Kisah Cinta Ceo Dan Dokter Cantik

Kisah Cinta Ceo Dan Dokter Cantik
Episode 207


__ADS_3

Aku Tidak Ingin Melihatmu Rapuh Tanpa Suamimu


Sementara Dina menatap kepergian Aditya dengan menggelengkan kepalanya pelan sambil memijit pelipisnya yang terasa pusing.


“Ya Tuhan, bisa-bisanya punya kakak kek gitu ..” gerutu Dina heran dengan sikap Aditya yang sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri.


Dina pun lalu beralih menatap tuan Wijaya. “Pah, lebih baik Papah beristirahatlah! Biar aku saja yang menunggu Mamah ..” ucap Dina memberi masukan pada tuan Wijaya.


“Benar tak apa, Nak?” tanya tuan Wijaya memastikan. Dina pun lalu menjawabnya dengan berkata, “Iya, Pah! Lagi pula kondisi Mamah juga sudah membaik kok ..” ujarnya.


Namun saat mereka sedang asyik mengobrol, tiba-tiba saja ada seseorang yang datang ke RS bersama dengan putrinya yang sedang diseretnya.


“Tuan Wijaya!” seru seseorang itu memanggil nama tuan Wijaya. Seketika saja sang pemilik nama tersebut pun menoleh ke arah orang yang memanggilnya. Begitu pula dengan Dina.


Betapa terkejutnya tuan Wijaya dan juga Dina saat melihat siapa yang memanggilnya. ‘Ya, orang yang memanggilnya adalah mantan baby sister Erlin yang bernama Nia, yang tak lain adalah Ibu kandung Dera.


“Nia, kau ..” ucap tuan Wijaya terkejut melihat kedatangan Ibu Nia atau Ibu kandung Dera.


“Bu Nia .. Dera ...” ucap Tuan Wijaya dan juga Dina secara bersamaan menatap kedatangan Ibu Nia yang datang bersama dengan asisten Dera.


“Ada apa? Kenapa kalian terkejut melihat kedatangan kami? Jangan-jangan kalian sudah tau kalau putriku dihamili oleh putra anda?” sahut Ibu Nia dengan menyipitkan matanya dengan tatapan mengintrogasi.


Seketika saja Dina yang mendengar penuturan dari Ibu Nia terbelalak. Dina dengan cepat membalasnya dengan berkata, “Tutup mulutmu, Bu Nia! Mana buktinya jika Dera hamil anak Aditya?”


“Ini buktinya, lihatlah dia positif hamil. Ini semua


gara-gara ulah Aditya!” ucap Ibu Nia sambil melempar secarik kertas yang berisikan tentang keterangan hamil tersebut pada tuan Wijaya dan Dina.


Namun saat itu pula Dera segera mengambil secarik kertas tersebut yang jatuh di lantai. Ia pun lalu berkata, “Ibu, cukup Bu! Hiks ... hiks .." teriak Dera dengan menangis terisak, karena ia juga tak habis pikir kalau Ibundanya bertindak nekat seperti itu di depan orangtua Aditya.


“Cukup bagaimana sih Dera? Kau tahu sendiri kan, jika kau sedang hamil .., Mama yakin jika Aditya lah yang telah menghamilimu! Bahkan Ibu tahu kalau kalian sudah menjalin hubungan sejak dulu!” jawab Ibu Nia dengan nada meninggi.


“Tapi itu dulu, Bu! Itu waktu masih kuliah! Hiks .. hiks .., dia sudah beristri sahabatku, Bu” ucap Dera dengan menangis sesenggukan berusaha menjelaskan kepada sang Ibunda. Sontak saja ucapan dari Dera membuat Dina dan juga tuan Wijaya terkejut mendengarnya.


“Alah alasan saja kau itu, bilang saja kalau kau itu masih cinta sama Aditya! Lagi pula kau juga sudah tidur kan dengannya?” ujar Ibu Nia membalas perkataan dari Dera.


“Cukup Bu! Jangan menuduh orang sembarangan tanpa bukti! Kami itu di jebak Bu .. hiks ... hiks .., nggak lebih!” lantang Dera menjawab pertanyaan dari sang Ibunda.


Sang Ibunda yang tak terima mendengar ucapan Dera pun lalu membalasnya dengan berkata, “Kau pikir jika kau di jebak kalian tak melakukan hal itu! Kau tau Levi kan? Dia bilang kepadaku jika kau tidur berduaan dengan Aditya, dan Ibu sangat yakin jika Aditya lah yang menghamilimu.”ujarnya.


