
Setelah bersiap David pun segera
berpamitan untuk pergi bekerja, namun saat David akan berpamitan, ia tak
sengaja melihat Syakira yang sedang termenung dan sedang duduk sendiri di depan
meja makan.
David pun menghampiri Syakira sejenak,
sebenarnya David ada perasaan iba ketika melihat kondisi Syakira, namun saat
bersamaan mengingat calon adiknya yang telah meninggal dan mungkin bila masih
hidup seusia Syakira, membuat tanpa sadar rasa kecewa dan benci itu seakan
tumbuh kembali ketika mengingat masa lalu
"Hemm kamu..." sapa David
pada Syakira. Sedangkan Syakira yang sedang di panggil segera menoleh ke arah
David namun Syakira tetap memandang David dengan Diam.
"Boleh aku duduk di sini?"
tanya David pada Syakira, sedangkan Syakira hanya mengangguk tanpa suara.
"Kamu tau Syakira?... dulu aku
begitu membencimu karena kamu aku harus kehilangan calon adikku..." David
berhenti sejenak untuk berbicara ingin mengetahui respon Syakira.
Sedangkan Syakira yang terlihat
terkejut menatap David begitu dalam seakan menahan emosi dan tanda tanya besar
yang ingin segera ia tanyakan pada David, namun itu hanya untuk sejenak, karena
Syakira segera menetralkan emosinya dengan mencoba memejamkan matanya, menunduk
dan menoleh agar David tak tau ia sedang menangis, setelahnya ia menoleh ke
David dengan diam kembali, dengan tatapan dinginnya seperti tadi.
David yang seorang psikolog tetap bisa
membaca sikap Syakira meski Syakira mencoba menutupinya.
"Dan sejak saat itu konflik
keluargaku dengan keluargamu terjadi, hingga ibu kamu memutuskan membawamu
pergi dari rumah ini yang ntah di mana sehingga kami tidak bisa menemukan
keberadaan kalian.
Bundaku berulangkali meminta ayah
untuk mencari keberadaan kalian, untuk bertanggung jawab bagaimanapun kamu
tetap anaknya.
Namun kamu dan ibumu seakan hilang di
telan bumi, entah ke mana...
Sehingga ayah dan kami gak bisa
menemukan keberadaanmu.
Bukan ayah gak mau bertanggung jawab
tapi ibu kamu yang membawa kamu entah hilang ke mana, dan sekarang tiba tiba
kamu dan ibu kamu akhirnya kalian datang ke sini dan meminta pertanggung
jawaban ayahku lalu mengatakan ayahku lepas tanggung jawab selama ini, kamu dan
ibu kamu mengatakan seperti itu padahal selama ini kalian yang menghilang tanpa
jejak, lalu kamu mengatakan benci pada ayahku? hebat! hebat...!!, tanpa malu
kamu mengatakan hal tersebut, humm memangnya apa yang di katakan ibumu sehingga
kamu membenci ayahku? hah? Jujur saja aku merasa terenyuh dan iba mendengar
cerita perjuangan kamu dan ibumu tapi di sisi lain sayangnya aku bukan anak
bodoh, dan aku mengetahui kenyataannya seperti apa ...
Aku mengetahuinya karena aku anak
tertua di sini, sedetail apapun itu tentang kalian, aku mengetahuinya. Jadi
tolong jangan benci ayahku karena ibumu juga yang salah di sini!! seandainya
ibu kamu gak menghilang entah ke mana tentu mudah saja menemukanmu dan ayahku
__ADS_1
pun bisa bertanggung jawab atas kalian. Itu kenyataan yang ada jika kamu ingin
tau...!! dan yang berhak kamu benci ibumu bukan ayahku!!" tegas David dan
untuk sejenak ia mengambil nafas sebelum melanjutkan ucapannya.
"Jujur saja aku muak denganmu,
dengan melihatmu membuatku teringat calon adikku yang telah meninggal dan itu
di sebabkan oleh kehadiran ibumu...!!" ucap David seakan menunjukkan nada
kebencian.
"Enggak, enggak mungkin..kamu
jangan mengarang, kenyatannya gak mungkin seperti itu kan? Untuk apa juga
bundaku pergi dan menjauh ke tempat terpencil? tapi nyatanya bundaku selalu
menginginkanku dan memintaku agar bertemu ayah. Gak mungkin bundaku repot repot
ingin mempertemukan aku dan ayahku jika ia memilih menjauh pada akhirnya. Aku
rasa kamu sedang bercanda dan mengaco, ingat aku takkan percaya.!!" ujar Syakira
yang seakan menunjukkan ketidak percayaan tentang apa yang baru saja ia dengar.
"Jika kamu tidak percaya, kamu
bisa bertanya kepada bunda kamu mengenai kebenaran itu. Silahkan bertanya
padanya, aku permisi dulu ya, aku harus pergi bekerja. Jika kamu ingin melanjutkan
pembicaraan kita, nanti saja bila aku ada waktu senggang, setidaknya sepulang
aku kerja." ujar David yang segera berdiri dan berlalu pergi untuk
bekerja.
Sedangkan Syakira hanya mampu menatap
kepergian David dengan diam dan tanda tanya, apa ia harus bertanya pada
bundanya mengenai kebenaran ini?
mana yang harus ia percayai?
