Kisah Cinta Ceo Dan Dokter Cantik

Kisah Cinta Ceo Dan Dokter Cantik
Episode 140


__ADS_3

Upacara Pemakaman


Waktu terus berlalu tiba saatnya prosesi pemakaman Edward dan Laras ya mereka dimakamkan di satu makam yang sama hanya saja berbeda liang lahat. Ya Vanya yang meminta keluarga Laras agar jenazah dimakamkan masih berada di dalam kota, padahal tadinya keluarga Laras menginginkan pemakamannya di makamkan di Luar kota, tapi karena bujukan Vanya mereka merasa iba melihat Sahabat baru anaknya yang terlihat rapuh dengan memohon-mohon pada mereka.


Di Mansion Sanjaya


Kini di mansion Sanjaya terlihat banyak tamu berdatangan untuk bertakziah diantaranya teman, kerabat dekat, dan tetangga yang berdatangan untuk melayat Putra dari keluarga Sanjaya, lebih tepatnya Saudara dari Erlin Putri Sanjaya yang bernama Edward Dirgantara Sanjaya, selain itu keluarga Sanjaya juga menuruti perkataan Vanya menantu mereka yang menginginkan prosesi pemakaman Laras di laksanakan secara bersamaan dengan sang Suami.


" Vanya..., Erlin... " panggil Clara yang datang bersama Dina dan keluarganya.


" Clara..., hiks... hiks... hiks.." ucap Vanya dan Erlin bersamaan lalu memeluk Clara dengan pelukan teletubbies nya.


" Maafkan Aku, waktu itu Aku sudah pulang, dan tidak tahu kalau Suami dan Adikmu meninggal..." ucap Clara pada Vanya dan Erlin, sambil melepaskan pelukannya, dan diangguki oleh media Sahabatnya.


" Kalian harus sabar... ikhlaskan kepergian mereka ok... " ucap Clara pada kedua Sahabatnya, Erlin pun menganggukkan kepalanya, berbeda dengan Vanya yang hanya diam dengan tatapan kosongnya.


" Betul kalian harus kuat" ucap Dina yang datang dari arah belakang Clara.


" Er.. Ada apa dengan Vanya..??, kok diam...??" tanya Dina bingung.


" Terimakasih banyak ya Ra... Din..., mungkin Vanya butuh ketenangan, sejak dari RS Vanya mendadak diam ketika ditanya soal Edward dan Laras..." ucap Erlin menjelaskan, seketika pula Clara dan Fina terdiam setelah mendengar penjelasan dari Erlin Sahabatnya.


" Aku juga tidak menyangka, secepat itukah mereka meninggalkan kita..., padahal Aku baru sempat ngobrol lewat telpon dengan Laras..." ucap Clara melemah sambil melihat ke arah jenazah Edward dan Laras bergantian.


" Sudah takdir Ra... " jawab Dina.


*****


Sementara keluarga yang lainnya juga ikut merasakan suasana berkabung, apalagi Mamih Dewi yang terlihat rapuh ditinggal oleh Putra terakhirnya. Ya Edward sendiri anak ketiga dari tiga bersaudara, yaitu Yudha, Erlin, dan yang terakhir adalah Edward. Yudha sang Kakak berada di Jerman, tapi setelah mendengar kabar jika Saudaranya meninggal, Ia segera pulang ke Indonesia bersama sang Istri, Ya Yudha sendiri ternyata sudah menikah secara resmi di Jerman secara kecil-kecilan karena dirinya tidak mau jika diliput oleh berbagai stasiun televisi.


" Dik... " panggil Yudha pada sang Adik yaitu Erlin, sontak Erlin pun menoleh ke arah summer suara, sambik berkata: " Kakak.... hiks... hikss..." ucap nya sambik menangis sesegukan dipelukan Yudha.


" Sudah... jangan menangis lagi.., ikhlaskan Edward..." ucap Yudha sambil menenangkan Erlin, dan dapat anggukan darinya.


