
Tak Akan Ada Yang Memisahkan Kita
Sesampainya Aditya di taman belakang rumahnya, Aditya pun mengedarkan pandangannya mencari sosok yang ia cari. 'Siapa lagi kalau bukan sang Istri tercintanya.'
Dan pada akhirnya pandangan Aditya pun jatuh di sosok seseorang yang ia cari yang kini sedang asyik bermain bersama Putranya. Seketika itu pula Aditya yang tadinya marah, sekarang berubah menjadi senang karena ia disuguhkan pemandangan yang sangat menyejukkan hati.
"Maafkan Aku istriku, lagi-lagi Aku sudah menuduhmu yang bukan-bukan," batinnya sambil tersenyum menatap ke arah Erlin dan juga Baby Daffa yang sedang asyik bermain. Sementara Mbok Inah, dia disuruh oleh Erlin untuk pergi sarapan terlebih dahulu sebelum momong Baby Daffa lagi.
'Ya, Erlin telah memutuskan agar Mbok Inah yang membantu merawat Baby Daffa sendirian, sementara baby sister yang dulu telah diberhentikan oleh Erlin karena ia tak mau merepotkan orang lain selain keluarganya sendiri. Berbeda dengan Mbok Inah yang sudah mengabdi di keluarga Sanjaya semenjak Erlin masih kecil. Bahkan Keluarga Sanjaya juga sudah menganggapnya seperti keluarganya sendiri, begitu juga dengan Erlin yang sudah menganggap Mbok Inah seperti Ibunya sendiri.
Erlin yang merasa dirinya sedang ditatap oleh seseorang pun, segera menoleh ke arah seseorang itu yang ternyata adalah sang Suami (Aditya). Entah mengapa Erlin begitu malas melihat sang Suami yang kini sedang tersenyum melihat Dirinya bersama dengan Baby Daffa.
"Untuk apa Mas datang kemari? bukankah tadi Mas sudah marah-marah nggak jelas seperti singa?" sindir Erlin ketus menatap sang Suami. Namun sebelum menjawab pertanyaan dari sang Istri, Aditya pun lalu melangkahkan kakinya untuk mendekat ke arah sang Istri yang sedang bermain dengan Putranya.
Setelah sampai di tempat dimana sang Istri dan Putranya berada, barulah Aditya berjongkok di hadapan Erlin dan Putranya dengan berkata, "Sayang .., maafkan Aku." ucapnya sambil memegangi kedua telinganya.
"Sudahlah Mas, lagi pula Aku sudah memaafkanmu." balas Erlin sambil memegang kedua tangan sang Suami yang sedang memegangi telinganya.
"Hanya saja Aku sangat berharap Mas tidak menuduhku lagi. Tapi jika Mas menuduhku lagi, Aku tidak akan segan-segan untuk pergi dari rumah ini bersama Baby Daffa," sambungnya.
"Sayang mengancamku??" tanya Aditya.
"Bukan mengancam, tapi lebih tepatnya mengingatkan Mas saja yang selalu mencurigaiku berselingkuh, jangan sampai perkataanku ini justru berbalik padamu, Mas!" sahut Erlin menatap Aditya dengan tatapan penuh arti.
"Maksudmu Aku berselingkuh begitukah?" tanya Aditya memastikan.
"Hmmm, siapa tahu," jawab Erlin seadanya.
"Hey Sayang, dengarkan Aku ... Aku tidak akan pernah ..."
Belum sampai Aditya menyelesaikan ucapannya, Mbok Inah tiba-tiba datang dengan membawa bubur untuk Baby Daffa.
"Waduhh ... waduhhh ..., den Daffa sama Mommy dan Daddy yaa ..., lihat ini simbok bawakan bubur buat den Daffa," ucap Mbok Inah dengan suara menggelegar dan sangat bersemangat, sambil berjalan membawa sebuah nampan yang berisikan bubur untuk Baby Daffa. Seketika saja semua mata mengarahkan pandangan menatap kedatangan Mbok Inah, dan sementara Aditya yang tadinya berjongkok di hadapan Erlin dan Baby Daffa kini sudah berdiri.
"Ehh, maafkan Saya Tuan, Nyonya, sudah mengganggu kalian..." ucap Mbok Inah tidak enak hati karena kedatangannya sudah mengganggu. Ia pun lalu meletakkan nampan berisikan bubur di atas meja.
"Tidak kok Mbok .., tidak apa-apa .." jawab Erlin sambil tersenyum ramah ke arah Mbok Inah.
__ADS_1
"Ya sudah, lebih baik Sayangnya Mommy maem dulu sama Mommy, yuk!" ajak Erlin pada Baby Daffa sambil mengambil makanan yang berada di atas nampan.
"Ya .. ya .. ya .. mamam .." jawab Baby Daffa merespon ucapan sang Mommy.
"Emmhh, Sayang, lebih baik biar Mbok Inah yang menyuapi Baby Daffa sebentar, karena Mas ingin bicara sebentar sama Kamu," sahut Aditya.
"Hmmm, baiklah kalau begitu .." ucap Erlin menjawab ucapan dari sang Suami.
