
Erlin Pergi
Keesokan harinya tampak seorang pria tampan masih tertidur di atas tempat tidurnya, Bahkan ia tak menyadari jika sang istri tidak berada di sampingnya.
Sementara Erlin kini sudah berada di lantai bawah, tepatnya berada di ruang tamu habis memindahkan Daffa dan El untuk tidur di sofa ruang tamu. Karena Erlin memutuskan untuk pergi dari mansion Wijaya dengan membawa anak-anak.
Alan tetapi sebelum pergi Erlin menuju ke dapur untuk berpamitan kepada mbok Inah yang sedang sibuk mengerjakan pekerjaan rumah.
"Mbok Inah..." panggil Erlin pada artnya. Seketika saja sang pemilik nama pun menoleh ke arah sumber suara, dan berkata, "Eh nyonya muda tumben sudah bangun?"
Dengan tersenyum tipis Erlin pun berjalan ke meja makan, sambil menuangkan air ke dalam gelas, Erlin pun menjawabnya dengan berkata, "Iya mbok, kebetulan Erlin mau bilang sama simbok.." sahutnya lalu meminum minuman yang ia tuangkan ke dalam gelas tadi.
"Memangnya nyonya muda mau bilang apa?" tanya mbok Inah pada majikannya. Erlin pun meletakkan gelasnya di meja makan lalu berkata, "Mbok Inah, tolong jaga mas Aditya, Mama sama Papa baik-baik, ya! Karena hari ini juga Erlin memutuskan untuk pergi dari sini ..." ujarnya.
"Tapi nyonya, bagaimana jika Tuan Aditya mencarimu? Bagaimana dengan baby Daffa dan El? Terus Nyonya Mau pergi kemana?" berbagai pertanyaan dilontarkan oleh mbok Inah kepada Erlin.
Erlin pun dengan tersenyum ramah menjawabnya, "Simbok tidak perlu khawatir. Daffa dan El Alan ikut pergi bersamaku, dan mengenai aku akan pergi kemana, aku akan ke rumah almh. Eyang Ti untuk menenangkan diri."
"Lalu bagaimana dengan tuan Aditya, nyonya?" tanya mbok Inah lagi pada majikannya. Erlin pun lalu menjawabnya dengan berkata, "Biarkan saja mbok. Lagi pula mas Aditya juga pantas mendapatkan hukuman dariku," ucapnya dengan tersenyum getir jika mengingat dirinya memergoki suaminya bersama Dera dengan kondisi yang sangat memalukan.
"Kalau begitu saya mau ikut nyonya saja!" seru mbok Inah pada sang majikan sambil menekuk wajahnya.
Mendengar ucapan dari mbok Inah dan melihat exspresi mbok Inah, Erlin begitu tak tega. Ia pun berdiri dari tempat duduknya lalu berjalan ke arah mbok Inah, dan berkata, "Tapi mbok, huh..., ya sudah.., kalau itu mau simbok, Erlin turuti permintaan simbok..."
"Beneran kan nyonya? Kalau begitu saya mau siap-siap dulu..." sahut mbok Inah dengan bersemangat karena permintaannya disetujui oleh Erlin.
Dengan tersenyum manis Erlin pun lalu menjawabnya dengan berkata, "Iya mbok Inah," ucapnya. Seketika saja mbok Inah lalu melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Erlin sendirian di dapur.
Namun saat ia baru melangkahkan kakinya tiga kali langkah, tiba-tiba saja sang majikan berteriak memanggilnya.
"Tunggu mbok!" teriak Erlin menghentikan langkah artnya. Mbok Inah yang di panggil pun menoleh ke arah Erlin.
"Ada apa nyonya?"
"Mbok sambil siap-siap, tolong serahkan surat ini kepada bik Sumi, ya! Biar bik Sumi yang menyampaikan surat itu pada mas Aditya dan yang lainnya.."
"Siap nyonya..., kalau begitu saya mau ke kamar Sumi dulu untuk memberitahunya sekaligus bersiap-siap..."
"Iya mbok, iyaaa..., kalau begitu Erlin mau ke depan dulu, aku tunggu di sana, ya mbok!" ujarnya Erlin sambil menampakkan senyumnya lalu melangkahkan kakinya pergi meninggalkan mbok Inah sendirian.
