
Pertemuan
Vanya masih tak bergeming dari pangkuan Edward. Yaa seseorang itu adalah Edward Dirgantara Sanjaya yang merupakan Saudara kandung dari Erlin Putri Sanjaya, sekaligus Sahabat dari Vanya.
" Eh mmmm.. maafkan Aku.... "ucap Vanya lalu berdiri dari pangkuan Edward, bukannya berhasil berdiri dengan baik tapi justru Vanya malah terjatuh lagi, karena sandal yang Ia pakai berhak tinggi.
bruukk...
Tubuh Vanya terjatuh di atas tubuh Edward, Edward pun sontak dibuat terkejut lagi..tanpa sengaja mereka berdua berci*man.
Cup...
Sontak Vanya pun membulatkan matanya lebar-lebar..., begitu pula dengan Edward. mereka kini saling tatap satu sama lain, tatapan mereka saling bertemu, tatapan yang tidak dapat diartikan lagi, bahkan semua orang yang Ada di sekitar cafe menatap ke arah mereka, namun tak dihiraukan oleh Vanya Dan Edward.
Deg...
" Jantungku... " batin Vanya dan juga Edward. sementara orang di sekitar mereka masih dibuat melongo dengan adegan mereka, termasuk kedua Sahabat dari Vanya.
" Hahh... Astaghfirullah..., Vanyaaa....!!" seru kedua Sahabatnya dari kejauhan lalu menepuk jidatnya.
Sedetik dua detik akhirnya Vanya pun tersadar, Ia pun lalu segera berdiri dari pangkuan Edward, dan berusaha menetralkan jantungnya yang berdegup kecang.
" OMG kenapa jadi seperti ini sih..., malu banget Guee sumpah..., ini semua gara-gara laki-laki br*ngs*k itu..., jadi kurang fokus kan Gue..." gerutu Vanya dalam hati, sambil mengusap bibirnya yang sempat dicium oleh Edward.
" Emm... maaf... Aku nggak sengaja... " ucap Vanya, sambil menundukkan kepalanya merasa bersalah.
" Hmm maaf katamu..??, Kau tahu tidak... jika Kau sudah merusak meetingku hari ini... " ucap Edward dingin.
" Tapi kan... Aku... " ucap Vanya terhenti, karena terpotong oleh omongan Sahabatnya Haiti Erlin ynag tiba-tiba datang.
" Sudahh... ayo Van..., nggak papa..., jangan hiraukan Dia..., kita pindah ke cafe sebelah saja.. " ucap Erlin lalu menarik Vanya pergi dari tempat keributan, sayangnya Edward tak terima dengan Kakaknya yang menarik Vanya.
" ****... berhenti... Kak..., jangan ikut campur urusan kami... " lantang Edward.
" Edward.. Lo sadar nggak sih diliatin banyak orang apa Kamu nggak malu...??" ucap Erlin berusaha memberi pengertian pada sang Adik.
" Tapi Kak.. gara-gara Dia meetingku hari ini gagal, clientku pergi... " tegas Edward tak terima.
" Hmmm Yaa Allah..., Vanya... ucap Erlin melirik ke arah Vanya.
" Hehehe.. Gue benar-benar nggak sengaja Er...., Please... " ucap Vanya sambil mengatupkan kedua tangannya.
" Ya sudahlah.., kalau begitu selesaikan urusan kalian..., tapi ingat Edward jangan macam-macam sama Vanya..., Kakak nggak mau itu... " ucap Erlin memperingatkan sang Adik.
" Hmmm.... " jawab Edward dingin.
" Ayo Din.. Kita pergi ke cafe sebelah saja..., biarkan mereka menyelesaikan masalahnya disini... " ucap Erlin, Ya.. walaupun itu adalah cafe milik keluarganya, Ia justru tak pernah membedakan milik keluarganya atau bukan, bahkan Erlin tak pernah menampakkan kalau pemilik cafe itu adalah milik keluarganya.
__ADS_1
" yok... " jawab Dina.
" Ehh kalian mau kemana..., Gue ikut... " ucap Vanya yang akan mengejar para Sahabatnya, tapi sayangnya tangannya ditahan oleh Edward, agar tidak pergi darinya.
" Mau kemana Kau dokter Vanya... "
" Ck... sekarang puas kan Lo..!!" Vanya tak mau kalah, kali ini Ia benar-benar tersulut emosi, dan tanpa ba bi bu.., Edward pun lalu segera menyeret Vanya keluar dari cafe, tak peduli banyak mata memandang ke arah mereka.
" Tunggu... tuan.." ucap salah satu pelayan cafe, berhasil menghentikan langkah mereka.
" Ada apa...?? tanya Edward pada pelayan tersebut.
" Bagaimana dengan barang-barang yang telah dirusaknya tuan..., apa perlu Nona ini menggantinya..??" tanya sang pelayan pada atasannya.
" Biarkan saja.., biar ini menjadi urusanku...!!" ucap Edward.
" Apa maksudmu tuan Edward...??, bukankah masalahnya kita sudah selesai ??, Oh ya satu lagi memangnya ini cafe milik siapa..., milik nenek moyang Lo... " ucap Vanya dengan tensi tinggi.
" Kau benar.., dokter Vanya... cafe ini milik Keluarga Kami... " ucap Edward dingin, lalu menarik tangan Vanya keluar cafe.
Sreettt...
" Apaa..??, Lepas... nggakk.., malu tauk dilihat banyak orang... " ucap Vanya sambil berusaha melepaskan cekalan tangan Edward.