“Cukup Nia! Beraninya kau menuduh putraku tanpa bukti!” ucap tuan Wijaya dengan nada tersulut emosi, karena mendengar ucapan dari Ibu Nia. Sementara Dina yang berada di samping tuan Wijaya berusaha menenangkan tuan Wijaya.


“Sudah Pah, jangan ditanggapi ucapan Ibu Nia!” tutur Dina menasehati tuan Wijaya agar tak menanggapi ucapan dari Ibu Nia.


Dina pun lalu beralih menatap Dera, lalu membuka suaranya dengan bertanya, “Dera, apakah benar yang kau kandung itu anak Aditya?” tanya Dina dengan tatapan penuh selidik.


Dera pun lalu menjawabnya dengan berkata, “Aku tak tau Dina. Tapi ...” belum sampai Dera menyelesaikan ucapannya seketika saja Ibu Nia menyerobotnya.


“Sudah ku bilang dia itu hamil anak Aditya! Bagaimana dia mau mengakui kebenarannya jika putriku saja dengan posisi tak sadar?” ujarnya.


“Pokoknya saya tidak mau tahu, putra anda harus bertanggung jawab atas kehamilan putriku tuan Wijaya!” ucap Ibu Nia dengan penuh penekanan.


Bahkan ucapannya sampai menggema di berbagai penjuru ruangan.


Dina yang merasa risih mendengarkan ocehan dari Ibu Nia pun lalu berkata, “Ibu Nia, bisakah anda mengecilkan suaramu? Ini rumah sakit loh Bu, bukan pasar!” bentak Dina tersulut emosi.


Dengan tersenyum kecut, Ibu Nia menyahutnya dengan berkata, “Saya tau Dina! Inilah yang ku inginkan. Biar semua orang tahu, bahwa putra dari keluarga Wijaya sudah menghamili anak orang!”


Plaaakkk ...


Sebuah tamparan keras dilayangkan open seseorsng yang baru saja datang mendengar pembicaraan tersebut.


“Cukup Nia! Jika anak yang dikandung Dera adalah anak dari Aditya, mana buktinya? Apakah kau bisa membuktikan? Tidak bukan?” tanya dokter Sarah memastikan. 'Ya, orang yang menampar Ibu Nia adalah dokter Sarah, Mama dari Dina.'


“Dokter Sarah, beraninya kau ikut campur urusanku!” sahut Ibu Nia dengan menatap dokter Sarah dengan tatapan tajamnya.


Dokter Sarah pun tersenyum sinis mendengarnya. Ia pun lalu berkata, “Ya, saya berhak ikut campur, karena Aditya sudah ku anggap seperti putraku sendiri!” tegas Mama sarah yang mendadak tersulut emosi karena mendengar penuturan dari Ibu Nia.


Sementara Dera lalu membuka suaranya dengan berkata, “Ibu, sudah Bu! Lagi pula mereka juga tidak akan percaya, karena kita tidak ada bukti, Bu!”


“Kau bilang apa tadi? Sudah katamu?” sahut Ibu Nia bertanya pada Dera untuk memastikan.


Belum sampai Dera menjawab pertanyaan dari Ibundanya, Dina menyahutnya dengan berkata, “Cukup! Bukankah tadi sudah ku bilang jangan ribut? Tapi kenapa kalian malah sibuk berdebat? Ini RS loh! Satu lagi, tolong kalian pergilah dari sini sekarang juga!” pintanya dengan mengatupkan kedua tangannya seraya memohon kepada Ibu Nia, agar pergi dari RS, karena mereka sudah cukup membuat banyak menarik perhatian orang yang sedang berada di RS.


Dera yang melihat Dina dengan mengatupkan kedua tangannya di depan Ibundanya pun merasa tak enak. Ia lalu menarik paksa tangan Ibundanya


sambil berkata, “Maafkan Ibuku, Din, Om, Tante ..., kami pergi dulu ..” ucapnya lalu pergi dengan begitu saja, sambil menyeret Ibunya untuk pergi.


Ibu Nia yang merasa dirinya diseret oleh putrinya pun memberontak berusaha melepaskan cengkeraman kuat putrinya. “Dera, apa-apaan sih? Ibu belum selesai berbicara sama mereka! Kau itu sudah dihamili Aditya, tapi kau malah main pergi saja! Apa kau tak mau jika Aditya bertanggung jawab? Ha...” tanyanya Ibu Nia sambil berjalan cepat karena Dera menyeretnya.


