
Keputusan Ada Di Tangan Erlin
Sementara Aditya yang mendengar penuturan dari seorang Pria yang saat ini ada dihadapannya pun mengepalkan tangannya geram, lalu melayangkan pukulan bogem mentah ke wajah Pria itu.
Sreegghhh...
Pukulan yang dilayangkan Aditya justru ditahan oleh Rivaldi. 'Ya, seseorang yang menahan tangan Aditya adalah Rivaldi, seorang mantan kekasih dari Erlin.'
Sementara Aditya yang merasa tangannya di cengkeram kuat oleh Pria yang tak dikenalnya itu pun lalu dihempaskannya.
Sreggghh...
Aditya berhasil menghempaskan tangan Rivaldi.
"Dasar baj*ng*n sebenarnya kau siapa, ha? Beraninya kau melawanku...
"Bukankah tadi sudah ku bilang jika aku adalah mantan kekasih istri tercintamu? Aku adalah Rivaldi Alfonso ..." tanya Rivaldi berusaha meyakinkan Aditya.
"Br*ngsek, beraninya kau mengaku-ngaku sebagai mantan istriku!" seru Aditya sambil menatap tajam Rivaldi dengan tatapan membunuh.
"Masih tak percaya? Tanya saja sama istrimu!" balas Rivaldi dengan nada menantang.
"Apa? Dasar kep*r*t, br*gsek kau!" umpat Aditya tersulut emosi.
Buuukkk....
Pukulan bogem mentah dilayangkan oleh Aditya tepat mengarah ke arah perut Rivaldi.
"Arrggghhh..." rengek Rivaldi kesakitan.
Bukk .... Buukkk...
Lagi-lagi Aditya menyerang Rivaldi dengan bertubi-tubi. Hingga akhirnya Rivaldi pun tersungkur di tanah.
Braaakk....
"Arrgghhh..." rengek Rivaldi kesakitan sambil memegangi bibirnya yang berdarah.
"Itulah akibatnya jika kau berani ikut campur urusanku!" tegas Aditya dengan muka temboknya.
"Tuan, sudah jangan ladeni dia! Lebih baik kita pulang dulu, besok kita lanjutkan pencarian Nyonya Muda lagi," tutur Sekretaris With berusaha memberi pengertian pada Aditya.
Rivaldi yang tak mau kalah dengan begitu saja pun segera bangun.
"Kep*rat kau Aditya!" umpat Rivaldi mengepalkan tangannya geram. Dengan cepat Rivaldi pun berbalik menyerang Aditya yang hendak pergi meninggalkannya.
__ADS_1
Bukkkk... Buukkk... Buuukkk...
Pukulan bertubi-tubi dilayangkan oleh Rivaldi mengarah ke arah Aditya.
"Arrgghhh..." rengek Aditya kesakitan.
"Tuan anda tidak apa-apa kan?" tanya Sekretaris Wu memastikan kondisi atasannya.
"Aku tidak papa Sekretaris Wu..." jawab Aditya sambil menghapus darah yang keluar dari sudut bibirnya.
Sementara Rivaldi yang melihat Aditya dituntun untuk berdiri pun hanya tersenyum kecut, Dan berkata, "Hanya segitu 'kah kekuatanmu? Perlu kau ingat Tuan Aditya Bramansta Wijaya. Jika kau berani menyakiti hati istrimu, lihat saja nanti. Aku akan ku pastikan kau tak akan bisa hidup tenang, Aditya!" seru Rivaldi dengan tatapan membunuh.
...😎***************😎...
Sementara Dera mini hanya bisa menangis sesenggukan di dalam kamarnya. Ia benar-benar tak percaya dengan apa yang sudah terjadi.
"Yaa Tuhan, kenapa semua harus terjadi yang kedua kalinya pada diriku! Hiks... hiks... hiks.." ucap Dera sambil menangis sesenggukan.
Dera pun lalu memencet tombol untuk menghubungi seseorang. "Tuan..., tolong aku! Aku benar-benar membutuhkanmu saat ini! Hiks.. hiks... hiks..." ucap Dera dengan menangis sesenggukan. Dera pun lalu menceritakan pada si penelpon tentang kejadian yang sedang menimpanya saat ini.
"Kau tenang saja, akan ku pastikan kau akan menikah denganmu!" tegas seseorang yang berada di seberang sana.
"Terima kasih Tuan, tapi apakah anda yakin anda mampu mengatasi masalahku ini? Aku yakin sekali Tuan jika aku di jebak, hiks... hiks.. hiks.." ucap Dera dengan menangis sesenggukan.
"Hmmm, ya sudah tidurlah.., hari sudah mulai malam..." balas seseorang yang berada di seberang sana, lalu mematikan teleponnya sebelah pihak.
...****************...
