Kisah Cinta Ceo Dan Dokter Cantik

Kisah Cinta Ceo Dan Dokter Cantik
Episode 208


__ADS_3

Bukan Hamil Anak Aditya


Setelah dari RS untuk memeriksakan kandungannya, kini Dera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju ke rumahnya. Namun di tengah perjalanan ia dihujani caci makian dari Ibu Nia, yang tidak lain Ibu kandungnya sendiri.


"Dasar anak tak tau diri! Sudah dihamili orang, tapi diam saja! Apa kau tak memikirkan anakmu? Bagaimana kalau dia sudah besar nanti? Apa kau tega anakmu dijuluki sebagai anak haram?" ujar Ibu Nia melontarkan caci makian terhadap Dera.


Sedangkan Dera yang mendapati Ibunya berbicara seperti itu pun tak terima. "Cukup Bu! Bisa tidak berhenti mencaciku!


"Bagaimana Ibu tak mencacimu? Sedangkan kau, ku suruh meminta pertanggungjawaban dari Aditya saja tak bisa!" seru Ibu Nia sambil memutar bola matanya malas.


Sementara Dera, tak menghiraukan sang Ibu yang terus saja memarahinya, ia justru malah turun dari mobil yang dikendarainya, karena kebetulan sudah sampai rumahnya.


Dengan cepat Dera berjalan memasuki rumahnya dengan diikuti Ibu Nia dari belakang sambil menceramahinya.


"Ibu itu kurang apa sih De.., bisa-bisanya kau bikin rumit masalahnya!" omel Ibu Nia pada Dera yang sudah melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.


Dengan mendudukkan pantatnya di sofa ruang keluarga, Dera menjawabnya dengan berkata, "Yang bikin rumit itu Ibu, tau nggak! Dera nggak akan pernah meminta pertanggungjawaban dari Aditya, karena Dera merasa bukan Aditya yang menghamili Dera, Bu!" tegasnya yang akhirnya ia mengungkapkan kebenarannya.


"Apa kau bilang? Lalu kalau bukan dia siapa lagi, Dera! Jelas-jelas Aditya yang menidurimu, bisa-bisanya bilang kek gitu!" ujar Ibu Nia dengan nada meninggi tersulut emosi dengan apa yang dikatakan putrinya.


"Karena sebelum sama Aditya, Dera sudah tidak perawan, Bu! Hiks.. hiks.. hiks.."


Plaaakkkk...


Sebuah tamparan keras dilayangkan oleh Ibu Nia yang melayang dengan begitu saja mengenai pipi mulus milik Dera.


"Apa maksudmu, ha?" bentak Ibu Nia tersulut emosi.


Dengan menangis sesenggukan Dera menjawabnya dengan berkata, "Aku hiks.. hiks.., sebelum dengan Aditya aku.. hiks... hiks.." ucapnya tak jelas.


Mendengarkan ucapan dari Dera yang tidak begitu jelas, Ibu Nia pun menarik Dera untuk berdiri dari tempat duduknya kan berkata, "Katakan dengan jelas Dera! Jangan berbelit-belit!"


"Aku hamil anak orang lain Bu, bukan hamil anak Aditya! Hiks... hiks..." Tegas Dera dengan menangis sesenggukan.


Betapa terkejutnya Ibu Nia yang mendengarkan penuturan dari putrinya itu. Seketika saja Ibu Nia melemparkan sebuah tamparan keras ke arah Dera.


Plakkkk....

__ADS_1


Dera terhuyung jatuh di atas sofa akibat tamparan tersebut.


"Cukup Dera, omong kosong apa lagi ini?" ucapnya dengan suara meninggi.


Sementara Dera merintih kesakitan sambil memegangi pipi mulusnya dengan menangis sesenggukan di atas sofa.


"Maafkan aku, Bu! Aku hamil anak orang lain Bu, bukan hamil anak Aditya! Hiks.. hiks.. hiks.." Dera sekali lagi mengungkapkan kebenarannya pada sang Ibu.


"Katakan siapa yang berani menghamilimu?" sahut Ibu Nia dengan bertanya.


Dera pun menjawabnya dengan menangis sesenggukanq. "Dia..., hiks.. hiks.. Dia seorang pengusaha dari luar negeri, Bu! Aku melakukan hubungan bad*n dengannya juga tak sengaja! Kami tak tau, Bu! Hiks... hiks.. hiks.." ujarnya menjelaskan.


Sementara Ibu Nia yang mendengarkan ucapan dari Dera pun tak percaya dengan begitu saja, "Apa? Tidak mungkin Dera!" tegasnya menentang pernyataan Dera.