Sayangnya pertanyaan yang dilontarkan oleh Ibu Nia tak mendapatkan jawaban dari Dera putrinya yang hanya diam dengan meneteskan air matanya. Bahkan mereka keluar dari RS pun banyak orang yang menatap ke arahnya dengan tatapan yang tak biasa.


...****************...


Sementara di sisi lain, Erlin kini sudah sampai di pemukiman warga yang sangatlah jauh dari hiruk pikuk keramaian kota, tepatnya berada di desa terpencil di sebuah pegunungan yang sangatlah sejuk dan indah akan pemandangannya.


Namun di saat mereka akan bersiap untuk turun dari mobil, tiba-tiba saja El yang tertidur pun kini terkejut ketika mengetahui dirinya sedang berada di dalam mobil bersama dengan mbok Inah, adiknya Daffa dan juga Bunda Mommynya.


“Mommy, ini dimana? Kok El di cini?” tanya El kebingungan.


“Loh, sayangnya Mommy sudah bangun rupanya. Kebetulan Mommy mengajakmu kesini untuk liburan sayang ...” jawab Erlin membalas ucapan dari El dengan berbohong.


Seketika saja ucapan Erlin membuat Rivaldi menatapnya dengan tatapan tak dapat di artikan. “Waahh, libulan Mom? Kenapa Mommy nggak celita cama El?” tanya El dengan ucapan cedalnya.


“Telus dimana kak Neysa, Mom?” sambungnya lagi bertanya. Seketika saja Erlin yang ditanya soal Neysa pun kebingungan menjawabnya.


Namun setelah sedetik berpikir Erlin baru menjawab pertanyaan dari El dengan berkata, “Kak Ney nggak ikut, El. Kakak kan baru sibuk sekolah ...” ujarnya berusaha memberikan sebuah alasan pada El.


“Oh, begitu ...” balas El dengan menganggukkan kepala, tanda mengerti.

__ADS_1


Erlin pun lalu menyahutnya lagi dengan berkata, “Ya sudah sekarang turun, yuk! Kebetulan sudah sampai .., Mommy mau bantuin mbok Inah dulu,” ujar Erlin pada El. Dan El pun lagi-lagi mengangguk menyetujui perkataan Bunda Mommynya.


Sementara El belum menyadari jika saat ini mereka pergi tidak bersama dengan Ayah Daddynya.


Saat mereka baru menuruni mobil, El terkejut melihat seseorang yang sedang membantu mbok Inah menurunkan barang-barangnya yang berada di bagasi mobil. Ia pun lalu membuka suaranya dengan berkata, “Loh Mom, Mommy itu ciapa? Kok bukan Ayah Daddy?” tanyanya menatap seseorang itu dengan tatapan penuh rasa penasaran.


Sontak saja Erlin sangat syok mendengar pertanyaan yang di lontarkan oleh El. Tanpa berpikir panjang Erlin pun lalu menjawabnya. “Emmmh, Ayah Daddy nggak ikut Sayang. Ayah Daddy sedang sibuk, banyak kerjaan, jadi Om ini yang akan menemanimu selama berada di sini ...” jawabnya beralasan.


“Halo El .., kenalin nama om Rivaldi, tapi panggil saja om Valdi ya ...” ujar Rivaldi memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya ke arah El yang digendong Erlin. Sementara Daffa sudah dibawa masuk oleh mbok Inah.


“Waahh keren, namanya Paldi ..” ucap El terkagum-kagum mendengar nama Rivaldi. Sementara Erlin yang melihat tingkah anak angkatnya pun mengembangkan senyumnya yang agak sedikit dipaksakan.


“Ikut Om, sama adikmu, yuk! Biar mbok Inah dan Bunda Mommymu yang mengurus barang-barangnya untuk dibawa masuk ke dalam ...” ujar Rivaldi menawarkan diri kepada El agar ikut dengannya. Sementara El pun  menjawabnya dengan bersemangat.


“Siap Om.” Jawab El sambil memberi hormat kepada Rivaldi.


Setelah selesai memasukkan barang-barangnya ke dalam rumah, Erlin memutuskan untuk mengaktifkan ponselnya yang sedari tadi tidak aktif, karena sang Suami terus-terusan meneleponnya.


Betapa terkejutnya Erlin ketika mengetahui banyak panggilan masuk ke dalam ponselnya yang tertera nama suami dan sahabatnya yang meneleponnya berkali-kali.


