
Sementara Vanya kini mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi sambil bergumam: " Gue nggak boleh lemah.., Kalau Gue lemah bagaimana dengan Ibu Irma dan anak-anak... " Ya meskipun Vanya bukan Ibu kandung dari El dan Neysa tapi Ia sudah menganggap mereka seperti anaknya sendiri, begitu pula dengan Ibu Irma yang sudah Vanya anggap seperti Ibunya sendiri, apalagi ketika Vanya mengetahui jika Ibu Irma dan anak-anak ditelantarkan, Ia begitu sangat marah dan kecewa, dengan apa yang sudah diperbuat Aldo, bahkan Vanya sendiri tak menyangka jika Aldo suka bermain dengan Wanita di kantor.
" Siapa Wanita itu..?? batin Vanya bertanya-tanya dalam hati.
" Isshh ck... lagian ngapain juga Gue ngurusin Wanita jal*ng itu..., peduli apa dengan Dia... mau Dia Kekasih dari tuan Aldo, mau enggak kek terserah... " gerutu Vanya kesal sambil melajukan mobil dengan kecepatan tinggi menuju ke RS.
*****
Di Rumah Sakit Wijaya
Erlin kini bersiap untuk pulang, karena memang dirinya sudah menyelesaikan tugasnya, dan hari juga sudah sore, waktunya pergantian sift. Erlin pun lalu keluar dari ruangannya sambil berpamitan dengan teman tenaga medis lainnya, sebelum pulang, Ia berjalan menuju ke ruangan Ibu Irma di rawat untuk berpamitan, akan tetapi langkahnya terhenti karna tiba-tiba saja ponselnya berbunyi dalam saku snelinya.
Dreett.. dreett.. dreett...
Erlin pun segera mengangkatnya.
" Halo... Erlin.., ini Mommy Valen Nak... " ucap seseorang diseberang sana.
" Mommy.., kok tumben ada apa menghubungiku..?? tanya Erlin heran tak seperti biasanya orang tua dari Vanya menghubunginya.
" Nak.., Mommy mau tanya apa Vanya di RS..??, barusan Mommy dapat kabar dari teman Mommy, katanya Vanya mengendarai mobil ugal-ugalan di jalan, bahkan tadi Mommy sudah menghubungi Vanya berkali-kali, tapi tetap saja tak ada jawaban darinya, Nak... " terang Valen, yang merupakan Mommy dari Vanya. sontak membuat Erlin terkejut dengan ucapan Valen, dan saking terkejutnya Ia sampai bertanya dengan nada tinggi: " Apaaa...??"
" Eh emm maksudku memangnya Vanya belum pulang Mom..??" sambung Erlin bertanya lagi, kali ini dengan nada panik.
__ADS_1
" Sudah tadi sudah pulang bersama anak-anak.., tapi setelah itu Vanya pergi keluar, katanya baru ada urusan gitu.., tapi kata mbak Yati tadi Ada yang aneh dari Vanya.., Nak... " ucap Valen diseberang sana.
" Aneh bagaimana Mom...??, jangan nakut-nakutin Erlin dong Mom... " ucap Erlin penuh rasa cemas.
" Vanya sepertinya sedang marah besar dengan seseorang..." terang Valen pada Sahabat Putrinya. Dan disaat itu juga Erlin melihat Vanya yang berjalan memasuki RS. Erlin pun tak menjawab pernyataan dari Valen, tapi malah memanggil Vanya yang berjalan menuju ke arahnya: " Vanya.... " panggilnya, dan Erlin pun menghampirinya.
" Ada apa sih Er.. teriak-teriak...??" tanya Vanya heran pada sahabatnya.
" Ada apa.., ada apa..., nih ada telpun nih dari Mommy..." jawab Erlin ketus sambil memberikan ponselnya pada Vanya, dan Vanya pun menerimanya.
" Halo Mom... "
" Vanyaaa... Kamu dimana...?? tanya sang Mommy ketud.
" Di RS lah Mom.., mau dimana lagi.., lagian Mommy kenapa sih ketus amat sama Vanya..." jawab Vanya heran, karena merasa sang Mommy berbicara dengannya dengan nada yang tak enak.
" Hmmm.. tadi Vanya ada urusan Mom.., Mommy tenang saja.., yang penting sekarang Vanya sudah ada di RS " ucap Vanya pada sang Mommy.
" Huh... Kamu itu Vanya.., kalau sampai Mommy mengetahui Kamu kebut-kebutan lagi di jalan, Mommy nggak akan ijinkan Kamu untuk nyetir mobil lagi... " tegas Valen pada putrinya, lalu Vanya pun menjawab: " Lahh Mommy....,kok gitu sih Mom... " ucap Vanya tak terima.
