Kisah Cinta Ceo Dan Dokter Cantik

Kisah Cinta Ceo Dan Dokter Cantik
Episode 171


__ADS_3

Keputusan Vanya.


Sementara Vanya kini hanya terdiam dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Aldo kepadanya, Ia tidak bisa berkata apa-apa selain mengalihkan pembicaraan, Ia pun lalu berkata, “Maaf Aku permisi dulu, ada pasien urgent ... !!” ucap Vanya. Vanya yang berusaha mengalihkan pembicaraan dan menghindar pun dihentikan oleh Aldo, “Kau mau kemana .. ??” tanya Aldo. Sayangnya tak ada jawaban dari Vanya yang justru tetap melangkahkan kakinya untuk keluar ruangan.


Aldo yang merasa tak digubris oleh Vanya pun lalu berkata, “Jawab pertanyaanku, Vanya ... !!” tegas Aldo, yang tiba-tiba saja berani pada Vanya, padahal biasanya Ia selalu saja kalah debat dengan Wanita yang ada di hadapannya. Sontak Vanya pun menghentikan langkahnya lalu berkata, “Untuk apa Kau menyuruhku berhenti, tak ada gunanya Aku berbicara pada Kalian, dan ingat setelah ini Aku akan ke Jepang untuk membantu bisnis Suamiku .. !!” lantangnya.


“Apa .. ??, lalu bagaimana dengan anak-anak, Van, apa Kau tak memikirkan kesehatan El, apalagi Neysa juga sekolah .. ??” ucap Aldo berusaha mencegah Vanya untuk pergi ke Jepang. Vanya pun lalu menjawabnya, “Hmm, El dan Neysa biar menjadi urusanku, dan ...” belum sampai Vanya menyelesaikan ucapannya ada seseorang yang datang dan menjawabnya dengan lantang.


“Dan apa Vanya ..??, Kau tahu tidak jika kondisimu baru hamil, apa Kau tak memikirkan anak yang ada di dalam perutmu ... ?!” sahut Erlin. Ya Seseorang itu adalah Erlin, Ia kembali ke RS karena ada kepentingan, meskipun Dirinya belum diperbolehkan bekerja, Ia tetap menjalankan tugas sebagai direktur utama RS.Wijaya menggantikan posisi Suaminya yang memang diserahkan kepadanya. Erlin sendiri datang ditemani sang Suami, sedangkan Babby Daffa di rumah bersama babby sister.


Kini Vanya terperangah melihat kedatangan Kakak Iparnya. Vanya pun lalu berkata, “Kakak Ipar ...” ucapnya. Dan Erlin pun menyahutnya dengan berkata, “Vanya, apa maksud perkataanmu ??, apa Kau tetap akan pergi ke Jepang ??, padahal urusan Edward sudah terselesaikan, karena Mbak Mirna mengabariku jika kendala perusahaan Destination Company sudah terselesaikan, lalu untuk apa kau ke sana??” tanya Erlin dengan tatapan menyelidik. Sayangnya Vanya hanya diam tak menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Sahabatnya yang kini sudah berubah menjadi Kakak Iparnya. Ia benar-benar bingung dengan situasi dan kondisi sehingga Vanya akan melakukan hal diluar akal dan pikiran.


“Hmmm, ya sudahlah Aku hanya ingin mengatakan jika antara kain putih kafan dan gaun pernikahan, keduanya sangat dekat dan sama-sama akan mengundang banyak orang, keduanya juga akan menimbulkan tangisan dan


kebahagiaan, maka dari itu Aku belum bisa memutuskan, dan jika kedua anakku memilih salah satu di antara Aldo atau Exsel, maka Aku akan mencoba untuk memikirkannya lagi, jadi tolong hargai Aku, dan Aku masih butuh waktu untuk berpikir.” ucapnya dingin, membuat semua yang ada di ruang perawatan El pun terdiam dengan pernyataan Vanya.


Dan tiba-tiba saja Exsel yang memegang kening El pun tersentak kaget, Ia pun lalu berkata, “Vanya sudah jangan berdebat lagi, cepat periksa El, badannya panas sekali ... !!” seru Exsel memotong pembicaraan. Sontak Vanya dan yang lain pun mengarahkan pandangan ke arah Exsel yang tampak panik. Erlin pun lalu me nyahutnya dengan berkata, “Biar Aku yang memeriksanya ... !!” ucapny, lalu segera memeriksanya dengan telaten.


“Vanya, apa tadi juga demam ..??” tanya Erlin sambil mengecek denyut nadinya.


