
Aku Berjanji Akan Menikahi Dera
Sementara Aditya dan Dina kini sudah berputar-putar mengelilingi kota S selama seharian penuh, namun tetap saja tak kunjung menemui titik terang keberadaan Erlin.
Pada akhirnya Aditya dan Dina memutuskan untuk beristirahat sebentar di sebuah rest area dekat perbatasan kota.
Saat di meja makan, Aditya tampak bengong dengan memainkan garpu dan sendoknya memikirkan keadaan Erlin saat ini, bahkan ia sangat tak menyangka jika Erlin akan bertidak senekat itu dengan pergi dari mansion hanya karena masalah yang belum tentu kebenarannya.
"Yaa Tuhan, bagaimana keadaan Istriku saat ini? Aku sangat mengkhawatirkannya. Apalagi sekarang dia mengajak anak-anak pergi. Tolong lindungilah mereka di manapun mereka berada.." gumamnya dalam hating masih dengan memainkan sendok dan garpunya dengan tatapan kosong.
Dina yang melihat Aditya yang hanya diam dengan tatapan kosong sambil memainkan garpu dan sendoknya pun akhirnya angkat bicara.
"Hey, Aditya? Kenapa diam sih? Ayo makan dong! Nanti keburu dingin kan sayang makanannya!" ujarnya memberi peringatan kepada Aditya agar segera memakan makanannya.
"Hmm, lagi nggak nafsu..." Aditya menjawabnya dengan nada lesu.
Mendengar pernyataan dari Aditya Dina oun menyahutnya lagi dengan berkata, "Astaga, Ya Tuhan Aditya! Katanya mau cari Istrimu, kalau nggak makan gimana mau nyari? Sedangkan kau saja tak ada energinya sama sekali. Sudah Ayo makan isi tuh perut, kita itu juga butuh tenaga buat mencari Istrimu ..."
"Iya.. iya, bawel!" seru Aditya lalu memakan makanannya.
Mereka pun akhirnya menikmati makan ya dengan lahapnya. Namun ketika mereka sedang menikmati makanannya, tiba-tiba ada sebuah ide yang terlintas di pemikiran Dina
Dina pun akhirnya menghentikan makannya dengan bertanya kepada Aditya. "Aditya? Kau sudah kerahkan anak buahmu belum?" tanyanya sambil menyendokkan spageti ke dalam mulutnya.
Sementara Aditya yang sedang menguyah makanan pun hanya diam tak menjawab pertanyaan dari Dina. "Heh, kenapa diam sih? Ditanya juga!
"Kau tau kan ini sedang makan?" tanya Aditya dengan makanan yang sudah dikunyah habis.
"Iya sih, tapi kan setidaknya jawab dong pertanyaan ku.." protes Dina. Sementara Aditya lalu meminum habis minumannya, dan membuka suaranya dengan berkata, "Sudah, tapi tetap saja sama tak membuahkan hasil, bahkan aku juga sudah menghubungi pihak kepolisian tapi tetap saja hasilnya nihil, tak ada yang bisa melacak keberadaannya,"
"Eh Aditya, bagaimana kalau kau ada kan konferensi pers, siapa tau ada yang menemukan Erlin?"
"Astaga Dina, kenapa aku tidak terpikirkan sampai kesana?"
"Payah .. payah .. payah... bos besar kok payah. Ngurusin bisnis aja nomer satu giliran masalah beginian nomer kesekian .. kesekian .. dan kesekian..., beda banget sama Vitalia,"
"Dasar cerewet, sudah cepat buruan habiskan, makananmu, habis ini kita ke mansion Sanjaya setelah itu kita buat konferensi pers..." ujar Aditya dingin menyuruh Dina untuk menghabiskan makanannya.
"Iya.. iya..., bawel banget sih.." jawab Dina dengan memutar bola matanya malas. Mereka pun lalu melanjutkan makannya yang sempat tertunda gegara ide yang dilontarkan oleh Dina.
****
Sementara di lain tempat, tampak Erlin yang sedang sibuk berkebun dengan ditemani Mbok Inah dan juga Rivaldi. Sementara anak-anak kini sedang bermain bersama Paijo, seorang art yang bekerja di kebun teh milik almarhumah Nenek Erlin.
"Nduk Erlin, lebih baik beristirahatlah sebentar, kelihatan capek gitu kok.., ini juga sudah sing loh Nduk, nanti kalau hitam bagaimana?"
"Tidak kok Mbok, Simbok tenang saja! Eh Mbok memangnya dulu Eyang kerjaannya ya beginian ya Mbok?"
"Iya Nduk, sudah dari dulu almarhumah Eyang Ti kerjanya beginian, meskipun almarhumah wara-wiri ke luar negeri, tapi jangan salah, Nyonya besar juga pekerja keras seperti Tuan Sanjaya. Yang katanya dengan berkebun pikiran menjadi tenang. Begitu Nduk!" seru Mbok Inah bercerita pada Erlin sambil memetik daun teh.
