
Ketegaran Vanya
" Tidak Mas..., Kau tidak boleh meninggalkan ku..., Edward....!!!" teriak Vanya histeris, sehingga membuat seluruh pasien yang sedang mengantri terkejut mendengar teriakan Vanya, begitu pula dengan Dina yang sedang lewat di poli bedah, Ia pun langsung menuju ke arah sumber suara.
Sementara di dalam ruangan Vanya, tampak Vanya sudah terkulai lemas dilantai sambil menangis sesegukan, karena telah mendengar sendiri teriakan sang Suami yang seperti sedang terjadi kecelakaan.
" Dokter Vanya, dokter kenapa dok..??" ucap Yuli.
" Mbak Yuli katakan padaku Edward masih hidup kan mbak...?? " tanya Vanya pada perawat yang mendampinginya. akan tetapi belum sampai sang perawat menjawabnya Dina pun tiba, sontak membulatkan matanya melihat Vanya yang sudah terlihat berantakan.
" Vanya...???"
" Dina..., tolongin Aku...., hiks... hikss... Edward Din.. Edward..., katakan padaku kalau Aku salah mendengarnya....katakan padaku Din... Aku salah mendengarnya...." teriak histeris Vanya
"hikss... hikss.... " lalu menangis sesegukan.
" Ssssttt... Vanya apa maksudmu ha...??, Lo kenapa sih..., ini bukan Vanya yang kukenal...
" Tapi Din... Mas Ed... Din... Dia... hiksss... hikss..., nggak nggak Aku yakin Mas Ed pasti baik-baik saja..."
" Tadi dokter Vanya sedang menelpon Suaminya Din, Dan tiba-tiba saja dokter Vanya berteriak histeris ketika menerima telepon tersebut..." jelas Yuli
" Apa...??"
Tak lama pula tersiar kabar di dalam berita televisi, dan yang kebetulan di poli bedah sendiri ada sebuah televisi yang menyiarkan kabar sebuah kecelakaan.
Breaking News.
Para pemirsa..., telah terjadi sebuah insiden kecelakaan, antara dua buah mobil bertabrakan dari arah yang berlawan di jalan Teuku Umar, dan dikabarkan bahwa salah satu korban adalah seorang pengusaha kaya yang baru saja pindah dari luar negeri, yang merupakan Adik Ipar dari pengusaha ternama Aditya Bramansta Wijaya, telah mengalami luka yang cukup parah, sementara pengemudi yang menabraknya adalah Nona Laras, putri pengusaha teh terbesar, yang berada di luar daerah kota S, dan kondisinya juga sedang terluka parah, semua korban kini sudah dilarikan ke RS terdekat untuk penanganan lebih lanjut.
" Nggak... Din... itu nggak mungkin..., itu bukan Edward kan Din... katakan padaku itu bukan Edward kan Din... hiks...hiks...hiks..."teriak histeris Vanya sambil mengguncang-guncang tubuh Dina Sahabatnya yang hanya diam mematung.
__ADS_1
" Laras..???, ini nggak mungkin..., Laras... tidakkk...!!" teriak histeris Vanya sembari menumpahkan air matanya hang berjatuhan membasahi pipi.
Sementara disisi lain Erlin yang sedang ditugaskan di ruang IGD pun begitu terkejut melihat sang Adik mengalami sebuah kecelakaan, dan tak di duga oleh Erlin ternyata yang menabrak Edward adalah Laras kekasih dari Aldo yang juga terluka tak kalah parah dari Adiknya
" Ed... Edward... bangun Ed... ini Aku Erlin...!!" teriak Erlin histeris.
" dok.. kita tak butuh waktu lama dok, kita harus mengoperasinya secepatnya kalau tidak mereka akan kehabisan banyak darah..." ucap teman sejawatnya, sehabis mengecek Edward, dan Laras.
" Baik lakukan lah secepatnya..." perintah Erlin pada rekan sejawatnya.
" Tapi dok... kita butuh dokter Vanya untuk membantu tuan Edward, dan Nona Laras dok..." sambung salah satu perawat yang sedang bertugas di IGD.
" Tapi.., apa tidak ada dokter senior lainnya??, bukannya masih banyak yang lain..??" tanya Erlin serius berusaha tetap tenang meskipun Ia sendiri mengkhawatirkan Adiknya yang terbaring lemah tak berdaya.
" Yaa Er..., Aku siap menolong Mas Edward..., demi apapun akan Aku lakukan..." sahut Vanya yang datang dari arah samping ruang IGD, sontak Erin pun menoleh keep arah sumber suara dan berkata:" Vanya...??, tapi Van..." ucapnya terhenti.
" Tak ada tapi-tapian Erlin..., Laras juga serahkan pada kami biar tim bedah yang menangani mereka.." sambung Vanya memotong pembicaraan, dengan setegar mungkin Ia harus kuat untuk melakukan tindakan, untuk mengoperasi Suaminya sendiri dan Sahabat barunya.
