
Penculikan Vanya Dan Babby Daffa
Skiiippp…
Di Rumah Sakit Wijaya kini nampak seorang dokter cantik sedang terbaring lemah di tempat tidurnya dengan ditemani kedua sahabatnya yang sedang menjaganya. Ya siapa lagi kalau bukan Erlin yang masih dalam proses pemulihan, ditunggu oleh kedua sahabatnya yaitu Clara dan Dina.
Erlin pun mulai membuka obrolan dengan kedua Sahabatnya tersebut. “Ra… Din…” ucap Erlin memanggil kedua Sahabatnya yang masih setia menunggunya.
“Ada apa Er.. ??” tanya Clara dan Dina secara bersamaan. Dan Erlin pun lalu berkata, “Mmm.., maafkan Gue yaa…, Guea selalu saja merepotkan kalian…” ucap Erlin.
“Sudah tenang saja…, lagi pula siapa juga yang merasa diropotkan, ya nggak Din.. ??” jawab Clara menjawab pertanyaan dari Erlin, sambil meminta jawaban pada Dina. Dina pun lalu berkata, “Iyaaa… bener kata Clara…, lagi pula siapa yang merasa direpotkan, Kita di sini itu untuk menemanimu, memang sudah tugas Kita sebagai Sahabatmu, Er...” ucap Dina mencoba memberi pengertian pada Erlin. Erlin pun mengangguk mengerti sambil tersenyum haru, karena para Sahabatnya selalu ada menemaninya di saat suka maupun duka.
“Oh ya, kalian tahu Mas Aditya nggak.., apa Dia belum kesini..??” tanya Erlin pada kedua Sahabatnya untuk memastikan jika Suaminya sudah kembali ke RS apa belum. Clara pun lalu menjawabnya, “Er…, Aditya belum pulang dari tadi, mungkin Suamimu sedang terjebak macet kali Er..” jawabnya mencoba menenangkan Sahabatnya yang menanyakan sang Suami dengan rasa khawatirnya.
“Iya Er lagi pula kan masih ada Kami di sini…” sambung Dina mencoba menenangkan hati Erlin. “Tapi Din.. Ra.. kenapa Gue merasa ada yang aneh ya, seperti tidak tenang saja, apa Cuma perasaanku saja…, apalagi tadi Mas Aditya bilang mau menghukum Risa, duh… jadi kepikiran nih… gimana kalau Mas Aditya berbuat yang tidak-tidak pada Risa.” Ucap Erlin mengkhawatirkan Suaminya dan Risa.
“Erlin.. Lo tuh gimana sih…, harusnya Lo tuh berterimakasih sama Suamimu Dia itu ngelakuin itu semua hanya karena cinta sama Lo…, dari sini sudah terlihat jelas bukan siapa yang ganjen… !!” tutur Dina dengan nada meninggi, karena kesal pada Erlin yang selalu saja membela Risa. Clara pun lalu ikut menimpalinya, “Yang dikatakan Dina itu benar Er…, Lo tau nggak selama Lo koma, Aditya itu berantakan banget loh, bahkan segala cara dilakukan hanya untuk Lo…, kalau yang ada di pikiranmu Aditya selingkuh, itu salah besar Er…, justru yang keganjenan itu si Risa bukan Aditya.” terangnya.
Seketika Erlin pun mulai terdiam dan berpikir jika yang dikatakan para Sahabatnya ada benarnya. Erlin pun lalu membuka suaranya. “Maafkan Gue…, kalau Gue selama ini tidak dengerin omongan kalian.” Ucapnya sambal menundukkan kepala penuh dengan penyesalan.
Erlin pun tiba-tiba teringat sesuatu, “Eh.. Vanya sama anak-anak kemana??, bukannya tadi ada di sini semua..??” tanya Erlin pada kedua Sahabatnya. Dina pun menjawab, “Mereka sudah pulang Er, dan Babby Daffa tadi ikut sama Vanya karena Tuan Aditya menitipkannya padanya.” Jawabnya.