"Oh begitu. Kenapa Mbok Inah nggak pernah bercerita sama aku sih Mbok? Tau gitu dulu bulan madunya ke sini..." celetuk Erlin. Seketika saja Erlin yang baru menyadari jika ucapannya justru membuat dirinya teringat tentang suaminya pun tergagap.
"Emmh, maksudku..." ucapan Erlin terhenti seketika karena ditatap oleh Rivaldi dan Mbok Inah dengan tatapan mata penasaran.
Melihat Erlin yang kebingungan Mbok Inah pun lalu membuka suaranya dengan bertanya, "Apa Nduk? Kenapa berhenti bercerita?"
"Nggak jadi deh Mbok, tiba-tiba saja jadi nggak mood lagi buat bantuin simbok, kalau begitu aku istirahat sebentar ya Mbok, maafin Erlin!" jawab Erlin dengan tersenyum kaku.
Tanpa menunggu jawaban dari Mbok Inah, Erlin berjalan menunduk meninggalkan Mbok Inah dan juga Rivaldi. Sementara Mbok Inah dan Rivaldi hanya saling pandang melihat kepergian Erlin.
"Den Valdi, mending aden istirahat dulu deh, Den! mungkin Nduk Erlin baru butuh hiburan dari aden.."
"Iya Mbok.., kalau begitu Valdi ke sana dulu ya Mbok. Nanti Valdi bantuin lagi.." balas Rivaldi sambil meletakkan sebuah keranjang berisikan daun teh yang sudah dipetik. Sementara Mbok Inah mengangguk menjawab pernyataan dari Rivaldi.
Saat Rivaldi melangkahkan kakinya pergi untuk menyusul Erlin. Simbok menatap Rivaldi dari belakang, sambil bergumam dari dalam hati, "Kasihan Nduk Erlin, sampai kapan harus seperti ini..., mudah-mudah Gusti Allah memberikan jalan terrain buat Nduk Erlin," ujar Mbok Inah berbicara sendiri dengan penuh harap.
***
Erlin kini sudah berada di dalam rumah, tepatnya berada di dalam kamar bersama dengan anak-anaknya. Di saat itu pula Erlin membuka kopernya untuk mengambil sebuah bingkai foto pernikahan yang ia simpan rapi di dalamnya.
"Mas, jujur aku sangat merindukanmu, Mas. Hiks... hiks...., tapi kenapa kau berbuat seperti itu kepadaku... aku bahkan sampai saat ini masih mencintaimu, namun apa balasanmu, Mas? Hiks.. hiks.. hiks..."
__ADS_1
"Dan jika nanti akhirnya kita berpisah, kau harus berjanji sama aku, jangan pernah khianati Dera, Mas.. Hiks.. hiks.., aku tak sanggup lagi.. Mas...
hiks.. hiks..." Seketika saja tangis Erlin pecah dengan begitu saja.
Tanpa disadari oleh Erlin, ada seseorang yang sedang mendengarkan dari balik pintu.
"Erlin..., kau tak apa kan?" tanya Rivaldi sambil berjalan mendekat ke arah Erlin.
"Val, kau..." ucap Erlin dengan nada keterkejutannya melihat Rivaldi yang datang menghampirinya. Ia pun lalu segera menghapus air matanya dan berkata, "Ada perlu apa kau ke sini?
"Erlin, sudah jangan berpura-pura dihadapan ku!
"Sekarang katakan kepada ku, Erlin! Jika kau benar-benar cinta sama Aditya, tidak seharusnya kau begini...
" Lalu aku harus bagaimana lagi Val? Kau tau sendiri kan dia sudah menghamili Dera... dia tega Val dia tega!
"Sssttt, Erlin tenangkan dirimu, okey!
"Setelah ini kita jemput Bunda dan Ayahnya El ke bandara, barusan aku bercerita padanya jika kau Ada di sini.."
"Apa? Kenapa kau bercerita pada Vanya, Val?
"Tak Ada cara lain lagi, Erlin! Kau ingat kan jika El juga anak dari Vanya?
Seketika saja Erlin tampak terkejut mendengar penuturan dari Rivaldi. "Darimana kau tau tentang El?" tanya Erlin sambil memicingkan matanya menatap Rivaldi.
Dengan cepat Rivaldi menjawabnya dengan berkata, "Aku tau semuanya mengenai keluargamu Erlin! Karena aku dari kejauhan masih terus memantaumu, hanya memantau tak lebih dari itu!" jelasnya.
"Tapi kenapa kau memantauku Val? Kenapa?" sahut Erlin heran, dengan melontarkan pertanyaan kepada Rivaldi.
