Kisah Cinta Ceo Dan Dokter Cantik

Kisah Cinta Ceo Dan Dokter Cantik
Episode 212


__ADS_3

Pengakuan Dera.


Aditya pun segera menggeser layar ponselnya, untuk mengangkat telepon tersebut.


"Halo..." ucap Aditya membuka obrolannya melalui telepon.


"Tu.. Tuan Aditya..., hiks.. hiks.." Dera memberanikan dirinya membuka suaranya.


"Dera? Ada apa kau menghubungiku? Apakah kau belum puas setelah Ibumu datang ke mansion Sanjaya untuk memintaku mempertanggungjawabkan semuanya, ha? " tanya Aditya dengan nada meninggi.


Mendengar pernyataan dari Aditya yang berada di seberang sana, Dera membelalakkan matanya terkejut. Ia tak menyangka jika ternyata Ibunya pergi ke Mansion Sanjaya. "Aditya, tolong please dengarkan aku! Aku sama sekali tak menyuruh Ibuku untuk pergi ke sana! Aku benar-benar tak tahu, Dit! Hiks... hiks.." seru Dera yang di seberang sana sambil menangis terisak.


"Cukup Dera! Kau tau kan dulu kita putus itu karena apa? Apa kau lupa, ha?" tanya Aditya dengan nada meninggi. Ia pun lalu berniat mengeraskan volume suara ponselnya agar yang lain mendengarkan Dera berbicara.


"Aditya tolong kasih waktuku untuk berbicara sebentar saja, dit. Please!" pinta Dera kepada Aditya.


"Berbicara apa? Membicarakan soal pertunangan kita kan? Baiklah, aku akan menjemputmu untuk mempersiapkannya.." jawab Aditya.


"Tapi Dit, anak yang ku kandung bukan anakmu! Hiks.. hiks.. hiks.." jawab Dera, yang kali ini dengan tangis yang pecah.


Betapa terkejutnya Aditya dan seluruh orang yang mendengarkan pernyataan Dera melalui telepon. "Whaaattt? Kenapa ... kenapa kau? Keterlaluan kau Dera!" ucap Aditya dengan mengepalkan tangannya geram.


"Dengarkan aku dulu, Dit! Hiks.. hiks.. please..." sambung Dera.


"Cepat katakan!" Aditya membentak Dera, karena Dera begitu terbelit-belit.


"Aku mengira ini bukan anakmu, Dit. Ak.. akuu.. sempat mengira anak yang ku kandung adalah anak orang lain. Bukan anakmu! Hiks.. hiks..." Dera menjelaskan keadaan yang sebenarnya.


"Lalu kalau bukan anakku, itu anak siapa, Dera? Apa kau telah tidur dengan pria lain, ha?


"Ayo jawab Dera! Kenapa kau diam? Kalau benar ini anak orang lain, kenapa kemarin waktu Ibumu meminta pertanggungjawaban ke RS kau diam saja?" bertubi-tubi Aditya menghujani pertanyaan pada Dera. Namun Dera yang berada di seberang sana hanya diam sambil menangis terisak.


"Aditya, aku mohon padamu, dit. Maafkan aku! Hiks.. hiks.."


"Apa? Maaf katamu? Cihh.... tidak Dera! Aku tak akan pernah memaafkanmu!"


"Ak.. akuu dihamili orang yang tak aku kenal, Dit! Aku tidak tau bapaknya siapa. Tapi yang jelas akhir-akhir ini dia sama sekali tak menghubungiku lagi, jadi kumohon padamu, Dit. Agar kau membantuku untuk menutupi aibku dengan menikahiku.."


"Dasar perempuan jal*ng!" belum sampai Aditya menyelesaikan ucapannya, dengan cepat Vanya yang mendengarkan obrolan tersebut pun segera berdiri untuk merebut ponsel milik Aditya. "Dera, kau gila ya? Atas dasar apa kau menyuruh kak Aditya untuk menikah denganmu? Aditya itu sudah punya istri, kau sadar nggak sih, ha? Erlin itu sahabatmu De! Kenapa kau setega itu? Kenapa kau tak meminta pertanggungjawaban ke bapaknya saja, ha? Keterlaluan kau, De!" serunya tak terima dengan apa yang diucapkan oleh Dera.


"Va.. Vanya!" ucap Dera terbata, karena mendengar suara dari Vanya yang berada di seberang sana.


"Iya, aku Vanya sahabatmu!" tegas Vanya menjawab pertanyaan dari Dera. Seketika saja Aditya yang mengepalkan tangannya geram setelah mendengar pernyataan Dera, merebut kembali ponsel miliknya yang di ambil oleh Vanya.