Di saat itu pula, Ada sebuah nomer yang tidak diketahui menghubunginya. Dengan cepat Erlin pun Meng angkatnya karena ia yakin jika yang meneleponnya adalah sahabatnya.


“Dina ..” gumam Erlin pelan sambil menatap layar ponselnya yang menampilkan nama Sahabatnya yang menghubunginya.


"Halo... Assalamu'alaikum..." ucap Erlin membuka obrolan melalui telepon.


"Wa'alaikumsalam.., astaga Erlin, kau kemana saja? Kau sudah membuat kami khawatir tau nggak sih!" ucap Dina yang berada di seberang sana.


"Kau tak perlu tau Dina, lagi pula aku pergi juga untuk kebaikan anak-anak, aku ingin menenangkan pikiran." jawab Erlin dingin berpura-pura kuat dihadapan Dina.


"Apa? Santai banget lo ngomong kek gitu! Apakah kau nggak kasihan sama Mama? tega banget sih Lo..."


"Bukan begitu Din, tapi.." belum sampai Erlin menyelesaikan ucapannya, Dina yang berada di seberang sana pun menyahutnya.


"Tapi apa lagi sih, Er! Kau lagi ribut kan sama Suamimu? Bukankah begitu?" tanya Dina memastikan.


"Itu tau..." sahit Erlin menjawab pertanyaan dari Dina.


Dina yang berada di seberang sana pun hanya menggelengkan kepalanya pelan lalu berkata, "Aku tau, Er! Kau itu seperti anak kecil tau nggak! Jangan mudah untuk menyimpulkan sesuatu yang belum tentu kebenarannya!" tegas Dina membalas pernyataan singkat dari Erlin.


Entah kenapa ketika Dina berkata seperti itu Erlin tiba-tiba menangis dengan sendirinya.


"Apa katamu? hiks ... hiks..., kau tahu tidak, mas Aditya itu sudah menghamili Dera, Din! Kenapa kau membelanya.. hiks... hiks.. bahkan aku juga melihat dengan mata kepalaku sendiri jika dia .. hiks.. hiks.."


Ucapan Erlin terhenti seketika karena ia tak sanggup menyelesaikan ucapannya yang baginya sangat menyakiti hatinya.


"Dia apa Er? Kenapa berhenti?" tanya Dina mengernyit bingung.


"Mas Aditya tidur dengan Dera, Din! Hiks ... hiks.." Erlin mengungkapkan sebuah kebenaran yang ia lihat.


Dina yang mendengar pun terbelalak. "Apa? Jadi kau benar-benar melihatnya?" tanya Dina memastikan.


Dina yang mendengarkan sahabatnya menangis sesenggukan pun tak tega, dan akhirnya ia membuka suaranya dengan berkata, "Erlin cukup! Kau boleh pergi, tapi tak seharusnya kau membawa anak-anak pergi! Sekarang pulanglah atau kau..."


Belum sampai Dina yang berada di seberang sana menyelesaikan ucapannya, Erlin menyerobotnya dengan berkata, ?"Kau apa Din? Aku tak akan pulang sebelum mas Aditya menikah dengan Dera, dan setelah mereka menikah, aku akan melayangkan surat cerai kepadanya!" tegasnya lalu menutup teleponnya sebelah pihak, tanpa menunggu jawaban dari Dina sahabatnya.


Tut...


Sambungan telepon pun terputus. Seketika saja Dina yang berada di seberang sana mengepalkan tangannya geram.


...****************...


Sementara di sisi lain Aditya memutuskan untuk pergi ke kantor terlebih dahulu Sebelum mencari sang Istri. Ia harus melakukan meeting dad akan dengan para karyawan setelah kejadian yang tak diinginkan itu terjadi.


Di ruang CEO


"Sekretaris Wu, sebelum meeting dimulai lebih baik cepat seret Levi untuk menghadap Saya sekarang juga!" titah Aditya pada sekretaris Wu.


"Baik Tuan.." balas sekretaris Wu menyanggupi perintah dari atasannya.


Sesudah Sekretaris Wu memanggil Levi, dengan cepat dan tanpa ada rasa takut Levi melangkahkan kakinya menuju ke ruang CEO.


Saat Levi baru melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan Aditya. Tanpa banyak bicara sedikit pun Aditya langsung menampar keras pipi karyawati yang bernama Levi tersebut.


Plaaakkk...


"Dasar perempuan sialan! Katakan padaku, jika kau lah yang menjebakku!" Aditya mendesak Levi untuk mengakui perbuatannya yang sudah diluar batas.


