Lika-Liku Single Parent

Lika-Liku Single Parent
Pelampiasan


__ADS_3

Pagi ini, di kamar tidur aku masih terus memarahi suamiku.


"Bunda....!" Teriak Vano.


"Aku mau pulang gak kembali lagi ke sini," Kataku dan keluar dari kamar tidur menemui Vano.


Menghela nafas panjang.


"Ada apa Vano?" tanyaku.


"Vano lapar, mau nuget lagi?" tanya Vano.


"Iya sebentar, Bunda gorengkan," jawabku.


Aku menuju ke dapur untuk menggoreng nuget, saat ini Vano belum bertemu dengan Mas Arif, jadi tidak tau kalau ayahnya sudah pulang.


Mas Arif masih berada di kamar tidur, mungkin melihat hpnya yang tadi aku lempar ke tempat tidur, harusnya aku banting saja hpnya, uangnya kan banyak bisa beli lagi sekalian dia ganti nomer, kalau memang dia mau mempertahankan rumah tangga ini dan meninggalkan perempuan murahan itu.


Masak tubuh dilihat-lihatkan ke suami orang, binatang saja punya bulu biar tidak bugil lah dia punya otak untuk memakai baju tapi dilepaskanya, iya sekarang terlihat sexy, tuanya nanti pasti sudah lower semua, batinku saat menggoreng nuget.


Selesai menggoreng nuget aku mengambil piring dan nasi kemudian naget dan aku berikan pada Vano, untuk sarapan pagi.


Perutku jadi lapar juga, dari pada mikiran perempuan bugil itu lebih baik masak siomay saja, batinku.


Siomay sudah matang, aku ambil siomay dari panci steamer dengan garpu, dan menyajikan di piring, aku menuju ke meja makan dan duduk di kursi sambil makan siomay, lebih baik pelampiasan pada makanan ini.


Mas Arif tidak juga keluar dari kamar tidur, sedang bermesraan paling sama perempuan tadi, dasar laki-laki semuanya sama.


Hmmm kenapa aku tadi tidak sekalian bawa jilbabku, kan bisa langsung pulang ke rumah Ibu sekarang, tasku juga di dalam kamar.


Setelah habis siomay sepiring dan susu segelas, kenyang sudah, aku buka kulkas mengambil jus buah dan aku berikan ke Vano.


"Vano main di sini dulu, jangan teriak-teriak cari Bunda! Pesanku.


Aku membuka pintu kamar tidur, melihat suamiku memegang hpnya, hatiku semakin panas.


"Rin, aku bisa jelaskan semuanya," katanya lirih.


"Apa yang perlu di jelaskan lagi? sudah jelas kan seperti apa Mas di sana," kataku dengan emosi.


Aku membuka pintu almari mengambil jilbabku dan memakainya, saat ini aku sudah memakai daster panjang.


"Mau ke mana?" tanya suamiku sambil menghalangi langkahku dengan tubuhnya.


"Pergi mencari laki-laki yang mau sama anakmu," kataku ketus.


Dia menghampiriku dan memelukku kemudian menciumi wajahku.


"Jangan sok romantis begini, apa dengan ini bisa melegakan hatiku? tidak, aku sudah kecewa denganmu, lepaskan pelukanmu, kembali ke Papua sana nikmati perempuan murahan itu," kataku.

__ADS_1


Mas Arif tidak menanggapi kemarahan dan kecemburuanku, dia diam tersenyum memandangku.


"Jangan marah lagi istriku, kamu sedang hamil," bisiknya pelan.


"Yang bikin marah juga siapa?" tanyaku.


"Rin, bagaimanapun pemikiranmu ke aku terserah, yang jelas aku tidak seperti yang kamu pikirkan, aku tetap cinta padamu," katanya.


"Rayuanmu tidak berguna sekarang," jawabku.


"Rin, beri kesempatan padaku untuk menjelaskannya." Mas Arif memohon.


Aku diam tiba-tiba telponnya berbunyi, dia mengangkat telpon video call aku lirik perempuan tadi, dia video call sambil menunjukka payudaranya dan tersenyum menggoda pada suamiku.


"Kamu mau tau jawabanku ya," kata Mas Arif sambil meletakkan hpnya di depan nakas kemudian memelukku mesra dan menarikku untuk duduk di pembaringan.