"Dera! Kalau kau ingin aku mempertanggungjawabkan semuanya, mengakulah di hadapan semua orang! Kau harus mengaku di hadapan publik, Dera! Karenamu saham perusahaan Wijaya Group anjlok, Dera!" tegas Aditya lalu menutup teleponnya sebelah pihak.


Tut...


Sementara Dera yang berada di seberang sana menangis terisak meratapi nasibnya. "Hiks.. hiks.., itu tidak mungkin Aditya, itu tidak mungkin! Maafkan aku Aditya, aku tak tahu harus berbuat apa! Hiks.. hiks.., pria brengsek itu tidak dapat dihubungi sama sekali.. hiks.. hiks.." ucapnya mengumpati pria yang telah menghamilinya.


"Maafkan aku Erlin, ak .. aku merasa bodoh, aku menyesal Erlin! Hiks.. hiks.." sambungnya lagi, masih dengan menangis terisak. Sejenak Dera berhenti menangisi dirinya.


Setelah sedetik terhenti menangis, Dera mulai berpikir, "Apa aku harus mengaku di depan publik jika aku telah hamil anak orang lain? Tapi itu tidak... tidak.. itu tidak mungkin Dera! Eh, tapi lebih baik aku menuruti perkataan Aditya, aku ingin bapak dari anakku tau jika aku sedang membutuhkannya saat ini..."


"Vitalia, ya aku harus bertemu dengannya. Hanya dengannya lah yang bisa membantuku saat ini..." ujarnya lalu menghapus air matanya dan segera bangkit dari tempat duduknya untuk menemui seseorang.


**


"Kakak? Kenapa kau berkata seperti itu pada Dera? Itu justru akan membuka peluang dia untuk ..." tanya Vanya kepada Aditya yang kini bangkit dari keterpurukannya setelah Dera mengakui kebenarannya.


"Vanya, kau tenang saja. Dengan dia mengaku ke publik, itu berarti dia membuka aibnya sendiri di depan publik. Aku mau tau, seberapa kuatnya dia menghadapi para wartawan. Aku yakin dengan dia mengaku di depan publik, Erlin akan kembali!" ujar Aditya dengan penuh percaya diri.

__ADS_1


"Kali ini kau mengambil langkah yang tepat, Aditya! Buktikan kalau kau benar-benar cinta sama Erlin, dan kau bukan lelaki pengkhianat!" sahut Dina menimpali.


"Tapi Din, kakak sudah berjanji pada Dera jika kakak akan mempertanggung jawabkan setelah Dera mengakui di depan publik!" jawab Vanya yang tak setuju dengan keputusan Aditya.


Bukannya Aditya menjawab, justru Dina lah yang menjawab pernyataan dari Vanya.


"Itu tidak akan terjadi, Vanya! Aku tau betul Dera itu seperti apa, dia melakukan semua itu atas desakan orangtuanya. Bukankah begitu Aditya?" tanya Dina pada Aditya.


"Hmm, kau benar Dina! Dulu aku pernah menjadi kekasihnya, tapi hubungan kami hanya bisa bertahan seumur jagung, karena keluarga Wijaya dulu tak sekaya keluarganya. Namun setelah mereka terjatuh, keluarga Wijaya bangkit, Dera masih saja mengejar-ngejar ku, namun aku sudah terlanjur benci dengannya. Aku tau itu, Dera seperti itu juga atas desakan orang tuanya yang tak tau malu itu!" ujar Aditya menjelaskan masa lalunya dengan Dera.


"Aditya, kalau begitu kau harus menyusul Erlin! Maafkan aku, jika aku merahasiakan kepadamu. Namun setelah mengetahui kebenarannya, kau harus mengejarnya, Dit!"


"Apa? Jadi kau mengetahui keberadaan Erlin? Katakan Dina, dimana Erlin?


"Erlin pergi ke desa Eyang Ti yang ada di desa, Dit. Dia pergi bersama.." ucapan Dina terhenti seketika karena ia takut jika Aditya akan marah mendengar nama yang akan ia sebut.


"Kenapa kau tak melanjutkan ucapanmu Dina? Bersama siapa?" berbagai pertanyaan dilontarkan oleh Aditya.


"Dia bersama dengan Rivaldi.." terang Dina menjelaskan.


Betapa terkejutnya Aditya ketika mendengar nama Rivaldi yang disebut oleh Dina, "Apaa? Kenapa kau tidak cerita kepadaku, Dina? Kenapa, ha?" tanya Aditya dengan nada penuh emosi tingkat tinggi.


