Lika-Liku Single Parent

Lika-Liku Single Parent
Bandara


__ADS_3

Di depan rumah melihat bulan purnama cahayanya terang, kami ngobrol mengingat masa lalu, tawa canda kami membuat lupa waktu, waktu bersamanya serasa sebentar sekali, padahal seminggu ini kami selalu bertemu.


"Rinda..." katanya


"Kenapa" jawabku pelan sambil memandang wajah mas Arif, kelihatan dewasa mas Arif sekarang, mas Arif mendekatiku memelukku kembali seakan tidak mau pergi meninggalkanku disini,


"Rin sudah jam 9 malam, ayo masuk ke dalam saja" pinta mas Arif aku mengikutinya


"Oh iya lupa, aku tadi beli sesuatu untukmu" katanya.


Mas Arif masuk ke dalam kamarnya, tak lama kemudian kembali lagi, duduk di sebelahku di sofa ruang keluarga memberikan sesuatu untukku


"Kamu buka Rin" katanya


"He... baju? loh ada untuk Vano juga?makasih ya mas" kataku


"Kamu pakai untuk besok sama nanti untuk tidur, gak bawa baju ganti kan kamu?" kata mas Arif


"Mas Arif tau saja" kataku tersenyum memandangnya, entahlah siapa yang memulai duluan, bibir kami bertemu menikmati semua rasa lagi dan lagi,


"Rin, bagaimana caraku kalau aku merindukan bibirmu ini?" tanyanya


"Rin.. aku mulai ketagihan dengan bibirmu" katanya lagi,


Aku diam tak tau harus berkata apalagi, dalam otakku hanya menikmati semua rasa ini.


"Mas... sudah malam ayo istirahat" pintaku


"Rin... aku masih ingin bersamamu" jawabnya kembali memelukku lebih dalam serasa enggan untuk dilepaskan


"Mas... aku menunggumu selalu di kota ini" kataku


"Aku istirahat dulu ya mas?" lanjutku, mas Arif melepaskan pelukanya


"Tidurlah bidadariku sayang" katanya


Menuju kamar tamu menutup pintu, berganti baju yang dibelikan mas Arif menyalakan ac kemudian merebahkan tubuh ini dan kuselimuti tubuhku juga tubuh Vano, menghadap Vano yang tertidur pulas, kuciumi Vano dan kupeluk Vano, akhirnya aku tertidur dengan memeluk Vano

__ADS_1


Malam menjelang pagi, membuka pintu kamar, sosok laki-laki itu mendekati Rinda mencium pipi keningnya membelai rambutnya menatapnya lama dan bergumam "Rinda... aku mencintaimu" dan kembali mencium Rinda, mencium bibirnya, Rinda mulai merasa ada yang aneh membuka matanya, kaget


"Mas Arif..." katanya


"Rin... aku masih kangen" katanya


"Mas kembali ke kamarmu ya sudah malam" pintaku


"Tidurlah Rin, aku hanya ingin disini melihatmu terlelap tidur" katanya


"Mas... besok mas perjalanan jauh, mas istirahatlah" kataku lagi


Mas Arif meninggalkan kamar tamu, aku melanjutkan tidurku


Pagi ini udara begitu sejuk, langit cerah tapi tak seperti hatiku yang mendung, hari ini mas Arif kembali ke Papua.


Di rumah mas Arif, terlihat tante Linda sibuk di dapur aku membantu tante Linda, mas Arif dan Vano sedang bermain di depan rumah, ah... keluarga yang kudambakan.


Setelah selesai memasak, aku menyiapkan menu makanan untuk sarapan, jam 8 harus berangkat ke Bandara


"Vano ayo mandi" kataku


"Rinda ayo sarapan" panggil tante Linda


"Iya tan, sebentar lagi" jawabku dari kamar


Melangkah keluar kamar menuju ruang makan, disana mas Arif dan tante Linda menunggu, kami segera sarapan bersama, Vano kusuapi biar cepat selesai makanya, setelah selesai makan mencuci piring dan merapikan meja makan kami bersiap berangkat ke Bandara, mas Arif memasukkan kopernya di bagasi, tante Linda sudah berpakaian rapi, kami siap berangkat ke Bandara, kulihat wajah mas Arif murung.