"Karena aku masih mencintaimu seperti dulu, Erlin!" jawab Rivaldi to the point tanpa ada rasa canggung sedikit pun.
Sontak saja pernyataan dari Rivaldi membuat Erlin membulatkan matanya sempurna, dan
Plaakkk...
Tamparan keras dilayangkan oleh Erlin mengarah ke pipi mulus milik Rivaldi.
"Satu lagi Val, meskipun aku ada masalah dengan Aditya, itu bukan berarti aku memberikanmu kesempatan untuk kembali lagi denganmu. Lagi pula bukankah kau juga sudah bertunangan dengan wanita pilihanmu itu?" sambungnya lagi dengan melontarkan sebuah pertanyaan kepada Rivaldi.
Bukannya menjawab pertanyaan dari Erlin, Rivaldi justru menjawabnya dengan meminta maaf, "Maafkan aku Erlin, aku menyesal!" ujarnya sambil menunduk kan kepala dengan nada penuh penyesalan.
"Cukup Val! Cukup! Jangan teruskan lagi, aku begitu muak dengan penjelasanmu! Sekarang please, kumohon pergilah tinggalkan aku sendirian di sini!" pintanya pada Rivaldi agar pergi dari kamar meninggalkannya sendirian.
Mendengar Erlin yang justru memarahinya, akhirnya Rivaldi pun berjalan mundur, dan berkata, "Baiklah aku akan pergi! Kalau kau butuh sesuatu panggillah aku," ujarnya lalu melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Erlin sendirian di kamar bersama anak-anak yang masih tertidur lelap.
***
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan memakan waktu lama, Aditya dan Dina kini sudah sampai di kediaman keluarga Sanjaya.
"Aditya? Tumben kau datang kemari lebih awal, Nak?" belum sampai Aditya menjawabnya, Mamih Dewi menyambungnya lagi dengan berkata, "Loh Dina! Terus dimana Erlin?" sambungnya bertanya, dengan menatap heran Aditya dan Dina secara bergantian.
Seketika saja pertanyaan yang dilontarkan Mamih Dewi membuat Aditya dan Dina terdiam dan saling tatap. Hingga akhirnya Dina membuka suaranya dengan bertanya, " Mih, memangnya Erlin tidak Ada di sini?" tanyanya mengerutkan keningnya bingung. Begitu pula dengan Aditya.
"Erlin ya kerja dong, Din! Mau kemana lagi?" ucap Mamih Dewi justru berbalik tanya.
"Tapi Mih, Erlin tidak ada di RS. Dia pergi Mih, tapi aku tak tau dia pergi kemana," sahut Aditya menjelaskan.
Sontak saja Mamih Dewi yang mendengar pernyataan dari menantunya pun terkejut. "Aditya, apa maksudmu, Nak?
"Ada apa ini? Loh Aditya, Dina? Erlin mana? Kenapa kalian tidak bersama Erlin...
"Pih, Erlin Pih.. hiks.. hiks..." adu Mamih Dewi pada sang suami sambil menangis terisak.
Melihat sang istri yang menangis, Tuan Sanjaya pun bertanya pada sang istri. "Erlin, kenapa Mih?" tanyanya.
Mamih Dewi pun lalu mengalihkan pandangan menatap Aditya. "Aditya jelaskan kepada kami, dimana Erlin, Nak? Hiks.. hiks.." tanyanya sambil menangis sesenggukan.
Sementara Aditya hanya menunduk dan berkata, "Maafkan aku Pih, Mih.., Erlin pergi dari mansion, dan aku pun juga tak tau dia perginya kemana?" ujarnya dengan nada melemah.
Siapa sangka ternyata ucapannya justru membuat Tuan Sanjaya mengepalkan tangannya geram, dan..
__ADS_1
Plaakkk...
Tamparan keras dilayangkan oleh Tuan Sanjaya mengarah ke arah pipi sebelah kiri Aditya.
"Ini pasti ulahmu kan Aditya? Sudah kuduga Erlin pergi pasti karenamu!" ucapnya dengan suara meninggi.
Dina yang merasa tak tega melihat Aditya pun lalu membuka suaranya dengan berkata, "Papih, tolong dengarkan kami dulu, Pih! Kami datang ke sini hanya untuk mencaritahu Erlin, Pih! Jangan marahi Aditya karena dia benar-benar tak mengetahui keberadaannya.." jelasnya mencoba meredam situasi.
"Baiklah, kalau begitu sekarang jelaskan kepadaku Aditya, kenapa Erlin bisa pergi dari mansion? Ini pasti ulahmu bukan?" tanya Tuan Sanjaya pada Aditya dengan tatapan mengintrogasi.
Belum sempat Aditya membalas pertanyaan dari Mertuanya. Ada seseorang yang tiba-tiba saja masuk ke mansion Sanjaya tanpa permisi.