"Kalau begitu aku akan menyusulnya ke sana, sekarang juga!" seru Aditya sambil mengepalkan tangannya geram, lalu beranjak dari pergi.


Namun saat ia melangkahkan kakinya pergi, Aldo menghentikan langkahnya.


"Tunggu Dit, aku ikut!" seru Aldo. Dan mendapatkan anggukan oleh Aditya.


"Oh ya, kumohon kepada kalian agar tetap stay di sini, kalian pantau perkembangan mengenai Dera! Biar aku dan Aldo yang menyusul Erlin di desa itu!" perintah Aditya pada Vanya dan Dina.


"Tapi Kak, bagaimana kalau Ibunya Dera mencarimu?"


"Kita bisa menjawabnya Vanya. Apa yang perlu kau khawatirkan?" jawab Dina dengan bertanya.


"Sudahlah Vanya, benar apa kata Dina, kau tenang saja, kalau begitu kami pergi dulu.."


"Baiklah.., hati-hati.. " jawab Dina. Sementara Vanya hanya mendengus pelan tak menjawab ucapan dari Aditya.


...****************...


Sementara di sisi lain Dera sedang mengendarai kendaraan bermotornya untuk bertemu dengan seseorang di RS Cahaya.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam, Dera segera memarkirkan motornya di parkiran motor RS tersebut, dan segera masuk ke dalam RS untuk bertemu dengan seseorang.


"Mbak, boleh tanya. Hari ini dokter Thalia praktek atau tidak ya?" tanya Dera pada seorang resepsionis. 'Ya, Dera sendiri ingin bertemu dengan seorang dokter yang merupakan sahabatnya.'


"Dokter Thalia ada mbak, silahkan masuk saja ke ruangannya yang dekat dengan ruang lab," balas resepsionis itu mempersilahkan Dera untuk masuk ke ruangan dokter Thalia itu.


"Oh ya, terimakasih, Mbak.." ucap Dera berterimakasih. Dan resepsionis itu pun menjawabnya dengan mengangguk. Tanpa menunggu lama Dera melangkahkan kakinya menuju ke ruangan seseorang yang ia cari.


Namun sebelum ia bertemu dengan dokter yang ingin ia temui, ia terpaksa harus mendaftarkan dirinya untuk menjadi pasien sahabatnya itu, karena ia pikir dengan mendaftarkan dirinya ia tidak perlu menunggu pasien sahabatnya itu sampai habis, baru bisa bertemu.


Hingga akhirnya dirinya mendapatkan giliran, dipanggil oleh salah seorang suster untuk masuk ke dalam ruangan sahabatnya, karena sahabat dari Dera sudah mengetahui jika yang menjadi pasien selanjutnya adalah sahabatnya.


Klekkk...


Seketika itu pula orang yang berada di ruangan tersebut mendongakkan kepalanya menatap kehadiran seseorang itu.


"Loh, Dera... kau?" ucap Vitalia kebingungan melihat kedatangan Dera dengan menangis. 'Ya, siapa sangka ternyata yang dimaksud dokter Thalia itu adalah Vitalia Putri Sanjaya yang sedang menyamarkan namanya dengan menggunakan nama lain.'


Bukan itu saja, Dera juga telah mengetahui keberadaan Vitalia karena Vitalia sendiri yang menceritakannya kepada Dera, jika saat ini dirinya sedang bekerja di RS. Cahaya dan belum meninggal.

__ADS_1


Mendengar sahabatnya memanggilnya, sontak saja Dera berlari dengan begitu saja memeluk Vitalia. "Hiks.. hiks.. Vitalia, tolong aku, Vit! Hiks.. hiks.." ucap Dera dengan menangis sesenggukan memeluk Vitalia.


Vitalia yang kebingungan melihat sahabatnya menangis terisak pun membalas pelukan sahabatnya itu. "Astaga Dera kau kenapa? Kenapa kau menangis?" berbagai pertanyaan dilontarkan oleh Vitalia pada Dera.


"Maafkan aku Vitalia, maafkan aku.. hiks.. hiks.., aku bersalah padamu, karena aku tak menceritakan tentangku padamu, Vit. Hiks... hiks.. hiks.." Lagi-lagi Dera menjelaskannya dengan ucapan yang kurang jelas.


Mendengar ucapan dari sahabatnya, Vitalia pun lalu melepaskan pelukannya, dan berkata, "Dera, sekarang kau duduk dulu!" pinta Vitalia pada Dera agar duduk di atas sofa.


