
Erlin Frustasi
“Tuan Aditya, Tuan tidak kenapa-kepa?” tanya kedua pihak keamanan perusahaan pada Aditya yang tersungkur di lantai. Aditya pun lalu menjawabnya dengan berkata, “Sudah jangan hiraukan Aku, sekarang lebih baik kalian lakukan tugas kalian untuk mengecek seluruh rekaman CCTV yang ada di perusahaan Wijaya Group!” titahnya.
“Baik Tuan ...” jawab kedua pihak keamanan tersebut lalu berjalan keluar. Sementara Reymond sudah sedari tadi keluar meninggalkan ruangan meeting semenjak kedatangan kedua pihak keamanan tersebut.
Sementara disisi lain kini Reymond berjalan menuju ke ruangan Sekretaris Wu. Sesampainya di ruangan sekretaris Wu, Reymond pun bertanya, “Sekretaris Wu, dimana Yudha?”
“Tuan Yudha sudah pergi sekitar 15 menit yang lalu, Tuan Rey! Nampaknya beliau sepertinya sedang mengejar Nyonya Muda ..” jawab Sekretaris Wu.
“Apaaa? Lalu dimana Dera? Kenapa dia tidak ada di ruangannya?”
“Kalau Nona Dera, tadi minta izin pulang, katanya ingin menenangkan diri terlebih dahulu,” jawab Sekretaris Wu menjelaskan.
“Ya sudah, terima kasih! Kalau begitu Aku permisi dulu!”
“Baik Tuan ...”
Reymond pun segera melangkahkan kakinya pergi dari kantor perusahaan Wijaya Group dengan terburu-buru. Namun saat dirinya sudah sampai di lantai bawah ponsel milik Reymond tiba-tiba berbunyi.
Dreett ... Dreettt .... Dreeett ....
Reymond yang mendengar ponselnya berbunyi, segera mengambil ponselnya yang berada di saku kemejanya.
“Halo ...” ucapa Reymond membuka obrolan melalui telepon.
“Rey ..., kau dimana?”
“Aku masih berada di perusahaan Adik Iparmu, Yud! Kau dimana?”
“Reymond cepat ke kantorku sekarang juga! Aku sangat membutuhkan bantuanmu, Rey! Aku sudah kehilangan jejak Erlin saat di jalan!”
“Tidak Yud .., Aku tidak bisa membantumu, karena Aku ada urusan yang harus ku selesaikan saat ini!”
“Apaa?? Tapi kenapa kau menolak ku Rey? Bukankah dirimu pernah bilang jika kau tak akan membiarkan dia terluka?”
“Issshhh ck, kau benar! Namun untuk saat ini Aku benar-benar tak bisa Yud! Jangan memaksaku!” seru Reymond kesal dengan sikap Yudha.
Tut ...
Remond pun lalu menutup teleponnya sebelah pihak. Dan melanjutkan langkah kakinya lagi untuk berjalan keluar meninggalkan perusahaan Wijaya Group. Sementara Yudha (Kakak dari Erlin) yang sedang berada di seberang sana berdecak kesal karena Reymond yang tiba-tiba menutup telponnya.
“Ck .., sial! Dia tidak mau membantuku! Aku tau Rey, kau pasti masih mencintai Erlin, tapi setelah Erlin ada masalah seperti ini, kenapa kau malah justru menjauhi Erlin? Aku jadi curiga, apa semua ini ada hubungannya dengan Reymond?” banyak pertanyaan yang berputar dalam otak Yudha saat ini.
__ADS_1
...****************...
Sementara Erlin kini sedang mengendari mobilnya dengan kecepatan tinggi. Bahkan ia sampai melupakan rambu-rambu lalu lintas yang ada di sepanjang jalan, yang harusnya berhenti ia justru terus melajukan mobilnya sampai membahayakan pengguna jalan lainnya. ‘Ya, kini Erlin sedang menggunakan mobil sang Suami tanpa sepengetahuan Aditya.’
