Kisah Cinta Ceo Dan Dokter Cantik

Kisah Cinta Ceo Dan Dokter Cantik
Episode 191


__ADS_3

Terperangkap Jebakan Levi


Waktu pun terus berlalu, kini jam sudah menunjukkan pukul 12 siang waktu setempat. Di RS, Erlin nampak masih disibukkan dengan pekerjaannya sebagai seorang dokter jantung. Apalagi hari ini begitu banyak pasien yang harus ia tangani. Bahkan saking banyaknya pasien, ia sampai kewalahan dan mau tak mau ia harus mengoper sebagian pasien pada salah satu teman sejawatnya yaitu Clara. ‘Ya, walaupun Clara masih menjadi seorang dokter residen kardiologi namun kinerja Clara sangat disukai oleh para seniornya termasuk Erlin.’


“Er, kebetulan sudah waktunya istirahat nih, ke kantin yuk!” ajak Clara yang muncul dari balik pintu ruangannya.


“Hmmm baiklah! Oh ya, Dina mana?” sahut Erlin dengan berbalik menanyakan keberadaan Dina.


“Katanya sih tadi ada urusan sebentar, entahlah sama Exsel mungkin, kan Dia balik ke sini lagi!” balas Clara menjelaskan keberadaan Dina.


Mendengar pernyataan dari Clara, Erlin pun mengembangkan senyumnya sambil berkata, “Waahh, iyakah?? Pantesan si suster rombeng akhir-akhir ini jarang terlihat,” ucap Erlin sekenanya sambil berjalan keluar ruangan dengan diikuti Clara di belakangnya. Tanpa di sadari oleh keduanya, Dina pun muncul dari arah yang berlawanan.


“Tauk tuh suster rombeng .., wkwkwk ..” ucap Clara menimpali dengan diikuti gelak tawa mereka berdua.


“Suster apa tadi kalian bilang?”  Sahut Dina yang tiba-tiba saja muncul tepat di hadapan mereka. Erlin dan Clara pun seketika menghentikan langkahnya dengan menoleh ke arah sumber suara, dilihatnya ternyata Dina yang berjarak lima langkah dari mereka.


Bukannya menjawab pertanyaan dari Dina. Erlin dan Clara justru malah terkikik geli mendengar pertanyaan yang dilontarkan Dina. “Wkwkwk .. suster rombeng dateng juga, wkwkwk ...” ucap Erlin dan juga Clara secara bersamaan.


“Huuusss ..., berisik tauk! Enak saja bilang Suster rombeng!” ucap Dina tak terima dengan memutar bola matanya jengah. Seketika itu pula Erlin dan Clara berusaha menahan tawanya yang hampir saja meledak.


“Issh ck, seneng banget sih ngetawain Sahabat sendiri? Ayo buruan kita ke kantin, sudah laper nih!” ucap Dina sambil menarik tangan Erlin dan juga Clara.


Sesampainya di kantin Erlin dan kawan-kawan segera memesan apa yang mereka pesan. Saat mereka bertiga sedang asyik mengobrol, Erlin mendapatkan sebuah notif pesan dari sang Suami agar segera ke kantor dengan


membawakan makanan kesukaannya yang ada di kantin RS.


‘Mommy Sayang, cepat ke kantor, ya! Jangan lupa bawakan Daddy makanan kesukaan Daddy! Karena Daddy sudah menyiapkan kejutan untuk Mommy.’ Begitulah kira-kira isi pesan yang dikirimkan oleh Aditya pada Erlin.


Sementara Erlin pun senyum-senyum sendiri membaca pesan dari sang Suami. Melihat Sahabatnya yang tersenyum sendiri Dina dan Clara pun lalu menggebrak meja.


Braak ...


"Woy ..." ucap Dina dan Clara secara bersamaan dengan diiringi gebrakan meja. Sontak saja Erlin tersentak kaget dengan apa yang sudah dilakukan kedua Sahabatnya. "Astaghfirullah  ..." ucapnya dengan nada keterkejutannya.


"Kalian apa-apaan sih? heran deh." ucapnya dengan memutar bola matanya jengah.


"Lagian siapa suruh senyum-senyum sendiri nggak jelas .." sahut Dina. Mendengar perkataan dari Dina Erlin pun menggelengkan kepalanya heran dengan kedua tingkah Sahabatnya.


Tanpa menghiraukan kedua Sahabatnya, Erlin pun segera memesankan makanan kesukaan sang Suami. “Mang, tolong bungkusin gado-gado satu ya, buat Suamiku!” titah Erlin pada salah seorang penjual makanan di kantin.


