
Hari ini hari jumat terakhir kalinya aku bekerja di tempat kerjaku yang hampir tiga tahun aku mengabdi di sana.
Pagi ini aku berangkat bekerja bersama dengan Vano, Nia kemarin pulang ke rumahnya.
Mengendarai sepeda motorku menuju ke sekolahnya Vano.
Sampai di sana, Vano turun sendiri dari duduknya di belakangku dan aku mengambil tas trolinya.
Vano mengulurksn tangannya untuk bersalaman denganku dan aku mengusap rambutnya.
"Hati-hati ya Vano," pesanku.
"Iya Bunda," jawab Vano.
Vano memegang gagang tas trolinya dan perlahan menariknya, membalikkan badan ke arahku ketika sudah sampai di teras Penitipan Anak dan tersenyum sambil melambaikan tangannya.
Tangan mungilnya membuka pintu dan masuk ke dalam.
Aku menyalakan sepedaku dan meninggalkan Penitipan anak tempat Vano berada.
Sudah besar Vano, sudah mulai mandiri, sebentar lagi lahir adiknya dan aku mulai lagi dengan kesibukan baru.
Semoga saja aku bisa menjaga amanah Allah untuk mendidik merawat anak-anakku kelak dan di beri umur panjang sampai melihat anak-anak menikah dan memiliki cucu.
Tak terasa sudah sampai di parkiran sepeda motor tempatku kerja, Nia terlihat juga barusan datang.
Kami berjalan menaiki anak tangga.
"Rin, bagaimana nanti jika pak Farid gak acc kamu untuk keluar dari sini?" tanya Nia.
"Emang aku bininya apa seenaknya mengatur," jawabku dengan nada jengkel karena teringat omongan pak Farid kapan hari saat aku menghadap kepadanya.
"Sabar Rin, jangan nge gas gitu dong," ucap Nia.
Sampai di kantor tak terlihat Widya mungkin dia ijin mempersiapkan pernikahannya.
Aku duduk di meja kerjaku menyalakan komputer, sambil menunggu komputer siap aku mengecek laporan-laporanku yang hari ini akan aku laporkan ke pak Farid sekalian surat pengunduran diriku yang akan aku buat.
Komputer siap aku segera mengetik surat pengunduran diriku dan aku print kemudian aku berdiri dan berjalan menuju ke mesin printer untuk mengambil hasil cetakannya.
Kembali ke mejaku dan menandatangani surat pengunduran diriku kemudian aku masukkan ke map.
"Nia hari ini pekerjaanku sudah selesai semua, jadi kalau aku meninggalkan kantor hari ini aku sudah gak punya utang kerjaan," kataku.
"He he he niat banget ya kamu," kata Nia dan tertawa.
"Ya iya Rin, aku kan gak mau meninggalkan pekerjaan ketika aku keluar dari sebuah perusahaan," jawabku.
"Kamu nanti juga begitu kalau keluar juga harus selesaikan pekerjaanmu jangan kamu bebankan ke penggantimu," nasehatku.
__ADS_1
Menyandarkan punggungku di kursi, dan menatap ke depan.
Dalam benakku berkata, tak terasa tempat ini sudah aku tempati selama hampir tiga tahun, ya... tempat dimana aku melalui beberapa permasalahan kehidupan.
Dari aku pisah rumah, bercerai sampai menikah lagi dan hamil, tempat kerjaku ini menjadi saksi bisu jalan hidupku.
"Rin... Pak Farid sudah lewat," kata Nia membuyarkan lamunanku.
"Iya nanti saja, masih pagi ini," ucapku sambil menarik tubuhku ke depan untuk mengambil tasku dan membukanya mengambil tempat makan yang berisi dimsum siomay.
Pelan-pelan aku mengambil dan memakannya sampai hatiku menjadi tenang dan anak dalam perutku anteng karena kenyang.
Berdiri dari tempat dudukku dan mengambil berkas laporan juga map pengunduran diriku, aku berjalan pelan menuju ruangnpak Farid.
Jam di pergelangan tangan kiriku menunjukkan pukul sepuluh siang.
Aku ketuk pintu ruangan pak Farid sampai terdengar suara laki-laki menyuruh untuk masuk.
Pelan aku dorong masuk gagang pintu dan kembali aku tutup ketika aku sudah berada di dalam.
Aku berjalan menuju ke meja kerjanya Pak Farid.
Terlihat wajah masam Pak Farid ketika melihatku.
Aku duduk tanpa dipersilahkan duduk.
Kami tidak ada yang memulai untuk bicara.
Pak Farid tidak bergerak melihat ataupun menyentuh berkas yang aku serahkan di hadapannya.
"Rin... aku tidak bisa acc kamu keluar dari perusahaan ini," ucap Pak Farid.
Aku terkejut mendengar ucapan Pak Farid.