" dokter... Suster...., cepat kita bersiap-siap tak ada waktu lagi..." titah Vanya dingin pada para teman sejawatnya yang berada di ruang IGD.
" Baik dok... " ucap Dina, menuruti perintah Erlin, lalu segera meraih telepon yang ada di ruang IGD, untuk menghubungi dokter yang disebutkan oleh Erlin tadi.
*****
Waktu terus berlalu, dan kini operasi pun sedang berjalan, pihak keluarga korban yaitu keluarga Sanjaya, keluarga Ferrari/sebagai keluarga besan, dan pihak keluarga Laras sudah datang di RS, bahkan terlihat Aldo yang datang dengan terburu-buru bersama Keluarganya, karena mendengar kabar jika Laras telah mengalami kecelakaan dengan Edward Suami dari Vanya.
di dalam ruang operasi.
Dengan telaten Vanya mengoperasi pasien dibantu oleh dokter senior yang mendampinginya, bahkan saat mengoperasi sang Suami, Vanya terus berdoa dalam hati, sambil menahan tetesan air matanya, berusaha agar tetap kuat, dan bisa menyelesaikan operasi dengan baik, sementara Laras juga sedang dilakukan tindakan oleh tim dokter lainnya untuk membantu jalannya operasi, tak ada suara di dalam ruangan tersebut, mereka semua bekerja keras menyelamatkan dua nyawa sekaligus.
" Kita harus lakukan transfusi darah dok..., stok darah kebetulan sudah terpenuhi..." ucap dokter senior pada Vanya.
__ADS_1
" Hmmm..., baik dok..." jawab Vanya.
Selang dua jam, akhirnya operasi sudah hampir selesai, " Mas... bertahanlah, sebentar lagi operasi akan segera selesai, kumohon bertahanlah demi anak-anak..., Kau juga bilang bukan, jika Kita akan pindah ke Jepang untuk membahagiakan anak-anak, dan untuk mencari Vitalia..., tepati janjimu itu Mas... please bertahanlah demi Aku dan calon Baby kita di dalam perutku ini...." batin Vanya, sambil fokus menjahit pasien yang merupakan Suaminya sendiri. Vanya yang berusaha menahan tetesan air matanya tapi semakin lama Ia sendiri tak mampu untuk menahannya, tak henti-hentinya Vanya mengucap syukur pada Tuhan, karena operasinya sudah berjalan dengan lancar.
" Yaa Allah terimakasih sudah melancarkan operasi Suami hamba.... hikss... hikss... hikss..., Aku hanya berharap padaMu, sembuhkanlah Suami hamba...hikss.. hikss...." ucap Vanya, menumpahkan seluruh air matanya, sambil mengelus kepala Edward lalu mengecupnya, dan salah satu teman sejawatnya berusaha menenangkan Vanya.
" dok..., pasien Laras mengalami pendarahan yang cukup hebat dok, kita butuh satu kantong darah lagi untuk menyelamatkannya, dan stok darah Ab kebetulan sudah habis dok...." sambung teman sejawat Vanya yang sedang menangani Laras.
" Aku siap untuk mendonorkan darahnya untuknya dok..., yang kebetulan golongan darahku sama dengannya..." ucap Vanya
" Baik dok..., kalau begitu mari ikut denganku..." ucap salah satu perawat.
" Baik Sus..., cepat... jangan mengulur waktu..." ucap Vanya memperingatkan perawat yang akan mengambil darahnya.
Akhirnya pengambilan darah pun sudah selesai, dan secepat mungkin harus dilakukan tambah darah ke tubuh Laras. sementara disisi lain para keluarga yang menunggu di luar ruang tindakan pun berharap cemas menunggu kabar dari dalam ruang operasi.
" Yaa Tuhan selamatkanlah Laras..., Kau harus selamatkanlah Ras..., Aku tidak ingin kehilangan yang kedua kalinya lagi... " ucap Aldo dengan nada melemah, tapi music terdengar oleh semua orang.
" Tuan Aldo tenangkan dirimu..., Aku yakin Vanya akan menyelamatkan Sahabat barunya..." sambung Vanya memotong ucapan Aldo.
" Sahabat...??" pertanyaan dilontarkan oleh Aldo.
" Yaa... mereka sudah bersahabat Tuan Aldo..., dan Mereka juga saling memaafkan satu sama lain..." ucap suster Dina, sontak seluruh orang yang berada di ruang tunggu terkejut dengan pernyataan Dina.
" Yaa Tuhan... bahkan Vanya setegar itu harus menghadapi dua orang kesayangannya di meja operasi, hiks... hiks... hiks... kasihan sekali Kamu Nak..." sambung Mamih Dewi sambil menangis sesegukan.
****
Akankah nyawa Edward dan Laras terselamatkan...??? tunggu di Episode berikutnya.
Jangan Lupa Vote, Like, Komen, dan Favorite Yaa... Terimakasih 🥰🥰🙏🙏
__ADS_1
Sambil menunggu Author up Episode selanjutnya, yuk mampir di Novel teman Author