"Oh ternyata kau di sini Aditya!" seru seorang wanita paruh baya yang datang dari arah ruang tamu.
Seketika itu pula semua mata mengarahkan pandangan ke arah sumber suara. Betapa terkejutnya semua orang yang melihat kedatangan Ibu Nia. 'Ya, orang yang datang itu adalah Ibu Nia, mantan baby sister dari Erlin.'
"Bu Nia..." ucap semua orang yang berada di situ menatap kedatangan Bu Nia.
Dengan cepat Bu Nia terus melangkahkan kakinya menuju ke arah Aditya. Dan...
Plaakkkk....
"Dasar baj*ng*n kau Aditya! Beraninya kau menghamili putriku!" berbagai umpatan keluar dari dalam mulut Ibu Nia tanpa permisi.
Aditya yang mendengarkan pun terkejut, begitu pula dengan kedua orangtua Erlin.
"Apaa? Apa yang kau katakan Bu Nia? Itu semua tidak benar!" tegas Aditya mengelak pernyataan dari Ibu Nia.
Plaaakkk...
Sebuah tamparan keras dilayangkan oleh Ibu Nia ke arah pipi sisi kanan Aditya.
"Tidak benar katamu? Cih, jangan mengelak lagi Aditya! Kalau bukan tidur denganmu, lalu dengan siapa lagi, ha?" tanyanya dengan nada meninggi seolah-olah memang Aditya lah yang menghamili putrinya.
"Cukup Bu Nia! Kalau Ibu tak pun ya bukti, jangan menuduh Aditya sembarangan, Bu!" tegas Dina menyela perdebatan tersebut.
Mendengar pernyataan dari Dina, Ibu Nia pun tersenyum sinis, dan berkata, "Kau buta apa gimana Dina! Jelas-jelas Dera hamil anak Aditya, bisa-bisanya berbicara bukti. Itu semua sudah cukup bukti kalau putriku itu hamil anak Aditya!" serunya.
Sementara Tuan Sanjaya yang mendengar pun mengepalkan tangannya geram, "Dasar kep*rat kau Aditya! Baj*ng*an kau Aditya!" seru Tuan Sanjaya berbagai umpatan keluar dengan begitu saja dari mulut Tuan Sanjaya.
Buk... Buk...
Dua pukulan dilayangkan oleh Tuan Sanjaya ke arah muka Aditya.
"Papih hentikan pih!" lantang Dina berusaha melindungi Aditya. Bukannya berhenti memukuli Aditya, Tuan Sanjaya justru semakin brutal memukuli Aditya.
Buk... Bukkk...
Pukulan tersebut bahkan sampai membuat muka Aditya lebam dan mengeluarkan darah segar.
Sementara Mamih Dewi hanya menangis sesenggukan melihat sang suami yang memukuli Aditya dengan membabi buta.
"Cukup Pih! Jangan memukul Aditya lagi!" seru Mamih Dewi sambil menangis sesenggukan menghalangi sang suami agar tak memukul Aditya lagi.
Melihat sang Istri melindungi Aditya, Tuan Sanjaya pun membuka suaranya dengan berkata, "Minggir Mih! Biar aku yang menghajarnya!
"Cukup Papih, hentikan!" terisak Dina menghentikan aksi dari Tuan Sanjaya. Dina pun lalu berganti mengarahkan pandangan menatap ke arah Ibu Nia yang dari tadi tersenyum tipis melihat perdebatan tersebut.
"Dan kau Ibu Nia, tolong pergi dari sini sekarang juga!" usir Dina pada Ibu Nia dengan sorry mata tajamnya.
"Tidak akan, aku tidak akan pernah pergi dari sini sebelum Aditya tanggungjawab atas kehamilan putriku!" seru Ibu Nia membantah perkataan Dina.
Mendengar pernyataan dari Ibu Nia, Aditya pun lalu menjawabnya dengan berkata, "Kalau memang benar yang di kandung Dera itu adalah anakku, maka aku berjanji akan menikahi Dera!" tegasnya dengan penuh percaya diri.
Sontak saja Dina dan kedua orangtua Erlin yang mendengar penuturan dari Aditya pun membelalakkan matanya terkejut.
"Aditya, apa yang kau lakukan! Bodoh sangat bodoh seharusnya kau..." belum sampai Dina menyelesaikan ucapannya, Aditya memotongnya dengan berkata, "Cukup Dina! Ini sudah menjadi keputusanku, kau akan tau setelah ini!" tandasnya dengan muka datarnya.
"Bagus, itu yang ku mau Aditya. Kalau begitu aku akan memberitahu Dera dalam hal ini. Dia pasti senang mendengarnya." ujar Ibu Nia lalu pergi dengan begitu saja tanpa berpamitan.
***
__ADS_1
Bersambung.....