Kisah Cinta Ceo Dan Dokter Cantik

Kisah Cinta Ceo Dan Dokter Cantik
Episode 205


__ADS_3

Erlin Pergi part 2


Aditya yang mendengar pernyataan bik Sumi pun lalu menyahutnya dengan berkata, “Bik Sumi, kenapa bibi membiarkan mereka pergi sih, Bik!" ucap Aditya dengan amarah yang sudah memuncak.


“Arrrgghhh ..., ya Tuhan Erlin ..., apa yang kau lakukan, kau benar-benar membuatku gila!” sambungnya lagi dengan suara lantangnya sambil menjambaki rambut pendeknya yang masih berantakan.


Mama Ita yang melihat sang anak begitu hancur pun membuka suaranya dengan berkata, “Pah .., Mamah sudah tidak kuat lagi, Pah ..” ujarnya dengan nada melemah sambil memegangi dadanya.


Seketika saja Tuan Wijaya terperangah melihat sang istri tiba-tiba berpegangan padanya engan tubuh yang tak seimbang. “Mamah ...” teriak tuan Wijaya panik sambil menahan tubuh sang istri yang hendak jatuh ke lantai.


Aditya yang melihat sang mama terkulai lemah di pangkuan sang Papah pun, berteriak. “Mamah!”


“Mah ..., mamah bangun mah ...!” ucap tuan Wijaya dan Aditya secara bersamaan membangunkan mama Ita.


“Bik Sumi, cepat bilang sama mang Ujang, suruh dia menyiapkan mobil, kita akan ke RS sekarang juga!” titah tuan Wijaya pada artnya. Tanpa banyak bicara bik Sumi segera berlalu menuruti perintah dari majikannya.


Tuan Wijaya pun lalu menatap Aditya yang sedang mencoba membangunkan mama Ita yang berada di pangkuannya. “Aditya cepat bantuin Papah untuk membopong mamahmu!” titah sang Papah pada Aditya. Tanpa menunggu lama Aditya segera membopong sang mama dengan dibantu Tuan Wijaya.


Di dalam mobil :


Aditya kini memutuskan untuk mengendarai mobil sendiri tanpa mang Ujang, mengingat kondisi sang mama kini sedang dalam keadaan darurat, setelah mendengar pernyataan dari bik Sumi yang mengatakan jika menantunya telah pergi dari mansion bersama dengan mbok Inah dan anak-anak.


Aditya pergi ke RS bersama sang Papah yang duduk di kursi belakang kemudi yang sedang menemani mamahnya, begitu pula dengan bik Sumi yang juga ikut menemani mereka duduk di kursi depan kemudi, tepatnya bersebelahan dengan Aditya.


Di tengah perjalanan menuju RS, Aditya pun lalu merogoh ponselnya yang ia letakkan di saku kaosnya. ‘Ya, kebetulan Aditya kini kondisinya yang masih berantakan, dengan mengenakan pakaian khas tidurnya. Meskipun begitu ia tak peduli kondisinya saat ini, yang terpenting adalah keselamatan sang mama yang paling utama.


Tut ...


Aditya menghubungi seseorang.


“Halo ..., Aditya ada apa menghubungiku pagi-pagi begini?” tanya seseorang yang di seberang sana membuka obrolan.


“Dina, kau dimana?" sahut Aditya berbalik tanya pada Dina. 'Ya, orang yang dihubungi Aditya adalah Dina sahabat dari Erlin.'


“Aku sudah di RS, memangnya kenapa?”


“Dina cepat siapkan tempat untuk mamah, Din! Mamah pingsan karena Erlin pergi dari mansion  ...” dengan gusar Aditya memberitahu Dina.

__ADS_1


Seketika saja Dina yang berada di seberang sana terkejut mendengarnya, “Apa? Erlin pergI? Pergi kemana, Dit?" berbagai pertanyaan dilontarkan oleh Dina kepada Aditya.


"Nanti saja aku kasih tau, yang terpenting sekarang persiapkan tempat untuk mama, Din .."


"Ya sudah, sekarang kau dimana?” tanyanya pada Aditya.