“Syukurlah kalau begitu jika Vanya yang menemani Babby Daffa." ucap Erlin bernafas lega karena Babby Daffa bersama Vanya..
*****
Sedangkan Vanya kini tengah berada di taman belakang rumah bersama Babby Daffa yang ada di gendongannya. Kini rumah tersebut nampak terasa sepi tanpa kehadiran sang pemilik rumah yang telah pergi untuk selamanya. Siapa lagi kalau bukan Suami dari Vanya yaitu Edward Dirgantara Sanjaya. Ya Vanya sendiri memilih untuk menempati rumah tersebut, karena bagaimanapun juga rumah tersebut adalah hasil pemberian dari sang Suami yang telah memberikan hadiah padanya. Entah mengapa setelah berbincang-bincang dengan anak-anaknya justru Vanya menjadi sedih jika mengingat apa yang diutarakan anak-anaknya tadi. “Ya Tuhan…, apa Aku mampu untuk
__ADS_1
melewati ini sendirian bersama anak-anak, apalagi bukan hanya Aku saja yang mengkhawatirkan masa depan Babby ku, tapi Ney dan El juga sangat mengkhawatirkan calon Adiknya.” Batinnya sambal mengayun-ayunkan Babby Daffa yang sudah terlelap tidur. Dan tiba-tiba saja pada saat Vanya akan melangkahkan kaki masuk ke dalam rumahnya ada seseorang yang sudah berhasil menyelinap masuk ke dalam rumahnya.
Sreeeggghh…
Merasa ada yang aneh Vanya pun lalu menengok kearah sumber suara dengan menengok ke belakang, tapi dilihatnya tidak ada siapa-siapa. Sedetik dua detik Vanya pun mulai melangkahkan kakinya lagi, tapi di tengah Ia melangkahkan kakinya ada sekelebat orang yang lewat di belakangnya. Vanya pun lalu menoleh lagi kearah belakang.
“Siapa itu…” teriak Vanya cemas, karena seperti ada orang yang sedang mengintainya.
Sreeeggghh…
“Katakan padaku siapa itu…, kalau berani ayo muncul.., jangan beraninya cuma main peta umpet saja.. !!” tegas Vanya melawan seseorang yang sedang mengintainya dan juga Babby Daffa. Vanya pun terus mengedarkan pandangannya ke segala arah, tapi Ia tak melihat jika ada seseorang yang sedang mengintainya. Dan
Greepppp..
Seseorang telah membekap Vanya dari arah belakang, Vanya pun sontak membulatkan matanya terkejut karena tiba-tiba saja ada yang membekapnya. Sementara Babby Daffa yang digendongnya pun tiba-tiba terlepas begitu saja dari gendongannya karena teman dari seseorang yang membekap Vanya yang tiba-tiba membawa Babby Daffa keluar dari rumah. Vanya yang merasa kehilangan Baby Daffa pun lalu memberontak berusaha melepaskan diri dari orang yang sudah berani membekapnya. Tapi sayangnya Vanya pun tak bisa melawannya. Dan akhirnya Vanya pun lalu dibopong olehnya dan di bawa keluar bersama dengan Babby Daffa yang sudah dibawa keluar terlebih dahulu mengingat Babby Daffa sudah tertidur pulas saat berada di gendongan Vanya tadi.
Sementara tak berselang lama setelah Vanya dan Baby Daffa diculik orang tak dikenal, Neysa berjalan menuruni tangga sambal mengedarkan pandangan mencari Bundanya sambal berteriak. Sayangnya teriakannya tidak ada sahutan dari Bundanya. Ia pun lalu memutuskan untuk memanggil ART yang bekerja di rumahnya. “Mbak Yati, Bunda pergi kemana ya, kok Ney dari tadi nyariin Bunda nggak ketemu??” tanya Neysa bingung.
“Loh… itu kenapa pintu belakang rumah terbuka.. ??” tanya Mbak Yati pada Ney yang melihat kearah pintu belakang taman yang terlihat dari kejauhan. Ney pun menjawabnya, “Ney nggak tahu Mbak, tadi Ney kesitu juga sudah kebuka.” jawabnya polos.
