Lika-Liku Single Parent

Lika-Liku Single Parent
Pertunangan


__ADS_3

Bapak masuk ke ruang tamu terkejut melihat Arif dan ibunya dengan membawa seserahan


"Kok gak bilang dulu, belum siap apa-apa saya, hadew bagaimana ini" kata bapak dengan panik


"Bapak gak usah repot-repot menyambut kami, mari kita bicarakan bersama bagaimana anak-anak ini" kata tante Linda


Vano masih asyik bermain dan melihat tv di ruang keluarga


Bapak, ibu, tante Linda, mas Arif juga aku duduk di ruang tamu


"Bapak, ibu jadi kedatangan saya dengan anak saya ini, berniat untuk melamar Rinda, bagaimana boleh?" tanya tante Rinda


"M huohon maaf tidak memberitahu terlebih dahulu, ini tadi dari bandara langsung kesini" kata tante Rinda lagi


"Iya bu, lamaran kami terima, rencana menikahnya kapan?" tanya bapak


"Bagaimana Rif, kamu siap kapan?" tanya tante Rinda


aku hanya duduk diam saja pikiranku bahagia juga terkejut


"Arif secepatnya bu?" kata mas Arif


"Kamu secepatnya itu surat-suratmu sudah kamu urus? terus kamu sekarang belum alamat sini" kata tante Linda


"Cuti depan saya urus semua bu, Arif pulang ke Merauke mengurus administrasinya, setelah itu pulang ke sini" kata mas Arif


"Bagaimana kalau enam bulan lagi Rif, kami juga akan menyiapkan semuanya, kamu juga" kata bapak


"Iya pak berarti tiga kali cuti Arif ya" kata mas Arif


"Sudah pas itu Rif, cuti depan kamu ngurus suratmu di merauke itu, pindah kesini saja Rif, terus cuti depanya kamu nyiapkan kebutuhan menikahmu, urusan pendaftaran di KUA nanti biar sini yang mengurus, bukan begitu pak?" kata tante Rinda


"Iya bu, tepat itu, tidak mungkin Arif yang mengurusnya kan Arif masih di papua" kata bapak


"Ini nanti akhad nikah saja atau dirayakan?" tanya bapak


"Kalau bisa di rayakan pak, Arif ingin mengumpulkan keluarga yang jarang berjumpa juga teman-teman, tidak mewah, sederhana saja yang penting kekeluargaannya terjalin, juga tidak banyak yang diundang" begitu kata mas Arif menjelaskan


Setelah selesai berunding


"Rinda... ini cincin dari Arif, sini Rinda tante pasangkan" kata tante Linda kemudian memasangkan cincin tunangan dari Mas Arif, dilanjut bapak yang memasangkan cincin emas putih di jari mas Arif


"Ini kalian sudah diikat, kalian harus menjaganya ya" kata bapak


Aku hanya terdiam saja, dalam hati Alhamdulillah semoga barokah semuanya


"Bapak ibu, kami pamit dulu, semoga dengan ini semakin mempererat tali silahturahmi, bila Arif ada salah mohon dimaafkan ya" kata tante Linda


"Iya bu sama-sama" jawab bapak


"Saya mohon maaf selalu merepotkan ibu" kata bapak kemudian

__ADS_1


"Bu saya disini saja dulu, ibu pulang duluan" kata mas Arif


"Pulangmu bagaimana, jangan nginap sini loh" kata tante Rinda tegas


"Arif pulang bawa sepeda Rinda, besok Rinda kan libur" kata mas Arif


"Terserah kamu Rif, hati-hati ya, bapak, ibu, Rinda, saya pamit dulu ya?" kata tante kemudian bersalaman dan keluar dari rumah menuju mobil meninggalkan rumah ini


"Arif... kamu istirahat dulu di kamar Faris" kata bapak


"Iya pak makasih" kata mas Arif, setelah itu bapak meninggalkan ruang tamu masuk ke dalam, ibu membawa seserahan dari mas Arif ke ruang keluarga, tinggal saya dan mas Arif di ruang tamu


"Makasih semuanya ya mas" kataku


"Aku sudah memenuhi janjiku Rin" katanya sambil memandangku lama


"Jangan melihatku seperti itu mas, malu jadinya Rinda" kataku sambil menundukkan wajahku, mas Arif mendekatiku memegang kedua bahuku


"Rinda aku sayang kamu, aku merindukanmu, berat rasanya dua bulan berpisah denganmu" katanya sambil mencium keningku


