Kisah Cinta Ceo Dan Dokter Cantik

Kisah Cinta Ceo Dan Dokter Cantik
Episode 202


__ADS_3

Dera Hamil


Yudha pun lalu berjalan ke arah meja untuk membuka laptopnya. Ia pun pun lalu seberang menancapkan USB nya ke dalam laptop tersebut. Dan Yudha pun lalu memperlihatkan rekaman video tersebut pada seluruh keluarga yang berada di kediaman Wijaya.


"Perhatikan baik-baik..., mungkin bukti ini belum cukup bukti untuk membuktikan kepada Erlin .., tapi yang jelas bukti ini menunjukkan bahwa Levi sedang berjalan membawa dua buah minuman tersebut menuju ke ruang CEO dan anehnya Levi bukannya langsung ke ruang CEO tapi dia justru masuk ke ruangan asisten Dera," terang Yudha menjelaskan.


"Apaaaa?" ucap Aditya dengan nada keterkejutannya.


"Hmm, perhatikan lagi Dit! Lihatlah Dera sudah masuk ke ruangannya, dia menerima minuman tersebut lalu membawanya keluar menuju ke ruanganmu..." ucap Yudha sambil menunjuk ke layar laptop.


"Astagaaa.." sahut Aditya terkejut. Dan akhirnya nampak di rekaman cctv yang sama dengan rekaman yang di putar waktu meeting di perusahaan.


Betapa terkejutnya para orangtua yang melihat Aditya dengan tiba-tiba membopong asisten Dera untuk masuk ke kamar.


"Aditya apa-apaan ini!" ucap seluruh orang tua tersulut emosi melihatnya.


Tuan Sanjaya pun segera menghampiri Aditya lalu menarik kerah kemeja milik Aditya.


Sreettt...


Bukkk...


Tuan Sanjaya melayangkan pukulan bogem mentah tepat mengenai pelipis Aditya.


"Arrrggghhh..." rengek Aditya kesakitan sambil memegangi pelipisnya yang mengeluarkan darah.


Sementara Mama Ita dan Tuan Wijaya yang melihat putranya dihajar pun hanya diam mematung ditempat. Karena bagi mereka Putranya pantas mendapatkan pukulan itu. Meskipun Mama Ita ada rasa iba, namun ia mau tak mau hanya diam karena Tuan Wijaya melarangnya untuk mendekat ke arah Aditya.


"Beraninya kau bermain dengan wanita lain selain istrimu!" bentak Tuan Sanjaya dengan menatap tajam Aditya.


"Papih sangat tak menyangka bisa-bisanya kau mempermainkan perasaan putriku!" sambungnya lagi membentak Aditya.


Bukkk....


Lagi-lagi Tuan Sanjaya yang tersulut emosi pun melayangkan pukulan bogem mentah ke arah Aditya yang sudah terbangun dari lantai.


"Arrrgghhh..." erang Aditya kesakitan. "Papih, ku mohon tenangkan dirimu! Aku bisa menjelaskannya." ucap Aditya berusaha meyakinkan Mertuanya dengan bersimpuh memegangi kaki Tuan Sanjaya.


"Aku tak butuh penjelasanmu!" tandas Tuan Sanjaya membalas perkataan Aditya.

__ADS_1


"Tapi disitu aku benar-benar tidak sadar Pih! Itu semua pengaruh dari minuman itu, Pih ..." ucap Aditya menjelaskan dengan memohon-mohon pada Tuan Sanjaya seperti seorang pengecut.


Sreggghh...


Tuan Wijaya pun lalu membantu Aditya untuk berdiri. Namun siapa sangka jika Tuan Wijaya menyuruhnya berdiri, kemudian melayangkan tamparan keras mengarah ke pipi kiri Aditya.


Plaakkk...


"Dasar anak tak tau diri! Seharusnya kalau kau tidak sadar, jangan jadikan Dera kambing hitam dong Aditya! Itu orang lain, bukan istrimu! Ya, wajar saja kalau istrimu marah sama kamu!" bentak Tuan Wijaya memarahi Putranya.


"Ku mohon kalian tenanglah! Kita bisa selesaikan masalah ini besok, sebaiknya kita beristirahat sekarang..." ucap Yudha berusaha meredam situasi. Ia bahkan merasa iba melihat Aditya yang hancur berantakan.


"Pih .. Mih ... ayo kita pulang ..." sambungnya lagi dengan mengajak kedua orangtuanya untuk pulang.


"Tapi Erlin bagaimana, Nak?" tanya Mama Ita pada Yudha.