"Maksud Bapak?" tanyaku lagi ingin minta penjelasan darinya kenapa tidak acc aku.
"Karena aku tidak ingin kamu meninggalkan perusahaan ini," jawab Pak Farid dengan santainya.
"Pak... karyawan juga punya hak untuk keluar dari perusahaan tempatnya bekerja kenapa Bapak halangi?" tanyaku mulai emosi.
"Ya memang karyawan punya hak, tapi jika pemimpin tidak menyetujui, mau apa," jawabnya semakin membuatku emosi.
"Bapak mau mengijinkan Rinda mengundurkan diri sekarang apa tidak, Rinda tetap keluar," kataku.
"Bapak tau? Rinda ini perempuan seorang Ibu juga seorang istri, tugas utamanya adalah mendidik anak, juga mengabdi pada suaminya, kenapa Bapak halangi?" tanyaku kembali.
"Kan bisa itu lakukan setelah bekerja," jawab Pak Farid.
"Maaf Pak tidak bisa, Rinda tetap ingin keluar dari perusahaan ini dan fokus mengurus keluarga, Rinda tidak mau jadi janda lagi, gak enak Pak," kataku.
__ADS_1
"Memang rumah tanggamu kenapa? bermasalah lagi? kalau begitu kebetulan aku bisa mendekatimu" kata Pak Farid.
Perkataan Pak Farid barusan semakin membuatku emosi dan tersinggung.
"Bapak kalau ngomong dipikir, Bapak kira rumah tangga saya bermasalah? tidak Pak, kami baik-baik saja walaupun hubungan jarak jauh, terima kasih atas niat Bapak untuk mendekatiku, tapi sudah terlambat, dan mulai hari ini saya resign dari sinj, Bapak setujui apa tidak, Bapak gaji apa tidak pekerjaanku sebulan ini, Rinda tidak peduli," kataku sambil berdiri.
"Permisi," ucapku dan meninggalkan ruangan Pak Farid dengan kecewa.
Sampai di ruanganku dengan wajah muram, aku segera membereskan barang-barangku dan ingin segera meninggalkan ruangan ini tanpa berpamitan kepada teman divisi lainnya.
"Rin... kenapa kamu?" tanya Nia penasaran.
"Aku mau pulang hari ini, tersinggung juga kecewa dengan omongan pak Farid, tolong Vano nanti kamu jemput, nanti di rumah aku ceritakan," jawabku.
Meninggalkan kantorku yang sudah hampir tiga tahun aku berada di sana dengan perasaan kecewa dan mengendarai sepeda motorku menuju ke rumah mertua.
Sampai rumah mertua, membuka pintu pagar kemudian memasukkan sepeda motor di garasi dan menutup pintu pagar kemudian melangkah ke depan pintu rumah mengambil kunci rumah dan membuka pintunya.
Berjalan menuju ke kamar, melepas jilbabku, kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk membasuh kaki tangan dan muka dan berganti baju.
Hmmm, ternyata selama ini pak Farid menyukaiku, untungnya aku segera hengkang dari sana.
Saat ini waktu menunjukkan pukul setengah satu siang, aku merebahkan tubuhku di atas kasur dan memejamkan mataku untuk tidur siang.
Semoga dengan tidur siang bisa menyantaikan pikiran dan emosiku.
Setelah bangun tidur aku santai di rumah sendiri.
Beberapa saat kemudian Nia dan Vano pulang, Vano menghampiriku dan mencium perutku lalu menuju ke ruang keluarga untuk menyalakan televisi.
Nia masuk ke kamarnya tak lama kemudian keluar kamar sudah berganti baju dan berjalan menghampiriku.
"Rin, tadi pak Farid marah-marah, dan ada rapat mendadak, apa yang terjadi denganmu dan pak Farid tadi?" tanya Nia.
"Jengkel Nia lah orang keluar kok gak boleh malah bilang menyukaiku, apa aku gak emosi," jawabku.
"Hah," Nia terkejut.
"Yang bener saja Rin?" tanya Nia.
"Iya bener, dia marah kenapa?" tanyaku.
"Itu... bilang kalau karyawan yang mau mengundurkan diri harus ada persetujuan darinya bila tidak ada persetujuan darinya dia mengancam nama karyawan akan di blacklist," jawab Nia.
"Biarin saja, kayak perusahaan milik moyangnya saja bilang begitu, toh dia di sana sama juga dengan kita, dipekerjakan," kataku.
"Terus gajiku bagaimana?" tanyaku.
"Tadi bagian keuangan bilang ke aku, tetap mentransfer gajimu hari senin," jawab Nia.
__ADS_1
"Syukurlah kalau begitu," kataku.
Kami mengobrol santai kemudian makan malam sholat maghrib dan isya berjamaah dan masuk ke kamar masing-masing untuk betistirahat.