Kisah Cinta Ceo Dan Dokter Cantik

Kisah Cinta Ceo Dan Dokter Cantik
Episode 214


__ADS_3

Si Penyelamat Pernikahan.


Seiring berjalannya waktu, pada akhirnya Erlin memutuskan untuk pulang ke kota, karena bagi Erlin hidup digantung dengan sebuah hubungan itu sangatlah susah. Apalagi sang suami malam ini juga akan bertunangan dengan Dera sahabatnya.


"Mas Aditya, kenapa kau masih di sini? Bagaimana kalau semua orang mencarimu? Malam ini kan malam pertunangan kalian, bukan?" tanya Erlin memastikan dengan tersenyum getir sambil membuang mukanya.


Aditya yang mendengarkan pertanyaan dari sang Istri pun kemudian menyahutnya dengan berkata, "Aku masih di sini karena menunggumu, Erlin! Jika kau tidak mau pulang ke mansion, maka aku juga tidak akan pulang!" tegasnya.


Aditya pun kemudian mendekat ke arah sang Istri dengan menarik lengannya.


Sreegghhh....


"Jika kau bertanya bagaimana kalau semua orang mencariku? Ya, biarkan saja. Untuk apa aku memikirkan mereka! Aku tidak akan pernah bertunangan ataupun menikah lagi dengan siapapun, Erlin. Ingat itu!" sambungnya dengan nada menohok mencengkeram kuat dagu Erlin kemudian menghempaskannya.


Namun saat Aditya akan melangkahkan kakinya pergi Erlin membuka suaranya dengan berkata. "Baiklah kalau begitu aku mau menuruti perintahmu. Hari ini juga kita pulang, dan aku yang akan menyaksikan secara langsung pertunangan kalian dengan Dera. Setelah itu kau boleh menceraikan aku, Aditya!" lantang Erlin dengan berusaha menahan rasa sesaknya di dada.


"Hmm baiklah kalau itu maumu, akan aku turuti kemauanmu, Erlin! Namun setelah aku bertunangan ataupun menikah dengan Dera. Jangan pernah berharap aku akan kembali lagi di sisimu dan jangan pernah kau menyesali keputusanmu itu!" seru Aditya membalas pernyataan dari Erlin.


Jawaban Aditya sangat berbanding terbalik dengan isi hatinya yang sebenarnya. Ia benar-benar bingung dengan keadaan. Begitu pula dengan Erlin yang mau tak mau merestui hubungan antara Dera dan Suaminya, karena Erlin masih berpikir bahwa bayi yang di kandung Dera adalah bayi hasil perzinahan dengan sang suami.


Meskipun itu semua sudah dijelaskan oleh Aditya dan Aldo, tapi sayangnya tak membuahkan hasil. Erlin tetap saja tak percaya dengan omongan mereka.


Apa lagi Erlin berpikir jika suaminya tak bertanggung jawab, lantas bagaimana dengan Dera yang hidup sendirian tanpa di dampingi seorang suami saat sedang hamil. Namun di sisi lain ia sebenarnya juga masih sangat mencintai Aditya.


"Sekarang kemasi barang-barangmu siang ini juga, sesuai janjiku padamu Erlin, malam ini aku akan bertunangan dengan Dera!"


"Hmmm baiklah, itu terserah kau saja. Yang terpenting kau harus bertanggung jawab atas perbuatanmu.."


"Heh, percuma saja aku menjelaskanmu berapa kali, aku bukanlah yang menghamilinya, tapi apalah daya, kau tetap tak percaya denganku Erlin. Ternyata kau justru malah lebih mempercayai Cowok belagu seperti Rivaldi!"


"Tutup mulutmu Aditya! Rivaldi tak seburuk yang kau katakan.." ucap Erlin. Namun sayangnya ucapan dari Erlin tak digubris oleh Aditya yang justru malah melangkahkan kakinya pergi.


***


Sementara di sisi lain Ibu Nia sudah sampai di rumah setelah mencari desainer terbaik untuk acara pertunangan putrinya nanti malam, namun saat dirinya memasuki rumah, ia begitu kebingungan melihat rumah yang tampak kosong tak berpenghuni.


Ibu Nia pun lalu segera merogoh ponselnya yang ia letakkan di tasnya untuk menghubungi seseorang.


"Halo..." ucap Ibu Nia membuka obrolan.


"Halo Bu..." jawab seseorang yang berada di seberang sana. Siapa lagi kalau bukan Dera.