" Sayang.. sudah jangan menangis lagi..." ucap Aditya yang datang sambil menggendong El, sedangkan Baby Daffa sedang di kamar bersama Mbok Inah.

__ADS_1


" Tapi Mas... hiks... hiks...


" Bunda Erlin jangan sedih lagi, El jadi tambah sedih.., sudah melihat bunda Vanya sedih sekarang melihat bunda Erlin dan yang lain sedih, El juga ikutan sedih... hiks... hikss...


" Sayang..., jangan sedih lagi ya... Bunda Erlin janji nggak akan sedih lagi..." ucap Erlin sambil menghapus air matanya, berusaha tidak rapuh dihadapan El. Ya selama Edward telah resmi menikah dengan Vanya, El dan Neysa memang berniat memanggil Erlin dengan sebutan Bunda begitu pula juga dengan Aditya yang dipanggil nya dengan sebutan Ayah. Dan tak berselang lama acara upacara kematian pun dimulai, sebelum kedua jenazah diberangkatkan ke makam untuk dimakamkan di TPU terdekat.


Sang pembawa acara pun memulainya dengan kata sambutan, dan setelah itu salah seorang tokoh untuk maju kedepan didampingi dua perwakilan keluarga untuk maju kedepan untuk mengisi acara duka cita, lalu setelah itu pembawa acara pun memanggil seorang ustadz untuk membacakan doa untuk kedua jenazah sebelum diberangkatkan ke pemakaman.


Setelah pembacaan do'a selesai, sekarang waktunya sudah tiba untuk prosesi upacara adat jawa yang dilakukan kedua keluarga jenazah dengan acara brobosan (adat jawa). sementara para pelayat yang sedang bertakziah ikut bersedih ketika melihat Vanya Istri dari Edward yanga rapuh tak berdaya ketika jenazah akan diberangkatkan, begitu pula dengan keluarga yang lainnya mereka juga sangat kehilangan.


*****


Dan kini kedua belah pihak keluarga para pelayat yang sedang bertakziah melakukan perjalanan menuju makam mengantarkan jenazah dengan menggunakan mobil, sedangkan kedua jenazah sendiri menggunakan mobil ambulance milik RS.Wijaya, tak berselang lama akhirnya sampai di TPU pusat daerah tersebut, tangis pun semakin meledak ketika jenazah di angkat dan dikeluarkan dari dalam mobil ambulan, lalu dibawa masuk ke makam. Suara tangisan bersautan mengiringi kepergian kedua jenazah.


" Mas Edward jangan tinggalkan Aku sendiri Mas... hiks... hiksss... hiksss..." ucap Vanya menangis sesegukan, dipelukan Clara yang berusaha menenangkannya.


" Edward... kenapa Kamu meninggalkan Mamih secepat ini..." Mamih Dewi menangis sesegukan di pelukan sang Suami.


" Ed... Kakak tidak ada teman untuk bercanda hiks.. hiks..." ucap Erlin, sambil ditenangkan oleh Aditya yang sedang menggendong El, karena El sendiri tak mau lepas dari Aditya semenjak kedatangan Aldo di kediaman Sanjaya sampai ke TPU, sedangkan Baby Daffa sendiri Ada di dalam mobil bersama Mbok Inah.


upacara pemakaman pun di mulai, kedua jenazah pun di masuk kan ke dalam liang lahat di tempat berbeda dalam waktu yang bersamaan, sebelum jenazah dikuburkan, salah seorang ustadz memulai untuk mendoakan kedua jenazah yang berada di liang lahat dengan jarak berdekatan. setelah semuanya selesai akhirnya kedua jenazah pun dikuburkan, dan acara tabur bunga pun dimulai oleh pihak kedua keluarga.


Ya memang ketika upacara kematian hingga prosesi pemakaman selesai banyak media yang meliput acara tersebut, karena Edward sendiri adalah seorang pemimpin perusahaan Entertainment menggantikan sang Papih.


