
Berita Tentang Aditya dan Dera mencuat
Setelah sehari mulai berlalu, Erlin menjalani aktifitasnya seperti biasa dengan membantu Mbok Inah di dapur untuk menyiapkan makanan untuk mereka dan anak-anak.
Saat Erlin sedang mengiris kentang tiba-tiba saja ia dikejutkan dengan kedatangan seseorang yang memeluknya dari arah belakang.
Greeppp...
Seketika saja Erlin membelalakkan matanya terkejut melihat tangan melingkar di atas perutnya. Di saat itu pula Erlin segera melepaskan pelukan tersebut dan membalikkan badannya.
Betapa terkejutnya Erlin melihat keberadaan sang Suami yang berada di dapur. 'Ya, Aditya sudah sampai di kediaman Eyang Erlin yang berada di sebuah desa di pegunungan dekat dengan perbatasan provinsi.
"Mas, ngapain mas di sini? Bukannya Mas sudah mau menikah dengan Dera? Mas sudah bertanggung jawab kan?" berbagai pertanyaan dilontarkan oleh Erlin kepada Aditya.
Mendengar pertanyaan dari istrinya, Aditya dengan lembut membalasnya, "Sayang dengarkan aku, aku sudah menemukan kebenarannya. Ayo kita pulang!" ajak Aditya dengan bersemangat menarik tangan Erlin.
Sayangnya tarikan tangan Aditya dihempaskan dengan begitu saja oleh Erlin.
"Lepas, Mas! Aku nggak mau pulang!" bentak Erlin menolak untuk pulang.
"Sayang kenapa kau..." belum sampai Aditya menyelesaikan ucapannya, Erlin menyahutnya lagi dengan berkata, "Cukup Mas! Jangan berbicara lagi! Kumohon pergilah dari sini, Mas. Cepat pergi! Hiks.. hiks.." usir Erlin dengan menangis histeris sambil memukuli dada bidang Aditya.
"Sayang, dengarkan aku! Yang menghamili Dera itu bukan aku, tapi orang lain," jelas Aditya pada sangat Istri. Erlin yang mendengar pernyataan dari sang Suami pun tidak percaya dengan begitu saja.
Ia pun kemudian menggeleng pelan, dan..
Plaaakkk...
Tamparan keras dilayangkan begitu saja oleh Erlin mengarah ke pipi sisi kiri milik Aditya.
"Sudah ku bilang, cukup Mas! Jangan coba-coba menggangguku lagi! Aku muak melihatmu!" ucap Erlin dengan nada penuh penekanan, dengan menunjuk-nunjuk ke muka Aditya, lalu melangkahkan kakinya pergi ke kamarnya.
Siapa sangka saat ia melangkahkan kakinya pergi ke kamar, Tiba-tiba saja ia mendengarkan sebuah berita yang membuat dirinya terkejut. Seketika saja Erlin mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam kamar menuju ke ruang tamu.
Begitu pula dengan Aditya yang mengikuti sang Istri dari arah belakang.
Sekilas Info.
Pemirsa, kabar mengenai seorang pengusaha kaya yang bernama Aditya Bramansta Wijaya, telah menghamili seorang karyawan yang bekerja di perusahaan Wijaya Group yang merupakan sekretaris dari CEO ternama tersebut. Dan berdasarkan informasi yang kami terima, Aditya Bramansta Wijaya mau bertanggungjawab atas kehamilan yang menimpa karyawatinya.
Berikut adalah penuturan dari Ibu dari karyawati tersebut. Muncul lah sebuah gambar yang menampilkan sosok Ibu Nia yang sedang di wawancarai.
"Terima kasih Tuan Aditya, kau telah bertanggung jawab atas perbuatanmu, dan teruntuk dokter Erlin Putri Sanjaya lebih baik ceraikan suamimu, karena suamimu telah menghamili putriku..." ucapnya pada wartawan.
Duaaarrr...