"Biarkan dia di sini, lagi pula ada suaminya di sini yang menemaninya .." jawab Yudha santai. Namun tiba-tiba saja Tuan Wijaya membuka suaranya dengan berkata, "Tidak Yudha! Biarkan Erlin tidur sendiri dan kau Aditya, tidurlah di manapun asal jangan tidur dengan Erlin. Mengerti!" tegas Tuan Wijaya pada Aditya.


Sementara Aditya yang baru menyadari jika istrinya berada di rumah pun lalu membuka suaranya dengan berkata, "Apa? Jadi Erlin di sini ..." gumam Aditya pelan masih terdengar oleh semua orang. Tanpa menunggu lama, Aditya pun lalu segera melangkahkan kakinya pergi untuk naik ke lantai atas.


Tapi sayangnya langkah kakinya terhenti seketika karena Tuan Wijaya berteriak menghentikannya.


Namun ucapan sang Papa justru tak digubris oleh Aditya yang justru tetap melangkahkan kakinya pergi ke lantai atas untuk menemui sang istri.


Sesampainya di kamar miliknya, Aditya melihat sang istri tertidur pulas bersama Baby Daffa di atas tempat tidur. Dengan berjalan perlahan Aditya menghampirinya.


Tap... Tap... Tap...


Aditya pun lalu duduk di sebelah sang istri lalu berkata, "Maafkan aku istriku.., aku benar-benar merasa bersalah." ucapnya sambil menyibakkan rambutnya yang terlihat berantakan. Baru saja ia mendekatkan wajahnya untuk mencium sang istri tiba-tiba saja Erlin membuka matanya lebar-lebar melihat sang suami yang kini tepat berada di depan mukanya.


"Mas Aditya!" ucap Erlin terbelalak melihat sang suami.


"Minggir Mas! Kau ngapain pulang ke rumah? Bukankah Mas lebih memilih bermain dengan wanita jal*ng itu?" ucap Erlin sambil berusaha menghindar dari Aditya dengan menuruni ranjang.


"Tapi Er..., ku mohon maafkan Mas...


Bukannya menjawab permintaan maaf dari sang suami, Erlin justru malah berjalan ke arah pintu untuk menyalakan sakelarnya.


Tik...

__ADS_1


Betapa terkejutnya Erlin melihat sang suami yang begitu berantakan. "Ya Allah, Mas Aditya .." gumamnya pelan sambil menutup mulutnya yang menganga, tapi masih terdengar oleh Aditya.


"Kenapa kau melihatku seperti itu? Apakah kau mengkhawatirkan kondisiku saat ini?" tanya Aditya pada sang istri.


Bukannya menjawab pertanyaan dari sang suami, Erlin justru berjalan ke arah nakas untuk mengambil kotak obat.


Dengan cepat Erlin kemudian membuka kotak obat yang ia ambil tadi untuk mengambil kain kasa dan alkohol untuk mengobati luka sang suami.


Tanpa banyak bicara Erlin segera membersihkan luka pada pelipis Aditya yang mengeluarkan darah, lalu membalut luka tersebut dengan menggunakan kain kasa yang sudah ada bantalan alkoholnya.


"Terima kasih istriku..." ucap Aditya.


"Jangan senang dulu Mas, aku seperti ini bukan berarti aku akan memaafkan kesalahanmu! Namun jika kau bisa membuktikan semuanya, aku akan memaafkan kesalahanmu ..." ucap Erlin dingin lalu beranjak dari sofa menuju ke atas ranjang.


Saat Erlin akan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, tiba-tiba saja ponselnya yang berada di atas nakas berbunyi.


Dreettt... Dreettt...


Erlin kemudian segera mengangkat telepon tersebut.


"Halo..., dengan siapa ini? Mengapa meneleponku malam-malam?


"Jangan berbasa-basi dokter Erlin! Kau tau tidak suamimu itu sudah keterlaluan... hiks... hiks...


"Maksud Ibu apa? Ini siapa?" tanya Erlin bingung.


"Jangan berlagak bodoh kau Erlin! Ini aku Ibunya Dera.. hiks.. hiks... Dera hamil dan tentunya siapa lagi kalau bukan suamimu yang menghamili putriku! Hiks... hiks..." seru Ibu Nia sambil menangis sesenggukan.


Duaarrr...


Bagai disambar petir di siang hari. Erlin membelalakkan matanya terkejut setelah mendengar penuturan dari seseorang yang mengaku sebagai Ibu dari Dera. Bahkan ia sampai terdiam mematung sambil mengeluarkan air matanya yang tiba-tiba jatuh membasahi pipi.


**


Bersambung....


...****************...


...----------------...

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan vote, like, komen dan favorite ya... biar author lebih semangat lagi.., kalau perlu kasih bintang 5 lah ya 🤭😆🥰🥰🙏🙏


__ADS_2