"Dera, kau kemana saja, sih? Ibu cariin kok nggak ada? Kebetulan Ibu sudah mencari desainer dan perias buat nanti malam..."


"Apa? Tapi Bu..."


"Sudah tidak ada tapi tapian... pokoknya kau harus bertunangan dengan Aditya malam ini juga, dan besok kau harus menikah dengannya. Mengerti!


"Tapi Bu..." belum sampai Dera yang berada di seberang sana menyelesaikan ucapannya. Ibu Dera sudah mematikan ponselnya.


"Hah, akhirnya aku akan menjadi orang kaya... hahahaha...." ucap Ibu Dera dengan tertawa bahagia.


Sementara Dera yang sedang berada di RS untuk memeriksakan kandungannya pun dibuat pusing dengan ucapan sang Ibu.


"Ya Tuhan, bagaimana ini? Tolonglah aku..." ujarnya sambil mengusap wajah mulusnya dengan kasar. Ia pun lalu beralih melihat ke arah perutnya yang masih terlihat rata, kemudian mengelusnya.


"Sayang, Mama mau curhat sama kamu Nak, belum sampai Mama menjelaskan ke publik, Nenek dan Auntymu sudah membuat Mama hancur, Nak. Hiks.. hiks.. hiks.." ucapnya sambil mengusap-usap perut ratanya.


Namun siapa sangka ketika Dera berbicara sendiri, ada seseorang yang sedang memperhatikannya. Bahkan pandangan matanya seolah-olah begitu memilukan di matanya.


"Dera.." panggil seseorang itu pada Dera. Seketika saja Dera mengalihkan pandangan menatap ke arah seseorang itu. Ternyata seseorang yang memanggilnya adalah Vitalia Putri Wijaya.


"Vitalia, kau..." ucap Dera terkejut melihat kedatangan Vitalia sambil menghapus air matanya.

__ADS_1


"Kau kenapa? Kenapa kau begitu murung?" tanya Vitalia dengan menautkan kedua alisnya penasaran.


"Kau tau kan Vit, berita yang beredar di masyarakat hari ini? Ibu dan Levi sudah mengumumkan pada seluruh media masa jika aku akan bertunangan dengan kakakmu Vitalia. Hiks... hiks.. Aku jahat, Vit. Aku jahat! Aku seorang pelakor Vitalia! Aku seorang pelakor! Hiks .. hiks .. hiks..." jawab Dera dengan menangis histeris.


Vitalia yang melihat sahabatnya begitu rapuh pun tak tega, ia kemudian merengkuh tubuh sahabatnya itu untuk menenangkannya.


"Dera, sudah tenangkan dirimu, aku kali ini berjanji padamu jika aku akan membantumu. Dan aku berjanji padamu sebelum acara pertunanganmu dengan kakakku terjadi, aku akan membawa Emon mu itu.."


"Vitalia, kau serius?" tanya Dera memastikan.


"Iya, aku serius! Dia akan datang setelah urusannya selesai, De..." jawab Vitalia.


Dera oun bertanya lagi. "Apa kau yakin, Vit?"


"Hmmm iya. Aku yakin De.. dengan adanya dia muncul saat pertunanganmu nanti, di saat itu pula kau akan menikah dengannya, dia sendiri yang berkata seperti itu kepadaku..." jelas Vitalia kepada Dera.


Dera pun lalu memeluk Vitalia.


Greeppp....


"Vitalia hiks.. hiks.. aku tak tau cara berterimakasih kepadamu, Vit... hiks ... hiks.. tapi aku janji padamu bahwa aku akan selalu siap sedia membantumu jika kau membutuhkanku..." ucapnya menangis sesenggukan di pelukan Vitalia.


Vitalia pun menjawabnya dengan berkata, "Sudah De, jangan begitu. Kita itu kan bestie.." ujar Vitalia sambil tersenyum manis ke arah Dera.


Dengan diikuti senyum yang mengembang dari wajahnya, Dera menjawabnya dengan berkata, "Tapi Vit, bagaimana dengan dirimu?"


Dengan tersenyum getir Vitalia menjawabnya, "Entahlah, tapi yang jelas kau tenang saja, malam ini juga aku akan menampakkan diri di depan keluargaku di saat acara pertunangan sedang berlangsung." terangnya.