Bagi petir menyambar di siang hari Erlin dan Aditya yang melihat dan mendengar berita televisi tersebut pun tercengang. Begitu pula dengan Aldo yang sedang di balik pintu bersama dengan mang Ujang.
"Erlin Sayang, tolong dengarkan aku itu semua tidak benar, tanya saja sama Aldo, Vanya, Dina, atau Dera, Er..."
Tak terasa air mata Erlin pun lolos dengan begitu saja, "Cukup Mas! Berhenti membohongiku!"
"Tapi Er..."
"Mas kau tau kan... hiks.. hiks.., Dera hamil, kau telah mengkhianati janji pernikahan kita!"
"Tapi Er, itu tidak benar..."
"Cukup Aldo! Aku tidak butuh penjelasan dari kalian! Semua sudah terlambat! Menikahlah dengan Dera, setelah itu kumohon ceraikan aku!"
Dengan menggeleng cepat Aditya menjawabnya, "Tidak akan Erlin! Aku tidak akan pernah menceraikanmu, mengerti!" bentak Aditya lalu meninggalkan Erlin dengan begitu saja menuju ke kamar tempat Daffa dan El berada.
Namun saat Aditya melangkahkan kakinya pergi ke dalam kamar, Erlin berteriak, "Mau kemana kau, Mas? Pergi kau dari sini!
Seketika saja Aditya menghentikan langkahnya kemudian menoleh ke arah belakang. " Aku tidak akan pernah pergi dari sini, Erlin!" tegas Aditya dingin, lalu melanjutkan langkahnya kembali menuju ke kamar Daffa dan El.
Sementara Erlin, dia terduduk lemas di atas kursi sambil menangis sesenggukan. Entah apa yang harus ia lakukan saat ini. Sang suami telah mengetahui keberadaannya.
Mendengar keributan yang berada di dalam rumah, Rivaldi pun segera menghentikan aktifitasnya untuk memetik teh. Ia pun segera masuk ke dalam rumah.
Namun sebelum ia masuk ke dalam rumah, ia sangat terkejut melihat mobil mewah yang terparkir di halaman rumah.
"Mobil itu? Bukannya mobil itu milik Aditya?" ucap Rivaldi bertanya-tanya dalam hati, lalu segera berlari masuk ke dalam rumah. Saat ia berpapasan dengan Aldo, Rivaldi menatap Aldo dengan tatapan membunuh. Begitu pula dengan Aldo.
Rivaldi pun lalu mengarahkan pandangan ke arah lain, dilihatnya Erlin ternyata sedang menangis sesenggukan. Rivaldi kemudian menghampirnya.
"Erlin, kau kenapa?" tanya Rivaldi pada Erlin yang sedang menangis sesenggukan di atas sofa.
"Val, kumohon pergilah! Aku tidak ingin di ganggu.." ujar Erlin.
__ADS_1
"Tapi Er...
"Tidak ada tapi tapian Val..., hiks.. hiks... please mengertilah! Aku butuh ketenangan..." ucap Erlin lagi dengan menangis sesenggukan.
"Kau yakin??
Tiba-tiba saja Aldo menyahutnya dengan berkata, "Kau itu dengar apa budek sih, Val? sudah jelas Erlin bilang pergi ya pergi!" sarkas Aldo pada Rivaldi.
Mendengar pernyataan dari Aldo, Rivaldi pun tak terima, ia pun kemudian menghampiri Aldo dan..
Sreeeggghhh....
"Apa kau bilang? Beraninya kau..." ucap Rivaldi sambil menarik kerah kemeja milik Aldo.
"Cukup Val! Lepaskan Aldo! Lebih baik lanjutkan lah pekerjaanmu, jangan mengganggu adikku..."
"Apa? Tapi Er, ah iya aku tau ini pasti karena suami brengsekmu itu kan, Er? Iya kan? Mana, dia?" tanya Rivaldi sambil melangkahkan kakinya masuk ke ruang tengah untuk mencari keberadaan Aditya.