"Tapi tuan, aku tidak menjebaknya!" jawab Levi berusaha mengelak.


Aditya yang mendengarkan penuturan dari Levi pun memicingkan matanya menatap Levi lalu menjambak rambutnya yang terurai indah.


Sregghhh....


"Aawwsshh..." rintih Levi kesakitan.


"Jangan bohong kau Levi! Aku baru tahu, ternyata kau adalah musuh istriku dan aku yakin kau lah dalang dibalik semua ini!" tegasnya, lalu menghempaskan Levi dengan begitu saja.


Levi yang tadinya ketakutan menghadapi Aditya, kini berubah menjadi tersenyum sinis sambil berkata, "Ya benar, memang aku lah yang menjebaknya!" ujarnya sambil tersenyum menyeringai.


"Kurang ajar... beraninya kau..." belum sampai Aditya menyelesaikan ucapannya, Levi memotongnya, "Kau apa tuan? Itu sebagai balas dendam ku terhadap istrimu yang kini akhirnya terbalaskan juga! Hahaha..." sahut Levi dengan diikuti gelak tawanya yang penuh kemenangan.


"Dasar perempuan tak tau diri! Ternyata benar kau lah dalang di balik semua ini!" Aditya tersulut emosi dengan mengepalkan tangannya geram dan dengan tatapan yang mematikan menatap Levi.


Ia pun lalu menyambungnya lagi dengan berkata, "Sekretaris Wu, cepat seret dia keluar dari kantor. Kau dipecat!" titahnya pada sekretarisnya.


Melihat sekretaris Wu yang mendekat ke arahnya. Levi pun berteriak. "Tunggu! Kau tak perlu menyeretku keluar dari sini! Karena aku bisa pergi sendiri. Lagi pula aku dipecat pun sangat tidak masalah buat ku, karena memang tujuanku hanya untuk menghancurkan rumah tangga kalian!" ujar Levi dengan tersenyum menyeringai menatap Aditya.


Sementara Aditya yang mendengarkan penuturan dari Levi pun mengepalkan tangannya geram, dan

__ADS_1


Plaaakkk....


Tamparan keras melayang dengan begitu saja di pipi mulus Levi.


"Kurang ajar kau! Cepat seret dia sekretaris Wu! Aku sudah muak melihat mukanya!" sarkas Aditya.


Dengan tersenyum sinis dan dengan sorot mata tajamnya menatap Aditya, Levi membuka suaranya dengan berkata, "Lihat saja nanti, akan ku pastikan kalian tidak akan pernah bahagia seumur hidup kalian!" ancamnya dengan menunjuk-nunjuk ke arah Aditya.


Namun siapa sangka, tiba-tiba saja ada seorang wanita yang masuk ke dalam ruangan Aditya, lalu menarik tangan Levi dari belakang, dan


Sreegggghh...


Plaaakkk...


Betapa terkejutnya Levi ketika melihat Dina yang datang-datang menamparnya.


"Dina ..." gumam Levi terkejut melihat kedatangan Dina. Begitu oula dengan Aditya yang tak kalah terkejutnya melihat kedatangan Dina.


"Hmmm ya, memangnya kenapa?" sahut Dina dengan berbalik tanya pada Levi. Tidak sampai disitu saja, lagi-lagi Dina sambungnya lagi dengan bertanya.


"Apa kau bilang tadi? Coba ulangi lagi?"


"Jangan ikut campur urusanku Dina!


"Urusanmu urusanku juga, Levi! Kau tau, kau sudah membuat sahabatku hancur berkeping-keping gegara ulahmu itu, dasar perempuan jal*ng benar-benar tak tau diri kau, Lev!"


"Sudah Din!" sergah Aditya pada Dina agar tak ribut lagi. Namun Aditya lalu menyambungnya lagi dengan berkata, "Sekretaris Wu, kenapa kau diam saja? Cepat seret dia keluar dari sini, aku benar-benar muak melihatnya!" titah Aditya.


Tanpa banyak bicara sekretaris Wu menuruti perintah dari atasannya dengan menyeret Levi keluar dari perusahaan.


"Kurang ajar, dasar b*jing*n kau Aditya! Lihat saja, kau tidak bahagia seumur hidup kalian!" umpat Levi dengan menatap Aditya dan Dina secara bergantian, penuh kebencian di matanya.


Setelah kepergian Levi, Aditya segera melangkahkan kakinya keluar dari ruangannya. Akan tetapi langkah kakinya terhenti seketika karena Dina menghentikannya.