“Brengsek ..., Suami tak tau diri, dasar bajingan kau Mas! Hiks ... hiks ... hiks ...” berbagai umpatan keluar dari mulut Erlin sambil mengendari mobil dengan penuh amarah, kecewa, sedih melebur menjadi satu. Bahkan ia menumpahkan airmata nya yang jatuh membasahi pipi. Hatinya benar-benar hancur setelah mengetahui sang Suami telah mengkhianatinya dengan berselingkuh dengan wanita lain, yang tak lain adalah sahabatnya sendiri.
“Bangsat kau Aditya ..., hiks .. hiks ..” lagi-lagi Erlin mengeluarkan umpatan dari mulutnya. Ia pun lalu melajukan mobilnya lagi dengan menambah kecepatannya. Bahkan ia sampai mengabaikan banyak panggilan yang masuk ke dalam ponselnya.
Sedangkan di Perusahaan Wijaya Group Aditya sudah berkali-kali menghubungi sang istri namun sama sekali tak ada jawaban dari sang istri.
“Astaga Mom, angkat dong sayang, please! Aku bisa gila kalau kau tak mengangkatnya,” ucap Aditya sambil mondar-mandir mencoba menghubungi sang istri, tetap saja masih tak ada jawaban dari sang Istri. Di saat ia sedang disibukkan dengan ponselnya, tiba-tiba saja ada salah satu karyawan masuk ke ruangannya tanpa permisi.
Ceklek ...
“Tuan Aditya, maaf jika Saya lancang masuk ke ruangan Anda, karena tadi Saya sempat melihat mobil Anda di jalan, Tuan! Setelah dilihat dari kaca mobil ternyata Nyonya Muda sedang mengendarai mobil anda dengan kecepatan tinggi, karena di kejar oleh kakak ipar anda, Tuan!”
“Apaaa??”
“Iya Tuan ..., maka dari itu Saya balik arah lagi ke kantor tak jadi meninjau proyek yang ada di luar kota,” sahut karyawan tersebut menjelaskan. Tanpa banyak bicara Aditya pun lalu berjalan keluar dari ruangannya meninggalkan karyawannya yang terdiam di tempat.
Saat melewati meja kerja Sekretaris Wu, Aditya menghentikan langkahnya dengan berkata, “Sekretaris Wu, cepat siapkan mobil untukku!” perintah Aditya pada Sekretaris Wu. Seketika saja Sekretaris Wu menoleh ke arah atasannya, dan berkata, “Bukannya mobilnya ada pada Anda?" tanya Sekretaris Wu memastikan.
“Sudah jangan membantah! Cepat siapkan mobilnya! Aku sudah tidak ada waktu lagi!” titah Aditya pada Sekretaris Wu.
“Baik Tuan ...”
Sementara Erlin kini masih fokus menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia bahkan tak tau harus kemana ia pergi. Akhirnya Erlin memutuskan untuk menepikan mobilnya sejenak untuk mampir di sebuah taman kota tempat Dirinya dan sang Suami saat pertama kali mereka bertemu.
Saat Erlin sedang mematikan mesin mobilnya, ponsel miliknya yang ia letakkan di tempat duduk sebelahnya pun berbunyi. Erlin pun lalu segera mengambil ponselnya. Namun saat dirinya sudah mengambil ponselnya, orang yang menelpon tersebut sudah mematikan panggilannya. “Mas Aditya? Jadi yang sedari tadi telpon itu Mas Aditya? Huhh .., sudahlah, untuk apa Aku mempedulikannya, nggak penting juga bagiku!” ucap Erlin ketus.
Di saat itu pula, ponsel milik Erlin pun lagi-lagi berbunyi. Erlin yang melihat nama yang tertera di layar ponsel tersebut, segera menggeser layar ponselnya.
“Halo .., kau kemana saja sih? Ditunggu dari tadi juga!” seru Dina memulai obrolan melalui telepon. ‘Ya orang yang menghubungi Erlin kali ini adalah Dina, makanya Erlin mau mengangkat panggilan tersebut.’
“Yang kau tanya itu siapa?” jawab Erlin dengan berbalik tanya.
“Lahhh ... astaganaga Er ..., galak banget sih! Kesurupan setan mana ini Sahabatku?” balas Dina.
