
Sebuah Ancaman
Setelah mengantarkan sang Istri ke RS Wjaya, kini Aditya segera menuju ke kantor untuk menemui client yang katanya datang langsung datang dari Jerman. Bahkan selama di sepanjang perjalanan, Aditya selalu bertanya-tanya siapakah orang yang dimaksud assisten barunya itu.
“Sebenarnya siapa yang ingin menemuiku? Dari Jerman? Siapa? Apa dia masih ada kaitannya dengan Vitalia? Ataukah Arnold?” Berbagai pertanyaan muncul dalam benaknya.
Setelah setengah jam berlalu akhirnya Aditya sampailah di kantor perusahaan Wijaya Group. Ia pun lalu segera turun dari mobil dan bergegas masuk ke dalam menuju ke ruang kebesarannya berada di lantai paling atas, dengan di sambut para staf karyawannya dengan membungkukkan badan seraya memberi hormat kepadanya.
Sesampai nya di lantai atas Aditya pun melihat ke arah ruang Assisten nya yang nampak tak ada orang. ‘Ya, ruangan asisten baru dari Aditya sama dengan ruangan yang ditempati Aldo ketika masih menjabat sebagai seorang asisten di perusahaan tersebut, dengan kondisi ruangan yang berdinding kaca, jadi masih bisa terlihat dari luar ruangan.’
“Dera, kemana tuh anak?” gumam Aditya bertanya-tanya. Ia pun memutuskan untuk melanjutkan langkah kakinya berjalan masuk ke dalam ruangannya.
Kleekkk ...
Betapa terkejutnya Aditya melihat kedatangan Reymond di perusahaannya.
“Kau ... ? Jadi kau client yang mengaku berasal dari Jerman itu? Sudah ku duga!” ucap Aditya tersenyum sinis.
“Heh, sombong sekali kau Aditya! Justru Aku ke sini untuk mengajakmu bekerjasama dalam membangun sebuah perusahaan.” balas Reymond berdiri dari sofa tempatnya duduk.
“Apaaa? Aku nggak salah dengar kan ini?” tanya Aditya memastikan sambil tersenyum kecut. Ia pun lalu menyambungnya lagi dengan berkata, “Tidak Tuan Reymond yang terhormat, Aku menolak penawaranmu!” tegasnya menolak penawaran dari Reymond dengan tampang dingin.
“Apa kau yakin, menolak tawaranku ini? Bukankah kau sedang mencari client untuk diajak bekerja sama untuk membangun perusahaan barumu itu?” tanya Reymond masih berusaha meyakinkan Aditya.
Seketika saja Aditya yang mendengarkan perkataan dari Reymond pun terkejut, dan berkata, “Apa? Darimana kau tau jika ..” belum sampai Aditya menyelesaikan ucapannya, Reymond pun menjawabnya dengan berkata, “Aku tau semuanya dari para anak buah ku!” terangnya sambil tersenyum sinis menatap Aditya yang dingin.
“Kenapa? Apa kau takut jika Aku akan merebut Istrimu?” sahut Reymond bertanya pada Aditya. Dan pertanyaan tersebut berhasil membuat Aditya mengepalkan tangannya geram dan mengeraskan rahangnya.
“Apaaaa?? Kurang ajar kau Reymond beraninya kau ..!” Aditya tersulut emosi, sambil melayangkan tanyannya untuk memukul Reymond. Namun sayangnya niatnya untuk memukul Reymond pun terhenti seketika karena asisten Dera mencoba melerainya dengan berkata, “Tuan, cukup Tuan! Ku mohon jangan bertengkar lagi, Saya tak ingin Istri Anda marah lagi gara-gara pertengkaran diantara kalian!”
“Dan buat Anda Tuan blasteran, kalau Anda ke sini hanya ingin membuat keributan saja, tolong pergilah dari sini sekarang juga!” sambungnya meminta Reymond pergi dari perusahaan.
“Apa kau blang Tuan blasteran? Heh .., memangnya kau siapa? beraninya mengusirku!” sahut Reymond tak terima karena telah diusir oleh seorang asisten.
“Bukankah tadi Anda sudah tau siapa Saya? Kenapa Anda justru berbalik tanya lagi kepadaku?
“Hmmm Aku tau, tapi Aku curiga dengan sikapmu yang seperti itu, apakah mungkin kau wanita simpanan dari Tuan Aditya yang terhormat ini??” tanya Reymond dengan melontarkan berbagai tuduhan pada asisten baru Aditya yang bernama Dera. Merasa dirinya tak terima tiba-tiba saja Aditya melayangkan sebuah pukulan bogem mentah ke arah muka Reymond.
__ADS_1
Buuukkk ....
“Arrrgghhh ...” rengek Reymond kesakitan.
Darah segar pun menetes di sudut bibir Reymond.
“Rasakan itu Reymond! Beraninya kau menuduhku yang tidak-tidak!!” serunya dengan sorot mata tajamnya menatap Reymond dengan amarah yang sudah sampai di ubun-ubun. Sementara asisten Dera yang melihat sang atasan murka pun segera keluar dari ruang CEO untuk memanggil pihak keamanan perusahaan.
“Heh, ternyata kau hanya bisa main tangan saja Aditya! Aku sama sekali tak menyangka jika Suami dari Mantan Kekasihku merupakan orang yang ..” belum sampai Reymond menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba saja,
Buuukkk ...
Lagi-lagi Aditya melontarkan sebuah pukulan keras ke arah Reymond, membuat Reymond tersungkur di atas lantai.
“Arrrgghh ..” rengek Reymond kesakitan.