***


Sementara di lain tempat nampak Erlin sudah selesai mengemasi barang-barangnya bersama Mbok Inah. Setelah semuanya selesai, Erlin memutuskan untuk masuk ke dalam mobil yang ditumpangi oleh Aditya. Sedangkan Aldo berada satu mobil bersama dengan Rivaldi dan juga Mbok Inah serta anak-anak.


"Erlin, apakah kau benar-benar serius ingin menceraikan aku?" tanya Aditya mencoba meyakinkan sang Istri kembali.


"Aku tau, kau pasti sakit hati kan saat kau mengatakan seperti itu?" sahut Aditya kembali melemparkan pertanyaan lagi kepada Erlin.


Dengan tersenyum kecut Erlin menjawabnya dengan berkata, "Kata siapa aku sakit hati? Heh, itu kan katamu,"


Mendengar pernyataan dari Erlin, Aditya pun tak terima, ia kemudian mengerem mobilnya secara mendadak lalu beralih menarik lengan Erlin.


Sreeggghhh....


"Apa kau bilang? Coba katakan kepadaku sekali lagi Erlin? Ayo katakan sekali lagi!" bentak Aditya dengan sorot mata tajamnya menatap Erlin yang berada tepat di hadapannya. 'Ya, kini posisi mereka sangat berdekatan, bahkan tak terpaut jarak sama sekali.'


Melihat mata Aditya yang menatapnya nanar, tak terasa mata Erlin tiba-tiba juga ikut berkaca-kaca. Meskipun begitu ia tetap membantah perkataan dari Aditya.


"Aku tak merasa sakit hati, Aditya! Puas kau!" balas Erlin dengan nada tak kalah tingginya dengan suara Aditya, lalu menghempaskan tangan Aditya yang mencengkeramnya kuat-kuat.


Setelah perdebatan panjang itu, Aditya pun kemudian kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia begitu emosi melihat sang istri yang sangat berubah semenjak kejadian itu. Bahkan di sepanjang perjalanan mereka tak ada yang mengeluarkan suaranya sama sekali.


***


Tak terasa hari sudah mulai petang, hingga tiba waktunya malam pertunangan Aditya dan Dera. Bahkan semua keluarga Wijaya nampak sedang berkumpul bersama dengan keluarga Ibu Nia yang sedang menunggu kehadiran Aditya dan Dera.


Namun di saat itu juga Aditya belum datang juga di acara pertunangan tersebut. Sementara Dera kini sedang menyiapkan dirinya untuk menghadapi malam pertunangannya.


"Ya Tuhan, aku berharap rencana Vitalia untuk mendatangkan ayah dari anakku tidak batal, sehingga pertunangan ku dengan Aditya bisa dibatalkan..." gumam Dera dalam hati sambil merias dirinya di depan cermin, dengan dibantu seorang perias.


***


Sementara di sisi lain Aditya masih berada di dalam mobil bersama dengan Erlin yang nampak tertidur pulas. Di saat Aditya sudah sampai di kota S, ponsel Aditya berbunyi. Menandakan ada sebuah telepon masuk.


Ting... Ting... Ting..

__ADS_1


Aditya segera merogoh ponselnya yang berada di saku kemejanya kemudian mengangkatnya.


"Halo..."


"Aditya, kau dimana, nak? Semua orang sudah menunggumu.."


"Tenang saja Mah, Aditya sudah sampai di kota S, dan sebentar lagi Aditya akan sampai mansion tepat waktu.." jawab Aditya dingin. Sementara Erlin yang mendengar obrolan tersebut pun mengerjapkan matanya bangun dari tidurnya namun tak membuka suaranya sama sekali.


Lima menit kemudian akhirnya mobil mereka sudah sampai di mansion Wijaya. Bahkan kedatangan mereka begitu disambut meriah oleh para wartawan yang meliput.


Sampai-sampai Erlin dibuat tercengang dengan apa yang sudah ia lihat saat ini. Hati nya begitu hancur seketika karena melihat pemandangan yang baginya sangat melukai hatinya. Bagaimana tidak, suaminya telah dikabarkan bertunangan dengan wanita lain karena telah menghamilinya.


Saat Aditya, Aldo, Rivaldi dan Mbok Inah sudah turun dari mobil, Erlin justru tetap berada di dalam mobil, enggan untuk turun. Aditya yang melihat sang istri hanya diam di dalam mobil pun membiarkannya begitu saja, karena ia tau bahwa Erlin pasti sangat sedih melihat dirinya bertunangan dengan wanita lain.