“Cepat katakan ada apa .. ??” tanya Erlin dengan nada serak. Dina yang berada di seberang sana pun merasa aneh mendengar suara dari Erlin. Bahkan ia juga heran dengan sikap Erlin yang tak seperti biasanya.
“Slow aja keles ..., lagi pms ya? Nggak usah pakai tensi tinggi kali! Aku hanya ingin memberitahumu jika Baby Daffa sama El sekarang ada di RS bersama Mamih sama Papih ..”
“Hmmm, ya sudah, Aku segera ke RS sekarang juga ...” ucap Erlin dengan nada seraknya. Dina yang merasa ada keanehan dari Erlin pun lalu menyahutnya dengan berkata, “Er, kau kenapa?Kenapa kau seperti habis menangis?” tanya Dina yang berada di seberang sana. Bukannya menjawab Erlin justru malah menangis tersedu-sedu.
__ADS_1
“Hiks ... Hiks ... Hiks ..., Din .., Mas Aditya ...” ucap Erlin dengan tangis yang pecah seketika, setelah berusaha terlihat kuat.
“Iya Er ..., memangnya kenapa dengan Tuan Aditya?” jawab Dina dengan bertanya.
“Dia selingkuh di belakangku Din, dia jahat sama Aku ..., Hiks ... Hiks .., dia benar-benar lelaki brengsek! HIks hiks ...” ucap Erlin dengan menangis sesenggukan meluapkan kesedihannya.
“Whaattt?? Ngarang kau Er! Mana mungkin Tuan Aditya selingkuh!” balas Dina tak percaya dengan ucapan Sahabatnya.
“Aku benar-benar tidak mengarang cerita, Din ... !! Aku sudah melihat dengan mata kepala sendiri jika Aditya selingkuh dengan wanita lain! Dan kau tau tidak, jika tadi di kantor Aku memergokinya dengan seorang wanita yang sudah kita anggap sebagai sahabat kita ..."
"Whaaattt ... ?? apa maksudmu??" tanya Dina pada Erlin.
"Dia selingkuh dengan Dera Sahabat kita Din! Hiks ... hiks ..., Aditya memang Pria brengsek yang pernah Aku temui! Hiks ... Hiks ... Hiks ...” tegas Erlin menjelaskan pada Dina yang berada di balik telepon, dengan airmata yang jatuh membasahi pipi.
“Astaga Erlin ..., apa kau yakin Er? Tapi itu mustahil Erlin!" tegas Dina melawan perkataan dari Erlin. Karena memang ia benar-benar tak percaya dengan apa yang sudah dikatakan oleh Erlin.
"Mustahil bagaimana? Memang itu kenyataannya!" seru Erlin.
"Tapi bukannya tadi kalian baik-baik saja? Lalu kau sekarang dimana?” tanya Dina yang berada di seberang sana dengan melontarkan pertanyaan secara beruntun.
“Aku baru saja sampai di taman kota, Din ...” balas Erlin dengan nada melemah. Ia kali ini sudah kehabisan tenaga, setelah tenaganya ia habiskan untuk menangis, dan marah.
“Baiklah alau begitu kau tunggu di sana, biar Aku dan Clara yang akan menjemputmu!” seru Dina yang berada di seberang sana lalu menutup teleponnya sebelah pihak. Sementara Erlin kini tak jadi menuruni mobilnya setelah menerima tel[pon dari Dina. Ia pun lalu menjalankan mobilnya kembali menuju ke sebuah bar dekat taman kota. Entah apa yang ada di dalam pikirannya saat ini, hingga membuat dirinya pergi ke bar.
Bersambung .....
**
...****************...
...----------------...
Erlin Pov :
^^^Terkadang aku ingin jadi anak kecil lagi, lutut yang terluka lebih mudah disembuhkan daripada hati yang tersakiti^^^
...----------------...
***Jangan Lupa Tinggalkan Jejak Vote, LIke, Komen dan Favorite Ya ... Terima kasih ... 🥰🥰🙏🙏
Note :
Sehat selalu untuk kalian semua ..., maafkan Author telat upnya karena Author baru tahap pemulihan ini setelah jatuh dari sepeda motor....
__ADS_1