" Mmas... hiks... hiks.. kenapa Kau pergi meninggalkan ku... hiks... hiks.. bagaimana janin yang ada di dalam perutku ini Mas... hiks... hiks... dia besar tanpa Ayahnya... hiks.. hiks.." ucap Vanya menangis di atas makam Edward.


" Vanya sudah tenangkan dirimu Nak..., Edward sudah tenang disana..." ucap Mamih Dewi pada Vanya.


" Mamih... hiks.. hiks..." ucap Vanya lalu memeluk Mamih Dewi.


" Hiks... hiks.. hiks.. sudah Nak.. kita harus rela melepasnya..." ucap Mamih Dewi, walaupun sebenarnya Ia sendiri juga rapuh ditinggal oleh Edward anaknya.


" Ayah Ed... hiks.. hiks.. El sendirian lagi bersama Kak Ney hiks.. hiks.. El sedih.. Ayah Ed nggak ada..." ucap El dari arah belakang Vanya, sontak Vanya pun menoleh kebelakang dan memeluk kedua Anak angkatnya tersebut.


" Sssttt... El sama Kak Ney nggak boleh nangis lagi ya.., Ayah Ed sudah sembuh Dia tidak sakit lagi... hiks hiks... hiks..." ucap Vanya seliat tenaga agar tidak menangis tapi tetap saja tak dapat Ia tahan.

__ADS_1


Sementara dilain sisi Keluarga Laras juga sangat kehilangan anak satu-satunya, bahkan Laras sendiri jelas merupakan anak kesayangan keluarga mereka.


" Laras jangan tinggalkan Mamah Nak... hiks... hiks.." teriak histeris Mamah dari Laras.


" Sudah Mah tenangkan dirimu.., Laras sudah mendapatkan tempat terbaik disisi Allah.." ucap sang Suami berusaha menenangkan sang Istri.


" Benar Mah... ikhlaskan kepergiannya Mah..." timpal Aldo.


" Kau Do... ini semua karena ulahmu...!!" seru Mamah Laras tak terima dengan ucapan yang dilontarkan Aldo, otomatis membuat semua yang berada di pemakaman pun tertuju ke arah mereka, seketika itu pula Vanya mendongkankan kepalanya melihat ke arah mereka lalu menghampirinya, dan...


Plaakkkk


tamparan keras melayang di pipi sisi kanan Aldo, sedangkan Aldo hanya terdiam karena memang dirinya sendiri ikut merasa bersalah dalam musibah ini. semenatara seluruh keluarga yang melihat pun tercengang dengan tingkah Vanya.


" Ini semua gara-gara Kamu Do... seandaikan Kau bisa memilih tidak akan jadi seperti ini.... hiks... hikss... hikss..." ucap Vanya sambil menangis tersedu-sedu.


" Laras... maafkan Aku Ras.. hiks... hiks... hiks... ucap Vanya sambil menjatuhkan dirinya dengan terduduk lemah di atas makam milik laras.


" Nak... hikss... hikss.."


" Tante... hiks... hiks.. hiks.. " ucap Vanya sambil memeluk Mamah dari Laras.


" Tante jangan sedih lagi ya Laras janji akan menjaga kalian sebisa mungkin menggantikan Laras disisi kalian... hiks.. hikss... " ucap Vanya pada Mamahnya Laras masih berada dipelukannya, seketika Mamahnya Laras yang bernama Sinta pun menganggukkan kepalanya mengiyakan perkataan Vanya.


*****


Bersambung...


Haduh... kenapa mendadak mellow gini sih ya... 😭, gimana kelanjutan Kisah mereka...??, tunggu di episode selanjutnya.


Jangan lupa Vote, Like, Komen, dan Favorite Yaa... Terimakasih... 🥰🥰🙏🙏


hmm sambil menunggu update dari Author seperti biasa, Author mau ajakin kalian mampir ke novel teman Author nih...


__ADS_1


__ADS_2