Mbak Yati dan Ney pun memutuskan untuk ke taman “Lohh, ini bukannya kalung Nyonya Muda…??” tanya Mbak Yati menemukan sebuah liontin. Sontak membuat Neysa terkejut, dilihatnya memang benar bahwa yang ditemukan Mbak Yati adalah kalung liontin milik Bundanya. Tanpa pikir panjang Neysa pun segera masuk menuju ke ruang tengah untuk segera menghubungi seseorang.
*****
Sementara di lain tempat Aditya dan Aldo sudah meninggalkan markas Kalajengking setelah memberi hukuman kepada Risa dan keluarganya bersama Tuan Chandra dan dokter Amelia. Aldo pun kini melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang mengantarkan Tuan Chandra dan dokter Amelia ke sebuah tempat baru akan menuju RS untuk
mengantarkan Aditya.
__ADS_1
Setelah mengantar Tuan Chandra dan dokter Amelia, Aldo pun menancapkan gasnya menuju RS bersama Aditya yang sedari tadi memijit pelipisnya merasa pusing karena kejadian di markas Kalajengking. “Sudak tak usah dipikirkan Dit, lagi pula Risa sudah tidak sadarkan diri, dan Long Ai pun juga sudah babak belur di hajar Tuan Chandra.” Ucap Aldo berusaha menasehati Sahabatnya agar tak memikirkan tentang kejadian di markas Kalajengking.
“Tapi Do…, Aku sedang memikirkan ucapan Chandra, mengapa Dia justru malah bilang tentang Vitalia.” balas Aditya. Di tengah perbincangan mereka, tiba-tiba saja ponsel dari Aditya pun berbunyi.
Dreettt… Dreett… Dreett…
Aditya pun segera mengambil ponsel yang ada di dalam saku kemejanya, lalu menggeser tombolnya untuk menerima telepon.
“Halo…” ucap Aditya memulai pembicaraan.
“Ayah Aditya… hikss… hiksss…” jawab Neysa sambal menangis sesegukan. Sedangkan Aditya yang mendengarkan Neysa menangis pun heran. Ia pun lalu bertanya untuk memastikan, “Kak Neysa…, ada apa Sayang.., kenapa Kau nangis ditengah malam begini sayang..??” tanya Aditya lembut. Bahkan Aldo yang mendengar Aditya yang sedang berbicara dengan Neysa yang tampak nangis pun lalu segera menepikan mobilnya untuk menyimak pembicaraan.
“Ayah Aditya… hiks… hikss… Bunda, Yah… hiks… hikss..” ucap Neysa bingung ingin mengutarakannya. Aditya pun lalu bertanya lagi pada Neysa dengan berkata, “Iya Sayang Bunda kenapa..??, bukannya ada Bunda Vanya di rumah..??” ucap Aditya yang malah berbalik tanya pada Neysa. Dan Aditya pun di beri kode pada Aldo agar mengeraskan suara dengan menloadspeaker.
“hiks… hikss…, Bun.. Bunda Vanya sama Dedek Daffa hilang Yah… hikss hikss..” jelas Neysa dengan menangis sesegukan. Sontak Aditya yang mendengarkan penjelasan dari Neysa pun terkejut lalu berkata, “Apaaa…??, bagaimana bisa Neysa…??” ucap Aditya terkejut mendengarnya, bahkan Aldo yang berada di sebelah Aditya yang
sedang menyetir pun lalu ikut bertanya.
“Neysa apa yang terjadi..??” tanyanya.
“Aku tidak tahu Yah…, hanya saja Ney sama Mbak Yati menemukan kalung liontin milik Bunda dan sepatu milik dedek Dafa di taman belakang rumah, Yah… hikss… hiksss… hiksss..” ucap Neysa menjelaskan kejadian yang sebenarnya pada kedua Ayah angkatnya.
*****
Bersambung...
Waduuhhh... ada ada saja konfliknya... hehehe...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak Like, Komen yaa Terimakasih... ^-^
🥰🥰🙏🙏