
Dua minggu kemudian, di tempat kerja Arif, sedang ada pertemuan yang membahas tentang cuti karyawan, yang memutuskan bahwa karyawan yang mendapatkan cuti tambahan karena ada kerusuhan untuk mengganti dengan bekerja selama cuti didapatkan.
Pagi hari Arif menyesap rokok duduk di teras mesnya, Deni yang melihat sahabatnya sendirian kemudian menghampirinya.
“Ada masalah apa Rif? Aku tau kalau kamu merokok itu pasti ada masalah,” tanya Deni.
“Aku memikirkan Rinda di sana Den, lima minggu ke depan aku baru bisa pulang, seharusnya dua minggu lagi aku sudah bisa bertemu istriku,” jawab Arif dengan suara pelan dengan rokok yang ada di tangannya.
“Sabar saja Rif,” hibur Deni.
“Rinda sekarang sedang hamil dua bulan setengah Den, aku takut terjadi seperti dulu lagi.” Kekhawatiran Arif terlalu dalam kepada Rinda.
“Banyak berdoa saja Rif,” kata Deni.
“Kamu kan sering telpon Rinda, terus kondisinya bagaimana disana?” tanya Deni.
“Bilangnya sih baik-baik saja, dua minggu lagi dia periksa lagi ke dokter, Ibuku masih di Jogja menunggui Vera adikku yang juga hamil, malah kehamilan Vera ini yang bermasalah.” Mulai Arif bercerita.
“Sekarang istrimu dengan siapa di rumah?” tanya Deni.
“Sama Ibu mertuaku, sedangkan Bapak mertua di rumahnya sendiri, begini ini Den, aku sebagai lelaki bisa mencukupi keuangan keluarga tapi tidak bisa berada di sisi keluarga saat mereka membutuhkanku, aku tau Rinda bukan perempuan materialistic seperti perempuan-perempuan yang aku kenal dulu.” Cerita Arif.
“Dari pada kamu suntuk di sini ayo kita jalan-jalan, kan hari libur ini, ayo ke Timika,” ajak Deni.
“Aku juga ikut.” Sahun Yusuf.
“Ayo kita bersiap kesana,” kata Deni.
Tiga lelaki tersebut masuk ke mes masing-masing menuju ke Timika, kami meminjam kendaraan dari kantor menuju ke Timika.
Sampai di sana, kami jalan-jalan di sekitaran kota Timika, kalau bisa di bilang perkembangan di sini dengan kota asalku di Jawa lebih bagus di sini, banyak lalu lalang bule yang sebenarnya mereka bekerja di tempat yang sama denganku.
Kami menuju ke sebuah restoran di sana.
“Den, kita ke sana saja,” kata Arif saat memarkir kendaraan di tempat parker.
“Ayo,” jawab Yusuf.
Kami bertiga berjalan beriringan sambil bercanda.
“Rif, kamu masih tahan tidak bercinta?” tanya Yusuf.
“Ya di keluarkan sendirilah Suf,” jawab Arif.
“Kamu gak nyoba beli?” tanya Yusuf lagi.
“Ngawur kamu ini, kasihan istriku nanti kalau kena penyakit,” jawab Arif santai.
“Kalian berdua ini kenapa betah melajang, enak tau kalau sudah berumah tangga,” kataku.
“Aku ini merasakan lebih tenang kalau mau bercinta, merasa tidak dibebani oleh dosa,” kataku kembali.
Mereka berdua terdiam tidak menjawab dalam beberapa saat.
Kemudian Deni mulai berkata, “Belum ada Rif yang mau, setiap mengenal perempuan hanya mau uangku saja, tapi mereka tidak cinta, di
belakangku mereka bermain dengan laki-laki lain.”
“Sabar nanti pasti bertemu jodoh yang baik,” kata Arif.
__ADS_1
“Kapan-kapan aku cuti boleh enggak ikut ke Jawa, siapa tau bertemu dengan jodohku.” Ujar Deni.
“Aku juga mau ikut.” Yusuf menimpali.
“Ini Yusuf ikut-ikut saja,” kata Deni.
“Perlu kalian ketahui, kalau aku ini tidak punya stok perempuan yang mau aku kenalkan ke kalian,” kata Arif.
“Lah… percuma dong kita kesana,” kata Deni.
“Iya, ya, istrimu gak punya teman yang masih lajang?” tanya Yusuf.
“Ada sepertinya, tapi aku tidak tau mereka punya pacar atau sudah lamaran,” jawab Arif.
“Ayo Rif, tanyakanlah pada istrimu.” Rajuk Deni.
“Iya nanti kalau aku telpon aku tanyakan,” Kata Arif.
“Oh iya ayo kita duduk di sana.” Ajak Arif sambil menunjuk tempat duduk di restoran tersebut ketika sampai di sana.
Saat kami mau duduk di kursi pengunjung, pelayan datang menyodorkan menu makanan kemudian kami memilih yang kami mau dan menulisnya di buku pesanan lalu memberikan kepada pelayan lagi.
Tak berapa lama, pesanan kami datang, dan kami segera menikmatinya.