Tapi kenapa jika yang di katakan David
benar, mengapa bundanya selalu menginginkan ia bertemu dengan ayahnya jika
Sungguh ia masih tak mengerti dan bisa
mempercayai kenyataan ini rasanya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Setelah pertemuan dan pembicaraan mereka beberapa hari lalu, Ferdi pun awalnya
membiarkan mereka tinggal satu atap, namun karena ia tak ingin Anabel di kuasai
rasa cemburu dan ia juga tak ingin Syakira dan Afnan bertengkar terus hingga
Ferdi pun memutuskan membelikan rumah di dekat daerah mereka bagi Ana dan
Syakira tentu dengan persetujuan Anabel.
Ferdi pun berencana menyekolahkan
Syakira untuk melanjutkan pendidikannya.
Pagi ini, mereka berkumpul di rumah
Anabel untuk membicarakan kelanjutan sekolah Syakira.
Anabel yang sedang mempersiapkan
makanan untuk sarapan pagi ini, dan ia mendengar pintu rumahnya di ketuk,
Anabel hanya mampu tersenyum tipis mungkin mereka telah datang, dan Anabel
meminta Afnan membukakan pintu tersebut.
Namun Afnan seakan menyambut
kedatangan mereka dengan menunjukkan ketidak sukaannya pada mereka, Tapi Ana
dan Syakira pun tetap masuk dalam rumah Anabel dan untuk makan pagi bersama di
sana, karena ada hal yang ingin di bicarakan oleh Ferdi pada mereka.
"Ayo, silahkan masuk, ini saya
sudah mempersiapkan makan pagi ini untuk kalian dan untuk kita makan
bersama." ucap Anabel berusaha tersenyum.
"Terimakasih," ujar Ana,
__ADS_1
yang tak enak hati.
Tak lama kemudian, Ferdi pun turun ke
bawah dan ikut gabung bersama mereka.
Pagi ini, Afnan, David, Anabel, Ana
dan Syakira telah duduk satu meja untuk makan bersama.
"Humm, Alhamdulillah sudah
berkumpul, hari ini saya sengaja mengumpulkan kalian semua di sini karena aku
ingin membicarakan sesuatu, Aku dan Anabel sudah berunding, dan kami ingin
menyekolahkan Syakira kembali." ujar Ferdi, yang membuat Syakira juga Ana
terkejut dengan pernyataan Ferdi. Begitupun dengan Afnan, sedangkan David sama
sekali tidak terkejut karena ia sudah mengetahui semenjak awal, kala itu memang
ia terkejut dengan keputusan ayahnya yang akan menyekolahkan Syakira kembali
tapi ketika ayahnya memberikan alasan terlebih kondisi Syakira baginya untuk
penghapus dosa masa lalu, membuat David pun paham dan menyetujuinya.
"Bagaimana? kami ingin
menyekolahkan Syakira kembali, sebagai bentuk pertanggung jawaban saya sebagai
orang tua Syakira dan penebus dosa masa lalu saya." ucap Ferdi Kembali,
karena Ana juga Syakira tak kunjung menjawabnya.
"Serius?" tanya Ana seakan
tersendat dan pelan sekali.
"Iya, aku serius.. bagaimana?
setuju? jika iya saya akan segera mengurus surat kepindahan sekolah
Syakira." ujar Ferdi kembali..
"Iya saya setuju, karena
bagaimanapun selama ini sudah cukup Syakira menderita dan sebagai orang tuanya
bukankah kamu harus bertanggung jawab? jika kamu masih mempunyai hati, memang
sudah seharusnya semenjak awal kamu melakukan hal tersebut" tegas Ana pada
Ferdi.
"Baiklah, jika begitu saya akan
segera mengurus surat kepindahan sekolah Syakira di sekolah Afnan, karena saya
berencana akan menyekolahkan Syakira satu sekolah dengan Afnan, dengan begitu
mudah bila ingin mengantar dan mereka bisa saling menjaga. Dan saya masih
mempunyai hati sebab itu saya bertanggung jawab dan anggap saja sebagai penebus
dosa masa lalu saya. Sejujurnya ini ide dari Anabel istri saya juga. Jadi
mungkin lebih tepatnya rasa terimakasih di ucapkan kepada Anabel saja."
tegas Ferdi.
Iya, Anabel yang meminta Ferdi agar
bertanggung jawab dan menyekolahkan Syakira, bagaimanapun Syakira anak darinya
dan Ferdi harus bertanggung jawab sebagai orang tua dari Syakira, ayahnya.
Terlebih mendengar kisah dari Syakira,
membuat ia tak tega dan tak ingin Ferdi suaminya lepas tanggung jawab begitu
saja.
"Baik, terimakasih Anabel kamu
sudah mengizinkan Ferdi bertanggung jawab atas anaknya sendiri." tegas
Ana..
"Bukan hanya mengizinkan tapi ia
juga yang meminta saya bertanggung jawab dan semua ide ini dari Anabel."
jawab Ferdi, membalas ucapan Ana.
"Baiklah, terimakasih ...."
ucap Ana singkat, hatinya kesal Ferdi terus saja memuji Anabel
__ADS_1