“Tadi sudah tidak demam, tapi entahlah kenapa malah demam lagi.” jawab Vanya.

__ADS_1


“Van, cepat berikan obat penurun panas ... !!” perintah Erlin pada Vanya, Erlin pun tanpa menunggu waktu lama segera memasang alat untuk mengecek saturasi oksigen untuk dipasang di kaki El, alat tersebut bernama Oximeter. Erlin pun terus memantau saturasinya, sementara Vanya menyuntikkan obat penurun panas melalui selang infus sesuai takaran.


Sementara Dina segera datang ke ruangan El, karena Erlin telah memanggilnya melalui tombol otomatis yang terhubung di ruang tenaga medis. Erlin pun mengarahkan pandangan ke Dina yang baru saja datang lalu berkata, “Din, cepat hubungi Clara, suruh Dia datang ke RS secepatnya ... !!” perintah Erlin pada Dina, dan mendapatkan anggukan dari Dina. Sementara Aldo, Exsel, Aditya dan Neysa sekarang sedang menunggu di luar ruangan. Ya mereka sudah keluar dari ruangan El karena atas perintah Aditya agar tidak mengganggu Erlin dan Vanya yang sedang memeriksanya.


Tak berselang lama El pun tersadar dan mengigau dengan berkata, “El janji Yah, El akan jagain bunda Vanya.” Igaunya. Sontak Vanya dan Erlin yang mendengarkan El yang sedang mengigau pun terkejut dengan apa yang di ucapkan El. El pun lalu tersadar dan terbangun dari tempat tidur dengan berteriak, “Ayaaahh ...”


Vanya dan Erlin pun lalu menyahutnya dengan berkata, “El Sayang ...” ucapnya bersamaan. Sedangkan El yang melihat kedua Bundanya pun lalu berkata, “Bunda Vanya, Bunda Erlin .., Ayah Edward bilang padaku jika Bunda Vanya disuruh menikah dengan Ayah Aldo, jadi El mohon Bunda mau ya menikah dengan Ayah Aldo ...” ucapnya sambil menatap Vanya dengan tatapan sendunya. Vanya yang merasa ditatap anak angkatnya pun hanya terdiam tidak dapat berkata apa-apa.


“Yaa Tuhan, apa mungkin Aku sudah ditakdirkan sama Aldo??” Vanya bertanya-tanya dalam hati. El yang merasa tak digubris oleh Vanya pun lalu berkata, “Bunda, kenapa Bunda malah diam saja sih ...??” tanya El heran dengan Vanya yang hanya diam tak bersuara. Erlin yang merasa Vanya tak bisa berkata apa-apa pun lalu menimpalinya dengan berkata, “El Sayang .., lebih baik El istirahat ya ...” ucap Erlin berusaha mengalihkan pembicaraan.


El pun lalu menjawabnya dengan berkata, “Tapi Bunda, El hanya ingin Bunda Vanya menuruti permintaan Ayah Edward.” ucap El sambil menundukkan kepalanya. Sedetik dua detik, Vanya yang melihat El terlihat murung pun lalu berkata, “Ya sudah, Bunda akan turuti apa keinginan Ayah Edward, El dan Kak Neysa, sekarang lebih baik El istirahat ya, Bunda nggak mau kalau El sampai kenapa-kenapa lagi ... !!” balas Vanya lalu berusaha tersenyum semanis mungkin di depan El.


El yang mendapatkan jawaban dari Bundanya pun lalu tersenyum senang, dan berkata, “Bunda serius ...??” tanyanya. Vanya pun hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan dari Anak Angkatnya sambil tersenyum manis ke arah El. El pun lalu memeluk Bundanya, dan berkata, “Terimakasih Bunda ...” ucapnya.


“Ya sudah, sekarang El istirahat ya ..., biar El cepet sembuh .. !!” tutur Vanya pada El. Dan Erlin pun lalu menimpalinya dengan berkata, “Iya El, benar apa kata Bunda Vanya, sekarang El istirahat ya, biar cepet sembuh, katanya pengen lihat dedek bayi ..” ucapnya. Dan El pun lalu menjawabnya dengan mengangguk mengiyakan perkataan Vanya dan Erlin lalu segera membaringkan tubuhnya lagi ke tempat tidur. Ya meskipun El sekarang baru akan memasuki usia 4 tahun tapi kecerdasannya melebihi rata-rata.


****


Sementara di luar ruang perawatan El, tampak Aditya, Aldo, Exsel,dan Neysa tampak mencemaskan kondisi El. Ya Mereka sendiri belum menerima kabar dari Vanya maupun Erlin yang masih memeriksa El, pikirnya. Semenit kemudian Erlin dan Vanya pun lalu keluar ruang perawatan El dengan membuka knop pintu.