Ketika makanan di depan kami habis, kami tidak segera pergi dari tempat tersebut, tetapi kami mengobrol banyak hal, tapi ya biasa obrolan seputar laki-laki he he he.
“Rif, itu sepertinya mantanmu dulu yang di Merauke,” kata Deni.
“Mana Den,” tanya Yusuf penasaran.
“Sudah kalian jangan mencolok, semoga dia tidak melihat kita,” kata Arif pelan.
“Kamu tidak mau menemuinya Rif?” tanya Deni.
“Masa lalu tidak usah diungkit, malas aku mengingatnya” kata Arif.
“Rif, dia berjalan ke sini,” kata Yusuf.
“Biarkan saja,” kata Arif sambil minum.
Perempuan itu mendekati mereka.
“Hai Deni, hai Arif, apa kabarnya?” sapanya sambil memeluk Deni.
Kemudian menghampiriku dan akan memelukku tapi aku tolak.
“Maaf,” kata Arif dengan cueknya.
“Aku tidak ikut-ikut, aku tinggal dulu ya, kalian reunian dulu,” kata Deni sambil berdiri dan meninggalkan Arif dan Risma.
“Aku juga,” kata Yusuf ikut-ikutan.
Risma duduk di depan Arif dengan pakaian terbuka yang sexy dan dandanan naturalnya, kulit putihnya terlihat menawan setiap mata lelaki.
Arif diam tidak menghiraukan Risma yang ada di depannya, hingga beberapa menit tidak ada pembicaraan di antara mereka, dan akhirnya
Risma yang memulai bicara.
“Rif, kamu sudah tidak tertarik lagi melihatku?” tanya Risma, sambil memainkan rambutnya dan menggulung-gulung dengan jemarinya.
__ADS_1
“Dulu aku tertarik denganmu, sekarang tidak, melihatmupun sudah malas,” jawab Arif dingin.
Risma berjalan mendekati Arif memeluknya dari belakang, Buah dadanya menatap punggung Arif, membuat Arif tidak nyaman.
“Kamu jangan begini, duduklah kembali.” Pinta Arif.
“Aku merindukanmu Rif,” bisik Risma dengan rayuan menggodanya.
“Risma!” Teriak Arif mengagetkan Risma.
Risma melepas pelukannya.
“Kamu duduk kembali!” Pinta Arif.
Risma kembali ke tempat duduknya yang berhadapan dengan Arif.
“Apa kamu sudah tidak tertarik pada perempuan?” Tanya Risma.
“Jangan memancing emosiku Risma,” jawab Arif.
“Terus… kenapa kamu menolakku?” Tanya Risma dengan senyum menggoda.
“Aku bukan Arif yang dulu, yang mudah kamu goda,” jawab Arif.
“Ris, kamu seharusnya bisa berubah, tubuhmu itu bukan untuk setiap laki-laki, tapi hanya untuk suamimu," kata Arif.
“Mulai kapan kamu pinter berceramah,” kata Risma dengan nada marah.
“Setiap orang itu pasti mau berubah ke hal positif Ris,” jawab Arif.
“Sudah pergilah dari hadapanku, aku sudah tidak tertarik lagi kepadamu,” kata Arif.
“Apa kamu sudah berumah tangga?” tanya Risma.
“Iya, istrikulah yang merubahku ke hal positif,” jawab Arif.
“Apa kamu bisa memuaskannya?” tanya Risma.
“He he he, kamu pikir aku lelaki apa?” tanya Arif.
“Kamu saja yang tidak bisa menyelamiku, perlu kamu tau, istriku sangat puas denganku sampai dia bisa mengandung anakku dua kali, sedangkan kamu, sekalipun tidak pernah mengandung selama denganku, padahal aku
tidak pernah memakai pengaman,” kata Arif membuat wajah Risma memerah.
“Keterlaluan kamu Rif,” kata Risma kemudian berdiri dari tempat duduknya dan meninggalkan Arif.
Arif tersenyum puas melihat Risma marah dan meninggalkannya, kemudian Arif menuju ke kedua temannya yang sedang menunggu di parkiran mobil.
“Kenapa dengan Risma?” tanya Deni.
“Biasa, perempuan itu kalau maunya tidak dituruti, aku sudah tidak nafsu dengan perempuan seperti itu, aku lebih suka istriku sendiri,” jawab Arif.
“Cantik, sexy dan menarik juga mantanmu Rif,” kata Yusuf.
“Kalau kamu mau, kamu sama dia saja,” kata Arif dingin.
“Ayo kemabali ke Mes!” ajak Deni.
Kami segera meninggalkan tempat tersebut menuju mes kami, selama perjalanan, aku selalu memikirkan Rinda, Ya Allah… ternyata Engkau telah kirim seorang wanita baik kepadaku, lebih baik dari perempuan-perempuanku dulu, terima kasih Ya Allah, batinku.
__ADS_1
Setelah mobil kami kembalikan, kami berjalan menuju mes masing-masing.
Aku membuka pintu mes dan masuk ke dalam kemudian berbaring di atas kasur, menatap foto resepsi pernikahan yang aku bawa dan aku pasang di dinding kamarku, aku sangat merindukanmu Rin, kata hatiku.