
Ancaman Risa
Setelah kejadian di cafe ab, Erlin dan Vanya sudah kembali ke RS, sementara El dan Neysa ikut ke kantor cabang bersama Aldo dan Aditya, sedangkan Baby Daffa pulang ke mansion Wijaya karena memang Mamih Dewi memintanya agar Baby Daffa dibawa pulang ke mansion Wijaya yang kebetulan Mamih Dewi sedang berada di kediaman Wijaya bersama sang Suami beserta keluarga yang lain ikut berkumpul termasuk keluarga Ferrari.
*Di dalam mobil
"Van..., sekarang terserah Kamu saja, mau menikah lagi atau tidak itu urusanmu, Kakak hanya memikirkan masa depan anak yang Kamu kandung, yang merupakan Anakku juga..., lagi pula tidak ada salahnya kan Kamu mencoba memberi kesempatan pada Aldo, itu pun kalau Kamu mau, kalau tidak mau juga tak apa." kata Erlin memberi saran pada Adik Iparnya.
"Hmm ... tapi maaf Kak, untuk saat ini Vanya belum siap memiliki Suami lagi, karena Vanya masih cinta sama Mas Edward." terang Vanya.
"Iyaaa..., Kakak tahu perasaanmu, memang tak mudah untuk melepaskan kepergian Edward, Van..., "Aku pun begitu masih sangat kehilangan Edward apalagi kalau mengingat Ayahnya Aldo yang merencanakan kecelakaan tersebut.., tapi Kakak yakin Aldo juga tidak sepenuhnya bersalah, Dia juga tidak terlibat dalam kecelakan tersebut." tutur Erlin berusaha memberi pengertian pada Vanya.
"Mungkin....." jawab Vanya sambil tersenyum malas menatap ke depan, karena sedang menyetir mobil.
"Bukan mungkin Van, lebih tepatnya memang Aldo tidak terlibat dan tidak tau mengenai hal itu." balas Erlin berusaha menjelaskan.
"Issshh ck..., Kakak kenapa sih dari tadi malah belain Aldo terus...??, "Kakak Ipar sadar dong Kak, Dia sudah mencelakai saudara Kakak sendiri loh..." jawab Vanya kesal dengan sikap Erlin yang terus saja membela Aldo pikirnya.
"Bukan membela Van..., tapi Kakak hanya ingin mengatakan sesuatu.."balas Erlin sambil menatap ke Arab Vanya yang seeing fokus menyetir.
"Ya sudah ceritakan saja..." balas Vanya ketus.
"Van..., Kau tau tidak sebelum terjadi kecelakaan Laras bercerita padaku jika Aldo ke apartemennya lalu melamarnya.." kata Erlin.
"Serius Kak...??" tanya Vanya menatap tak percaya sang Kakak Ipar lalu menghentikan mobilnya.
"He'emm ... serius lah..." jawab Erlin sambil manggut-manggut mengiyakan pertanyaan Vanya. "Tapi sayangnya Laras menolaknya, karena Laras berkata bahwa sebenarnya Aldo sangat mencintaimu, hanya karena tuntutan keluarga lah Aldo bertindak nekat dengan menikahi Laras bahkan Kamu sekaligus, dan Aldo meminta maaf pada Laras lalu Dia berjanji akan menikahinya secepatnya"
"Cihh, dasar laki-laki tak tahu diri..." gerutu Vanya kesal.
"Vanya jaga ucapanmu...!!, Kakak belum selesai berbicara...
"Isshhh ck ... iyaaa iyaaaa....!!" balas Vanya lantang.
*****
Sementara di sisi lain Aldo bersama dengan Aditya juga masih dalam perjalanan menuju kantor cabang, Aditya pun membuka suaranya bertanya pada Aldo, "Do..., jika Kamu menginginkan Vanya jangan menyerah, Aku mendukungmu selagi Kau mau berubah dan mau membuktikan bahwa Kamu benar-benar mencintai Vanya, tidak untuk mempermainkannya."
Aldo bukannya menjawab justru yang menjawab malah Neysa yang ikut di mobil tersebut, "Ayah Aditya, tapi Ney sama El nggak mau kalau Ayah Aldo jadi Suami dari Bunda Vanya, karena Ayah Aldo sama Kakek sudah jahat sama Kami.." tuturnya.
