Lika-Liku Single Parent

Lika-Liku Single Parent
Berdamai Dengan Masa Lalu


__ADS_3

Setelah membersihkan rumah dan sudah rapi, aku duduk di depan rumah membaca buku dari koleksi perpustakaan keluarga mas Arif.


Sekarang aku sudah menjadi seorang istri lagi, tapi kenapa... aku tidak bisa lepas dari kejadian itu batinku.


Mas Arif maafkan Rinda batinku, tak lama kemudian terdengar pintu pagar di buka, mungkin Mas Arif.


"Bunda..... " teriak Vano.


"Dari mana saja, sampai jam segini baru pulang?" tanyaku.


"Ini" katanya sambil menunjukkan mainan di tanganya.


"Vano sudah makan?" tanyaku.


"Sudah" jawabnya.


"Mas..." sapaku, menyalami Mas Arif.


Mencium tanganya dan pipinya.


"Mas dari mana?" tanyaku.


"Beli makan, mainan Vano sama baju untukmu dan Vano" jawabnya.


"Ini Rin" katanya sambil memberi bungkusan berisi makanan, segera aku pindah ke wadah-wadah, kemudian memanaskan air untuk mandi Vano.


"Vano mandi ayo... " kataku dan kulepaskan baju Vano, kuangkat air hangat dan kutaruh di bak mandi , Vano masuk ke bak mandi bermain air di kamar mandi, aku tinggalkan Vano di kamar mandi kemudian masuk ke kamar Mas Arif.


"Mas..." kataku dan memeluk suamiku dari belakang, kusandarkan kepalaku di punggungya, dia berbalik arah, memelukku, menciummu.


"Ada apa sayang" katanya


aku menjijit membisikkan di telinganya.


"Makasih Mas... i love you" kataku.


"Maafkan aku ya Mas..."kataku lagi


Mas Arif diam kemudian mencium bibirku memelukku.


"Nanti malam kita coba lagi sayang" bisiknya.


"Bentar Mas, Vano aku gantikan baju dulu ya" kataku, kemudian ke kamar mandi.


Membungkus tubuh Vano dengan handuk menggendongnya ke kamar dan mengganti baju.


Di ruang keluarga kami bertiga sedang menemani Vano bermain, ya Allah... terima kasih atas semua kebahagiaan yang Engkau berikan, tak berapa lama Vano mulai mengantuk dan tertidur di karpet bersama dengan mainanya.


"Mas Tante kemana?" tanyaku.


"Kok masih panggil Tante?" tanya Mas Arif.


"He he he, iya Ibu kemana?" kataku.


"Belum ngasih kabar Rin, mungkin client nya banyak" jawabnya.


"Mas telpon Ibu mas, Rinda khawatir ada apa-apa dengan tante, eh ibu hehehe" kataku dan tertawa karena salah sebut panggilan


"Vano dipindah ke kamar ya?" tanya Mas Arif

__ADS_1


Kemudian menggendong Vano masuk ke kamar, tak lama kemudian mas Arif kembali ke ruang keluarga


"Rin... " panggilnya.


"Apa suamiku" kata ku manja menyandarkan kepalaku di pundaknya.


"Pingin" bisiknya.


Aku tersenyum menghadap suamiku kupandangi dan aku mencium bibirnya, tiba-tiba terdengar suara pintu pagar dibuka, sepertinya Ibu yang datang, segera kami melepas ciuman dan pura-pura melihat tv.


Ibu masuk ke dalam.


"Vano mana?" katanya


"Sudah tidur, Ibu kok jam segini baru pulang?" tanya mas Arif.


"Rif... kamu, lihat berita pemerkosaan yang lagi rame?" tanya Ibu.


"Iya kenapa?" tanya Mas Arif.


Aku menggenggam tangan Mas Arif lebih keras, mungkin perempuan itu seperti aku dulu, batinku.


"Tadi mau bunuh diri mau menabrakkan diri ke kereta api, untung ada warga yang menyelamatkan, sekarang di rumah sakit dikasih obat penenang" cerita Ibu.


"Aku ke atas dulu ya... " kata Ibu dan melangkah ke tangga atas.


"Rin... ada apa?" tanyaku.


"Sudah ya, jangan takut lagi, ada aku disampingmu menjagamu, belajarlah berdamai dengan masa lalu walaupun menyakitkan" ujar Mas Arif.


"Ayo makan!" ajak mas Arif dan berdiri menuju meja makan, aku mengikutinya dari belakang, kuambil piring dan kuambilkan nasi untuk suamiku.


