Kisah Cinta Ceo Dan Dokter Cantik

Kisah Cinta Ceo Dan Dokter Cantik
Episode 206


__ADS_3

Aku akan kembali setelah kau menikah dengan Dera.


Sementara di RS.Wijaya tampak Aditya dan tuan Wijaya sedang menuruni mobilnya dengan membawa mama Ita untuk dipindahkan di atas brankar pasien, dengan dibantu para tenaga medis yang sudah menantinya.


Dokter Intan dan juga Dina yang sedang berjaga di IGD pun segera menghampiri mama Ita untuk memeriksanya.


“Dokter ..., tolongin istri saya, dok!" pinta tuan Wijaya pada dokter Intan yang sedang jaga di IGD.


“Baik, tuan ..., tolong tunggu diluar sebentar ya ...” balas dokter Intan ramah.


“Denyut jantung nyonya ita melemah, Din ..., cepat panggilkan dokter spesialis jantung ke sini, kita harus lakukan tes darah, dan setelah itu kita ronsen agar kita bisa mengetahui ada pembengkakan jantung atau tidak,” ujar dokter Intan mengintruksikan Dina untuk memanggil dokter spesialis jantung.


“Ok ..., siap ...” jawab Dina lalu berjalan keluar untuk menelepon dokter spesialis jantung selain Erlin. Mengingat saat ini Erlin sedang tidak berada di RS.


Setelah melewati berbagai pemeriksaan, Aditya dan tuan Wijaya yang sedang menunggu di ruang tunggu pun seketika saja mendongakkan kepalanya melihat kedatangan Dina bersama dokter Intan dan dokter spesialis jantung.


Tuan Wijaya pun lalu membuka suaranya dengan bertanya, “Bagaimana keadaan istriku,dok? Apakah dia baik-baik saja?” berbagai pertanyaan dilontarkan oleh tuan Wijaya pada dokter spesialis jantung yang menangani mama Ita.


“Alhamdulillah, kondisi pasien sudah agak membaik, tapi saya sarankan agar istri anda untuk di rawat di RS sementara waktu, karena nyonya Ita harus mendapatkan pelayanan yang intensif,” jawab dokter yang bernama Indra menjelaskan.


Aditya pun menyahutnya dengan berkata, “Lakukan apapun itu dok, ini semua salahku. Jadi bagaimanapun caranya tolong sembuhkan mama!” pintanya pada dokter Indra.


“Baik tuan, serahkan semua kepada kami. Kalau begitu kami mohon undur diri dulu,” pungkasnya lalu pergi meninggalkan Aditya, dan tuan Wijaya.


Sebelum melangkahkan kakinya pergi mengikuti para dokter tersebut, Dina mengurungkan niatnya untuk ikut bersama mereka. Dina yang merasa ada keanehan dari sikap Aditya pun memberanikan diri untuk membuka suaranya.


“Dit ...” belum sampai Dina melanjutkan ucapannya, tiba-tiba Aditya berlari kecil memeluk Dina.


Greepp ...


Betapa terkejutnya Dina melihat Aditya yang tiba-tiba saja memeluknya tanpa sebab. Sementara tuan Wijaya juga ikut terperangah melihat Aditya yang memeluk Dina.


“Aditya, kau kenapa?” tanya Dina heran dengan sikap Aditya yang baginya sangatlah aneh, padahal selama ini Aditya tidak sampai sebegitu rapuhnya ketika dihadapan orang-orang. Namun kali ini berbeda, Aditya terlihat begitu acak-acakan tak enak dilihat.


Merasa risih dengan pelukan Aditya, Dina pun akhirnya melepaskan pelukan Aditya, lalu berkata, “Dina, hiks ... hiks ..., Erlin pergi dari mansion, dan mama menjadi seperti itu! Hiks .. hiks .. hiks ..” teriak Aditya histeris dengan nangis terisak di hadapan Dina.


“Tapi bagaimana bisa Aditya?” tanya Dina baik-baik pada Aditya.

__ADS_1


“Aku tak tau Dina!” lantang Aditya menjawab pertanyaan dari Dina. Dengan cepat Dina lalu menyahutnya dengan berkata, “Jika kau tidak bermain api, mana mungkin Erlin bertindak senekat itu, Dit ..” ujarnya dengan nada penuh penekanan. Ia sangat yakin Erlin tak akan pergi jika tak ada masalah.