"Iyaaa, El nggak mau.." sambung El.
__ADS_1
"Kak Ney sama El.. kan kalian perlu Ayah juga, lagian kenapa kalian nggak mau maafin Ayah Aldo sih hmm ... ??", sekarang Ayah Aditya minta sama kalian minta maaf sama Ayah Aldo, atau kalau kalian nggak mau Ayah Aditya sama Bunda Erlin nggak akan ngajak kalian lagi kemana-mana..." balas Aditya mencoba membujuk Neysa dan El agar mau meminta maaf pada Aldo.
"Sudah Dit.., jangan paksa mereka untuk menyetujuinya.." ucap Aldo sambil menyetir mobil.", seketika saja pembicaraan mereka terpotong karena penuturan Neysa, "Baik Yah..., Kami memaafkan Ayah Aldo, tapi Ayah Aldo harus berjanji pada Kami..." sambung Neysa
"Coba katakan apa mau kalian??" tanya Aldo multi membuka suaranya pada kedua Anak Angkatnya.
"Sayangi Bunda Vanya Yah..., jangan membuat Bunda sama Nenek sedih lagi" jawab El dengan sikapnya yang seperti anak dewasa.
"Hmm..., kalian tenang saja Ayah Aldo janji akan membahagiakan kalian..." ucap Aldo lalu menghentikan mobilnya, dan menepikannya, setelah menepikannya Aldo pun lalu menengok ke arah tempat duduk belakang sambil menjulurkan jari kelingkingnya meminta persetujuan dari anak-anak angkatnya.
"Bener ya Yah..." balas El, dan dapat anggukan dari Aldo, lalu El pun membalasnya dengan menautkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Aldo, begitu pula Ney yang bergantian menautkan jari kelingkingnya pada Aldo. sementara Aditya yang duduk bersebelahan dengan Aldo pun tersenyum senang, karena akhirnya Aldo dan anak-anak bisa berdamai.
*****
Sementara di dalam mobil milik Erlin masih terjadi perdebatan antara Erlin dan Vanya, walaupun sempat terhenti sepersekian detik.
"Kau tahu tidak jika Laras dilamar, di waktu yang bertepatan dengan pernikahanmu dan juga Edward..." terang Erlin panjang lebar, sontak Vanya terdiam seketika. sedetik dua detik Vanya membuka suara dengan berkata
"Heh... ternyata benar dugaan ku, Dia berniat hanya untuk menguasai harta keluarga Laras saja, jelas saja Laras menolaknya." ujarnya.
"Dia menolaknya karena Aldo masih mencintaimu, bukannya tadi Kakak sudah bilang padamu jika Aldo itu benar-benar mencintaimu, dan Laras tidak mau juga karena tidak ingin dijadikan pelampiasannya saja." sambung Erlin menuturkan apa yang telah diceritakan mendiang Laras padanya, seketika Vanya kembali terdiam, Ia tak mampu berucap, dan entah mengapa dari lubuk hati yang paling dalam, Vanya seakan tidak bisa jauh dari Aldo tapi di sisi lain Vanya masih mencintai sang Suami yang telah tiada.
"Tapi Edward dan Laras kan sudah berpesan pada kalian agar menikah, Van.." tutur Erlin.
"Iya Aku tahu Kak, tapi itu sangat sulit untuk memenuhi keinginan mereka, andai saja mereka tahu ini semua ulah dari Ayah Aldo, Mereka pasti tidak akan membiarkan Aku menikah dengannya." balas Vanya.
"Tapi Aldo juga tidak sepenuhnya bersalah Van, Kau tahu tidak kata Mas Aditya Dia sehabis dari kantor polisi pergi menemui mu karena ingin meminta maaf padamu.." ucap Erlin.
"Hmmm ya Aku sadar Dia tak sepenuhnya bersalah, dan Ya memang Aldo pergi ke RS dan Aku sempat berdebat dengannya..." ucap Vanya dingin.
"Hmm..., nggak heran jika kalian berdebat, tapi Kakak penasaran sebenarnya misi apa yang Kamu maksud tadi??" tanya Erlin mengerutkan keningnya, sementara mobil yang ditumpangi Vanya sudah masuk ke tempat parkir RS untuk memarkirkan mobil milik Kakak Iparnya tersebut, sementara Aditya menumpang mobil milik Aldo.