"Rivaldi, sudah ku katakan, cukup, Val! Dia..." ucapan Erlin terhenti seketika karena melihat Aditya yang sedang bermain dengan Daffa dan El. Begitu pula dengan Rivaldi.
"Ayah Daddy, kenapa Ayah Daddy nggak ikut kami? Kami sangat rindu sama ayah daddy..."
"El..., Ayah Daddy janji tak akan pergi meninggalkan kalian..."
"Asikkkk" teriak El senang. Begitu pula dengan Daffa yang ikut menyahutnya. "Yee yeee...." ucap Daffa yang akan memasuki usia dua tahun.
Melihat pemandangan itu, Erlin begitu tertegun, ia tak menyangka, jika anak-anak ternyata sangat merindukannya.
"Ya Allah, apa yang harus ku lakukan? Apakah aku harus kembali dan dapat menerima kenyataan jika Mas Aditya akan menikah dengan Dera?" ucap Erlin bertanya-tanya dalam hati.
"Kuatkan lah hatiku, untuk menerima kenyataan yang begitu pahit.., kuatkanlah hati anak-anak agar bisa menerima bahwa mereka akan mempunyai Mama baru..." sambung Erlin bergumam dalam hati. Tak terasa air matanya pun menetes dengan begitu saja.
**
Sementara di lain tempat, Dera tampak terkejut mendengar berita dirinya akan menikah dengan Aditya. Dera yang tak terima dengan apa yang sudah dilakukan oleh Ibundanya pun segera bertanya pada Ibundanya yang sedang diwawancarai oleh para wartawan.
"Ibu, apa yang Ibu lakukan? Ini semua tidak benar, Bu! Hiks... hiks..
"Dera, sini Nak! Kenapa kau berkata seperti itu?
Bukannya menjawab baik-baik pertanyaan Ibu Nia, Dera malah menyuruh para wartawan dan awak media yang datang ke rumahnya untuk pergi.
Melihat perbuatan putrinya, Ibu Nia tak terima. "Dera, apa yang kau lakukan?" tanyanya dengan nada meninggi. Namun tetap saja diabaikan oleh Dera.
"Kenapa kalian hanya diam? Cepat pergi kataku, pergi! teriaknya lagi. Para wartawan yang melihat Dera tampak marah pun segera pergi menuruti perkataan dari Dera. Namun mereka tak lupa untuk mengambil gambar.
Setelah kepergian semua awak media dan wartawan yang datang ke rumahnya, Ibu Nia pun membuka suaranya.
"Keterlaluan kau, De!
" Apa? Aku keterlaluan? Ibu yang sudah keterlaluan! Kenapa Ibu melakukan semua ini, Bu? Hiks ... hiks..."
"Bukankah Dera sudah menjelaskan pada Ibu, jika anak yang ku kandung bukan anak Aditya, tapi ini anak dari pria lain Ibu...
Plaaaakkk....
"Jangan banyak berbicara lagi, Dera! Jika benar anak yang kau kandung adalah anak orang lain, kenapa ayah dari anak itu tak mau bertanggung jawab, ha?
"Aku hilang kontak Bu..., dia tak dapat di hubungi...
"Omong kosong! Ibu tak percaya! Jika kau tidak membawa pria yang menghamilimu, biarkan Aditya yang mempertanggung jawabkan semuanya...
"Tapi Bu, Aditya sudah punya Istri... itu tidak mungkin, Bu!
Plaakkkk....
"Diam kau, Dera! Aditya akan menceraikan istrinya secepatnya! Tak perduli dia adalah sahabatmu atau bukan! Camkan itu!" seru Ibu Nia dengan nada penuh penekanan.
"Tapi Bu... anak ini bukan anak Aditya! Hiks.. hiks.." lantang Dera menjawabnya dengan menangis sesenggukan.
