
Di rumah orang tuanya Rinda
"Pak .. Vano sama Rinda kok gak pulang?" tanya ibu
"Biarkanlah bu, kemarin Vano bilang tidak mau pulang, mungkin Vano rindu sosok ayah, sedangkan Arif bisa masuk menjadi figur ayah untuk Vano, yakinlah... Rinda bisa menjaga dirinya, kita berdoa saja bu" kata bapak
*****
Di sebuah rumah di Jogja, terlihat ibu dan anak sedang mengobrol
"Vera...kamu harus bisa menerima ini" kata ibu
"Bu... andai Vera tidak mengambil kuliah lagi mungkin tidak terjadi" kata Vera
"Jangan begitu Ver, semua itu sudah takdir, kamu paham? bagaimanapun kamu mempertahankan anak dalam kandunganmu tapi jika Allah tidak menghendaki anak itu sampai lahir, ya... akhirnya Allah mengambil lagi, dan... jika Allah menghendaki anak itu lahir, seperti apa orang tuanya berusaha menggugurkannya, anak itu tetap lahir Ver, kamu harus meyakinkan semua sudah diatur Allah, nasehat ibu
"Mas Arif kapan bu menikah?" tanyaku
"Kemarin wa ibu suratnya besok dikirim ke rumah dari merauke, Arif maunya segera menikah Ver" kata ibu
"Ibu sudah kenal calon mas Arif?" tanyaku
"Kamu ingat ada teman perempuan Arif waktu masih sekolah dulu, yang sering main ke rumah?" tanya ibu
"Bentar bu... Vera ingat-ingat, apa yang ibu maksud mbak Rinda?" tanyaku lagi
"Iya betul Ver, itu calon Arif" kata ibu
"Jodoh ya bu, masih juga dipertemukan setelah sekian lama dipisahkan keadaan ya" kataku
******
Di sebuah rumah di kota kecil di ruang keluarga masih terdengar canda tawa penghuni rumah itu
"Bunda teman Vano sudah khitan, Vano minta khitan besok ya?" kata Vano
"Vano... nanti saja kalau sudah naik kelas 1 SD tinggal sebentar lagi saja" kataku
"Rin... gak apa-apa kalau mau khitan besok, selagi dia mau, nanti kalau berubah pikiran kamu yang bingung sendiri membujuknya, aku dulu saja khitan gak berani hehehe, ibu sama bapak membujukku naik kereta api hahaha" kata mas Arif dan tertawa
"Besok ya bunda?" kata Vano
"Ya...bunda harus memberitahu mbah uti mbah kung, nenek, ayo Vano tidur sudah jam delapan lebih ini" kataku
__ADS_1
"Vano gak ngantuk? kataku lagi
"Vano mau tidur di kamar ayah" katanya sambil berjalan ke kamar mas Arif
"Ayo bunda, ayah, temani Vano" katanya
Aku mencubit lengan mas Arif dan dia meringis
"Sudah puas ya, berhasil niatmu untuk tidur bertiga" bisikku dan berjalan menuju kamar mas Arif.