Mas Arif yang menyupiri mobil, aku, Vano dan tante Linda duduk di kursi tengah mobil keluar dari area perumahan menuju bandara Juanda Surabaya.


Di dalam perjalan Vano pasti antusias melihat berbagai macam kendaraan dan bertanya itu apa itu apa untuk apa, rasa ingin taunya tinggi, aku dan tante Linda bergantian menjawab pertanyaan Vano, mas Arif tetap diam dan terlihat murung, mobil memasuki tol melaju terus sampai ke Bandara Juanda, waktu menunjukkan pukul 8:45 menit


Di Bandara, mas Arif masih tetap diam saja melangkah menarik kopernya, aku dan tante Linda mengikuti dari belakang, Vano aku gendong


"Rif...Arif.. " panggil tante Linda ke mas Arif


"Ada apa bu? sebentar tak kesana boarding pass dulu" katanya, setelah boarding pas mas Arif menghampiri kami

__ADS_1


"Rinda... Vano sama aku dulu ya tak ajak ke sana lihat reog disana, nanti susul kesana ya?" kata tante Linda sambil menuntun Vano menuju Reog Ponorogo ciri khas Jawa Timur yang dipajang di Juanda


"Mas... ada apa kok murung terus?" tanyaku


"Rin... aku berat kembali ke Papua, berat meninggalkanmu" katanya


"Mas... aku disini menunggumu, berangkatlah" kataku meyakinkanya


"Tiga bulan lagi aku menunggumu disini mas" kataku lagi


"Rin... I love you" katanya sambil memelukku lebih dalam


"I love you too mas" bisikku


"Berangkatlah... mas" kataku lagi, dia menganggukkan kepalanya dan berjalan menemui ibunya tapi tante Linda dan Vano sudah menuju kesini, mas Arif dan tante Linda berpelukan, tak lupa Vanopun di gendong dan diciumnya, hatiku rasanya terenyuh ingin menangis tapi takut mas Arif semakin berat berangkat kerja, aku tahan agar air mata ini tidak jatuh, kami bersalaman dan melihat mas Arif melangkah masuk ke dalam, kulihat mas Arif dari kejauhan bersama dengan penumpang lainya, pengeras suara mengingatkan kepada penumpang untuk menuju ruang tunggu, kami kembali menuju mobil.


Di dalam mobil, Vano masih tetap bermain seakan tidak terjadi apa-apa, aku duduk di depan, tante Linda mulai mengemudi keluar dari Bandara, tapi kenapa hati ini seakan tertinggal disana, akhirnya air mata ini jatuh juga


"Rin... menangislah di sini, bila itu membuatmu lega" kata tante Linda


aku diam tapi terus terisak


"Jangan bilang mas Arif ya tan kalau aku nangis, takut mas Arif tidak tenang kerja disana" kataku


"Iya Rin, jangan khawatir, Arif disana baik-baik saja, tante tau bagaimana perasaan kalian saat ini" katanya


Mobil masuk ke jalan tol, tante Linda begitu lincah mengemudikan mobil, sampailah kami di kota kecil tempat kami tinggal


"Rin rumahmu ini masih lurus?" tanya tante Linda


"Oh iya tan, nanti ada lampu merah belok kanan, gak jauh dari situ" jelasku, kulihat Vano tertidur sambil memegang mobil mainan yang dibelikan mas Arif kapan hari


"Jauh juga rumahmu dengan tempat kerjamu" tanya tante Linda


"Tinggal di rumah tante saja ya?" lanjutnya


"Enggak tante, enggak enak, sebenarnya bapak punya rumah di sekitaran kota, gak nyaman aku nempati karena statusku ini, jadi khawatir pandangan negatif orang" jelasku

__ADS_1


"Kalau begitu kamu di rumah tante saja, lagian tante sendiri di rumah gak ada teman ngobrol kalau malam" katanya sambil mengemudi


"Nanti tante diskusi saja sama kedua orang tuamu Rin, kasihan Vano tiap hari naik sepeda motor begini" lanjutnya


__ADS_2