
Waktu menunjukkan pukul satu siang, aku sudah selesai merapikan diri kemudian membuka hp membuka aplikasi transportasi online, aku memesan mobil untuk mengantarkanku ke rumah sakit, aku berjalan keluar rumah mengunci pintu rumah dan duduk di teras menunggu mobil yang aku pesan datang, waktu menunjukkan pukul satu lebih seperempat mobil yang aku pesan datang, aku membuka pintu pagar dan menutupnya kembali kemudian membuka pintu mobil dan duduk di kursi sebelah supir kemudian menutup pintu mobil
"Sudah pak" kataku dan mobil meninggalkan rumah ibu mertuaku menuju ke rumah sakit dimana aku menjalani curret.
Sampai di rumah sakit mobil berhenti, aku memberi uang kepada sopir tersebut dan turun dari mobil, kemudian melangkah menuju resepsionis mendaftar ke poli kandungan dengan menyerahkan surat kontrol yang diberikan kepadaku waktu aku akan pulang dari rumah sakit, kemudian aku menunggu di depan poli, kulihat ada ibu-ibu yang sedang hamil di temani oleh suaminya, hatiku rasanya iri sekali, kapan aku bisa seperti itu, kemudian datang seorang ibu yang sedang menggendong bayi mungilnya, rasanya hati ini nyesek melihatnya, mataku mulai berkaca-kaca tapi segera aku hapus dengan jilbabku, khawatir ada yang memperhatikanku, telpon ibu mertua saja mengabarkan kalau aku sudah di rumah sakit, akhirnya aku mengambil hp dari dalam tas ku dan menelpon ibu mertuaku
Tuut... tuut... "ada apa Rinda?" tanya ibu
"Bu... maaf, Rinda sekarang di rumah sakit jadwal kontrol Rinda, tolong Vano ibu jemput" pintaku
"Vano memang akan ibu jemput Rinda" kata ibu
"Iya bu terimakasih, nitip Vano mudah-mudahan Rinda pulang sebelum maghrib" kataku
"Iya Rin hati-hati ya" kata ibu
"Iya bu terimakasih" kataku
"Assalamualaikum" salamku
"Waalaikum salam" jawab ibu kemudian telpon di tutup.
Waktu menunjukkan pukul tiga lebih tiga puluh menit, dokter Lisa baru memasuki ruang poli, satu persatu nama di panggil asistenya, aku dapat nomer antrian nomer lima belas.
Menunggu hampir satu jam, akhirnya namaku di panggil, aku masuk ke dalam ruangan, dan duduk di kursi di depan dokter Lisa, sebelumnya aku di suruh timbang badan dan mengukur tekanan darah.
"Bu... apa ada keluhan?" tanya dokter Lisa
"Enggak ada dok" jawabku
"Masih banyak darah yang keluar?" tanya dokter Lisa
"Sudah tidak seberapa tinggal coklat-coklat saja?" kataku
"Silahkan naik, saya periksa sudah bersih atau belum" kata dokter Lisa, kemudian aku naik ke bed pasien, asisten dokter mengolesi gel kemudian dokter Lisa menempelkan alat usg ke perut bagian bawahku melihat ke monitor
"Sudah bersih bu" kata dokter Lisa, kemudian aku turun dari bed pasien dan duduk di kursi depan dokter Lisa
"Dok... saya bisa hubungan kapan?" tanyaku ragu-ragu
"Paling cepat sebulan lagi bu, tapi kalau bisa tiga bulan lagi, karena khawatir terjadi kehamilan dan kemungkinan besar akan mengalami keguguran lagi karena kandungan belum siap menerima kehamilan setelah curet" kata dokter Lisa menjelaskan sambil menulis resep
__ADS_1
"Iya terima kasih dok" kataku
"Ini silahkan di ambil obatnya di apotek ya!" kata dokter Lisa sembari memberiku resep dokter
"Oh iya dok... makanan atau obat apa yang bisa membuat segera hamil?" tanyaku
"Makanan yang mengandung asam folat bu, seperti apukat" kata dokter Lisa
"Iya, terimakasih dok" kataku kemudian berdiri dan keluar dari ruangan poli kandungan menuju kasir kemudian membayar dan ke apotik, resep dokter aku taruh di apotek dan aku menunggu di kursi tunggu dekat dengan apotik, waktu sudah menunjukkan pukul lima sore.
Setengah jam kemudian namaku di panggil dan aku menerima beberapa obat pereda nyeri juga vitamin kemudian aku memesan transportasi online dan menunggu di depan rumah sakit, beberapa menit kemudian mobil yang aku pesan sampai aku membuka pintu mobil dan duduk di sebelah sopir
"Mbak... tujuan sesuai titik ya?" tanya sopir tersebut
"Iya pak" jawabku pendek, setelah memasang sabuk pengaman aku sandarkan punggungku di kursi mobil menatap ke depan menikmati perjalanan dari rumah sakit menuju ke rumah mertua, tak berapa lama aku sampai di rumah mertua, aku bayar ongkosnya ke pak sopir
"Bu kembalianya" kata sopir tersebut
"Sudah untuk bapak saja" jawabku
"Terima kasih bu" kata sopir itu, kemudian membuka pintu mobil dan keluar dari mobil berjalan menuju pintu pagar dan membukanya.
