
" Hmmm...,Yaa waktu itu El berusaha menolongku... " ucap Vanya, seketika membuat semua yang ada di ruangan tersebut terkejut.
" Maksudmu...?? tanya Erlin penasaran dengan apa yang dikatakan sahabatnya.
" Yaa.. waktu itu Gue sedang di seret paksa dan di todong dengan pisau oleh dokter Irsyad, dan ketika Gue di seret..,El melihatku..dan berusaha untuk menolongku, walaupun El sempat tersungkur jatuh karena di dorong oleh Irayad,di situlah Gue memberontak, dan disitulah kesempatan untuk melepaskan diri, dibantu oleh El...,lalu akhirnya Gue berhasil...,tetapi Gue salah langkah.. dr.Irsyad berhasil mengelabuhiku,karena El menjadi taruhan makanya gue menyerahkan diri...,sementara Gue lalu menyuruh El untuk pergi meninggalkanku, di saat itulah gue di pukul dari belakang menggunakan sebilah kayu dan Gue di suntik paksa oleh dokter br*ngs*k itu,lalu dia meninggalkanku sendirian di ruangan itu...dan disaat itu lah gue berusaha menghubungi Elo...Er...,Gue hanya memencet tombol sebisaku saja..karena saat itu Gue benar-benar lemah...tak berdaya... hampir nyawaku melayang..." Vanya bercerita kejadian yang sebenarnya, mereka pun memelototkan matanya karena terkejut... betapa sadisnya dr.Irsyad telah menyiksa sahabatnya itu, Erlin berfikir bahwa itu semua adalah salah dari dirinya... jika saja Erlin tidak pergi dari negara X, dan tidak menuruti permintaan Suaminya dan para Sahabatnya, Vanya dan juga Dina tak akan menjadi korban.
" Ini benar-benar salah Gue....Van... hiks.. hiks... maafkan Gue.... " ucap Erlin sambil menundukkan kepala, penuh penyesalan.
" Er... sudah berapa kali ku bilang jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri...!!,Gue ini Sahabat Lo Er.. suka duka harus kita lalui bersama..., selagi Gue bisa bantu Lo kenapa tidak... " ucap Vanya pada Erlin.
" Hikss... hikss... thanks Van..., Elo sudah mengorbankan nyawamu sendiri demi Gue... " ucap Erlin sambil menangis sesegukan.
" Tante dokter kenapa menangis... jangan menangis tante..., kan Bunda dokter sudah bilang kalau ini bukan kesalahan tante... " perkataan El membuat semua yang ada di ruangan itu pun terharu.
" Tuhh.. liat kan... anak kecil saja tau Er..., udah nggak usah terlalu Lo pikir..., yang terpenting sekarang itu Lo cepet dong bikin ponakan buat Gue....iya nggak tuan Aditya...." ucap Vanya menggoda Erlin dan Aditya. seketika Erlin melototkan matanya ke arah Vanya...,Vanya yang dipelototin bukannya takut, tapi malah terkekeh geli, karena berhasil menggoda sahabatnya... sementara Aditya tersenyum penuh arti.
" Bener tuh... kata dokter Vanya, nanti kita buat dedek yukkk... " ucap Aditya pada sang Istri, sontak Erlin mencubit pinggang sang Suami keras..
Cekittttt.....
" Awww... sayang... sakit Yang..... " ucap Aditya meringis kesakitan,dan membuat semua yang ada di ruangan itu terkikik geli dengan ulah sepasang Suami Istri tersebut...
" Makanya kalau ngomong itu liat-liat tempat dong Mas... , jangan asal ngomong... , bikin malu saja... " ucap Erlin sambil memutar bola matanya jengah.
" Sudah...sudah...nggak usah ribut.., lagian benar apa kata Vanya Dan Suamimu Er... Mommy juga sangat menantikan cucu keponakan, nggak Ada salahnya kami menantikan baby kalian... " ucap Valen, Mommy dari Vanya.
" Hmmm iyaa... Mom, tapi ya nggak harus dibahas disini juga kali Mom... " ucap Erlin sambil menekuk mukanya.
" Apaaa Lo ketawa-ketawa..., puas Lo..." ucap Erlin dengan nada tinggi.
__ADS_1
" Hehehe... iyaaa iyaa.. maaf..." ucap Vanya.
" Ya sudah ayo El ikut tante saja yuk...., jangan dengerin omongan mereka ya...terutama omongan Bunda doktermu itu..." ucap Erlin sambil melirik Vanya sekilas, El pun hanya menganggukkan kepalanya saja,tanda menurut...
" Baguss... anak pintar..." ucap Erlin lalu ia pun berjalan pergi dari ruangan itu sambil menggandeng El dengan hati kesal.
" Ehh... ehh... mau dibawa kemana anakku... " teriak Vanya nyaring.
" Biarin.... hweekk..." ucap Erlin meledek Vanya di ambang pintu. Vanya hanya menggelengkan kepalanya saja melihat Sahabatnya yang seperti anak kecil.
" Oh ya...,suster bawa dokter Vanya pindah ke ruangan khusus segera ya...kasian kalau anak kecil nunggu disini..." ucap Erlin pada salah satu perawat yang mau masuk ke ruangan itu.
" Baik dok.... " ucap perawat tersebut. sementara di dalam ruang tindakan tinggal Aditya,Valen,dan Ibu Irma.