"Mbok Inah, tolong suapin sebentar ya, Mbok! Soalnya ada yang mau Saya bicarakan sebentar sama Daddynya Daffa." ucap Erlin memerintah artnya untuk menyuapi anaknya.
"Iya Nyonya, pokoknya Nyonya Muda sama Tuan Muda tenang saja, Mbok Inah akan selalu jagain cucu simbok yang satu ini, take akan kubiarkan orang jahat mendekatinya ..." jawab Mbok Inah sambil menoel pipi tembem Baby Daffa yang membuat Erlin dan Aditya tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha..."
"Iya Mbok .., kalau begitu Erlin ke sana dulu ya Mbok," ucap Erlin sambil berdiri dari tempat duduknya.
"Sayangnya Mommy, Mommy sama Daddy ke sana sebentar ya ..." sambungnya bergantian berbicara pada Baby Daffa.
"Ya .. Yaaa .. Mom .." ucap Baby Daffa sambil mengangguk gemas, membuat semua orang yang berada di situ terkikik geli melihatnya. Erlin dan Aditya pun dengan bergandengan tangan segera berjalan ke arah kolam renang, dilihatnya kedua Mertuanya menunggunya di pinggiran kolam renang.
"Sayang lebih baik kita ke sebelah sana saja," ucap Aditya sambil menunjuk ke tempat yang dimaksud oleh Aditya.
"Tapi Mas ..." ucap Erlin terhenti karena Aditya memotongnya.
"Bukankah tadi Mas sudah bilang, Mas ingin bicara sama kamu?" sahut Aditya bertanya.
"Ehh... emmh iya sih, tapi kan kita bisa bicara di sana dengan Mama Papa kan, Mas!" seru Erlin menolak permintaan Aditya.
"Sayang please ..., ini privasi rumah tangga kita.." balas Aditya dengan muka memelas.
"Huhhh, baiklah..." ucap Erlin mendengus pasrah mengiyakan perkataan dari sang Suami. Dan Mereka pun berbalik arah menuju ke tempat yang dimaksud oleh Aditya. 'Ya, kebetulan taman di rumah milik keluarga kecil Aditya sangatlah luas, sehingga Mereka bisa sesuka hati untuk berjalan ke sana ke mari.
...****************...
Sementara di lain sisi, Mamah Ita kebingungan mencari dua sosok yang ia cari yang tadi berjalan ke arahnya.
"Loh... loh..., Pah... dimana Mereka Pah? Bukannya tadi berjalan ke sini?" tanya Mama Ita kebingungan mencari putra dan menantunya.
__ADS_1
"Mereka di taman sebelah sana, Ma... Mama tenang saja," sahut Tuan Wijaya menjawab pertanyaan dari sang Istri.
"Huhhh ya sudah, lebih baik kita masuk saja ke dalam Pa, nanti Mama buatkan kopi,"
"Ya sudah, ayo!" jawab Tuan Wijaya.
...****************...
Sesampainya Aditya dan Erlin di tempat yang dimaksud Aditya, Mereka pun segera mendudukkan pantatnya di sebuah kursi yang sudah tersedia di pinggiran kolam ikan tersebut. Aditya pun lalu memberanikan diri untuk membuka obrolan.
"Sayang.., maafkan Aku...
"Mas, kenapa Mas selalu saja meminta maaf sih? Bukankah sudah ku bilang, jika Ak ..." belum sampai Erlin menyelesaikan ucapannya Aditya pun membungkam mulutnya dengan menggunakan jari telunjuknya.
"Ssssttt ..., sudah jangan banyak bicara, dengarkan Mas berbicara dulu!" titah Aditya pada sang Istri.
"Mau bicara apa lagi sih Mas?" tanya Erlin dengan memutar bola ma tanya malas, karena baginya Suaminya sangat menjengkelkan.
"Mas ingin meluruskan ucapanmu tadi, jika Mas tak akan pernah berselingkuh di belakangmu," ucap Aditya sambil memegangi kedua tangan sang Istri.
"Seriously ...??" tanya Erlin.
Aditya pun tersenyum manis lalu berkata, "He'emmmb Mas serius ..., tak akan ada wanita lain selain dirimu dan tak akan ada yang bisa memisahkan kita!" tandasnya dengan penuh percaya diri, serta keyakinan yang begitu mendalam. Seketika itu pula Erlin pun lalu melepaskan genggaman tangan sang Suami lalu bergantian memeluk tubuh sang Suami.
Greepp....
"Terima kasih Mas ..., Mas adalah Pria satu-satunya yang ada di dalam hati ku..."
"Iya Sayang sama-sama, bagaimanapun badai yang datang di dalam rumah tangga kita, kita harus siap hadapi bersama." ucap Aditya.
...****************...
...----------------...
Akankah ucapan Aditya bisa dipegang?? ataukah ucapan Erlin justru yang akan menjadi kenyataan??
Sebelum lanjut ke episode berikutnya, tinggalkan jejak Vote, Like, Komen dan Favorite yaaa.... hehehehehe...
__ADS_1