Ceklek ...

__ADS_1


Sontak saja semua orang yang sedang menunggu kabar dari Erlin dan juga Vanya pun mengarahkan pandangan ke arah  kedua dokter cantik tersebut. Erlin pun lalu membuka suaranya dengan berkata, “El, sudah mulai membaik, tapi dengan satu syarat, El hanya ditunggu oleh dua orang saja, karena El membutuhkan waktu untuk beristirahat yang cukup.” ucapnya berusaha memberi pengertian pada semua orang yang sedang menunggu.


Vanya pun lalu ikut membuka suaranya dengan berkata, “ Oh ya, ada yang akan Ku sampaikan, jika Aku akan mengabulkan permintaan dari El dan Neysa, karena keinginan Mereka adalah keinginan dari Suamiku juga,” ucapnya dingin.


“Dan untuk Kau  Exs, maafkan Aku, Aku bukannya ingin memilih tapi ini sesuai apa yang diinginkan Anak-anak dan Suamiku Edward,” sambung Vanya menatap sendu Exsel, entah mengapa hati Vanya tak tega melihat Exsel terlihat kecewa akan keputusannya. Exsel pun lalu berkata, “Sudahlah tak apa, kalau itu memang keputusanmu, dan setelah ini Aku memutuskan akan pulang ke Singapore, dan ...” belum sampai Exsel menyelesaikan bicaranya Dina datang dengan Clara, dan tanpa sengaja Dina pun menabrak Exsel dari belakang.


Braakk ...


“Eh .., emmh .., maaf Exs, Aku tidak sengaja ...” ucap Dina salah tingkah. Exsel pun hanya mengangguk pelan, sedangkan Clara yang melihat Dina salah tingkah pun lalu berkata, “Eh Din, ganjen amat sih Lo, Gue bilangin sama dokter Irsyad baru tau rasa Lo .. !!”lantang Clara.


“Yee ..., bilangin saja sana, Gue nggak takut ... !!, lagian siapa juga yang ganjen, namanya saja nggak sengaja nabrak, Dia saja nggak mempermasalahkan kenapa Lo yang sewot sih ...??” tanya Dina heran dengan Sahabatnya yang mendadak menceramahinya. “Dia itu tunangan Lo, Loh Din, yang benar saja Lo nggak takut ... !!” ucap Clara.


“Baru tunangan Ra ...,tunangan saja nggak jelas, masih belum taubat, Dia nggak pantes dikasih hati ... !!” seru Dina menjawab pernyataan dari Clara.


“Heh gayamu sok kejam, Nduk .., Nduk ...” ucap Clara sambil menjitak kepala Dina, Erlin dan Vanya yang melihat tingkah kedua Sahabatnya pun terkikik geli. Sementara yang lain hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah dokter dan suster tersebut.


“Aduh sakit Ra, sudah nggak usah kebanyakan bahasa, males tau nggak ... !!” seru Dina tak terima sambil memutar bola matanya malas jika Sahabatnya berbahasa jawa. Tak sampai disitu saja, Clara pun lalu membalasnya dengan berkata, “Bilang saja nggak bisa bahasa Jawa, tuh belajar tuh sama si Vanya yang keturunan Indo-Jawa-Jerman ... !!” balas Clara.


“Terserah Lo ..., minggir Gue mau nunggu El ..” ucapnya lalu masuk ke dalam dengan mengerucutkan bibirnya. Tak lama setelah masuk Ia pun keluar lagi dengan memanggil Neysa, “Kak Ney, ayo masuk sama Bunda.., ngapain di situ, banyak orang aneh di luar .. !!” seru Dina meminta Neysa agar masuk ke dalam ruang perawatan El. Sementara Vanya, Erlin, dan juga Clara lalu berteriak dengan berkata, “Dina ... !!” teriak Mereka bersamaan karena mendengar ucapan Dina yang menurut Mereka mengajarkan yang tidak-tidak pada Neysa. Sedangkan Exsel terlihat tersenyum tipis melihat tingkah konyol Dina. Vanya, Erlin, dan Clara yang merasa Exsel tersenyum tipis pun saling tatap. Sementara Aditya dan Aldo hanya diam menyimak perdebatan tersebut dengan memijat pelipisnya.


*****

__ADS_1


Waahhh makin seru nih ....


Jangan lupa Vote, Like, dan juga Komen Ya Terimakasih ... ^-^


__ADS_2