Kisah Cinta Ceo Dan Dokter Cantik

Kisah Cinta Ceo Dan Dokter Cantik
Episode 153


__ADS_3

Membutuhkan Ramuan dari Dokter Luar Negeri.


Tiga hari kemudian setelah kejadian itu terjadi, akhirnya Erlin sudah di pindahkan ke sebuah ruangan khusus untuk pasien super VVIP. Ya karena Erlin adalah Istri dari pemilik RS jadi Dia mendapatkan penanganan yang sangat istimewa.


"Van... bagaimana perkembangan kondisi Erlin??" tanya Clara yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan Vanya tanpa permisi, tapi bagi Vanya sudah biasa dengan tingkah laku Sahabatnya yang selalu saja begitu.


"Huufftt entahlah Ra..., Gue bingung harus bagaimana, kemarin setelah Suamiku meninggal tapi justru sekarang Kakak Ipar juga terbaring lemah di RS, Gue tidak bisa membayangkan dengan apa yang akan terjadi nantinya, bahkan Aku tidak tahu dengan nasib Anakku kedepannya seperti apa" ucap Vanya dengan penuh keputusasaan sambil menundukkan kepalanya.


"Vanya jaga ucapanmu...!!" bentak Clara tak terima dengan apa yang di katakan oleh Vanya.


"Lalu Gue harus gimana lagi Ra... hiks... hiks... Gue benar-benar tidak sanggup menghadapi berbagai musibah bertubi-tubi, hiks... hikss.. hiks..."balas Vanya.


"Sssstt hey Vanya.. Vanya... tenangkan dirimu, bukannya Gue bermaksud untuk melukaimu, justru itu Lo harus bangkit Vanya, buktikan pada dunia bahwa Lo bisa menyembuhkan Kakak Iparmu." ucap Clara berusaha menenangkan hati dari Vanya.


"Ingat Vanya, Erlin adalah Saudari Kandung dari Edward Suamimu, jadi Lo harus buktikan kalau Lo mampu menyembuhkannya, Lo seorang dokter Vanya, jangan mudah menyerah ada Tuhan yang membantu Kita." sambung Clara menuturi Vanya agar tetapi bersemangat. Seketika Vanya mendongakkan kepala menatap Clara, dan tersenyum manis ke arahnya, "Thanks ya Ra..., Kau memang Sahabatku." ucapnya lalu memeluk Clara dan di balas oleh Clara.


"Yo'i Van.. sama-sama..." balasnya.


"Hmm... hmmm jadi Gue bukan Sahabatmu juga Van...??" sambung Dina bertanya yang tiba-tiba saja datang ke ruangannya.


"Elo juga Din ... hehehhehe..." balas Vanya dengan tertawa renyah.


"Nah gitu dong ... itu baru namanya Vanya...!!" seru Dina. Tak berselang lama ada seorang perawat mendatangi tuangan Vanya dengan terburu-buru.


Gubraaakk...


sontak semua mata mengarah ke perawat tersebut.


"Astagaaa Suster Yuli ada apa kok sepertinya sedang terburu-buru??" Vanya bertanya pada Suster tersebut.


"Dok... dokter Vanya.., dokter Erlin mengalami penurunan kesadaran, dok" ujar perawat tersebut. sontak membuat semua yang berada di ruangan Vanya terkejut, "Apaaa...???!!" teriak Vanya, Clara, dan Dina terkejut dengan kondisi Erlin.


"Ayo Sus kita ke sana" balas Vanya lalu mengambil snelinya yang sedang diselempangkan di kursi tempat duduknya, lalu pergi ke ruangan tempat Erlin dirawat dengan diikuti Suster Yuli, Dina, dan Clara di belakangnya.


******


Sementara di ruangan Erlin kini ada Aditya dan Mamih Dewi yang sedang menunggunya, mereka nampak begitu panik melihat denyut nadi Erlin yang semakin melemah.


Ceklek


muncullah Vanya dari balik pintu, dan Aditya dan Mamih Dewi pun menghampirinya lalu berkata, "Vanya cepat tolong lah Kakak Iparmu" ucapnya serentak dengan cemas.