"Ehhmm.. Sus, bisakah kau keluar sebentar? Aku ingin berbicara dengan sahabatku sebentar..." sambung Vitalia lagi meminta suster yang bertugas mendampinginya itu untuk pergi dari ruangannya.


"Baik dok..." jawab suster tersebut menuruti perintah dari Thalia yang tidak lain dan tidak bukan adalah Vitalia.


Dengan menghembuskan nafas kasarnya Vitalia membuka suaranya dengan berkata, "Sekarang katakan padaku, ada apa kau menemuiku ke sini?" tanyanya dengan tatapan mengintrogasi sambil melipat kedua tangannya di hadapan Dera.


Dengan menunduk lesu, Dera menjawabnya, "Thalia, maafkan aku Thalia, aku telah menjadi pengkhianat.." ucapnya dengan nada melemah sambil mengusap air matanya.


"Maksudmu?" tanya Vitalia mengernyit bingung dengan apa yang dimaksud oleh Dera.


"Jadi begini ceritanya ... (Dera pun menceritakan dari awal sampai akhir). Hingga Vitalia yang mendengarkan penjelasan dari Dera pun membulatkan matanya sempurna sambil menggelengkan kepalanya tak menyangka jika Dera akan bertindak seperti itu pada kakaknya.


"Whaatt? Dera, apa yang kau lakukan? Kau telah menghancurkan rumah tangga keluarga kecil kakakku, De!" seru Vitalia tersulut emosi.


"Aku tak tau harus bagaimana Vitalia, aku benar-benar bingung. Sedangkan pria brengsek yang menghamiliku dia hilang bak ditelan bumi...


"Tapi kan tidak harus merebut suami Erlin, Dera! Kau tahu kan kau sudah melukai hati Erlin? Ingat Dera, Erlin adalah sahabat kita? Kenapa kau tega, ha? Sekarang katakan siapa yang menghamilimu?


"Bukan begitu Vit, tapi...


"Jawab Dera! Siapa nama orang yang menghamilimu?" tanya Vitalia dengan suara meninggi.


Dera yang nampak ketakutan pun lalu menjawabnya dengan terbata, "Na.. na.. namanya Emon, Vit. Tapi aku sama sekali belum pernah bertemu lagi semenjak kejadian itu, Vit. Hanya saja waktu itu dia memintaku untuk menjaga kandunganku dan memberikan kartu namanya untukku. .."


"Emon? Astaga Dera.., kenapa kau bisa-bisanya tidur dengan pria asing sih?"


"Bukankah tadi sudah ku jelaskan padamu jika pria itu salah kamar..."


"Huhh.. astaga Dera, sekarang dengarkan aku! Lebih baik mengakulah di hadapan kakakku! Kalau kau tidak mengaku, bagaimana nasib mereka? Kau tau bukan jika keputusan yang kau ambil itu salah?" sambungnya lagi dengan nada yang cukup tinggi sambil memijit pelipisnya yang terasa pusing.


"Tapi Vit, kalau aku mengaku di depan publik sama saja aku membuka aibku, tapi di sisi lain aku juga bisa menemukan pria yang sudah meniduri ku, Vit!


"Vitalia, apa kau bisa tidak membantuku?" tanya Dera pada Vitalia.


Siapa sangka Vitalia justru menolak permintaan dari Dera. "Tidak Dee, itu tidak mungkin! Aku tidak bisa membantumu. Kau tau sendiri bukan jika keluargaku menganggapku sudah tiada? Bahkan mereka mengabaikan ku. Tak ada perjuangan sama sekali untuk berusaha menemukanku.., benar-benar seperti anak tak dianggap..."


"Tapi kau tenang saja, anak buahku pasti ada yang mendapat laporan mengenai masalah itu. Aku hanya bisa membantumu dari kejauhan, Dera!"


"Serius Vit?" tanya Dera memastikan.


"Aku serius Dera! Oh ya mengenai pria yang menghamilimu, kau tenang saja aku akan membantumu mencarinya. Namun maafkan aku, De. Jika aku tak bisa membantumu dari jarak dekat." ucap dokter Thalia sambil memeluk erat Dera dengan mendapatkan anggukan dari Dera.


"Terima kasih Vit, hanya kau lah satu-satu orang yang bisa membantuku saat ini..." ujar Dera.


"Iya sama-sama, sudah tenangkan dirimu, jangan menangis lagi! Ya sudah, tunggulah di luar dulu. Aku masih banyak pasien nanti kita bertemu lagi.." balas Vitalia dengan tersenyum ramah.


"Baik Vit..." jawab Dera.


****


Bersambung....


...****************...

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2