“Siap Nyonya dokter!” jawab penjual makanan itu dengan penuh semangat, mengingat yang pesan adalah seorang dokter cantik istri dari CEO ternama di kota S. Sedangkan Dina dan Clara pun malah saling pandang. Dina pun lalu membuka suaranya dengan berkata, “Er, bukankah kau tadi sudah memesan makanan? Kenapa pesan lagi? Bisa melar tuh badan!” serunya.


“Yang melar itu badanmu kali, Dina! Lagi pula gado-gado itu buat Mas Aditya!” sahut Erlin sambil menyeruput esnya. “Mang, spaghetti punyaku di bungkus juga sekalian ya!” titahnya pada sang penjual makanan tersebut.


“Er, mau kemana sih?” tanya Clara memastikan.


“Biasalah Ra, ke kantor, mau kemana lagi?!” sahut Erlin sambil berdiri dari tempat duduknya untuk membayar semua pesanannya.


“Kenapa nggak makan di sini saja, sih? Kan bisa makan di sini sebentar, terus ke kantor! Kalau nggak gitu ya di sini dulu kek ngobrol-ngobrol gitu!” protes Dina pada Erlin. Erlin pun lalu menanggapinya dengan sebuah senyuman, lalu berkata, “Bawel banget sih, suster rombeng! Ya sudah, kalian tenang saja, Aku akan tunggu kalian sampai kelar makan, kok!” sambungnya.

__ADS_1


“Nah itu baru namanya Erlin bukan dokter bu ...” ucapan Dina terhenti seketika karena di potong oleh ucapan Erlin.


“Bu apa? Bucin gitu maksudmu? Nggak juga kali Din, yang bucin itu Mas Aditya bukan Aku!” bantah Erlin menjawab pernyataan dari Sahabatnya.


“Ahh yang bener?? Sahut Dina dan Clara menggoda Erlin.


“Ck tauk ah ..., sudah deh jangan bicara,  mending kalian makan, deh ya!” sahut Erlin dengan memutar bola matanya jengah melihat kedua sahabatnya yang malah menertawainya. Seketika itu pula Dina dan Clara pun terdiam menghentikan gelak tawanya karena di tegur oleh Erlin. Mereka pun lalu segera menyantap hidangan yang sudah mereka pesan. Sementara Erlin hanya memandangi layar ponsel sambil menyeruput Esnya, menunggu balasan dari sang Suami.


****


Di kantor Wijaya Group.


Levi kini sedang berjalan menuju ke ruang CEO dengan membawa sebuah nampan berisikan dua buah minuman untuk diberikan kepada atasannya dan juga assisten Dera. Sesampainya Levi di depan ruang CEO, Levi tak langsung masuk ke dalam ruangan tersebut, namun Levi justru malah menuju ke ruangan Dera yang terlihat tampak sepi.


“Heh ... liat saja, ku pastikan rencana ini tidak akan gagal .. !!” serunya sambil tersenyum menyeringai. Setelah masuk di ruangan assisten Dera, ia lalu meletakkan nampan yang berisikan dua buah minuman di meja kerja Dera. Levi pun segera mengambil ponselnya yang ada di saku jas kerjanya untuk menghubungi seseorang.


Tut ...


Sambungan telepon pun terhubung.


“Dera .., kau dimana?” tanya Levi pada Dera. ‘Ya seseorang yang dihubunginya adalah Dera.’


“Aku di ruang CEO, Lev ..., memangnya kenapa sih?” sahut Dera dengan berbalik tanya.


“Oh ya sudah, kalau begitu cepat keluar Aku ada di ruanganmu, karena Aku mengantarkan minuman untukmu dan juga Tuan Aditya,” jawab Levi sambil tersenyum penuh kemenangan.


“Astaga Lev, ku kira ada apa!” seru dengan yang berada di seberang sana. Tanpa banyak bicara Levi justru malah mematikan teleponnya sebelah pihak.


“Tuan Aditya, mumpung Istri Tuan Aditya belum datang, Saya mau kembali ke ruangan Saya sebentar, boleh kan?” tanya Dera pada Aditya untuk meminta izin.


“Memangnya kenapa De?” balas Aditya dengan berbalik tanya.


“Levi Tuan, Dia  tadi meneleponku. Dan sekarang Dia ada di ruangan ku sedang menungguku,”


“Hmmm, baiklah! Jangan lama-lama ..” ucap Aditya dingin. Sementara Dera yang sudah diizinkan oleh Aditya untuk pergi pun segera melangkahkan kakinya keluar dari ruang CEO menuju ke ruangannya untuk menemui Levi.


Cekleek ...


Drra membuka pintu ruangannya dilihatnya Levi yang sedang menunggunya. “Levi, ada apa .. ??”


