
Sampai di rumah makan, kami turun bersama menuju ke dalam rumah makan tersebut.
"Mau makan apa Rin?" tanya Mas Arif pelan
kulihat menu-menu dari rumah makan tersebut.
"Kakap bakar Mas" kataku.
"Minumnya?" tanya Mas Arif lagi.
"Es teh saja Mas" jawabku
Aku lihat Mas Arif menulis pesanan di kertas dan memberikan kepada pelayan.
Sambil menunggu pesanan datang aku telp ke rumah aku kabari kalau pulang terlambat dan kupastikan Vano baik-baik saja di rumah.
Diam-diam kuperhatikan Mas Arif selalu memandangku, ingatan masa SMA menari-nari di kepalaku, andai tidak terjadi waktu itu, mungkin hari ini adalah hari yang bahagia untukku bertemu lagi dengan cintaku yang lama terpisah dengan status yang sama, tidak seperti sekarang ini.
"Melamun saja" Mas Arif memegang tanganku sangat mengagetkanku, segera aku lepas tanganku, hadew jantungku rasanya mau copot saja.
"Gak apa-apa Mas, cuma kepikiran Vano saja" jawabku sekenanya saja.
"Rin... suamimu dimana?" tanya Mas Arif.
Sebelum aku menjawab pelayan datang membawa makanan yang kami pesan, segera kami menikmati makanan tersebut dengan pikiran masing-masing, sejak pertemuan kemarin hubungan kita masi kaku, tidak seperti dulu, entahlah ke depan seperti apa, masih banyak perjalanan hidupnya yang tak kuketahui juga perjalanan hidupku yang tidak dia ketahui saat ini.
Setelah selesai makan kubuka dompet rencana untuk membayar makanan tadi tapi dicegah oleh Mas Arif.
"Aku yang bayar Rin" katanya sambil menuju kasir aku menunggunya di dekat mobilnya kulihat dari jauh dia membawa beberapa kotak makanan.
"Untuk siapa Mas?" tanyaku.
"Untuk orang tuamu juga anakmu Rin" katanya.
"Untuk suamiku gak ada ya?" godaku, dalam hati suami apa? hahaha, aku lihat raut wajahnya berubah bagaimana gitu seperti ada kecewa aku tanya begitu.
"Dari kemarin aku tidak melihat suamimu ada di rumahmu" jawabnya.
Perjalanan Pulang.
"Rin... kemana suamimu?" tanyanya.
"Dari tadi aku tanya sepertinya kamu selalu mengelak untuk tidak menjawab" lanjut tanyanya padaku
"Ceritanya panjang Mas..." jawabku menghela nafas panjang, berat sekali rasanya bercerita tapi gak mungkin aku menutupinya, akhirnya aku bercerita semua kejadian demi kejadian tak terasa air mataku menetes di pipi, Mas Arif mengulurkan tissue ke arahku dan aku menerimanya kemudian mengusap air mataku dengan tissue tersebut.
"Terima kasih Mas, begitulah Mas ceritanya, berat sebenarnya aku bercerita tapi ya.. sudah.. sudah aku ceritakan, sudah jalan hidupku begini harus bagaimana lagi, aku harus bangkit lagi" kataku sambil tersenyum menatap Mas Arif.
Mas Arif diam tanpa bertanya mendengar ceritaku, entahlah apa yang ada dalam pikiranya.
Sampailah kami di rumah orang tuaku, segera kucari Vano rasanya kuangen sekali sama Vano, ya... yang kucari tidur pulas, sudahlah, akhirnya aku kembali ke ruang tamu menemui Mas Arif.
__ADS_1
"Terima kasih oleh-olehnya Rif" kata Ibu sambil meninggalkan kami berdua.
"Rin, aku minta nomer hp mu, boleh?" katanya.
Aku mengucap beberapa angka dari nomer hpku, dan Mas Arif menulis di hp nya.
"Sudah aku wa Rin" katanya.
"Oh iya..Vano mana?" lanjutnya.
"Vano tidur Mas" kataku.
"Aku pulang dulu ya, besok ke sini lagi, boleh kan? Ibu sama Bapak mana aku mau pamit" kata mas Arif
Segera aku masuk ke dalam rumah untuk mencari orang tuaku.
"Buk, Mas Arif mau pulang" kataku setelah bertemu Ibu, segera ibu berjalan ke depan.
