
Tentang Dera
Sementara Rivaldi yang tadinya hanya diam tak membalas pelukan dari Erlin, kini dengan perlahan ia membalas pelukan tersebut, lalu berkata, “Sudah Er, jangan menangis lagi! Aku akan membantumu,” ucap Rivaldi masih dengan posisi memeluk Erlin.
Erlin pun lalu mengusap air matanya dan berkata, “Kau benar kan, Val?” tanya Erlin memastikan sambil melepaskan pelukannya. “Iya .., aku serius Er .., akan ku pastikan suamimu menyesal setelah ini!” tegas Rivaldi.
“Tidak Val .., jangan lakukan sesuatu pada Mas Aditya, tapi aku hanya memintamu untuk menyelidiki ada hubungan apa Mas Aditya dengan asistennya .., hiks .. hiks ..” ucap Erlin dengan tangis tertahan.
“Oh jadi Aditya telah selingkuh dengan asistennya?" Kurang ajar kau Aditya, beraninya kau melukai wanita baik seperti Erlin!” ucap Rivaldi dengan mengeraskan rahangnya geram mendengar pernyataan dari Erlin.
“Tapi Val .., ku mohon jangan apa-apakan Mas Aditya! Hiks ... hiks ..” ucap Erlin sambil mengatupkan kedua tangannya seraya memohon pada Rivaldi.
Rivaldi yang melihat Erlin memohon-mohon dihadapannya pun segera memegang tangan Erlin agar tak memohon-mohon lagi dihadapannya dengan berkata, “Iya..., Er! Kau tenang saja. Lagi pula mana mungkin aku bertindak nekat untuk menghabisinya. Jangan salah sangka, aku bukanlah Rivaldi yang dulu! Hanya saja aku yang sekarang masih menyimpan rasa padamu, meskipun sebenarnya aku sendiri sudah mempunyai kekasih, karena aku sadar bahwa cinta itu tak harus memiliki,” ucapnya tanpa sadar menggenggam erat tangan Erlin.
Erlin yang merasa tangannya sedang di pegang oleh Rivaldi pun segera melepaskannya, lalu menjauhkan dirinya dari Rivaldi. Ia baru tersadar jika saat ini dia sedang bersama lawan jenis. Ia lalu segera menghapus air matanya yang membasahi pipi dan berkata, “Val .., kau benar, dan kau tau betapa sakitnya jika hati di khianati oleh seseorang,” ucapnya.
“Tapi Er, apakah kau yakin jika Suamimu selingkuh?” tanya Rivaldi memastikan, karena ia tak percaya dengan apa yang dikatakan Erlin, karena setahu Rivaldi, Aditya dikenal sebagai seorang sosok yang sangat mencintai Istri dan Anaknya.
“Entahlah Val ..., Aku sudah pusing memikirkannya! Yang jelas aku sudah melihat di depan mataku sendiri jika Mas Aditya tidur dengan wanita lain di kantor,” ucap Erlin dengan nada melemah, bahkan saat ini kekuatannya sudah benar-benar habis.
“Apaaaa?? Kau serius Er?” tanya Rivaldi memastikan lagi.
“Iya aku serius, Val ..., apa jangan-jangan kau tak mempercayaiku? Seperti halnya kakakku yang justru malah membelanya ...” ucap Erlin sambil menuangkan sebotol oranges juice ke dalam gelasnya. Ia kali ini benar-benar tak habis pikir kenapa masih ada saja yang membela Suaminya.
Rivaldi pun terdiam seketika, karena pertanyaan yang dilontarkan oleh Erlin kepadanya. Sementara Erlin kini sedang meneguk oranges jus yang ia pesan pada pelayan bar. Tanpa disadari oleh Erlin banyak kamera yang sedang merekam Erlin secara diam-diam.
__ADS_1
****
Di lain tempat terlihat Dina dan Clara sudah sampai di taman kota 15 menit yang lalu. Bahkan saat ini mereka sedang kebingungan mencari seseorang yang mereka cari di taman kota dengan berkeliling mengitari taman kota tapi hasilnya Erlin tak ada di taman.
“Din .., apa kau yakin jika Erlin bilang di sini?” tanya Clara memastikan.
“Iya Ra ..., Erlin bilang dia di taman, tapi kok nggak ada, ya?”
“Ya sudah kalau begitu, kau hubungi Erlin saja!”
“Iya ..., ini juga sedang menghubunginya tapi nggak diangkat sama Erlin ..” jawab Dina sambil mengutak-atik ponselnya menghubungi Erlin. “Eh Din, kok aku curiga ya jika Erlin ...” ucap Clara terhenti seketika karena mengingat sesuatu.
“Ayo Din ..., kita harus segera ke bar yang di seberang sana .. !!” sambung Clara sambil menarik tangan Dina. Dina yang merasa di tarik oleh Clara pun tak terima, ia pun lalu menghempaskan tangan Clara, lalu berkata, “Apaa?? Gilak kali kita ke sana!” seu Dina menolak ajakan dari Clara.