Sementara mbok Inah yang melihat sang majikan tersenyum pun ikut tersenyum senang karena selama ini Erlin tak pernah tersenyum sama sekali semenjak ada masalah dengan sang suami.
"Alhamdulillah, setelah sekian purnama akhirnya nyonya muda bisa tersenyum kembali..." ujarnya pelan sambil menatap kepergian majikannya. Mbok Inah pun lalu melangkahkan kakinya pergi untuk bersiap sekaligus untuk memberitahu bik Sumi sesuai dengan perintah majikannya.
***
Saat ini Erlin sudah berada di ruang tamu, dengan berjalan pelan Erlin menghampiri Daffa dan El yang tidur di sofa. Ia terpaksa memindahkannya ke ruang tamu karena ia tidak ingin repot membawa kedua anaknya.
"Maafkan bunda mommy ya sayang, mommy sudah mengganggu tidur kalian, karena bunda mommy akan membawa kalian pergi dari sini," ujar Erlin sambil membelai rambut Daffa dan El secara bergantian. 'Ya, Daffa sendiri sudah memasuki usia 2 tahun.'
Erlin lalu segera mengambil ponselnya yang ia letakkan di dalam tasnya. Dengan cepat Erlin pun segera menggeser layar ponselnya untuk menghubungi seseorang.
__ADS_1
Namun sayangnya teleponnya tidak diangkat dengan orang yang ia hubungi. Bahkan Erlin juga sudah menghubunginya berkali-kali, tetap saja tak ada jawaban.
Karena tak ada jawaban Erlin memutuskan untuk memasukkan ponselnya lagi ke dalam tasnya.
***
Setelah mbok Inah selesai bersiap, Erlin dan mbok Inah beserta anak-anak kini berjalan keluar mansion Wijaya dengan mengendap-endap. Bahkan pihak keamanan yang menjaga mansion Wijaya pun tak ada yang mengetahuinya jika sang majikan pergi bersama mbok Inah dan anak-anak.
"Nyonya, kita naik apa?" tanya mbok Inah pada Erlin sambil berjalan menggendong El dengan mengikuti Erlin yang menggendong Daffa di belakangnya.
"Tenang saja mbok, kebetulan Erlin sudah pesen taxi online kok, tuh taxinya sudah datang..." jawab Erlin.
Mereka pun lalu segera melangkahkan kakinya pergi dari mansion Wijaya dengan keluar pintu gerbang, lalu masuk ke dalam taxi yang sudah di pesan oleh Erlin.
***
Di dalam mobil
Erlin yang sedang duduk di belakangnya bersama mbok Inah dengan anak-anak pun dikejutkan dengan sebuah panggilan masuk pada ponsel milik Erlin.
Dreett... Dreett...
Ponsel Erlin bergetar, tanda ada seseorang yang menelponnya. Erlin pun dengan cepat merogoh ponselnya yang ia masukkan ke dalam saku jaketnya.
"Halo, Assalammu'alaikum..." ucap seseorang yang berada di seberang sana membuka obrolan dengan suara seraknya.
"Wa'alaikumsalam..,, Val..."
Mendengar jawaban dari Rivaldi, bukannya menjawab pertanyaannya ia justru malah menangis dengan sendirinya.
"Hiks.. hiks... hiks... Val, aku..."
"Erlin, kenapa kau menangis? Apa suami brengs*kmu itu berbuat ulah lagi?" tanya Rivaldi yang di seberang sana tersulut emosi.
"Hiks... hiks.. Val.., aku ingin bertemu denganmu di taman kota, apakah kau bisa?" jawab Erlin dengan berbalik tanya.
"Sekarang?" sahut Rivaldi berbalik tanya lagi.
"Iya Val, hiks.. ini penting Val, ku mohon datang lah sekarang juga..." ucap Erlin berusaha menahan tangisnya.
"Ok.. ok.. baiklah, aku akan pergi menemui ke taman kota.., tapi dengan syarat kau jangan menangis lagi, okey!" pinta Rivaldi pada Erlin agar tidak menangis lagi.