"Kenapa kau tak mengajaknya, Dit?" tanya Aldo heran menatap Aditya.


"Biarkan saja, nanti juga dia mau turun..." balas Aditya dingin, lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam mansion dengan di kawal pihak pengamanan diikuti oleh Aldo yang menggendong El dan Mbok Inah yang menggendong Daffa yang tertidur pulas.


Sementara Rivaldi kini melangkahkan kakinya mendekat ke arah mobil Aditya untuk membujuk Erlin agar mau keluar dari dalam mobil.


Klek...


Rivaldi membuka pintu mobil milik Aditya.


"Er, ayo turun! Bukankah kau bilang ingin menyaksikan pertunangan Aditya dengan Dera?"


Bukannya menjawab Erlin hanya diam melamun seperti sedang memikirkan sesuatu. "Ya Allah, kuatkanlah hatiku ketika melihat suamiku bertunangan dengan wanita lain. Hamba memohon kepadamu Ya Allah, jika ini adalah takdir hamba untuk berpisah dengan Mas Aditya, izinkanlah kami agar kami tetap saling bertemu meskipun kami sudah berpisah.." gumamnya berdoa dalam hati.


Hingga akhrinya lamunannya buyar seketika, setelah Rivaldi memanggilnya lagi.


"Erlin, ada apa?" tanyanya.


"Eh.. emmhh tidak kok Val. Lebih baik kita masuk ke dalam saja.." jawab Erlin salah tingkah, lalu keluar dari dalam mobil.


***


Saat Erlin dan Rivaldi sudah menginjakkan kaki di mansion Wijaya, banyak para wartawan bahkan para tamu yang menatap ke arah keduanya. Bahkan mereka benar-benar tak luput dari sorotan media masa.


Begitu pula dengan Keluarga Wijaya dan para sahabat Erlin yaitu Vanya, Dina dan Clara yang tak kalah terkejutnya melihat kedatangan Erlin yang sedang berjalan berdampingan dengan Rivaldi.


"Erlin..." ucap para sahabat dari Erlin secara bersamaan menatap kedatangan Erlin. Di saat yang bersamaan acara pertunangan antara Aditya dan Dera pun segera di mulai.


"Hiyap, setelah menunggu berjam-jam akhirnya acara dimulai juga... mari kita sambut dengan meriah, ini dia pasangan serasi kita malam hari ini Aditya Bramansta Wijaya dan Dera Permata."ucap si pembawa acara.


Para tamu undangan pun bersorak sorai menyambut kedatangan keduanya dengan meriah. Terkecuali Erlin yang begitu sesak melihat sang suami yang bergandengan tangan dengan wanita lain, yang tak lain adalah sahabatnya sendiri.


Saat Aditya sudah berada di atas panggung bersama dengan Dera. Tanpa mengulur waktu, Aditya segera merogoh saku celananya untuk mengeluarkan sebuah kotak cincin.


Dan di saat itu juga semua orang yang menghadiri acara tersebut berteriak histeris termasuk para MC yang terlibat.


"Waow.. woaw.. waow... ini sungguh di luar biasa, dan diluar dugaan saya, seorang Tuan Aditya yang sudah mempunyai seorang istri kini sudah tidak sabar untuk menyematkan cincin ke jari manis Nona Dera yang akan menjadi istri kedua darinya..."


Seketika saja ucapan dari kedua MC tersebut membuat hati Erlin semakin teriris. Ia benar-benar tak kuat menahan rasa sakit hatinya. Bahkan ketika kedua MC berkata seperti itu, mata Erlin langsung berkaca-kaca tak mampu menahan air matanya.


Sampai-sampai Tuan Wijaya beserta sang Istri begitu tak tega melihat Erlin tersakiti. Begitu pula dengan para sahabat Erlin.


"Kalau begitu kita mulai hitung mundur ya, Tuan Aditya bersiaplah untuk menyematkan cincin di jari di jari manis Nona Dera ya..." ujar salah satu MC tersebut.


"Mari kita hitung mundur bersama-sama!" ajak salah satu MCnya agar menuruti perkataannya.


Tiga... Dua... Satu....


"Tungguuuu!" teriak seseorang dari arah pintu menghentikan pertunangan Aditya dan juga Dera. Seketika itu pula, semua mata mengarahkan pandangan menatap seseorang yang berteriak itu.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2