"Pokoknya, sekali kau melawan perkataan Ibu, lihat saja nanti, kau akan tau akibatnya, Dera!" ancam Ibu Nia dengan menunjuk-nunjuk ke arah wajah Dera.
"Dan satu lagi, malam ini juga kau harus bertunangan dengan Aditya..
"Tapi Bu..."
"Cukup Dera, Ibu tak mau mendengarkanmu beralasan lagi!" ucap Ibu Nia lalu pergi meninggalkan Dera dengan begitu saja.
Sementara Dera hanya menangis sesenggukan sambil menjatuhkan dirinya ke lantai. Sedetik kemudian ia pun tersadar, dengan cepat ia berdandan rapi, lalu menyambar tasnya yang ia letakkan di meja riasnya, kemudian pergi dari rumah menggunakan sepeda motornya.
__ADS_1
Saat Dera mau menancapkan gasnya, ia bergumam pelan, "Nak, kuat ya, Nak! Kamu harus kuat! Demi Mama.., Mama berjanji akan berusaha memperjuangkan semuanya demi kamu.." gumamnya sambil mengusap-usap perutnya yang masih terlihat rata. Setelah selesai berbicara sendiri, Dera pun lalu menancapkan gasnya menuju ke RS untuk memeriksakan kandungannya.
***
Sedangkan di rumah Eyang Erlin tepatnya di sebuah desa di pegunungan, Erlin yang tadinya hanya diam ditempat memutuskan untuk mundur ke belakang, sementara Rivaldi yang melihat Aditya sedang asyik dengan anak-anak pun merasa tak suka. Ia segera menghampirinya.
Sayangnya niatnya untuk menghampiri, terhenti. Karena Erlin menarik tangan Rivaldi berusaha mencegahnya.
"Val, lebih baik kita pergi dari sini, biarkan mas Aditya bersama anak-anak. Mungkin ini adalah kesempatan mas Aditya yang terakhir kali untuk bertemu dengan anak-anak," ucap Erlin pelan memberi pengertian kepada Rivaldi. Dan Rivaldi pun mengangguk menuruti perintah dari Erlin.
Saat Erlin dan Rivaldi melewati Aldo. Seketika itu pula Aldo membuka suaranya dengan berkata, "Dokter Erlin berhenti! Tolong dengarkan Aditya! Dia berkata benar, Er. Jika Dera telah dihamili oleh orang lain, bukan Aditya!
Mendengar ucapan dari Aldo, seketika Erlin menghentikan langkahnya, kemudian menoleh ke arah belakang.
"Jangan membuang waktuku untuk bicara, Aldo!" bentak Erlin sambil menghapus
"Tapi dokter Erlin, tolong dengarkan aku dulu. Dera sendiri yang mengaku pada Aditya jika dirinya hamil bukan karena Aditya.." ucap Aldo menjelaskan. Sayangnya Erlin tetap saja tutup telinga dan nggak mau tau, dan meninggalkan Aldo sendirian bersama dengan mbok Inah.
"Sudah puas kan, jawaban Erlin apa? Sekarang lebih baik Lo pergi dari sini!" pinta Rivaldi pada Aldo agar pergi dari rumah tersebut.
Mendengar penuturan dari Rivaldi, Aldo mengeraskan rahangnya, "Kau..." ucap Aldo dengan mengepalkan tangannya geram. Sementara Rivaldi hanya tersenyum sinis lalu pergi membuntuti Erlin yang sudah pergi duluan.
"Sudah Tuan Aldo jangan diladeni den Valdi.., dia memang seperti itu," ujar Mbok Inah bermaksud menenangkan hati Aldo.
"Makasih Mbok..." ucap Aldo berterimakasih pada Mbok Inah.
"Iya sama-sama Tuan ..., oh iya lebih baik Tuan Aldo istirahat dulu, biar simbok yang menyiapkan air hangat untuk kalian berdua..." jawab Mbok Inah.
"Baik Mbok...."