" Pokoknya Mommy nggak mau tahu..., dan yaa... satu lagi.., sehabis dari RS Kamu harus language pulang ke rumah.., kasian El dan Neysa sedari tadi menunggumu.." ucap sang Mommy di seberang sana.
Tut...
__ADS_1
Sambungan telpun pun terputus, karena memang diputus sebelah pihak oleh Valen. sedangkan Vanya menggerutu kesal karena telpunnya dimatikan sebelah pihak oleh sang Mommy, padahal Ia sendiri ingin berbicara dengan anak-anak.
" Lahh.. Mommy gimana sih.. kok dimatiin.. " gerutunya sambil melihat layar ponsel milik Sahabatnya, sedangkan Erlin yang berada di depan Vanya pun menatap tajam ke arah Vanya, dengan tatapan menyelidik, lalu Ia pun bertanya: " Vanya..., darimana saja sih Lo... " ucapnya sambil bersedekap dada, seketika Vanya pun lalu mendongkakkan kepalanya, dan berkata: " Gue ke kantor perusahaan Aldo..., dan ini ponsel Lo.." ucapnya dengan nada ketus, sambil memberikan ponsel pada Sahabatnya, lalu pergi meninggalkan Erlin yang hanya diam, melongo tak percaya dengan sikap Sahabatnya yang sangat aneh baginya, Ia pun lalu mengejarnya.
" Van tungguin Gue... " ucap Erlin sambil mengejar Vanya yang berjalan cepat.
" Apa lagi sih Er..., Gue nggak ada waktu lagi..., Gue mau jenguk Ibu Irma... " ucap Vanya ketus, akan tetapi jawaban dari Vanya justru membuat Erlin geram dengan sikapnya yang aneh baginya, dan Erlin pun berkata: " Cukupp Vanya...!!, Lo kenapa sih... haa... ?!!, kalau Lo ada masalah sama Gue bilang dong Van..., jangan begitu caranya...!!" seru Erlin dengan nada meninggi.
" Erlin... bukan begitu... " belum sampai Vanya menyelesaikan ucapannya, Erlin pun menyelanya, dan berkata: " Bukan begitu gimana...??, jelas-jelas Lo marah-marah sama Gue nggak jelas gitu..., ini pasti ada apa-apanya.., benar kan..?? " ucapnya menyelidik, dengan penuh penekanan.
" Hmm... ma'af karena Gue benar-benar tersulut emosi Er..., Lo tahu sendiri bukan jika tuan Aldo menerlantarkan Ibu Irma dan anak-anak, apalagi Dia malah enak-enak main sama Wanita jal*ng di kantor..." terang Vanya, seketika mata Erlin membulat karena terkejut dengan ucapan Sahabatnya, lalu berkata: " Jangan ngaco' deh Lo Van... " ucap Erlin tak percaya.
" Terserah Lo percaya apa tidak... jelas-jelas Gue lihat dengan mata kepala Gue sendiri... " terang Vanya.
" Dan satu lagi Er... bilang sama Suami Lo.., lebih baik jangan jadikan Dia CEO di perusahaan cabang..., terlalu bagus posisi itu buat Dia... " sambung Vanya.
" Bagaimana mungkin Van...??, sedangkan Aldo sendiri sudah resmi menjadi pemilik perusahaan cabang... " Erlin bingung dengan apa yang diputuskan oleh Sahabatnya.
" Hmm... kalau memang tidak mungkin, ya sudah apa boleh buat.., mau nggak mau tuan brengs*k itu harus mau menerima kenyataan jika Ibu Irma dan anak-anak akan ikut denganku.. " ucap Vanya sambil bersedekap dada.
" Apaaa...??, itu mana mungkin sih Van percuma saja..., lagian nih ya.., apa hak Lo merawat mereka..., sedangkan Lo sendiri bukan apa-apanya Aldo... " tegas Erlin.
" Tak ada cara lain lagi Er..., cuma itu jalan satu-satunya..." ucap Vanya membantah perkataan Sahabatnya, lalu beranjak masuk ke dalam ruang perawatan Ibu Irma, sementara Erlin membuntutinya dari belakang, sambil bergumam: " Pokoknya Gue nggak mau tau.., Gue harus cari tahu sekarang juga..., karena bagaimana pun juga Vanya adalah Sahabatku.." gumamnya pelan, lalu berbalik arah tidak jadi mengikuti Vanya masuk ke dalam ruang perawatan, melainkan segera menuju ke ruang direktur utama menemui sang Suami.
__ADS_1
***Selamat Membaca****
"Jangan lupa Vote, Like, Komen, dan Favorite yaaa... Trimakasih...🥰🥰🙏🙏 "