“Nggak ah, pokoknya aku nggak mau, itu tempat yang haram tau nggak!” ucapnya memutar bola matanya malas sambil bersedekap dada.
“Ahhh sudahlah ..., eh tapi ..., ada benarnya juga, Ra! Kalau begitu kita kesana, Ra ... kita nggak ada waktu lagi ...” balas Dina yang tiba-tiba saja menarik tangan Clara untuk segera masuk ke dalam mobil. “Ya Tuhan ..., punya bestie gini amat sih! Loadingnya lama banget ..” gerutu Clara dengan posisi tangannya sedang ditarik oleh Dina.
“Sudah jangan menggerutu nggak jelas deh, Ra! Kau pikir aku tak mendengarmu apa?!”
“Issshhh ..., iyaa iyaa ...” jawab Clara.
*****
Sedangkan di lain tempat, Dera sudah sampai di rumahnya dengan menangis tersedu-sedu dan hati yang hancur berkeping-keping, bagaimana tidak, ia harus menerima kenyataan bahwa dirinya sudah dua kali dilecehkan oleh dua orang pria yang berbeda. Hanya saja kali ini berbeda, Dera telah dijebak dengan kondisi tak sadar, sementara dulu ia melakukan pertama kali dengan seorang pria tak dikenal yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar hotelnya ketika berwisata ke bali untuk meminta bantuan dengan berhubungan badan karena ada yang sedang berusaha menjebak si pria dengan menggunakan obat perangsang, jadi mau tak mau ia menuruti permintaan si pria untuk menuntaskan hasratnya. Namun jika ia tak menurutinya, ia akan kehilangan segalanya, itulah ancaman si pria terhadapnya.
__ADS_1
“Hiks ... hiks .., dasar perempuan jahat ... ! Kau benar-benar jahat Lev ...” ucap Dera sambil melemapar sepatunya ke sembarang arah, dan di saat itu juga Ibu dari Dera yang bernama Nia tiba-tiba muncul dari dapur dengan berteriak, “Ya Tuhan Dera ...., kau itu kenapa sih? Datang-datang kok ngamuk nggak jelas!” serunya.
“Hiks .., hiks .., Bu ..., ak ... akuu ...” ucap Dera dengan menangis sesenggukan. Melihat Putrinya yang menangis sesenggukan Ibu Nia pun lalu mendekat ke arah Dera berusaha menenangkan hati putrinya.
“Kau kenapa sih, Nak? Katakan pada Ibu!” titah Ibu Nia pada Dera agar mau menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
“Bu ..., aku telah dijebak Levi, Bu ..., hiks ... hiks ..”
“Maksudmu, apa Dee? Kalau bicara yang benar dong, Nak!”
“Hiks ... hiks ..., Bu ..., Levi telah menjebakku dengan mencampurkan sesuatu ke dalam minumanku dan minuman Tuan Aditya, yang pada akhirnya kita melakukannya secara tidak sadar, Bu ..., hiks ..., hiks ..” ucap Dera dengan menangis sesenggukan. Mendengar penuturan dari Dera, Ibu Nia pun berpura-pura terkejut mendengarnya.
“Apaaa? Tidak Dee, ini tidak bisa dibiarkan, pokoknya kau harus menikah dengan bosmu itu!” balas Ibu Nia berpura-pura marah.
“Tapi Bu ..., sudah berapa kali kubilang aku tak mau menikah dengannya Bu!” bentak Dera pada Ibu Nia. Sementara Ibu Nia yang merasa dirinya di bentak oleh putrinya pun tak terima. Ia pun lalu berkata, “Beraninya kau membentak ku De! Kau tau bukan jika dia telah menidurimu? Apa kau tak berpikir sama sekali jika nanti kau hamil bagaimana dengan anakmu?” tanyanya pada putrinya.
“Apaaa? Nggak Bu ..., Dera nggak mungkin hamil karena Tuan Aditya! Karena Dera sangat yakin jika Dera belum melakukannya sampai di luar batas, Bu!” tegasnya membantah perkataan dari Ibu Nia.
“Itu kan katamu, Dera! Bagaimana kalau semua bukti ...” belum sampai Ibu Nia menyelesaikan ucapannya Dera menyahutnya dengan berkata, “Cukup Bu! Yang jelas Dera tak akan pernah menikahi suami dari sahabat Dera, dan perlu Ibu ingat, Dera akan menunggu pria misterius yang sudah meniduri Dera waktu berwisata di Bali!” tegas Dera melawan perkataan dari sang Ibu.
Saat mereka sedang berdebat, tanpa disadari oleh mereka, ada seseorang yang sedang menguping di balik pintu rumah Dera sambil menyunggingkan senyumnya. “Baguslah kalau kau memilihku dibanding Aditya! Tak akan ku biarkan dirimu jatuh ke tangan Aditya! Karena aku tidak ingin membuat hati Erlin hancur dengan seketika,” gumam seseorang itu berada di balik pintu rumah Dera.
...****************...
...----------------...
__ADS_1
Bersambung ....
****