“Oh ya, ini ada minuman untuk Tuan Aditya dan juga untukmu ..” ucap Levi sambil menyodorkan nampan berisikan dua buah minuman pada Dera. Derra pun lalu menerimanya dan berkata, “Hanya ini saja? Tumben sekali kau Lev!” ucapnya heran dengan sikap Levi yang tak seperti biasanya.


“Kebetulan ada salah satu teman karyawan kita ulang tahun hari ini, jadi aku yang mengantarkan jus jeruk ini untuk kalian,” jawab Levi beralasan.


“Oh begitu ..” sahut Dera sambil mengangguk mengerti.


“Yups ..., kalau begitu Aku pergi dulu ya Dee .., Aku mau beristirahat dulu ..” ucap Levi berpamitan sambil berjalan keluar dari ruangan Dera. Ia tak ingin berlama-lama dengan Dera, karena ia tak mau mengambil resiko, dan tak mau mengulur waktunya.


***

__ADS_1


Sedangkan Aditya yang berada di ruang kebesarannya masih disibukkan dengan laptopnya. Ia bahkan tak mempedulikan jika sudah memasuki waktu istirahat. Saking sibuknya, Aditya tak menggubris seseorang yang datang dengan membawakan sebuah nampan berisikan dua buah minuman.


“Tuan Aditya, maaf mengganggu, kebetulan ini ada jus jeruk untuk Anda.” Ucap Dera sambil menyodorkan sebuah minuman di atas meja kerja Aditya. Belum sampai Dera meletakkannya di atas meja, Aditya pun dengan cepat menyambarnya.


Sreett ...


“Terima kasih Dee, tau saja jika Aku sedang haus ...” ucap Aditya lalu meneguk jus jeruk itu sampai habis.


Glek .. Glek .. Glek ..


Sementara Dera yang melihat Aditya meneguk minuman pun segera mendudukkan pantatnya di atas sofa.


“Hah ..., lega sekali ..” ucap Aditya.


“Dera minumlah, rasanya begitu segar kok!" ucap Aditya menyuruh Derra agar meminum minumannya.


“Iya Tuan ..., terima kasih,” jawab Dera. Tanpa berpikir panjang Dera pun segera meneguk minumannya sampai habis tak tersisa. Mengingat dirinya sendiri juga sedang menahan haus.


Lima menit setelah mereka meminum minuman tersebut, tiba-tiba saja tubuh Aditya merasa panas, begitu pula dengan assisten Dera yang mengalami hal serupa dengan apa yang dirasakan oleh Aditya.


“Ck .., sial kenapa cuacanya panas sekali? Gerah sekali ...” ucap Aditya berdecak kesal sambil melonggarkan dasinya lalu melepas jas kerjanya.


“Tu .. Tuan sebaiknya Aku pergi dulu, Aku juga merasakan panas, mungkin AC yang ada di ruangan Tuan sedang bermasalah  ..” sahut Dera menimpali ucapan dari Aditya. Mereka belum menyadari jika mereka merasakan panas karena pengaruh minuman yang mereka minum. Mendengar ucapan dari Dera, Aditya hanya tertegun, penglihatannya kabur, ia mengira bahwa wanita yang dihadapannya saat ini adalah Istrinya.


Dengan tersenyum manis, Aditya pun menghampiri Dera, yang ia kira adalah Istrinya. Sementara Dera hanya diam sambil memegangi kepalanya yang terasa pusing, tak menggubris Aditya yang berjalan mendekat ke arahnya. Ia justru malah merancau tak jelas.


“Tuan ..., panas sekali ..” ucap Dera sambil membuka satu kancing kemejanya.


Tanpa berpikir panjang Aditya pun membopong Dera untuk membawanya masuk ke kamar yang berada di ruang CEO. “Sayang, kau tenang saja Aku akan memuaskanmu ..” ucap Aditya yang masih mengira bahwa seseorang yang ada di hadapannya adalah Istrinya.


***


Bersambung .....


...****************...


...----------------...


^^^Cinta bukan mainan cinta juga bukan makanan namun cinta adalah sebuah anugerah.^^^


^^^Jadi kesimpulannya adalah pergunakanlah waktumu untuk selalu bercinta dengan pasanganmu ...^^^


^^^Eh ... gimana sih.. ?? nggak gitu juga konsepnya... hahaha .....😂😂^^^


^^^Eh gimana sih ... ?? ngoahahaha .... 🤣🤣^^^


^^^Biar nggak tegang Bestie.... 🤪^^^


Yokkk gas komen yoookk.. biar Author semangat Upnyaa... 🥰🥰

__ADS_1


****


__ADS_2