Sesudahnya Vanya memarkirkan mobil, dan tak ada jawaban dari pernyataan yang di lontarkan sang Kakak Ipar, Vanya justru akan beranjak keluar dari mobil membuka pintu mobil.
Ceklek...
Sreettt...
Erlin menarik tangan Vanya, lalu berkata, "Vanya jawab pertanyaan Kakak
"Aku hanya beralasan saja, dan sebenarnya Vanya sudah berjanji pada teman-teman dari Mas Edward jika Vanya di suruh merahasiakannya, tapi apa boleh buat karena keadaanlah yang membuatku berkata jujur pada media." jawab Vanya, dan Erlin pun mulai berfikir dengan mengerutkan keningnya bingung dengan maksud perkataan Adik Iparnya, lalu melepaskan cekalan tangannya. sementara Vanya segera keluar dari dalam mobil, dan..
__ADS_1
Ceklek...
Sontak Erlin terperangah dengan sikap Vanya yang sangat berbeda pikirnya. Erlin pun lalu ikut keluar segera mengikuti Vanya yang sudah berjalan cepat menyusuri koridor RS.
"Vanya... tungguin...!!" seru Erlin berteriak sambil mengikuti Vanya dari arah belakang, tapi Vanya justru tak menghiraukannya dengan tetap berjalan cepat.
"Vanya... tungguin Kakak, please Van Kakak pengen tahu...!!" seru Erlin lagi sambil berjalan mengikuti Vanya dari arah belakang, akan tetapi langkahnya tiba-tiba saja terhenti karena ada sebuah Kaki yang menjegal Erlin.
Sreettt...
tubuh Erlin pun terhuyung ke depan, dan
Bukkk...
"Aww...." rintih Erlin kesakitan, sontak membuat Vanya menghentikan langkahnya dan menengok ke arah belakang, "Kakak Ipar..." ucap Vanya.
"Heh ... Rasain Lo..." ucap seorang Wanita yang tersenyum senang karena membuat Erlin terjatuh sambil bersedekap saja, seketika Erlin dan Vanya begitu terkejut mendengar suara seseorang tersebut lalu melihat ke arah sumber suara.
"Risa..., berani-beraninya Kau datang kesini lagi..!!" lantang Erlin dengan nada meninggi, dengan posisi masih tersungkur di atas lantai, sambil mendongkakkan kepalanya menatap tajam Risa.
"Kakak Ipar nggak kenapa-kenapa kan??", tanya Vanya"Risa, Gue minta sekarang juga Lo pergi dari sini atau Gue akan memanggilkan pihak keamanan kemari untuk..." ucap an Vanya terhenti terpotong oleh Risa.
"Siapa takut, dokter Vanya.." balas Risa meremehkan.
"Kau...!!" ucap Vanya tak terima diremehkan.
"Vanya biarkan saja jangan ladeni Dia.., balas saja dengan akal jangan pakai otot." kata Erlin pada sang Adik Ipar agar tak membalasnya.
"Tapi Kak, Dia..." jawab Vanya lagi terhenti karena ucapan Risa dengan ancaman, "Aku akan menghancurkan karirmu Erlin, jika Kau tak menyerahkan Aditya padaku..." ancam Risa pada Erlin sambil menatap tajam Erlin.
"Cihh ... coba saja kalau Kau bisa.." balas Erlin dengan nada meremehkan.
"Kau tahu nanti malam Aditya mengajakku untuk berkencan di pantai." tutur Risa, seketika saja membuat Erlin terdiam.
"Kenapa diam, hmm??", lagian Kau tak ada pilihan lain Erlin, selain Kau menyerahkan Aditya ke padaku atau karirmu sebagai taruhannya." ucap Risa lagi dengan tatapan menyeringai.
*****
Hmmm... ada-ada saja kelakuan Risa..., lantas akankah ancaman dari Risa menjadi kenyataan??, dan Akankah Aldo berjuang untuk mendapatkan Vanya??
Jangan Lupa Vote, Like, Komen, dan Favorite Yaa Terimakasih 🥰🥰🙏🙏
__ADS_1