Seketika saja bik Sumi yang baru datang dengan membawa makanan untuk kedua majikannya pun menyahutnya, “Eh, Den ..., maafkan bibik. Bibik hampir melupakan surat ini. Ini surat dari Nyonya Muda untuk den Aditya,” bik Sumi menyerahkan sepucuk surat kepada Aditya di hadapan Dina dan tuan Wijaya.


Dengan cepat Aditya menyambar surat tersebut, dan segera membacanya.


‘Assalamu’alaikum wr.wb. Teruntuk Suamiku ..., maafkan aku mas, aku pergi dengan anak-anak tanpa memberitahu kalian. Aku ingin menenangkan diri sejenak, mas. Aku tau pasti mas Aditya bingung mencariku, tapi apa boleh buat, Erlin melakukan ini semua untuk kebaikan mas Aditya. Aku tau semua bukti sudah ada dan aku percaya bahwa mas hanya dijebak, tapi apakah mas tidak terpikirkan sama sekali jika mas sudah berbuat zina di depan mataku tanpa menggunakan sehelai benang? Jika mas bertanya mengapa aku menyuruh menikah dengan Dera, karena Ibu dari Dera telah mengatakan padaku jika Dera hamil anakmu mas. Jadi kumohon ceraikan aku, dan nikahi Dera. Aku akan kembali setelah kau menikah dengan Dera, mas. Setelah itu baru kita mengurus surat perceraian kita. Ku berharap kau mengerti, dan tidak mencariku lagi. Jangan khawatirkan anak-anak, mereka aman bersamaku. Salam untuk seluruh keluarga, maafkan Erlin jika selama ini ada salah, salam cinta dariku, untuk suamiku. Tertanda, Erlin Putri Sanjaya.’


Betapa hancurnya perasaan Aditya, setelah membaca isi surat tersebut, seketika itu pula Aditya ambruk dengan bersimpuh di atas lantai, dengan otot melemah, dan air mata yang tiba-tiba saja jatuh membasahi pipi.


Bruuukkk ...


Jantung Aditya seakan berhenti berdetak, aliran darahnya serasa berhenti mengalir, yang ada hanya kelemahan yang ada pada diri Aditya, dengan sorot mata kosongnya menatap tak percaya dengan apa yang terjadi saat ini.


“Ini tidak mungkin!” seru Aditya dengan berteriak histeris. Sementara Dina dan tuan Wijaya hanya menatap Aditya bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi pada Aditya.


Merasa ada yang aneh, Dina segera merebut secarik kertas tersebut yang saat ini dibawa oleh Aditya. Dina pun membacanya dengan seksama, Seketika saja Dina membelalakkan matanya lebar-lebar mengetahui isi pesan yang di tulis oleh sahabatnya kepada Aditya.


Dina pun lalu menarik kasar Aditya untuk bangun dari lantai. “Aditya! Bangun!” titah Dina pada Aditya. Saat itu pula Aditya terbangun, dan Dina pun membuka suaranya dengan berkata, “Apa yang kau lakukan? Kenapa kau membuat Erlin seperti itu?” berbagai pertanyaan dilontarkan oleh Dina dengan berbalik menyerang Aditya.


Kini Dina menatap Aditya dengan sorot mata tajamnya, bahkan orang yang berada di sekitar ruang tunggu tersebut banyak orang menatap Dina dengan tatapan aneh. Namun Dina tak menggubris semua itu.


“Tapi Pah, apa yang sudah diperbuat Aditya? Mengapa Erlin sampai pergi meninggalkan mansion?” tanya Dina pada tuan Wijaya dengan nada meninggi.


“Itu memang kesalahan Aditya, Nak! Dia pantas menerima itu semua.” Jawab tuan Wijaya dengan amarah yang menggebu-gebu.


Dina yang mendengarkan penjelasan dari tuan Wijaya pun lalu beralih menatap Aditya, lalu berkata, “Keterlaluan kau Dit! Kenapa kau tega menghamili anak orang, Dit? Kenapa?” tanyanya dengan meluapkan kemarahannya pada Aditya.


“Hiks .. hiks ..., maafkan aku Dina, ini semua salahku. Aku dijebak, dan ternyata Dera hamil, tapi aku merasa aku tidak pernah melakukan hubungan terlarang itu, Dina! Tolong percayalah padaku!” jawab Aditya sambil mengatupkan kedua tangannya seraya memohon pada Dina.