__ADS_1


"Kak Aditya, Mamih tenangkan diri kalian, Vanya akan memeriksanya terlebih dahulu." balas Vanya mencoba menenangkan Aditya dan Ibu Mertuanya. Vanya lalu memeriksa Erlin dengan sangat telaten.


"Sus tolong tambah lagi oksigennya, dan nanti bilang sama dokter Danu katakan padanya jika Kita perlu bantuan dengan dokter spesialis Jantung yang ada di Jepang."


"Baik, dok" jawab Suster Yuli.


"Apaaa??, Erlin tidak kenapa-kenapa kan Van" timpal Aditya memotong pembicaraan antara Vanya dengan perawat yang bernama Yuli. seketika Vanya pun menghembuskan nafas kasarnya lalu berkata, "Hmm Kak Aditya ... Mamih ... tenangkan diri kalian, Kakak Ipar akan bisa terselamatkan tapi dengan bantuan dokter spesialis Jantung dari luar negeri karena ramuan tersebut ada padanya." terang Vanya menjelaskan pada Aditya dan Mamih Dewi.


"Baik Vanya, lakukanlah segala cara agar Erlin cepat tersadar.." balas Aditya.


"Benar Nak..., pokoknya lakukanlah sesuatu yang terbaik untuk Erlin Nak..., hiks... hikss.. hiks.. kasihan Baby Daffa menangis terus sepanjang waktu mencari Mommy nya." timpal Mamih Dewi sambil menangis sesegukan mengingat sang Cucu yang selalu saja menangis mencari Erlin.


"Baik Mih ... Kak, tapi..." jawab Vanya terhenti.


"Tapi apa lagi Vanya...??" tanya Aditya dengan penuh penekanan.


"Ramuan dari dokter itu merupakan ramuan dari dokter senior Vitalia yang bekerja sama dengan Vitalia, namanya dokter David Enderson, karena pisau yang menancap di tubuh Kakak Ipar hampir menyentuh Jantung jadi tak ada jalan keluar lagi dengan mengandalkan ramuan tersebut." tutur Vanya panjang lebar mencoba menjelaskan.


"Maksudmu dokter terkenal itu??" tanya Aditya mengerutkan keningnya.


"Iyaa Kak, dan biaya untuk mendatangkan kesini tidak lah sedikit, itu perlu biaya yang sangat mahal, andai saja ada Vitalia pasti ceritanya lain lagi." terang Vanya dengan nada melemah.


"Lakukan saja Vanya .... bagaimanapun caranya lakukanlah..., dan sebentar Aku akan menghubungi Mbak Mirna untuk berbicara padanya." balas Aditya pada Vanya lalu segera memencet tombol untuk menghubungi seseorang yaitu Mirna Feriska. sedangkan Vanya kini memberikan obat suntikan pada Erlin.


"*Mbak Mirna" ucap Aditya memulai pembicaraan dalam telepon.


"Aditya..., ada apa menelponku??" tanya Mirna heran tak seperti biasanya Aditya menghubunginya, yang biasa dihubungi hanyalah Jack dan Tuan Feng.


"Mbak..., Erlin kritis" ucap Aditya bingung ingin menjelaskan.


"Apaaa??, bagaimana bisa Dit??, lalu bagaimana keadaannya??" tanya Mirna Feriska dengan nada terkejutnya.


"Sampai sekarang belum sadarkan diri, dan kondisinya justru malah semakin menurun, makanya Aditya menelpon Mbak Mirna untuk meminta bantuan." jawab Aditya dingin.


"Katakan saja Dit, Mbak akan membantumu sebisa mungkin." jawabnya.


"Bicaralah dengan Vanya Mbak, karena Dia yang merawat Erlin." ucap Aditya*.


Dan Aditya pun lalu menyerahkan ponselnya pada Vanya.


"Vanya bicaralah dengan Mbak Mirna..!!" titah Aditya pada Vanya agar berbicara pada Mirna Feriska.

__ADS_1


"*Halo Mbak Mirna...


"Vanya, apa kabarmu??" tanya Mirna pada Vanya diseberang telepon.


"Baik Mbak..., langsung saja Mbak, Vanya mau bilang jika Kakak Ipar kehabisan banyak darah dan Dia kritis akibat tertusuk pisau yang hampir saja menyentuh Jantung nya"


"Apa....???, Astaghfirullah Erlin..., lalu bagaimana Van??


