
Kemarahan Tuan Wijaya dan Tuan Sanjaya
Tak terasa hari pun sudah menjelang malam, Dina dan Clara saat ini sudah berada di sebuah bar yang dimakasud oleh Clara. Dengan teliti ia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan untuk mencari seseorang yang sedang ia cari.
“Ra ..., sumpah aku merinding disko ini!” seru Dina tiba-tiba bergidik ngeri karena melihat banyak sepasang kekasih yang sedang mabuk-mabukan.
Sementara Clara yang mendengar pernyataan dari Dina pun hanya menggelengkan kepalanya pelan dan berkata, “Dasar suster ndeso ...”sahut Clara membalas pernyataan dari Dina.
“Enak saja bilang suster ndeso! Yang ada nih kau lah dokter ndeso ..!” seru Dina tak mau kalah.
“Issshhh, berisik! Lebih baik kita cari Erlin di sini!”
“Tapi kan Erlin ...” ucapan Dina terhenti seketika karena terpotong oleh ucapan Clara yang berkata, “Tunggu Din ..., lihatlah! Itu bukannya Erlin sama ...” belum sampai Clara menyelesaikan ucapannya. Betapa terkejutnya Dina dan Clara ketika melihat Erlin yang sedang bersama seorang Pria yang tidak lain adalah pria yang hampir melecehkannya waktu kuliah di universitas kedokteran.
“Astaga Ra, bukannya pria itu Rivaldi?...” ucap Dina tersentak melihatnya. Begitu pula dengan Clara yang tak kalah terkejut melihat Erlin dengan seorang pria yang sangat familiar.
“Kau benar Din, dia Rivaldi! Ayo cepat, kita ke sana!” ucap Clara sambil menarik tangan Dina.
Sementara Erlin yang sedang bersama Rivaldi pun kini sedang asik mengobrol, bahkan Erlin tak menyadari jika dirinya sedang meminum orange jus yang sudah dicampuri arak.
“Val ..., kenapa kepalaku berputar ya? tanya Erlin pada Rivaldi dengan memegangi kepalanya yang sedang berputar. Sontak saja Rivaldi yang mendengarkan pernyataan dari Erlin pun terkejut, ia tak menyangka jika minuman yang dipesannya telah dicampuri arak oleh karyawan bar.
“Val .., kenapa aku seperti melayang di atas awan ya ...” ucap Erlin mulai merancau tak jelas. Sedangkan Rivaldi yang mendengarnya pun tertegun. Ia pun lalu beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke arah salah seorang pelayan bar sambil mengepalkan tangannya geram karena telah mencampuri minuman yang ia pesan dengan arak.
Tanpa banyak bicara Rivaldi pun melayangkan pukulan bogem mentah ke arah pelayan yang sudah berani mencampuri minumannya dengan arak.
Buuukkk ....
“Arrggghh ...” rengek pelayan bar itu kesakitan. Ia pun lalu berkata, “Ke ... kenapa Tuan me .. me ... memukulku?” tanyanya dengan tergagap karena ketakutan melihat Rivaldi. Sedangkan Rivaldi yang mendengar perkataan dari pelayan itu [pun lalu menjawabnya dengan berkata, “Heh ..., apa kau bilang? Jangan pura-pura tak tau jika kau yang telah mencampuri orange jus itu!”
__ADS_1
“Hah ... ti .. tidak Tuan ..., aku benar-benar tak tau ...” bantah pelayan tersebut.
“Brengsek ... kau ..., jangan coba-coba kau membohongiku, kalau kau ingin masih bekerja di sini!” umpat Rivaldi sambil menghempaskan tubuh pelayan itu ke lantai.
*****
Sementara di sisi lain Dina dan Clara yang melihat Erlin seperti mabuk pun segera menghampirinya. “Astaga Erlin! Apa yang kau lakukan?” tanya Dina pada Erlin yang terlihat berantakan.
Erlin pun lalu mendongakkan kepalanya menatap dua wanita yang kini sedang berada di hadapannya. “Hey ..., kalian siapa? Beraninya kau menggangguku ..., dasar perempuan ****** beraninya kau merebut mas Aditya dariku ...” sahut Erlin merancau tak jelas karena efek minuman yang ia minum. Mendengar rancauan dari Erlin, Clara pun mulai tersulut emosi, ia pun lalu melayangkan sebuah tamparan keras ke pipi mulus milik Erlin.
Plaakkk ...