Vano sudah naik ke kamar sambil minum susu kotak dan memberikan bungkusnya ke aku
"Vano ini ayah sama bunda sudah di sini, Vano tidur ya sayang" kataku sambil memeluknya mengusap rambutnya tak lama kemudian tertidur, mas Arif di belakangku sibuk dengan hp nya, melihat aku memperhatikanya dia menaruh hpnya di meja
"Aku kapan kamu tidurkan kayak Vano?" katanya
"Jadi bayi lagi saja" kataku
"Rin..." kata mas Arif kemudian mendekatiku memelukku
"Minggu depan nikah ya?" tanya mas Arif
"Iya kalau suratmu sudah selesai semuanya" jawabku
"Rin... kamu gak kepingin itu, jujur jawabnya" tanya mas Arif tersenyum
"Mas... aku ini kan sudah pernah melakukan, kalau kepingin itu ya kepingin mas, tapi ya kembali lagi kalau belum halal ya jangan" kataku
"Mas... jujur ya, aku tidak marah, mas pernah melakukanya dengan perempuan lain?" tanyaku
"Rinda... maaf... " katanya dan memelukku lagi
"Aku sudah pernah melakukan dengan perempuan lain, itu dulu sebelum aku bertemu denganmu lagi" katanya
"Rin... kamu marah?" tanyanya, aku menggelengkan kepala dan masuk ke dalam pelukanya
"Maaf Rin, aku salah, aku sudah lama tidak pernah melakukannya pada perempuan manapun, aku janji, ketika aku jadi suamimu, hanya kamu yang aku inginkan, walaupun jauh aku berusaha menahanya Rin" kataku
"Kamu mau tau.. aku setahun tidak melakukan nya, berat Rin, sebagai laki-laki normal" katanya
"Mas juga begitu sama Risa?" tanyaku
"Enggak Rin, aku kenal Risa tidak lama, memang dia cantik, tapi bukan perempuan yang aku cari untuk aku jadikan istri" katanya
__ADS_1
"Apa mas pernah punya anak dengan perempuan lain?" tanyaku
"Tidak ada Rin" katanya
"Rin... apa kamu siap mendengarkan, menerima semua masa laluku kalau aku ceritakan ke kamu?" tanyanya
"Sepuluh tahun terlalu banyak kisah sedih juga susah Rin" katanya kembali
"Mas... bila memang berat untuk bercerita, biarlah itu menjadi kenanganmu, yang terpenting sekarang mas tidak sedang berhubungan dengan masa lalu mas" kataku
"Sudah tidak ada Rin, sekarang aku hanya ingin hidup damai bersamamu, semua masa laluku sudah aku tutup semua tak ingin aku menolehnya kembali" katanya
"Mas... apa yang membuatmu pulang ke Jawa ini?" tanyaku
"Aku pulang ke Jawa baru tiga kali cuti ini, aku ingin bertemu denganmu meminta maaf padamu, karena meninggalkanmu tanpa kata putus, tanpa kabar, aku merasa bersalah Rin" katanya
"Aku juga pernah ke pantai yang kemarin kita ke sana, duduk sendiri di batu itu, kamu juga tidak ada jejak sama sekali" lanjutnya
"Setelah menemukanku, apa yang kamu rasakan?" tanyaku
"Waktu bertemu di atm itu, aku senang sekali Rin bisa bertemu denganmu, padahal waktu itu aku mau ke rumahmu sebenarnya" katanya
Kulihat jam dinding menunjukkan pukul 10:15 menit, Vano tertidur lelap di sebelah kiri, mas Arif di sebelah kananku, aku duduk akan pindah di sebelah kirinya Vano, belum beranjak mas Arif sudah memelukku dari belakang, mencium leherku dan merebahkanku kembali ke tempat tidur, kembali dia mencium bibirku
"Rin... bibir ini perkata kali aku yang menciumnya" katanya
Aku tersenyum mengingat waktu itu.
"Juga ini pertama kalinya untukku" sambil menyentuh bibir mas Arif dengan telunjuk jariku, kembali kami berciuman menikmati setiap rasa, entahlah aku tak ingin waktu segera berlalu
"Mas... " kataku manja
"Pingin lebih?" tanyanya, aku diam saja
"Mas... jangan" rengekku
"Rin... aku pingin sekali" katanya
"Gak bisa mas" kataku
"Kamu belum selesai?" tanyanya aku mengangguk pelan, dia menghela nafas panjang turun dari tempat tidur,
"kamu tidurlah Rin" katanya kemudian keluar kamar, memang benar kata mas Arif untuk segera menikah, lama-lama juga tidak bisa menahanya kalau setiap hari begini kataku dalam hati.
__ADS_1
Melihat ibu anak tidur dengan pulasnya di depanku, hatiku terasa damai sekali, akhirnya kurebahkan tubuhku disamping Rinda, tak ingin aku mengganggunya tapi kenapa aku tidak bisa tidur, Rinda kenapa kamu menggoda sekali, pusing Rin, hadew kapan suratnya sampai, adikku sudah tidak tahan lagi kupeluk Rinda dari belakang dan akhirnya aku mulai merasa kantuk, kenapa aku beberapa hari susah tidur baru bisa tidur jika sudah memeluknya seperti ini