"Mau makan bareng sama suamiku" kataku tersenyum mengambil sendok dan mengambil makan dari piring mas Arif, mas Arif tersenyum melihatku


"Sepiring berdua ini ceritanya?" kata Mas Arif, aku menganggukkan kepalaku dan tersenyum.


Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam, mas Arif membopongku masuk ke kamar kulingkarkan tanganku ke leher suamiku, direbahkan tubuhku di atas pembaringan, diciumnya bibirku, aku menikmatinya.


"Sayang... i love you" kata mas Arif begitu menenangkan jiwaku.


Sentuhan demi sentuhanya berusaha aku menikmati melepas semua ketakutanku, aku harus bisa mengalahkan traumaku, ini suamiku, aku mencintainya bukan membencinya, bayangan itu terus berada di ingatanaku aku berusaha menghilagkanya tapi muncul kembali, aku harus bisa, harus bisa, air mataku mengalir di pipiku, aku harus bisa.


"Rinda... masih belum siap?" tanya Mas Arif dan aku membuka mataku


"Lanjutkanlah mas.." kataku pelan tapi


bayangan itu terus menghantuiku


"Jangan... jangan.. " kataku.


"Rin... buka matamu Rin..." kata Mas Arif, aku memeluknya menangis dalam dekapanya.


"Mas... maafkan aku, aku terus berusaha mengalahkan trauma ini, aku belum bisa" kataku.


"Rin... aku sabar menunggu, kamu sedikit demi sedikit bisa mengalahkan traumamu, pasti itu" katanya.


"Ayo tidur sayang, sini aku peluk istriku bidadariku" kata Mas Arif dan memelukku mesra.


"Besok kamu kerja?" tanya mas Arif.

__ADS_1


"Iya Mas, tapi aku Mas antar ya?" pintaku.


"Kamu bener-bener sudah siap berangkat bekerja?" tanyanya.


"Insyaallah Mas" jawabku tersenyum masuk ke dalam pelukan suamiku dan tertidur.


******


Pagi hari seperti biasa setelah sholat subuh, aku membantu ibunya mas Arif memasak kemudian menyiapkan bekal Vano.


"Rinda... kamu bener-bener sudah siap bekerja?" tanya Ibu.


"Iya bu, Rinda siap, kalau Rinda di rumah malah sedih lagi" kataku..


"Kamu harus kuat Rin, kamu harus bisa mengalahkan rasa takutmu" kata Ibu menyemangatiku.


"Iya Bu Insyaallah" kataku.


Aku menuju kamar, melihat mas Arif masih bermalas-malasan, Vano sudah sarapan sudah rapi.


"Mas... kok masih bermalas-malasan, gak jadi antar aku kerja juga Vano sekolah?" tanyaku.


"Iya ini nunggu kamu selesai"katanya.


"Gak mandi?" tanyaku, dia menggelengkan kepala, memelukku


"Bau Mas, mandi sana loh" kataku.


"Kamu mandikan ya?" katanya.


"Jadi bayi lagi ya" kataku sambil memakai jilbab.


"Ayolah Mas mandi sudah jam tujuh lebih ini loh" kataku, tapi tidak menjawab malah mendekapku dari belakang.


"Rin... jangan kerja ya? temani aku di rumah" katanya.


"Mas... apa aku ambil cuti?" kataku.


"Iya gak apa-apa Rin" kata suamiku.


"Terus aku bilang bagaimana Mas, surat nikah kita belum turun" kataku.


"Ini kamu bawa, nanti aku hubungi kamu, mau kirim syukuran ke kantormu" kata Mas Arif sambil memberikan


kertas dari Kantor Agama kemarin.


"Ayo... Mas antar aku" kataku.


"Iya... ayo berangkat" kata Mas Arif.


"Gak mandi gini?" tanyaku.


"He he he nanti saja mandinya, biar baumu masih nempel di tubuhku" katanya cengengesan


Keluar rumah menuju mobil dan berangkatlah kami ke kantor, setelah Mas Arif mengantar Vano sekolah kemudian mengantarkanku kerja, aku turun di parkiran mobil.


"Rin.." kata mas Arif belum aku menjawab dia sudah menciumku


"Jangan lama-lama kerjanya, aku kangen" katanya, aku tersenyum melihat kelakuan suamiku, kucium punggung tanganya, membuka mobil dan menuju kantor, aku balikkan tubuhku menghadap mobil mas Arif dan kulambaikan tanganku ke mas Arif, i love you my hubby batinku.

__ADS_1


__ADS_2