Dikediaman keluarga Wijaya tampak Tuan Wijaya beserta sang istri dan kedua orangtua Erlin yaitu Tuan Sanjaya beserta sang istri, sedang berada di ruang keluarga menunggu kedatangan seseorang.
'Ya, mereka sedang memastikan kedatangan dari Aditya yang tak kunjung pulang. Apalagi mereka juga sudah menghubunginya berkali-kali namun tetap saja tak diangkat oleh Aditya.'
"Dimana, perginya anak itu? Bisa-bisanya dihubungi tidak bisa." ucap Tuan Wijaya sambil mondar-mandir memegangi ponsel miliknya.
Tiba-tiba saja saat mereka sedang berkumpul, ada seseorang yang datang dengan berantakan.
Tap.. Tap.. Tap..
Suara sepatu milik seseorang menggema di seluruh ruangan. Seketika saja seluruh mata mengarah ke arah sumber suara. Dilihatnya ternyata Aditya yang tampak berantakan. Aditya juga tak tau jika sang istri sedang berada di kediaman Wijaya.
"Aditya..." ucap seluruh orang yang berada di situ dengan nada keterkejutannya melihat Aditya yang tampak acak-acakan dan babak belur.
"Astaghfirullah Aditya...., kau kenapa Nak," ucap Mama Ita lalu menghampiri putranya.
"Aku tak apa, Ma.." jawab Aditya.
__ADS_1
"Dasar anak tak tau diri! Beraninya kau menyakiti menantu kesayangan Papa!" bentak Tuan Wijaya lalu melayangkan tangannya ke arah Aditya. Namun saat ia akan melayangkan sebuah tamparan keras ke muka Aditya, ada seseorang datang menghentikannya.
"Tunggu! Jangan tampar Aditya Pah!" sahut seseorang itu menghentikan langkah Tuan Wijaya yang hendak menampar Aditya.
"Sebetulnya rekaman cctv itu sudah Saya cek di seluruh penjuru ruangan, namun sayangnya aku tak menemukannya..., tapi aku sangat yakin jika Aditya itu memang sedang di jebak, Pah!"
"Maksudmu apa Nak Yudha?"
"Yudha akan memberi tau kalian tentang rekaman cctv ini, tapi Yudha mohon kalian jangan memperlakukan Aditya seperti itu!" pinta Yudha.
"Rekaman? Mana rekamannya kak?" tanya Aditya menimpali.
"Aditya, tenangkan dirimu, sebetulnya seluruh rekaman cctv ini belum cukup bukti untuk meyakinkan istrimu jika dirimu telah dijebak dan tak bersalah dalam hal ini..."
"Jadi kakak percaya sama Aditya?"
"Iya Dit, Kakak percaya kamu!"
"Bagaimana bisa kau berkata seperti itu Yudha? Kenapa kau justru malah membela Aditya? Ha...!" bentak Tuan Sanjaya pada Putranya.
"Karena Yudha tau Pih! Ini pasti ulah Levi ..." sahut Yudha menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh sang Papih padanya.
"Apaaa?? Levi??" sahut Aditya mengernyit bingung.
"Levi?" Tunggu dulu maksudmu Levi saingan berat Erlin waktu di sekolah?" sahut Mamih Dewi bertanya dan memastikan kebenarannya.
"Benar Mih! Dia bekerja di perusahaan Aditya, dan aku curiga kalau cctv di pantry rusak itu pasti karena ulahnya ..." jawab Yudha Kakak dari Erlin.
"Whaattt? Jadi cctv yang di pantry rusak? Astagaaaa.... bagaimana ini? Kenapa bisa seperti ini.., hikss... hikss...." ucap Aditya sambil menangis dengan menjambaki rambutnya.
"Arrgghhhh.... dasar bodoh kau Aditya!" ucap Aditya merutuki kebodohannya lalu mengusap wajahnya dengan kasar.
"Ini semua gara-gara ulahmu juga Aditya!" bentak Tuan Sanjaya pada menantunya.
"Tapi Pih..., maafkan aku! Aku benar-benar tak sadar waktu berada di kamar..." ucap Aditya mengakui kesalahannya. Akan tetapi pengakuannya justru membuat Tuan Sanjaya mengepalkan tangannya geram. Ia pun lalu berjalan ke arah Aditya dan,
Plaaakkkk....
Tamparan keras melayang begitu saja mengarah ke pipi kiri Aditya.
"Cukup Aditya! Jangan membuatku bertambah emosi!" bentak Tuan Sanjaya tersulut emosi.
"Papih sudah! Biarkan Erlin yang memutuskan semua! Kita tak perlu ikut campur urusan mereka, Pih!" sahut Yudha mencoba memberi pengertian pada sang Papih untuk meredam emosi sang Papih.
Bersambung....
__ADS_1
...****************...
...----------------...