
Di sebuah Vila yang terletak di daerah puncak
Delvano terlihat mulai melangkahkan kakinya sambil membawa segelas wine di tangannya dengan senyum yang lebar menghiasi wajah tampannya.
Delvano benar benar bahagia karena ia telah berhasil kabur dari Rafi asisten ibunya tadi siang sebelum keberangkatannya ke Bandara.
"Hahahaha benar benar bodoh.. gampang banget ngibulin dia." ucap Delvano sambil tertawa dengan keras, hingga sebuah suara lantas tiba tiba saja terdengar dan mengejutkannya.
"Siapa yang anda sebut bodoh tuan?" ucap Rafi sambil melangkahkan kakinya mendekat ke arah Delvano.
"Sialan" ucap Delvano kemudian sambil melempar gelas wine di tangannya begitu saja dan berniat hendak kembali melarikan diri ketika melihat kedatangan Rafi di Vilanya.
Niat hati ingin kembali kabur, namun yang terjadi malah sebaliknya, baru berbalik badan dua orang pria bertubuh tinggi tegap lantas terlihat menghadang Delvano sehingga ia tidak bisa lagi melarikan diri kemanapun.
Rafi memberikan kode untuk membawa Delvano bersama dengan mereka, dua orang pria bertubuh tinggi tegap itu lantas langsung mengangguk dan menyeret Delvano keluar dari Vila namun dengan seretan yang pelan dan tidak menyakitinya.
**
Di dalam mobil
Delvano yang baru saja di masukkan ke dalam mobil di mana Rafi yang mengemudikannya, lantas menatap kesal ke arah depan sambil merapikan bajunya yang berantakan karena ulah kedua bodyguard barusan.
"Mengapa kau selalu saja bisa menemukan ku?" ucap Delvano dengan kesal sambil membuang muka ke jendela mobil menatap keindahan suasana puncak malam itu.
"Saya hanya menjalankan tugas tuan, tidak lebih." jawab Rafi dengan nada yang santai, membuat Delvano semakin kesal di buatnya karena ia selalu saja kalah dengan ibunya walau apapun yang ia lakukan.
"Terserah apa katamu yang jelas kau benar benar menyebalkan!" ucap Delvano lagi sambil berdecak kesal.
"Maaf tuan" ucap Rafi dengan nada yang singkat.
Pada akhirnya mobil yang di kendarai oleh Rafi, melaju membelah jalan puncak malam itu menuju ke arah ibu kota karena memang posisi Sarah yang waktu itu sedang berada di ibu kota, jadi mau tidak mau Rafi harus membawa Delvano ke ibu kota malam ini juga.
***
__ADS_1
Kediaman Delvano
Delvano terlihat mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam mansion diikuti Rafi di belakangnya, seakan tengah berjaga jaga jika kemungkinan Delvano akan kembali melarikan diri dari sana.
Tak tak tak
Langkah kaki Delvano dan juga Rafi lantas membuat seulas senyum terlukis jelas di wajah wanita paruh baya tersebut.
"Kau berhasil membawa anak durhaka ini tepat tengah malam Raf... bagus, tadinya jika kau tidak berhasil aku bahkan sudah berencana akan memecat mu tanpa pesangon, tidak ku sangka kau berhasil membawanya kemari." ucap Sarah kemudian ketika melihat kedatangan Delvano dan juga Rafi di sana.
Rafi yang mendengar ucapan dari Sarah barusan, lantas langsung merasa lega karena ia berhasil membawa Delvano pulang tepat waktu dan tidak jadi di pecat, sedangkan Delvano yang mendengar panggilan ibunya barusan hanya bisa tersenyum kecut ketika mendengarnya keluar langsung dari mulut ibunya.
"Aku tidak ingin pergi ma, cobalah untuk mengerti bahwa aku tidak bisa jauh dari Akila." ucap Delvano kemudian yang langsung membuat Sarah menatap ke arahnya.
"Mama tahu, maka dari itu mama menyuruh mu ke Singapura dan bersabar hingga tiba waktunya kamu kembali pulang ke mari." ucap Sarah dengan nada yang santai.