" Bodo amat... " balas Edward dingin, tak lama mereka sampai di depan sebuah mobil mewah, dan Vanya pun dibukakan pintu, lalu di dorong Edward secara paksa masuk ke dalam mobil.
" Pak..., cepat jalan ke kantor... " titah Edward pada sang Sopir. seketika Vanya pun melototkan matanya tajam ke arah Edward karena tak terima, Dan Vanya pun membuka suaranya dengan berkata: " Sebenarnya maumu itu apa sih Edward...??" tanyanya tegas.
" Kau tadi memanggilku dengan tuan, disini Kau memanggilku dengan sebutan nama.., maksudmu apa..?? ucap Edward malah berbalik tanya.
" Isshh.. ck.. jangan mengalihkan pembicaraan deh..., cepat katakan padaku maumu itu apa..??" tanya Vanya ketus sambil bersedekap dada dan melihat ke arah ke luar.
" Mauku...." ucap Edward terhenti lalu menoleh ke arah ke samping, dilihatnya Vanya sedang membuang mukanya.
" Tatap mataku dokter Vanya... !! " seru Edward, seketika Vanya pun menoleh, Dan...
Deg....
Kini wajah Vanya tepat di depan wajah Edward, Pandangan mereka saling bertemu, bahkan hembusan nafas mereka saling beradu, dan posisi mereka sangatlah int*m.
tak berselang lama akhirnya Edward dan Vanya pun tersadar dari lamunannya, sontak Vanya pun menjauhkan dirinya dari Edward, karena merasa malu sendiri.
" Astagaa... demi apa coba... tadi dici*m sama Dia.., eh sekarang... hiiihh..... " batin Vanya merinding sendiri membayangkannya, sambil membuangkan mukanya lagi keluar. sementara Edward terkikik geli menatap Vanya yang seperti salah tingkah.
" Hmm pppffft..."
" Kenapa ketawa... ketawa nggak jelas...
__ADS_1
" Liatlah mukamu itu dokter Vanya..., seperti kepiting rebus hahaha... " ledek Edward tertawa lepas, sedangkan Vanya yang merasa di tertawai oleh Edward pun menatap tajam ke arah Edward, dan berkata: " Sudah... ketawanya...??" tanya Vanya pada Edward, seketika Edward pun terdiam, berusaha menahan tawa.
" Kau itu benar-benar sangat lucu dokter Vanya... " ucap Edward berusaha menetralisir keadaan.
" Terserah deh... " ucap Vanya seperlunya, tak menunggu waktu lama, akhirnya mereka sampai di sebuah kantor perusahaan.
" Lohh ini bukannya...?? tanya Vanya bingung.
" Edward kok kesini...??, Saya belum makan sama sekali loh.., tega banget sih... " gerutu Vanya kesal.
" Dasar cerewet..., sudah nggak usah banyak tanya.., ayo cepat turun... " jawab Edward dingin, menyuruh Vanya agar segera turun, Dan Vanya pun pasrah menuruti permintaannya, sambil menggerutu:" Isshh dasar manusia salju... "
" Apa Kau bilang...??? tanya Edward mengerutkan keningnya bingung.
" Kepo banget sih... " ucap Vanya, lalu berjalan ke depan meninggalkan Edward berjalan sendirian, padahal Vanya sendiri tak tahu arah, sedangkan Edward menatap Vanya sambil menggelengkan kepalanya heran dengan tingkah Vanya.
" Kenapa berhenti...??, Hemm.."
" Emm Aku tidak tahu... " ucap Vanya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
" Ck..., Sudah... ayo.. ikut denganku.. " ajak Edward sambil menarik tangan Vanya, saat itu juga banyak mata memandang kagum dengan mereka berdua, tapi disisi lain juga banyak yang tak suka/iri dengan tingkah atasannya yang membawa Wanita ke kantor perusahaan.
*****
Sementara di mall, Erlin Dan Dina nampak sudah selesai makan siang, mereka pun segera membayar makanannya, dan segera kembali ke RS, Erlin dan Dina lalu pergi ke cafe sebelah untuk menemui Sahabatnya yaitu Vanya yang sedang menyelesaikan masalahnya dengan sang Adik pikirnya.
" Kita ke cafe sebelah yuk Din..." ajak Erlin pada Dina, dan mendapat anggukan dari Dina.
Setelah mereka sampai di cafe milik keluarga Sanjaya, Erlin dan Dina mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan di cafe tersebut, ternyata tidak ada Vanya dan Edward.
" Loh... kok mereka nggak ada...?? tanya Erlin sambil mengedarkan pandangannya.
" Tau tuh si Vanya..., cari gara-gara melulu sih..." ucap Dina menimpali. Dan Erlin pun memutuskan untuk bertanya pada salah satu pelayan. " Mbak..., tadi liat Edward nggak..??
" Oh Nona Muda..., tadi Tuan Muda keluar dengan wanitanya, hanya saja tadi Wanita yang bersama Tuan Muda menitipkan kunci mobilnya disini..." jelas pelayan tersebut menjelaskan kejadian yang sebenarnya. sontak membuat Erlin dan Dina terkejut.
" Apaa...?? "
" Lantas mereka pergi kemana mbak...???" tanya Dina.
" Saya tak tahu Nona..." jawab pelayan tersebut.
" Haduhh kenapa jadi ribet banget sih.." guman Erlin pelan.
" Ya sudah deh mbak kalau begitu, kami permisi dulu... " ucap Dina sambil tersenyum ramah pada pelayan tersebut, dan akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke RS.
Jangan lupa Vote, Like, Komen, dan Favorite ya...,Terimakasih....🙏🙏
__ADS_1