“Dasar kep*rat .., brengs*k kau, Aditya! Beraninya kau memukulku lagi!” ucapnya sambil memegangi ujung pelipisnya karena kali ini pelipisnya lah yang mengeluarkan darah.
“Apa kau pikir jika Perusahaan ku bekerjasama dengan Perusahaan milik mu itu berarti akan sukses? Tidak, Reymond! Justru Aku malah mencurigaimu jika kau ada maksud dan tujuan tertentu untuk menghancurkan hubunganku dengan Istriku, bukankah begitu, Tuan Reymond?” tanya Aditya memastikan kebenarannya sambil berjongkok menhyetarakan tubuhnya dengan Reymond yang masih tersungkur di atas lantai.
Seketika itu pula Aditya mengarahkan pandangan menatap ke arah pintu dilihatnya ternyata ada dua orang pihak keamanan yang masuk ke dalam ruangan kebesarannya, Aditya pun lalu berkata, “Cepat bawa dia pergi dari sini, dan jangan biarkan dia masuk ke dalam perusahaan ini lagi tanpa seizin dariku, mengerti!” titah Aditya pada kedua pihak keamanan tersebut dengan nada meninggi.
“Mengerti Tuan ...” jawab kedua petugas keamanan tersebut.
“Ayo cepat bangun, keluar kau dari sini sekarang juga!” titah salah seorang pihak keamanan pada Reymond sambil memaksanya untuk bangun dari lantai.
“Tanpa kalian suruh Aku bisa pergi sendiri!” balas Reymond sambil menghempaskan cekalan tangan dari pihak keamanan lalu ia pun berdiri. Bahkan tanpa banyak bicara, Reymond pun segera melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut dengan diikuti kedua pihak keamanan perusahaan Wijaya Group.
Sesampainya ia di luar ruang CEO, Reymond pun menghentikan langkahnya dan mengarahkan pandangannya menatap sekilas ke arah Dera yang sedang berada di ruangannya. Sementara dua pihak keamanan yang melihat Reymond menghentikan langkahnya pun lalu menyenggolnya.
“Hey, cepat jalan! Kenapa berhenti?” tanya salah satu pihak keamanan pada Reymond.
“Bukan urusanmu !!” jawab Reymond dingin. Kemudian ia pun melanjutkan langkah kakinya berjalan ke arah lift untuk segera pergi dari perusahaan Wijaya Group.
*****
Dilain sisi, Dera yang melihat Reymond sudah menaiki lift untuk keluar dari perusahaan Wijaya pun bernapas lega. Mengingat ia sendiri mengetahui jika sedang ada konflik diantara Pimpinannya dengan Istrinya.
__ADS_1
“Huh ..., syukurlah kalau Pria blasteran itu sudah pergi.” ucap Dera dengan menghembuskan napas leganya.
Saat ia sedang bersiap untuk menyerahkan berkas ke ruangan atasannya, tiba-tiba saja ponsel miliknya pun berbunyi.
Dreertt .. Dreettt .. Dreett ..
Dilihatnya ternyata Ibunya yang menelponnya. Dera pun lalu segera menggeser layar ponselnya untuk mengangkatnya.
“Halo Bu, ada apa??” ucap Dera membuka obrolan melalui sambungan telepon.
“Dera .., apa kau sudah melakukan apa yang Ibu suruh??” tanya sang Ibu yang berada di seberang sana.
“Ibu ..., sudah berapa kali ku bilang sih, Bu! Dera tidak akan pernah menuruti perintah dari Ibu, yang bagi Dera sangat tak pantas untuk dilakukan, Bu!” tegas Dera pada sang Ibu.
“Dera .., kau itu selalu saja membantah perkataan Ibu! Kau itu terlalu polos, pokoknya Ibu nggak mau tau kau harus bisa merebut hati tuan Aditya untuk menjadi Suamimu, rebut dia dari Istri sahnya, agar kau bisa menguasai harta kekayaannya!” tegas Ibu dari Dera yang bernama Nia.
“Astaghfirullah Bu, sudah berapa kali ku bilang, mana mungkin Aku melakukannya? Ibu tau kan jika Istri dari Tuan Aditya itu Sahabatku semasa SMP? Itu mustahil Bu, tolong mengertilah!!”
“Ahh ... sudahlah kalau kau masih saja menolak perintah dari Ibu, Ibu akan bertindak nekat untuk melakukan semuanya,” ucap Ibu Nia dengan nada penuh ancaman.
“Tapi Bu ...” belum sampai Dera menyelesaikan ucapannya, sambungan telepon pun terputus dengan begitu saja.
Tut ...
“Ya Tuhan, kenapa ini semua harus terjadi pada Diriku? Bagaimana ini? Kenapa Ibuku begitu tega kepadaku?” ucap Dera dengan meneteskan air matanya yang tiba-tiba saja jatuh membasahi pipi.
Tanpa di sadari oleh Dera ada seseorang yang masuk ke dalam ruangannya. “Katakan kepadaku, apa yang membuatmu menangis Dera?” tanya seseorang itu. Sontak saja kedatangan seseorang itu membuat Dera terkejut dan membelalakkan matanya lebar-lebar melihat Aditya yang datang ke ruangannya tanpa sepengetahuannya, sudah ada di ambang pintu. ‘Ya, seseorang itu adalah Aditya Bramansta Wijaya, Pemilik Perusahaan Wijaya Group, sekaligus Suami dari dr.Erlin Putri Sanjaya SpJp.
Bersambung ...
*****
...****************...
...----------------...
**Aduhhh kira-kira siapa Ibu Nia, ya? kenapa Dia berniat jahat untuk membuat Aditya jatuh ke pelukan Putrinya? Terus simak kisah diantara mereka ya ... !! **
__ADS_1