"Memang kenyataannya begitu, Bu! Dera yakin sekali sebelum kejadian itu, Dera memang sudah telat m*nstruasi, dan itu artinya hiks... hiks..., janin yang ku kandung bukan anak dari Aditya, Bu! Hiks... hiks.." ujar Dera menjelaskan lagi kepada sang Ibu.


"Kalau memang benar dia yang menghamilimu? Dia kemana Dera? Apa dia perduli denganmu? Tidak kan? Terus bagaimana dengan anakmu nanti? Apa kau tak memikirkannya, jika bapaknya saja tak mau bertanggungjawab?" Ibu Nia mencecar berbagai pertanyaan kepada Dera.


Mendengar berbagai pertanyaan dari sang Ibu, Dera pun tak terima, ia membalasnya dengan berkata, " Tidak, Bu! Dia akan bertanggungjawab kok, Bu! Nggak lama lagi dia akan tiba lagi ke Indonesia!" ucapnya dengan penuh percaya diri.


"Cukup Dera! Pokoknya, Ibu nggak mau tau, kau harus menikah dengan Aditya. Dia harus bertanggungjawab atas semua ini!"


Plaaakkk...


Lagi-lagi Ibu Nia menampar Dera lagi dengan tamparan yang kali ini cukup keras.


"Hanya itulah jalan satu-satunya Dera!


"Apa kau tak malu jika para tetangga kita tau, kalau kau hamil, dan bapaknya pergi meninggalkanmu?"


"Bagaimana Ibu menjelaskan kepada mereks, Nak? Apa kau tak kasihan melihat anakmu nanti menderita hanya gara-gara bapaknya tak bertanggungjawab!


"Tolong Dera kali ini saja, turutilah perkataan Ibu, Nak, jika kau benar-benar sayang sama Ibu buktikan baktimu pada Ibumu ini," ucap Ibu Nia dengan nada memelas di depan Dera.


"Ibu, dengarkan aku, Bu! Bukan ya Dera tak mau menuruti perintah Ibu, tapi.." belum sampai Dera selesai menyelesaikan ucapannya sang Ibu pun memotongnya.


"Cukup Dera! Ibu nggak mau tau pokoknya kau harus menikah dengan Aditya! Ibu nggak mau tau, bagaimanapun caranya kau harus menikah dengannya! Hanya dialah harapan satu-satunya Dera! Ingat itu!" seru Ibu Nia sambil menunjuk-nunjuk Dera memperingatkan putrinya.

__ADS_1


Tanpa menjawab sepatah apapun, Dera hanya menangis sesenggukan meratapi nasibnya saat ini. Sementara Ibu Nia melangkahkan kakinya keluar rumah setelah memarahi putrinya habis-habisan.


Dera yang melihat Ibunya pergi dari rumah hanya diam menatapnya.


"Hiks... hiks... hiks.. Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Aku harus bagaimana? Hiks.. hiks.. hiks..." ucapnya dengan menangis sesenggukan dan menjatuhkan dirinya ke lantai.


Tanpa mereka sadari ada seseorang yang sedang mendengarkan perdebatan hebat diantara Ibu dan Anak tersebut.


"Ya, Erlin. Aku harus menghubunginya, aku harus menghubunginya sekarang juga!


Sementara Dera pun segera menghapus air matanya lalu mengambil ponselnya yang masih berada di dalam tasnya untuk menghubungi seseorang.


Tut.... tut... tut...


Sayangnya orang yang ia hubungi tak menjawab teleponnya. Namun ia tak menyerah dengan begitu saja, ia terus menghubungi seseorang itu, yang tak lain adalah sahabatnya semasa sekolah.


"Erlin kumohon angkatlah! Please, kumohon..." ujarnya dengan berjalan mondar-mandir sambil meletakkan ponselnya di dekat telinganya yang tak kunjung diangkat.


"Erlin, kau kemana? Kenapa kau tak mau mengangkatnya, Er? Hiks.. hiks.. maafkan aku Erlin, aku benar-benar bodoh, bisa-bisanya aku terjebak dengan permainan licik Levi! Hiks.. hiks.." sambungnya lagi merutuki kebodohannya sendiri.


Akhirnya Dera memutuskan untuk menghentikan panggilannya, dan beralih menelepon orang lain.


Tut...


Sambungan telepon pun terhubung.


"Tuan..., sampai kapan kau terus bersembunyi? Kau bahkan tak menampakkan diri setelah kejadian itu! Hiks.. hiks..


"Kenapa kau menangis?" tanya seseorang yang berada di seberang sana.


"Bukan urusanmu! Ini semua gara-gara Tuan! Aku hamil anakmu Tuan! Aku hanya ingin kau bertanggungjawab dalam hal ini!" pinta Dera dengan amarah yang memuncak. Ia pun lalu mematikan ponselnya dengan begitu saja, tanpa menunggu jawaban dari seseorang yang ia telepon itu.


**


Bersambung....


...****************...

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2