"Eh mbok, tunggu dulu, apakah keluarga dari dokter Erlin ada yang tau kalau Erlin di sini?" tanya Aldo pada Mbok Inah.
"Tidak tau Tuan, tapi sepertinya genduk Erlin belum memberitahu sama Tuan dan Nyonya," ujar Mbok Inah menjelaskan.
"Oh, ya sudah Mbok. Terima kasih..."
"Iya Tuan..."
***
Di RS.Wijaya tampak Tuan Wijaya sedang mencemaskan keadaan istrinya yang belum menunjukkan tanda-tanda membaik. Apalagi setelah mendengar berita mengenai Aditya yang akan bertunangan dengan Aditya malam ini. Ditambah lagi Aditya yang dihubungi sejak kemarin tidak dapat dihubungi.
"Sayang, cepatlah pulih. Dina dan Vanya tadi mengabariku jika Aditya tidak bersalah dalam hal ini, Mah..." ucap Tuan Wijaya menjelaskan kepada sang Istri yang terbaring lemah di tempat tidur RS.
"Papah, apa kau berbicara serius?" tanya Mamah Ita memastikan.
"Iya, mereka menjelaskan pada Papah jika Aditya bukanlah orang yang menghamili Dera, tapi orang lain..." jawab Tuan Wijaya menjelaskan.
"Apa? Tapi kenapa Ibu Nia menuduh putra kita Pah? Lalu bagaimana dengan pertunangan itu? Aditya sudah menyetujui semuanya, Pah!" sahut Mamah Ita dengan penuh penekanan.
"Mamah tenang saja, Aditya sudah menjemput Erlin untuk pulang ..." ujar Tuan Wijaya berusaha menjelaskan kepada sang Istri agar kembali bersemangat.
"Beneran Pah?" Lagi-lagi Mamah Ita bertanya untuk memastikan dengan nada bersemangat.
"Iya Mah, Papah serius!" jawab Tuan Wijaya sambil tersenyum manis ke arah sang Istri.
"Tapi Pah, bagaimana jika Erlin tidak percaya dengan Aditya? Mamah takut jika Erlin pergi meninggalkan Aditya, Pah!" ujar Mamah Ita seketika berubah menjadi murung lagi.
mendengar percakapan diantara kedua orang paruh baya tersebut, Dina yang baru saja datang dengan membawa sebuah nampan berisi obat, menyahutnya dengan berkata, "Mamah, tenangkan diri Mamah! Percaya sama Dina, tidak akan terjadi masalah apapun dengan Aditya dan Erlin, Mah..."
"Dina.., Terima kasih, Nak. Kau sudah membuat Mamah hingga saat ini menjadi kuat..." sahut Mama Ita berterima kasih kepada Dina.
Dengan berjalan menghampiri ranjang Mamah Ita, Dina menjawabnya dengan berkata, "Iya Mah, sama-sama..." ucapnya dengan tersenyum ramah.
"Sekarang Mamah minum obat, karena hari ini Mamah sudah diperbolehkan pulang." sambung Dina lagi dengan tersenyum ramah.
"Sayang serius?" tanya Tuan Wijaya dan Mamah Ita secara bersamaan.
"Serius Mah, tapi Mamah harus janji sama Dina. Mamah nggak boleh seperti ini lagi..." ujar Dina sambil menjulurkan jari kelingkingnya mengarah ke arah Mamah Ita.
Mamah Ita pun lalu menyambutnya dengan menautkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Dina, "Iya Dina, Mamah janji...." ujarnya dengan tersenyum penuh kebahagiaan terpancar dari raut muka Mamah Ita.
"Baiklah kalau begitu, Dina akan menyuntikkan obat dulu buat Mama dulu..." ucap Dina lalu melepaskan tautan jari kelingkingnya, kemudian beralih menyuntikkan obat ke dalam jarum infus Mamah Ita.
***
Bersambung....
...****************...
__ADS_1
...----------------...