihatmu. Kamu terlihat sangat cantik," ucap Annisa setelah selesai mendandani Lani.
Dan benar saja, setelah Lani keluar dari kamar, pandangan Adrian langsung tertuju padanya. Lani terlihat sangat cantik dengan paduan gaun dan tata rias yang terlihat sangat natural.
"Kenapa lihatnya seperti itu, Lani cantik, kan?" tanya Annisa pada putranya yang hanya bisa mengangguk pelan karena kagum dengan gadis yang sudah berdiri di depannya itu.
"Anak kita pintar mencari pacar," ucap Annisa yang duduk di samping suaminya sambil melihat Adrian yang masih terpesona dengan penampilan Lani.
"Kita beruntung karena kehadiran Lani di tengah keluarga kita. Aku harap, keluarga kita akan bahagia selamanya," ucap Annisa sambil menggenggam tangan suaminya dan dibalas anggukan dan senyuman dari sang suami.
*****
Kedekatan mereka yang awalnya menuai cibiran dari teman-teman sekolah mereka, perlahan mulai surut. Bahkan, mereka berdua dinobatkan sebagai pasangan kekasih yang paling romantis di seantero sekolah saat pesta kelulusan.
"Kalian berdua memang serasi," puji Aldo saat melihat Adrian yang terlihat tampan dengan paduan jas hitam dan Lani dengan gaun putih yang membuat dia terlihat sangat cantik.
"Tidak terasa, sekarang kita sudah lulus," ucap Aldo dengan sedih, tapi juga bangga.
"Kenapa? Bukannya kamu senang karena tidak memikirkan tugas dan segala macam buku pelajaran lagi?" tanya temannya yang lain.
Mendengar perkataan temannya itu, sontak saja membuat Aldo tambah menangis.
"Cengeng amat sih kamu, badan sebesar gajah, tapi hati sekecil semut," ledek temannya itu walau sebenarnya dia juga ingin menangis.
"Aku pasti akan merindukan kalian," ucap Aldo dengan tangisan yang semakin menjadi.
"Sudah, sudah, jangan menangis. Kalian harus merayakan kelulusan ini dengan gembira, lagipula kalian pasti akan sering bertemu, kok," ucap Lani sambil menenangkan Aldo yang sudah membuat teman-temannya ikut menangis.
"Sudahlah. Hari ini adalah hari yang membahagiakan buat kita dan kita harus mengingatnya sebagai hari yang bersejarah dalam hidup kita," ucap Adrian yang mencoba menyemangati teman-temannya.
Hari itu, mereka tertawa, bercanda dan tentu saja berfoto bersama. Mereka ingin hari terakhir mereka di sekolah tersimpan abadi dalam ingatan mereka.
"Terima kasih, karena selama ini kamu sudah menemaniku," ucap Adrian sambil menggenggam tangan kekasihnya itu.
"Aku yang seharusnya berterima kasih karena kamu sudah dengan tulus mencintaiku, aku sayang sama kamu," jawab Lani sambil memeluk kekasihnya itu.
Lani tersenyum. Dari dasar hatinya yang paling dalam, dia lebih bersyukur karena menemukan seseorang yang sangat baik seperti Adrian. Seseorang yang mau menerima dirinya apa adanya, tanpa memandang tentang keluarganya bahkan, mau menerima dirinya yang saat itu sedang terluka.
Begitupun dengan orang tua Adrian, yang mau menerima dirinya walau mereka tahu dia hanya seorang gadis miskin dari keluarga yang biasa saja. Bahkan, mereka memperlakukannya bagaikan putri mereka sendiri.
Dalam hatinya, Lani berjanji tidak akan pernah meninggalkan Adrian, apapun alasannya. Dia akan selalu menjaga cinta yang sudah dia bangun selama ini. Dia akan selalu menerima segala kelebihan dan juga kekurangan Adrian, karena cintanya pada lelaki itu sudah terlalu besar hingga membuat dia tidak bisa berpaling ke lain hati. Hingga akhirnya saat itu pun tiba.
__ADS_1