" Hmm Yaa dokter Vanya maafin Istri saya ya... dia memang begitu orangnya... dan terimakasih sudah membantu masalah kami... " ucap Aditya pada Vanya.
" Tuan Aditya jangan begitu...bahkan sudah biasa keseharian kami memang seperti itu...dan juga jangan sekali-kali mengucapkan terimakasih pada saya,sebagai Sahabatnya Erlin sudah tugas saya menjaga Erlin.., kalian sudah saya anggap seperti kakak saya sendiri..." ucap Vanya tulus sambil tersenyum tipis pada Aditya, Aditya pun hanya menganggukkan kepalanya saja.
" Baik Bu..., Ibu hati-hati ya... " ucap Vanya sambil tersenyum ramah pada Ibu Irma.
" Bu.. kalau butuh apa-apa bilang sama saya ya... Aldo itu sahabat saya Bu,dan saya sudah Meng anggap nya seperti keluarga saya sendiri.. " Aditya menimpali obrolan.
" Baik Nak... terimakasih ya..., kalau begitu Ibu pamit dulu... " ucap Ibu Irma.
" Ya bu... " ucap Vanya dan Aditya serempak.
" Mari Bu... saya antar kedepan... " ucap Mommy Valen ibunda dari Vanya, pada Ibu Irma..., mereka pun berjalan keluar dari ruangan tersebut.
" Hmm... ya sudah kalau begitu saya keluar dulu...,dan cepat sembuh...,kamu memang sahabat terbaik dokter Vanya...,mulai sekarang jangan panggil saya tuan lagi...,panggil saya Aditya atau kakak seperti Vitalia memanggilku..." terang Aditya pada Vanya, belum sempat Vanya menjawab,mereka pun dikejutkan dengan kedatangan dr.Irsyad.
__ADS_1
Cekleekkk.....
Seketika Aditya Dan Vanya menoleh ke Arah sumber suara.
" dokter Irsyad... " gumam Vanya terkejut dengan kedatangan Irsyad, sedangkan Aditya yang mau keluar ruangan itu, ia urungkan niatnya..
" dokter Vanya... maafkan aku..., ini semua salahku..hiks..hiks... " ucap dokter Irsyad sambil memegang tangan Vanya,dan menangis sesegukan, tapi Vanya hanya diam kebingungan,melihat sikap dr.Irsyad yang entah kenapa bisa berubah begitu saja, sedangkan Aditya menganggukkan kepala menatap Vanya, tanda agar Vanya mengiyakan permintaan maaf dari dr.Irsyad.
" Lepaskan tanganmu dokter Irsyad... " ucap Vanya dingin, tapi dokter Irsyad pun tak melepas tangan Vanya begitu saja.
" Tapi dok..., tolong maafkan aku..., aku sudah berjanji dengan Dina untuk meminta maaf denganmu..."
" Apa hanya karena Dina anda meminta maaf denganku...??,kalau begitu bukan dari kehendak hati anda sendiri dong, dr.Irsyad... " ucap Vanya dingin.
" Bukan seperti itu dokter Vanya.., aku meminta maaf padamu juga bukan karna Dina saja, karna memang kehendak hati saya juga dr.Vanya...saya benar-benar sangat menyesal setelah apa yang aku perbuat... " ucap dr.Irsyad pada Vanya., tapi Vanya hanya diam tak menjawab perkataan dr.Irsyad, pikirannya saat ini benar-benar sedang berkecamuk,tak tau harus berkata apa, karena dr.Irsyad lah ia terbaring lemah dan berkat dia lah ia bisa pulih kembali.
" Bagaimana ini.... apa gue harus memaafkannya.. setelah apa yang dia perbuat..., sedangkan karna dia lah gue bisa pulih lagi...,apalagi dia calon Suami Dina...,tapi kalau gue masih dendam sama dr.Irsyad itu juga nggak mungkin..." ucap Vanya dalam hati, sedangkan Aditya yang sendiri tadi hanya memperhatikan saja,sekarang ia pun membuka suaranya
" Vanya...ingat bagaimana pun dia juga sudah menolongmu...jadi maafkanlah dia...,turuti apa kata hatimu... walaupun itu berat bagimu... " ucap Aditya memberi masukan Vanya, belum sampai Vanya menjawab,salah satu perawat dating dan berkata: " Maaf mengganggu tuan, dokter Vanya, kami akan memindahkan anda ke ruangan perawatan khusus sekarang juga... " ucap perawat tersebut.
" Baik Sus... " ucap Vanya. sedangkan dr.Irsyad berusaha menahan para perawat itu agar menunda untuk di pindah ke ruang perawatan.
" Sebentar Sus.. kasih saya kesempatan untuk mengobrol dengan dokter Vanya.. " ucap dr.Irsyad.
" Sudah Sus... jangan dengarin dia..,pindahkan dokter Vanya ke ruang perawatan sekarang juga" titah Aditya pada perawat tersebut.
" Baik tuan..."
" Hmm ya setelah ini saya baru mengijinkanmu untuk berbicara lagi dengan Vanya... dokter Irsyad.... " ucap Aditya dingin lalu meninggalkan ruangan itu, bersama Vanya yang di gledek ke ruang perawatan dibantu para perawat.
__ADS_1
***Maaf Author telat up nya... karena Author sedang tidak enak badan... 🙏🙏
Jangan Lupa Vote, Like, dan Komennya Ya... 😉😉 Terimakasih.... 🙏🙏***