“Tak ada gunanya juga kau memohon-mohon seperti itu di hadapanku, Dit! Cctv, ya apa kau sudah mengeceknya?” ucap Dina dengan berbalik tanya.


“Kebetulan cctv di tidak ada, karena ku pikir kan itu kamarku dan juga istriku,” jawab Aditya menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Dina.


Kesal dengan jawaban dari Aditya, Dina pun menjawabnya, “Astaga Aditya! Igggghhhh, lalu jika kau sadar itu kamarmu, kenapa kau malah melakukannya dengan orang lain di kamarmu? Kenapa Dit?”


“Sudah dikatakan aku di jebak, dan aku tak sadar, Dina!” jawab Aditya dengan memalingkan mukanya menghindari tatapan mata Dina.

__ADS_1


“Katakan siapa yang menjebakmu?” sahut Dina bertanya pada Aditya dengan tatapan mata mengintrogasi.


“Levi, dia karyawanku ..” ujar Aditya memberitahu.


“Apaaa? Levi? Keterlaluan tuh anak, beraninya main tikam!” ujar Dina mendadak tersulut emosi ketika mendengar nama Levi. Ia bahkan tau betul tentang siapa Levi.


“Dan kau kenapa diam saja? Kau seharusnya mencari tahu tentang dia dong, Dit! Kenapa kau tiba-tiba menjadi sebodoh itu sih, Dit?” tanya Dina heran dengan Aditya.


“Aku ... aku ..., benar-benar tak tau dengan apa yang harus aku lakukan, Dina! Aku bingung!” ujar Aditya dengan menjambaki rambutnya sendiri merasa frustasi.


Dina pun lalu menyahutnya dengan berkata, “Cepat cari istrimu atau kalau tidak kau akan menyesal nanti!” titahnya pada Aditya.


“Tapi Din, aku mau mencarinya kemana? Bahkan dia tak memberitahuku ...” jawab Aditya dengan putus asa.


“Astaga Aditya, kau punya akal dan pikiran bukan? Jika kau punya, pergunakanlah dengan sebaik mungkin, lagi pula ada anak buahmu kan? Kenapa kau tak mempergunakan mereka untuk mencarinya? Jangan kau peralat anak buahmu untuk menjebak adikmu sendiri dong, Dit!” sindir Dina.


Namun Aditya yang bingung dengan apa yang dikatakan Dina pun lalu menyahutnya dengan berkata, “Dina, apa yang kau katakan, aku tak mengerti?” tanya Aditya pada Dina dengan menautkan alisnya bingung.


“Jangan bohong, Aditya! Aku tau dari Exsel. Kalau bukan dia siapa lagi? Untung saja Erlin tak mengetahui hal ini. Namun jika dia mengetahui, hancur sudah kau, Dit!” sarkas Dina membalas ucapan Aditya.


“Maksudmu apa nak Dina?” sahut tuan Wijaya bertanya pada Dina. Dengan ketus Dina menjawabnya dengan berkata, “Sudah Pah, tak penting juga buat Papah, nanti Papah juga akan tau sendiri!” pungkasnya.


Ia pun lalu pergi dengan begitu saja meninggalkan Aditya dan tuan Wijaya yang hanya diam dan saling tatap. Saat Dina baru beberapa langkah melangkahkan kakinya pergi, Dina teringat sesuatu. Ia pun lalu menoleh ke belakang.


“Bukankah tadi ku bilang cepat cari istrimu? Kenapa kau masih di situ Aditya? Cepat cari istrimu, dan pecatlah Levi dari tempat kerjamu!” ujarnya kepada Aditya.


Namun bukannya menjawab atau pergi, Aditya justru hanya terdiam, tak bisa berkata apa-apa seperti pria bodoh. “Kenapa diam Aditya, ayo! Turuti perintah Dina! Papah yakin jika kau tidak menghamili Dera, Nak!” titah tuan Wijaya pada Aditya menyemangatinya.


“Pah ...” ucap Aditya dengan mendongakkan kepalanya menatap sang papah. Ia kembali bersemangat setelah sang papah mempercayainya jika dirinya tidak menghamili Dera.


“Iya ..., sudah sana pergi! Biar papah yang menunggu mamahmu,” ujar sang papah. Tanpa mengulur waktu Aditya segera pergi meninggalkan tuan Wijaya dan juga melewati Dina yang berada di beberapa langkah di depannya.


****


Bersambung .....


...****************...

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2