“Aku dalam perjalanan, Din ..” ucap Aditya dengan panik.


“Kau tenang saja, Aditya. Sekarang matikan teleponmu, aku segera bilang sama tim dokter, dan aku akan menyiapkan ruang tindakan untuk mamah ..” balas Dina. Sambungan telepon pun kini terputus. Aditya pun lalu kembali melajukan mobilnya dengan menambah kecepatannya.


***


Sementara di lain tempat, terlihat Erlin sudah sampai di depan bar dekat taman kota. Bahkan ia juga diturunkan di sana oleh pengemudi sopir taxi tersebut, karena memang Erlin sendiri yang memintanya untuk diturunkan di depan bar.


“Terima kasih ya, pak ...” ucap Erlin dengan tersenyum ramah pada pengemudi taxi online tersebut.


Mbok Inah pun lalu membuka suaranya dengan berkata, “Nyonya muda, nyonya nggak salah kan, jika kita ke sini?” tanyanya memastikan sambil melihat sekitar.


“Iya mbok, kita nggak salah ..., kebetulan teman Erlin pemilik bar ini kok, mbok. Jadi simbok jangan khawatir ya ...” ucap Erlin pada artnya. Belum sampai sang art menjawabnya, ada seseorang berwajah tampan yang datang menyela perbincangan diantara mereka.


“Erlin ...” panggil seseorang itu pada Erlin. Seketika saja sang pemilik nama tersebut menoleh ke arah sumber suara orang yang memanggilnya.


Rivaldi yang merasa dipeluk dengan tiba-tiba oleh Erlin pun terdiam seketika, ia benar-benar bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi pada mantan kekasihnya itu.


“Hiks ... hiks ... Val .., tolong aku Val ... hiks ... hiks ...” ucap Erlin dengan menangis sesenggukan di dalam pelukan Rivaldi. Rivaldi yang tadinya terbengong, sekarang membuka suaranya dengan berkata, “Erlin, ada apa? Kenapa kau menangis, ha? Apa suami brengsekmu itu bertingkah lagi?” sahut Rivaldi sambil membalas pelukan dari Erlin.


Erlin yang mendengar pertanyaan dari Rivaldi pun segera tersadar, dan melepas pelukannya dengan Rivaldi. “Val ..., cepat bawa aku pergi dari sini, Val ..., ku mohon ... hiks ... hiks ...” ucap Erlin sambil menghapus air matanya berusaha kuat dihadapan Rivaldi.


Rivaldi yang mendengar pernyataan dari Erlin pun terkejut. “Erlin ..., jadi kau benar-benar kabur dari rumah?” tanyanya dengan tatapan mengintrogasi sambil memegangi kedua pundak Erlin. Tanpa rasa canggung, Erlin pun menjawabnya, “Iya Val, tak ada cara lain untuk mempertahankan pernikahan kami ..., hiks ... hiks ..” ucapnya dengan menangis tertahan.


Dengan menautkan kedua alisnya, Rivaldi menjawabnya dengan bertanya, “Maksudmu apa Erlin? Kenapa kau bilang seperti itu?”


“Mas Aditya, Val ... hiks ..., dia telah menghamili Dera! Hiks .. hiks ..” balas Erlin dengan berusaha sekuat mungkin untuk menahan tangisnya. Namun sekuat tenaga ia menahan tangisnya, tetap saja air matanya tumpah dengan begitu aja.


“Apa? Bagaimana mungkin Erlin? Jangan mengada-ada!” balas Rivaldi menatap tak percaya dengan apa yang sudah dikatakan oleh Erlin.


“Tapi memang kenyataannya begitu, Val!” tegas Erlin dengan nada penuh penekanan. Erlin pun lalu menyambungnya lagi dengan berkata, “Aku berkata begini karena Ibunya Dera mengatakan kepadaku jika Dera hamil anak mas Aditya ...”, hiks .. hiks ..” jelasnya dengan menangis sesenggukan.