Tamparan keras di layangkan oleh Clara di pipi mulus Erlin.
“Erlin, apa-apaan kau! Kenapa kau seperti ini, hah ... ?!” tanya Clara tersulut emosi melihat Erlin yang sedang mabuk-mabukan bahkan terlihat berantakan.
"Biarkan saja, aku menamparmu, karena kau sudah di luar kendalimu, Er!"
“Ra .., jangan marah-marah kenapa? Kasian dia!” ucap Dina memperingatkan Clara.
"Erlin, kau tau tidak kau sudah mengkhawatirkan kami!"
"Persetan dengan semua nya Clara! Kau tau kan mas Aditya dia sudah meniduri Dera...."
"Lelaki bajing*n seperti Aditya, yang pantas untuk disandingkan dengan sahabat ******!" berbagai umpatan keluar dari mulut Erlin dengan begitu saja. Sementara Clara, Dina dan juga Rivaldi hanya diam tertegun mendengarnya. Setelah sedetik tak Ada yang membuka suara, Clara pun lalu mengarahkan pandangan memandang ke arah lain, dilihatnya Rivaldi yang sedang memandangi Erlin dengan tatapan mata kosong.
“Rivaldi, ya ini pasti ulahmu kan, Val! Ayo jawab!” ucap Clara dengan nada meninggi sambil memelototinya. Rivaldi pun dengan cepat menjawabnya dengan berkata, “Maafkan aku, Ra! Aku tak berniat ingin membuatnya mabuk, tapi pelayan sialan itu yang sudah mencampuri minuman itu pada Erlin ...” balas Rivaldi menjawab pertanyaan dari Clara. Tanpa banyak bicara Clara pun lalu beralih menatap Erlin dan juga Dina.
“Dina lebih baik kita pergi dari sini sekarang juga, kasian Mamih sama Papih menunggu di rumah sakit,” ucap Clara sambil merangkul tangan Erlin untuk dipapahnya.
__ADS_1
“Tapi Ra, mereka tadi sudah mengirimkan pesan kepadaku jika mereka sudah kembali ke rumah Aditya ..”
“Hmmm ya sudahlah, lebih baik kau bantu aku untuk memapahnya!” titah Clara pada Dina. Dan Dina pun lalu menuruti perintah dari Clara untuk membantu memapah Erlin yang sedari tadi merancau tak jelas. Sementara Rivaldi yang melihatnya pun tak bisa berbuat apa-apa kecuali diam. Karena ia tau jika ia dulu juga pernah berbuat jahat pada Erlin.
...****************...
Sedangkan di lain tempat, Aditya tambak berantakan, karena hingga saat ini ia belum juga menemukan sang istri yang tiba-tiba hilang bak di telan bumi. Bahkan Aditya ia juga sudah berkeliling kota dan berbagai tempat ia kunjungi namun hasilnya sama saja, ia tak menemukan Erlin.
“Arrrgghhh ..., kau benar-benar membuatku gila, Erlin!” seru Aditya sambil menjambaki rambutnya.
“Astaga, hampir saja aku melupakannya ...” sambung Aditya yang berada di dalam mobil bersama dengan sekretaris Wu.
“Memangnya ada apa Tuan?” tanya sekretaris Wu pada atasannya. Dan Aditya pun lalu membalasnya lagi dengan berkata, “Sekretaris Wu, lebih baik kita putar arah ke taman kota!” titahnya pada Sekretaris Wu.
“Tapi Tuan ..., mana mungkin Nyonya Muda ke sana?”
“Sudah, turuti saja perintahku!” sahut Aditya. Dan pada akhirnya mereka pun lalu segera menuju ke taman kota.
Sementara di sisi lain, Tuan Sanjaya dan Mamih Dewi kini sudah berada di rumah Aditya. Bahkan kedatangannya sudah disambut oleh keluarga besan.
“Kalian kemana saja sih? Sudah di tunggu dari tadi loh ... !” seru Mama Ita pada Tuan Sanjaya dan Mamih Dewi. Seketika itu pula Tuan Sanjaya membuka suaranya dengan berkata, “Perlu kalian ketahui jika Putra kalian sedang berselingkuh dengan seorang wanita lain,” ucapnya dingin.
Sontak saja perkataan dari Tuan Sanjaya membuat Tuan Wijaya dan Mamah Ita membelalakkan matanya terkejut dan mengepalkan tangannya geram.
...****************...
...----------------...
Bersambung ....
__ADS_1