Adzan maghrib berkumandang dari masjid perumahan, aku langkahkan kakiku masuk ke dalam rumah
"Vano gak nakal kan hari ini?" tanyaku, mendengar pertanyaanku, Vano menggelengkan kepalanya
"Bunda mau ganti baju dulu, Vano main dulu, atau ikut sholat sama nenek" kataku membuat pilihan pada Vano
"Vano ikut sholat dengan nenek" kata Vano menentukan pilihanya
"Segera berwudhu bersama nenek ya? sarung celanamu ada di mushola" kataku kemudian Vano menghampiri ibu demikian juga denganku
"Bu... Rinda ganti baju dulu, Vano mau sholat bareng ibu" kataku dan bersalaman dengan ibu
"Anak pinter, ayo nenek ajari berwudhu ya" kata ibu, kemudian ibu membawa Vano ke tempat wudhu dan aku masuk ke kamar berniat untuk berganti baju, setelah itu aku masuk ke kamar mandi membasuh muka dengan air mencuci tangan dan kaki dan mengambil handuk untuk membersihkan wajahku dari air.
Setelah selesai berganti baju menyisir rambutku aku keluar kamar menghampiri Vano dan ibu di ruang keluarga
"Bu... maaf Rinda selalu merepotkan ibu dalam menjaga Vano" kataku
"Rinda... jangan bicara seperti itu, aku tidak merasa kamu repotkan, kamu juga Vano sudah bagian dari keluarga sini" kata ibu
__ADS_1
"Terima kasih bu" ucapku
"Rinda... bagaimana hasilnya waktu kontrol tadi?" tanya ibu
"Alhamdulillah bu sudah bersih" kataku
"Gak ada masalah apa-apa?" tanya ibu
"Enggak bu" jawabku
"Rinda... kamu belum makan kan?" tanya ibu
"Belum bu" jawabku
"Ayo makan bersama" pinta ibu kemudian ibu berjalan menuju meja makan
"Vano... ayo makan" kataku
"Nanti saja bunda" jawabnya dan masih asyik bermain puzzle.
Di meja makan aku dan ibu makan bersama
"Rin... tidak ada ibumu sepi ya" kata ibu memulai pembicaraan
"Iya bu, Rinda juga merasa kehilangan" kataku
"Rumah ini, dari dulu sepi Rin, ibu ini yang tinggal di sini sendirian, punya anak dua tapi semua jauh, ada kamu dan Vano rumah ini berwarna, Rin... kamu tetap tinggal di sini, Arif suatu saat kamu bilang tidak usah membuat rumah lagi, rumah ini saja, kalaupun mau buat rumah ya untuk investasi saja misal untuk kost-kostan atau di kontrakan, Vera juga sudah punya rumah di Jogja tidak mungkin kembali ke sini" kata ibu
"Ibu ini semakin lama juga semakin tua, suatu saat gak tau siapa yang akan mengelola biro psikolog ibu ini jika ibu sudah tidak ada" kata ibu mulai curhat
"Anak-anak ibu tidak ada yang belajar psikolog, mungkin suatu saat jika ibu sudah tidak ada atau ibu ini sudah tidak mampu, kamu bisa masuk ke biro psikolog ibu masuk ke manajemenya Rin, atau saat ini kamu resign dari kantormu dan bergabung di tempat ibu" kata ibu, makananku sudah habis duluan, aku menghela nafas
"Bu... Rinda di sini menemani ibu juga orang tua Rinda, bu... Rinda masih banyak belajar untuk masuk ke manajemen ibu, sekarang biar Rinda tetap di tempat kerja Rinda sambil belajar bu" kataku
"Iya Rin, aku tunggu kedatanganmu di tempatku" kata ibu, sambil menghabiskan makanan di piringnya
"Bu... biar Rinda yang membereskan, ibu istirahatlah" kataku
"Terimakasih Rin, kamu mengerti sekali dengan kondisiku, aku ke atas dulu" kata ibu kemudian berdiri dari kursinya dan berjalan menaiki tangga, aku membereskan meja makan dan mencuci piring, setelah selasai semua, kuhampiri Vano
"Vano, bunda suapi?" tanyaku, Vano mengangguk, aku berjalan ke meja makan mengambil piring, nasi lauk dan sayur, membawanya ke Vano dan menyuapi sedikit demi sedikit.
__ADS_1
Waktu menunjukkan pukul delapan malam, Vano mulai menguap
"Vano ayo tidur!" ajakku, Vano menuruti ajakanku kemudian berdiri melangkahkan kaki kecilnya menuju ke kamarku, dan aku mematikan tv, beberapa lampu mengecek pintu dan cendela kemudian masuk ke kamar, di sana Vano sudah tidur dengan nyenyaknya, dan aku pun mulai memejamkan mataku dan tidur memeluk Vano.