"Saya pulang dulu Bu, assalamualaikum" kata Mas Arif sambil berjalan menuju mobilnya.
Mobil Mas Arif meninggalkan rumah orang tuaku, tapi kenapa hatiku ada yang hilang, kenapa perasaan ini tak ingin jauh darinya, buang sajalah perasaan ini, pikirku.
Aku kembali ke dalam rumah kulihat Vano masih tidur akhirnya kutinggal mandi dulu.
Di dalam kamar.
Kuambil hp dari dalam tas ku, ada pesan dari nomer tak aku kenal, ternyata Mas Arif.
"Aku yang harusnya terima kasih sama Mas" balasku
Tak lama kemudian hp berbunyi lagi.
"Rin.... aku masih mencintaimu seperti dulu, masih adakah kesempatan untukku mengulang masa itu?" tulisnya.
"Mas... terimakasih atas cintamu, maaf... aku tidak seperti dulu lagi, aku tidak bisa, aku tidak mau mas kecewa" balasku.
"Rin... jangan bicara seperti itu, aku tidak melihatmu jelek, aku tetap menghargaimu, tolong berilah aku kesempatan untuk kembali bersamamu, mengenal Vano, menyayanginya" balasnya.
"Mas...aku minder denganmu dengan kondisiku seperti ini" balasku.
"Aku menerima semua keadaanmu, tolong ijinkan aku untuk bersamamu lagi" balasnya.
"Mas... biarlah waktu yang bicara, aku tak tau lagi harus bagaimana, aku takut terluka lagi, aku takut kamu tinggalkan tanpa jejak lagi, aku takut Mas" balasku.
"Ijinkan aku untuk membuktikanya" balasnya.
"Maaf Mas dilanjut nanti ya, Vano terbangun" balasku.
"Anak bunda sudah bangun ya...? sini bunda peluk cium" kataku.
"Wah sudah tidak panas lagi? lusa sekolah lagi ya?" tanyaku.
__ADS_1
Vano masih bermalasan di tempat tidur, kupeluk kucium pipinya.
Malam semakin larut tapi aku belum bisa tidur, pikiranku ke Mas Arif ke masa indah dulu, masa-masa SMA.
Ya Allah...aku bingung harus bagaimana?
kupejam-pejamkan mataku tidak juga bisa tertidur, kulihat disampingku Vano pulas sekali tidurnya, kucium kupeluk Vano berharap bisa tidur juga, waktu menunjukkan pukul 12 malam.
****
Keesokan harinya.
"Bunda bangun... ayo sekolah?" Vano mengguncang-guncang tubuhku menciumku untuk membangunkanku tapi mataku berat sekali untuk kubuka.
"Masih ngantuk Bunda" jawabku.
"Sekarang hari sabtu Vano, Bunda libur kerja, ayo tidur lagi" sambil kupeluk dan kucium Vano dan aku tertidur lagi.
Beberapa menit kemudian.
"Rin... sudah siang" kata ibuku dari dapur.
"Iya, masih ngantuk" jawabku.
Terdengar suara Vano bermain sendiri, kutarik selimut dan tidur lagi.
Tak lama kemudian Ibu datang ke kamarku.
"Rin, Arif di depan" langsung aku bangun kaget
"Apa Bu?" kataku.
"Itu Arif di depan sudah lama lagi main-main sama anakmu" kata Ibu.
Aku beranjak dari tempat tidur kuintip ternyata Mas Arif dan Vano lagi asyik di ruang tamu, melihat mereka pikiranku semakin tak menentu, banyak hal yang berkecamuk dalam hatiku.
Mengambil handuk dan menuju kamar mandi setelah itu berganti baju dan kutemui mas Arif dan Vano yang asyik bermain di ruang tamu.
"Sudah lama ya? maaf menunggu" kataku
mas Arif memandangiku.
"Kamu cantik Rin" pujinya.
"Mas... sejak kapan pinter gombal begini? seingatku dulu tidak begini deh" jawabku.
Mas Arif tersenyum
"Gak ada acara Rin libur ini?" tanya Mas Arif.
"Enggak ada Mas, aku kalau liburan senang di rumah saja, malas ke mana-mana ingin istirahat saja" ungkapku.
__ADS_1
"Vano mau jalan-jalan sama Om?" tanya Mas Arif ke Vano, terlihat Vano memandangku.