"Aditya berhenti! Mau kemana kau?" tanya Dina pada Aditya dengan tatapan mengintrogasi. Seketika itu pula Aditya menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah belakang.


"Mau mencari istriku..." ujar Aditya menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh Dina.


"Aku ikut!" balas Dina bersemangat.


Namun Aditya malah mengernyit, dan berkata, "Bukankah kau harus bekerja dan menunggu Mama?" tanyanya memastikan.


"Kau tak perlu khawatir, Dit! Lagi pula ada Mama sarah yang menunggu Mama Ita.." terang Dina menjelaskan.


"Baiklah kalau begitu. Ayo!" ajak Aditya pada Dina. Mereka kemudian pergi dari perusahaan dengan menggunakan mobil untuk mencari Erlin.


...****************...


Sementara di tempat lain, tampak Erlin sedang melamun menatap Daffa dan El yang sedang bermain bersama dengan Rivaldi.


"Maafkan Mommy, Mommy terpaksa melakukan semua ini..."


Merasa ditatap oleh Erlin yang sedang melihatnya, Rivaldi pun kemudian menghentikan permainannya bersama anak-anak lalu segera menghampiri Erlin yang terlihat melamun di tempat.


Sementara anak-anak kini bermain dengan salah satu pembantu almarhumah nenek dari Erlin.


"Er..." panggil Rivaldi. Sayangnya panggilan tersebut tak ada sahutan dari Erlin, yang masih sibuk melamun menatap anak-anak.


Dengan tersenyum penuh arti, Rivaldi pun akhirnya menyentil kening Erlin untuk menyadarkan lamunannya.


Tik...


Sontak saja sentilan jari Rivaldi membuat Erlin terkejut.


"Ahh, iya. Ada apa, Val?" tanya Erlin dengan nada keterkejutannya.


Dengan menautkan kedua alisnya, Rivaldi memberanikan diri untuk bertanya, "Kau tidak kenapa-kenapa kan?" tanyanya.


"Ummh..., tidak kok .., hanya saja.." belum sampai Erlin menyelesaikan ucapannya Rivaldi menyahutnya dengan berkata, "Apa kau kepikiran Aditya? Jika kau memikirkannya lebih baik kita pulang, Er! Kasihan Aditya..."


Mendengar penuturan dari Rivaldi, Erlin menggeleng cepat, karena tak terima dengan apa yang sudah dikatakan oleh Rivaldi. "Val, kenapa kau malah berbalik membelanya?"


"Bukan membelanya Er, tapi aku hanya memberi masukan yang terbaik untukmu. Lagi pula juga belum ada bukti yang valid mengenai kehamilan Dera.." jawab Rivaldi menjelaskan.


"Tapi Val, sudah jelas Ibunya Dera bilang dia hamil anak mas Aditya, Val... hiks.. hiks.., kau tau itu kan Val!" tegas Erlin dengan menangis tertahan.


Melihat Erlin yang menangis, Rivaldi pun merasa iba, kemudian ia mempunyai inisiatif untuk memeluk Erlin.


Greeppp...


"Erlin, sudah jangan menangis lagi..., aku berjanji tidak akan mengungkit itu lagi. Tapi kumohon padamu agar kau mengabarkan keluargamu jika kau berada di desa, apalagi kau juga membawa anak-anak kesini.." tutur Rivaldi pada Erlin.


Mendengar penuturan dari Rivaldi, dengan cepat Erlin melepaskan pelukan dari Rivaldi.


"Tidak Val, itu tidak mungkin..." ujarnya sambil menggelengkan kepalanya, dengan berjalan mundur ke belakang.


Erlin pun lalu menyambungnya lagi dengan berkata, "Val, jika kau ingin pulang ke kota, lebih baik pergilah! Aku ingin di sini saja untuk menenangkan pikiran .."


"Baiklah jika itu menjadi keputusanmu, maka aku juga tidak akan pergi dari sini, karena aku tidak ingin melihatmu rapuh terus menerus tanpa Suamimu di sisimu.." jawab Rivaldi. Seketika saja jawaban dari Rivaldi membuat Erlin tertegun mendengarnya.


**


^^^Rivaldi POV :^^^


^^^Hatiku rapuh ketika melihatmu bersedih, namun hatiku juga akan merasa senang jika melihatmu bahagia. Entah mengapa rasa itu masih sama semenjak kita masih menjadi sepasang kekasih.^^^


Bersambung....


...****************...

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2