"Iya Val, terima kasih .." pungkas Erlin, lalu menutup teleponnya sebelah pihak. Rivaldi yang berada di seberang sana pun heran dengan sikap Erlin, yang tiba-tiba saja berubah drastis semenjak bertemu dengannya di bar.
"Aku rasa, aku harus segera menemuinya, sepertinya ada yang tidak beres dengan Erlin..." gumam Rivaldi.
***
Sementara di sisi lain Aditya yang baru saja terbangun dari mimpi indahnya, dikejutkan dengan sang istri yang tidak ada di sampingnya.
"Sayang..." ucap Aditya memanggil-manggil sang istri. Sayangnya panggilannya justru tak mendapatkan sahutan dari sang istri.
__ADS_1
Aditya pun memutuskan untuk bangun dari atas ranjangnya dengan berjalan ke arah kamar mandi, ia kembali memanggilnya lagi, namun ternyata di kamar mandi pun kosong tak ada orang.
Aditya pun lalu memanggil-manggil sang istri lagi, dengan berjalan keluar kamarnya. "Erlin sayang!" teriaknya.
Dengan cepat Aditya melangkahkan kakinya menuju ke kamar sebelah tepatnya di kamar anak-anak, karena Ia berpikir jika sang istri berada di kamar tersebut.
Sesampainya di kamar tersebut, alangkah terkejutnya Aditya tak mendapati anak-anak di sana. Ia bahkan celingak-celinguk melihat kamar anak-anak yang tidak kedapatan orang sama sekali.
"Daffa.., El..." panggil Aditya memanggil-manggil nama anak-anak. Aditya pun panik, ia yang merasa ada keanehan pun segera keluar dari kamar anak-anak dengan berlari kecil.
"Bik Sumi!" teriakan Aditya menggelegar di seluruh penjuru mansion. Sedangkan bik Sumi yang sedang menyiapkan makanan di meja makan pun lalu mendongakkan kepalanya menatap majikannya yang memanggilnya.
"Ada apa Den?" tanya bik Sumi menunduk ketakutan karena Aditya tiba-tiba saja berteriak seperti sedang marah.
"Bik Sumi, cepat katakan kepadaku, dimana Erlin dan anak-anak, bik? Kenapa mereka tidak ada di kamar?" Aditya bertanya dengan sorot mata mengintrogasi.
"Anu tuan..., nyonya Erlin.." belum sampai bik Sumi menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba saja ada seseorang yang memotongnya.
"Ada apa ini? Kenapa kau berteriak-teriak, Aditya?" tanya Tuan Wijaya pada Aditya. Lalu menatap bik Sumi secara berganti menatap bik Sumi dengan tatapan mengintrogasi.
"Sudah Pah, tenang kan dirimu! Papah memangnya tidak capek apa, dari kemarin ribut terus?" sahut Mama Ita yang datang dari arah belakang sang suami.
Aditya justru tak menghiraukan kedua orangtuanya yang sedang berdebat. Ia pun kembali mengarahkan pandangan menatap bik Sumi.
"Bik, Sumi cepat katakan kepadaku, bik! Kenapa kau berhenti?" tanya Aditya heran dengan menyipitkan matanya.
Bik Sumi yang ketakutan melihat kemarahan Aditya pun lalu menjawabnya dengan berkata, "Ddd... den.. anu... nyonya pergi dari mansion bersama mbok Inah dan anak-anak.." ujarnya memberitahu.
Duaaarrrr....
Bagai disambar petir di siang hari, Aditya tertegun mendengarnya. Begitu pula dengan kedua orangtua Aditya yang tak malah terkejutnya mendengar pernyataan bik Sumi.
"Apaaa....." ucap Aditya dan kedua orangtuanya secara bersamaan dengan nada keterkejutannya.
****
Aditya POV :
^^^Jika kau pergi dari hidup ku, bagaimana dengan diriku, kenapa kau begitu tega dengan ku Erlin, kekenap^^^
**
Bersambung....
...****************...
...----------------...
Jangan lupa tinggalkan jejak Vote, Like, Komen, biar Author semangat upnyaa....
Terima kasih... 🥰🥰🙏🙏
__ADS_1