"Rinda juga kangen mas" kataku


ketika kami melepas rindu, tiba-tiba Vano datang menghampiriku dan mas Arif


"Anak ayah Arif ini" kata mas Arif, aku kaget mendengarnya


"Vano sekarang Vano panggil om, ayah ya?" kata mas Arif


"Iya, Vano mau kan jadi anaknya om Arif?" tanya mas Arif


"Mau mau mau" kata Vano sambil memeluk mas Arif


"Sekarang Vano panggil apa?" tanya mas Arif


"Ayah" kata Vano sambil tersenyum ke mas Arif duduk manis di pangkuan mas Arif dan memeluknya lagi, aku tersenyum melihat mereka


Suara adzan maghrib dari masjid dekat rumah berkumandang


"Mas Arif sholat jamaah ya" pintaku


"Iya Rin" katanya sambil mengikutiku ke dalam rumah, ibu bapak seperti biasa berjamaah di masjid yang dekat rumah, selesai kami berwudhu kemudian sholat maghrib berjamaah diimami mas Arif, selesai sholat berdoa tak terasa air mataku jatuh, mas Arif melihatku dan menghampiriku mengusap air mataku


"Ada apa Rin?" tanyanya


"Mas... aku bahagia tapi juga takut" kataku


"Kenapa?" tanyanya pelan


"Aku bahagia akan menjadi istrimu, tapi sedih takut tidak bisa menjadi istrimu yang baik" kataku


"Rinda... kita belajar bersama-sama ya? aku juga harus banyak belajar darimu, banyak hal" katanya

__ADS_1


Setelah sholat maghrib kami duduk di ruang keluarga bersama Vano, mas Arif dan Vano bermain bersama, aku membuka beberapa seserahan dari mas Arif dan menyimpannya di almari bajuku


"Mas... ini semua siapa yang nyiapkan?" tanyaku


"Ibu, semalam aku telpon ibu untuk menyiapkannya" katanya


"Hah berarti tante Linda sudah tau ya?" tanyaku


"Ya sudah tau lah" katanya


"Untung aku gak jantungan mas, tiba-tiba mas pulang tanpa sepengetahuanku, sehari membuatku cemas aku sampai rumah bawa seserahan ini" kataku sambil menggelengkan kepala


Tak lama kemudian bapak dan ibu pulang dari masjid


"Loh Rif kok gak istirahat malah main sama Vano" kata bapak


"Gak kamu ajak makan Rin, kamu ini ya, Arif ini jauh dari Papua langsung kesini" kata ibu memarahiku


"Ayo Rif, makan ala kadarnya ya" kata ibu


aku dan mas Arif berjalan menuju meja makan, kami duduk berhadapan, Vano duduk disampingku, ibu dan bapak meninggalkan kami, kuambil piring dan sendok mengambil nasi, lauk dan sayur untuk mas arif juga Vano


"Rin... nanti setelah menikah ke Papua ikut aku ya?" katanya


"Kerjaku bagaimana mas?" tanyaku


"Sudah resign saja gak usah kerja" jawab mas Arif


"Vano bagaimana sekolahnya?" tanyaku


"Ada disana sekolahan, tapi mayoritas non muslim" katanya


"Mas.. disini saja ya, biarkanlah Vano berkembang disini dengan keyakinan ini" kataku


"Kalau aku kangen kamu, bagaimana?" tanyanya


"Video call kan bisa" kataku


"Dua bulan kan sebentar mas" kataku lagi


"Disini aku bisa menjaga bapak ibu juga ibumu, mas disana konsentrasi kerja" lanjutku


"Rinda... kamu gak paham atau pura-pura gak paham sih" katanya dengan expresi aneh, aku melihatnya jadi lucu


"Vano... sudah selesai makanya? lihat tv ya? ayah ada perlu sama bundamu" kata mas Arif, tanpa berkata Vano turun dari kursi meninggalkan kami


"Rin... " kata mas Arif sambil berjalan mendekatiku dan duduk disampingku


"Kamu sudah pernah menikah kan, tau kan rasanya bercinta? kalau aku jauh aku pingin hak ku ke kamu bagaimana?" katanya pelan di telingaku


Aku melirik mas Arif tersenyum dan tertawa terus aku cubit mas Arif sambil berkata"mas Arif ini bisa aja"

__ADS_1


"Sakit tau Rin" katanya sambil meringis kesakitan


__ADS_2