"Kamu lihat ya," kata Mas Arif lagi sambil melihat layar hpnya.


"Arif apa maksudmu ini, siapa perempuan itu!" Teriak perempuan tersebut.


Mas Arif menghampiriku dan mencium bibirku dengan mesra kemudian melihat layar hp tadi, kemudian tangannya perlahan membuka kancing bajuku dan menciumi buah dadaku, desiran hangat menyelimuti tubuhku, aku tidak tau apa yang terjadi dengan mereka.


"Kamu sudah lihat? aku lebih tertarik pada perempuanku ini daripada kamu," kata Mas Arif sambil mengambil hp nya.


"Kamu tau? perempuan ini lebih berharga dari pada kamu, jangan ganggu aku lagi, karena bagaimanapun cara kamu menggangguku, tidak merubah sikapku padamu," kata Mas Arif.


"Arif kurang ajar kamu," kata perempuan itu dan mematikan video call.


Aku memandang heran wajah suamiku, perlahan dia melepaskan jilbabku dan kembali menciumi buah dadaku


Kemudian menciumi perutku.


"Ayahmu bukan laki-laki tidak setia, hati ayahmu ini hanya kepada Bundamu saja," bisiknya.


Kemudian memandangku dan tersenyum.


"Terima kasih sudah cemburu dan marah-marah di pagi hari kepada suamimu ini." Bisiknya.


Tangannya sudah menyusup ke dalam tubuhku, bibirnya menciumi buah dadaku dengan lembut, memandangku dengan tatapan lembut, tubuhku sudah berada di atas pembaringan.


"Rin... love you," bisiknya.


"Mas, Mas sedang terangsang melihat perempuan itu tadi?" tanyaku membuat tangannya berhenti bergerilya.


Tersenyum memandangku dan mencium bibirku kembali.


"Hatiku hanya untukmu, kalau kamu tanya aku terangsang melihatnya tadi? aku lebih terangsang melihatmu sejak semalam, tapi selalu aku tahan," kata Mas Arif.


Wanita mana tak dibuai dengan kata-kata manisnya, darah yang tadinya sudah naik ke ubun-ubun seketika itu turun ke bawah berganti menjadi hangat.

__ADS_1


"Mas, siapa perempuan tadi?" tanyaku pelan.


"Nanti aku ceritakan, selesaikan dulu urusannya adikku," bisiknya.


Kami saling berciuman saling menikmati gairah di pagi hari, ketika senjatanya sudah siap untuk masuk.


"Bunda...!" teriak Vano dan membuka pintu kamar tidur, segera Mas Arif duduk dan aku merapikan bajuku.


"Ayah sudah pulang, kapan?" tanya Vano polos.


"Semalam," jawab Mas Arif.


Aku tersenyum melihat expresi suamiku tadi.


Vano mendekati suamiku dan memeluknya erat, sambil berkata, "Ayah nanti sore jalan-jalan, lama Vano gak jalan-jalan."


"Iya nanti, Vano main dulu ya di luar, Ayah ada yang mau diomongkan sama Bundamu," kata Mas Arif.


"Janji ya nanti jalan-jalan," kata Vano mengingatkan.


"Iya pasti," jawab Mas Arif.


Kemudian Vano turun dari pangkuan suamiku dan berjalan keluar menuju ruang tamu, Mas Arif berdiri dan mengunci pintu kamar.


"Rin... sekarang," bisiknya.


Kami kembali saling berciuman, bibir kami kembali bertemu saling menikmati sentuhan demi sentuhan.


Tangan suamiku kembali meremas buah dadaku.


"Aw, jangan keras-keras, sakit," kataku pelan.


Kemudian melepaskan tangannya dan menciumi buah dadaku, meninggalkan rona merah di sana.


"Rin, aku sudah tidak tahan," bisiknya.


Turun ke bawah melepas celana dalamku.


Menciumi perutku yang sedikit membuncit, dan perlahan memasukkan senjatanya.


"Mas, pelan-pelan, ada anakmu," bisikku.


Mas Arif tersenyum dan melanjutkan percintaan kami sampai pada puncaknya.


"Love you." Bisiknya lembut.


Aku tersenyum dan mencium bibir suamiku kembali dan melepaskannya.


"Jangan marah lagi ya? aku akan jelaskan siapa dia," bisiknya lembut di telingaku.

__ADS_1


__ADS_2