"Itu tidak adil bagiku dong ma, mama bahkan jelas jelas tahu perasaan Delvano tapi mama malah menyuruh Delvano untuk menjauh darinya." protes Delvano lagi dengan nada yang penuh dengan penyesalan.
"Mama hanya menyuruh mu pergi hingga kondisi di sini cukup kondusif, jika kamu terus terusan memaksakan kehendak mu maka orang orang di luaran sana akan semakin menyudutkan mu nantinya." ucap Sarah lagi mencoba untuk membuat Delvano mengerti akan kondisinya yang sedang tidak kondusif saat ini.
Rafi yang seakan paham akan kode dari Sarah barusan, lantas langsung maju ke depan dan berhenti di hadapan Delvano.
"Mari tuan biar saya antar ke kamar anda." ucap Rafi sambil menunjukkan jalan kepada Delvano agar mulai melangkahkan kakinya.
"Aku bisa kembali sendiri ke kamar tidak perlu kau antar, berada di dekat mu dalam waktu yang lama membuat emosi ku terus meninggi, jadi aku harap kau tidak tidak perlu mengikuti ku lagi." ucap Delvano dengan nada yang ketus kemudian berlalu pergi dari sana meninggalkan Rafi dan juga Sarah yang menatap kepergiannya dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
"Nyonya apakah saya perlu menyusul tuan?" tanya Rafi sambil menunjuk ke arah kepergian Delvano baru saja.
"Sudah tidak perlu." ucap Sarah kemudian yang langsung di balas Rafi dengan anggukan kepala.
"Jika seperti itu saya permisi untuk pulang nyonya." ucap Rafi kemudian berpamitan kepada Sarah.
"Ya, pergilah." ucap Sarah dengan nada yang singkat.
__ADS_1
***
Keesokan paginya
Akila yang ingin membeli beberapa perlengkapan, lantas meminta Elbara untuk mengantarnya pergi ke supermarket.
Baik Elbara dan juga Akila lantas terlihat berkeliling di supermarket sambil mendorong troli belanjaan dan mulai mengisinya dengan satu persatu kebutuhan mereka berdua.
"Kamu ingin makan apa nanti malam?" tanya Akila kemudian kepada Elbara.
"Apapun yang kamu masak aku akan memakannya, tidak perlu khawatir." ucap Elbara sambil tersenyum ke arah Akila.
"Apa kamu yakin?" tanya Akila sekali lagi mencoba memastikannya.
"Iya tentu saja, apa aku terlihat seperti tengah berbohong saat ini?" ucap Elbara kemudian sambil mendekatkan wajahnya ke arah Akila.
Sedangkan Akila yang terkejut akan wajah Elbara yang tiba tiba saja mendekat, lantas langsung mendorong wajah Elbara agar sedikit menjauh dari dirinya.
"Baiklah baiklah, tapi tidak perlu sedekat itu juga kan!" ucap Akila dengan datar yang lantas membuat Elbara langsung tersenyum ketika mendengarnya.
"Jika sedang marah seperti itu kamu terlihat sangat menggemaskan." ucap Elbara sambil mengacak acak rambut Akila dengan gemas.
"Hentikan El! kamu membuat rambut ku berantakan." ucap Akila sambil membenarkan rambutnya membuat Elbara lagi lagi tersenyum ketika melihat tingkah Akila saat ini.
Di saat Elbara sedang asyik bercanda dengan Akila, deringan ponsel miliknya lantas terdengar yang langsung membuat Elbara menghentikan gerakannya.
"Aku akan mengangkat telpon ku sebentar." ucap Elbara kemudian yang langsung di balas Akila dengan anggukan kepala.
"Dasar" ucap Akila kemudian sambil menatap kepergian Elbara yang hendak pergi untuk mengangkat panggilan telponnya.
"Apa menyenangkan bermain rumah rumahan dengan suami orang nyonya Delvano Sebastian?" ucap sebuah suara yang langsung membuat mimik wajah Akila berubah seketika di saat mendengar ucapan tersebut.
"Kamu..."
__ADS_1
Bersambung