__ADS_1


Rivaldi yang mendengarkan penjelasan dari Erlin pun membulatkan matanya sempurna, “Apa Beraninya kau Aditya, sudah menyakiti hati istrimu!” serunya tak terima sambil mengepalkan tangannya geram dengan mengeraskan rahangnya.


“Aku benar-benar bingung Val, apakah aku harus tetap berada di samping mas Aditya, atau harus pergi .., tapi saat ini aku lebih memilih pergi dari pada menahan rasa sakit hatiku, Val ... hiks ... hiks ...”Erlin lagi-lagi mengungkapkan perasaannya saat ini. Bagaimana tidak, setelah semua bukti sudah terungkap, Erlin kembali percaya pada suaminya, tapi justru setelah itu ada yang mengabarinya jika Ibu dari Dera mengatakan bahwa Dera sedang hamil anak suaminya.


Rivaldi yang melihat Erlin tampak berantakan dan sedih pun merasa iba melihatnya, akhirnya Rivaldi pun lalu memeluk tubuh Erlin untuk menenangkannya, sayangnya Erlin menolaknya, karena Erlin tau batasannya.


“Ya sudah, kalau begitu aku akan membawamu pergi dari sini, tapi dengan satu syarat, kau harus berpamitan dulu dengan kedua orangtuamu, setelah itu kita pergi dari sini ...” ujar Rivaldi dengan persyaratannya.


“Baik Val, terima kasih sebelumnya ...”


“Iya sama-sama. Kalau begitu ayo masuk ke mobil, kasihan mbok Inah dan anak-anak, di luar kedinginan ...”balas Rivaldi, sambil menyuruh Erlin dan anak-anak untuk masuk ke dalam mobil. Setelah semuanya siap, Rivaldi pun lalu melajukan mobilnya ke kediaman keluarga Sanjaya.


Namun saat Rivaldi hendak melajukan mobilnya, Erlin membuka suaranya dengan berkata, “Val .., bagaimana kalau kita lagsung pergi ke desa saja, emm maksudku antarkan aku ke tempat almh. Eyang Ti!” pintanya kepada Rivaldi.


“Tapi Er, kau belum izin pada kedua orangtuamu ...” sergah Rivaldi.


“Kau tenang saja Val, itu sudah menjadi urusanku, aku nanti bisa bilang pada mereka jika aku pergi ke rumah Eyang ...” ujar Erlin membujuk Rivaldi dengan berusaha tersenyum seramah mungkin di depan Rivaldi.


Dengan mendengus pasrah, Rivaldi menjawabnya dengan berkata, “Huuuhh, ya sudah terserah kau saja, namun aku tak mau tau jika nantinya kita dituduh yang bukan-bukan ...” balasnya.


“Iya ..., kau tenang saja ..., kan ada mbok Inah saksinya ...” jawab Erlin lagi sambil melirik ke arah mbok Inah yang berada di belakang kemudi.


Mbok Inah yang merasa dirinya dilirik oleh Erlin, lalu menyahutnya, “Iya Tuan siapa namanya simbok lupa ..., oh iya Tuan Valdi ..., ternyata tuan Valdi masih sangat perhatian ya sama nyonya ...” sahutnya yang berada di kursi belakang kemudi bersama dengan El yang tertidur di dalam pangkuannya. Sementara Erlin duduk di depan kemudi bersebelahan dengan Rivaldi dengan memangku Daffa.


“Hehehe, simbok bisa saja  ...” balas Rivaldi sedikit tertawa mendengar pernyataan dari mbok Inah. ‘Ya, mbok Inah tau Rivaldi karena memang mbok Inah sudaha lama mengabdi di keluarga Sanjaya.’


****


Bersambung...


...----------------...


Note : mungkin banyak yang bertanya-tanya kenapa Erlin banyak mantannya, sebenarnya bukan mantan ya, yang mantan hanyalah si Rivaldi ini, sementra Erwin, Reymond dan juga Irsyad adalah para pria yang terobsesi mendapatkan Erlin. namun diantara keempat pria tadi yang sudah menganggap Erlin sebagai sahabat adalah Reymond, sementara Irsyad sedang berkonflik ria di novel Author yang satunya dengan suster Dina.


***


...****************...

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2