"Aku membutuhkan seorang dokter spesialis Jantung teman dari Vitalia yang dulunya bekerja sama dengannya Mbak, dan itu kira-kira dokter David Enderson nya bisa nggak ya Mbak...??" tanya Vanya pada Mirna diseberang telepon.


"Oh gitu..., bisa banget Van..., malah..." ucap Mirna yang tadinya bersemangat tiba-tiba terhenti begitu saja.


"Malah apa Mbak...??


"Emmhh maksudku bisa saja kok Van, tapi mungkin dokter David nya mewakilkan salah seorang dokter untuk ke Indonesia, yang terpenting nanti Mbak sampaikan padanya, jadi Kau tenang saja" ucap Mirna gugup yang berada diseberang sana, sementara Vanya mengerutkan keningnya bingung dengan apa yang terjadi pada Mirna Feriska.


"Oh begitu..., ya sudah Mbak kalau begitu Vanya mohon secepatnya kirimkan dokter tersebut kesini kasihan Kakak Ipar.." ucap Vanya memohon pada Mirna agar segera mendatangkan dokter tersebut.


"Hmmm baik lah, Kau tenang saja, bilang sama Aditya dan yang lain Mbak akan usahakan demi Erlin.." jawab Mirna Feriska yang sedang berada diseberang sana*.


Vanya yang sangat penasaran tiba-tiba saja ingin menanyakan sesuatu, akan tetapi belum sampai Vanya berucap, sambungan telepon pun tiba-tiba terputus begitu saja.


"Ck... terputus lagi.." decak Vanya kesal karena telepon terputus tidak ada sinyal.


"Bagaimana Van, apa yang dikatakan Mbak Mirna??" tanya Aditya pada Vanya yang menyerahkan ponsel pada Aditya, lalu berkata, "Kak Aditya tenang saja, Mbak Mirna secepatnya akan mengirimkan dokter kemari untuk memberikan ramuan pada Kak Erlin." jawabnya.


"Huh... syukurlah..." ucap Aditya dan Mamih Dewi bersamaan.


"Tapi Mbak Mirna bilang katanya sih kalau dokter David nggak akan bisa, Beliau akan mengirimkan salah seorang dokter kesini untuk membuat ramuan khusus untuk Kakak Ipar." tutur Vanya pada Aditya dan Mamih Dewi.


"Tidak apa Van..., yang terpenting nyawa Istriku tertolong." balas Aditya menjawab pernyataan Vanya.


"Hmm baiklah, jadi sekarang Vanya mohon sekali agar kalian bisa bersabar menunggu dokter itu datang ke Indonesia, jangan membuat Vanya ikut bersedih lagi hanya melihat kalian bersedih" kata Vanya sambil menangkupkan kedua tangannya seraya memohon pada Aditya dan Mamih Dewi.


"Hiksss... hikss... apa yang Kau katakan Nak..., jangan bertindak bodoh seperti itu, Mamih akan selalu mendukungmu Nak Vanya.." ucap Mamih Dewi berusaha members semangat anak menantunya, lalu memeluknya.


"Terimakasih Mih..." balas Vanya lalu membalas pelukan dari Ibu Mertuanya.


"Berjuanglah demi Kami Van..., Kau harus yakin bahwa Kau dan dokter itu pasti bisa menyembuhkan Erlin, Nak..." Mamih Dewi memberi semangat lagi pada Vanya, sontak membuat Vanya begitu terharu mempunyai sosok Ibu Mertua yang sangat perhatian terhadapnya.


******

__ADS_1


Waaaaahh hukuman apa yang pantas buat Risa ya??, dan dengan dokter siapa ya yang akan datang menyelamatkan nyawa Erlin??, dan ini nantinya akan ada hubungannya dengan novel Author yang berjudul Dokter Misterius Vs Mafia Kejam. setelah ini Author juga akan menceritakan kembali kisah cinta antara Aldo dan juga Vanya ya....


Jangan Lupa Vote, Like, Komen, dan Favorite Yaa.. Terimakasih... 🥰🥰🙏🙏


__ADS_2