
Vano kubawa pulang ke rumah, panasnya sudah turun, Ya Allah... tak tau aku akan seperti apa kalau Vano Engkau ambil, hanya Vano yang menjadikanku bersemangat menjalani kehidupanku ini, kubaringkan Vano ke tempat tidur, aku menuju dapur untuk merebus air untuk mengompres Vano.
"Bunda..." teriak Vano dari kamar tidur.
"Iya Bunda di dapur, sebentar ya" jawabku sambil bergegas menuju kamar.
"Ada apa Vano?" tanyaku.
"Vano kangen Bunda?" sambil memelukku.
Suhu panas tubuhnya masih terasa hangat saat bersentuhan dengan kulitku saat Vano memelukku.
"Vano segera sembuh ya, Vano makan ya, tadi Bunda beli bubur ayam, Bunda suapi ya sayang" bujukku.
Vano menganggukkan kepalanya.
Aku menuju dapur untuk mematikan air yang aku rebus tadi dan memasukkan ke dalam termos, mengambil sendok dan bubur ayam yang aku beli tadi sambil membawa termos aku menuju kamar tidur untuk menyuapi Vano.
"Ayo Vano yang banyak makannya, mau sembuh tidak" bujukku pada Vano.
"Vano kan pesan ayam kentucky kok bubur ayam yang Bunda bawa" kata Vano.
"Yang jual ayam kentucky tutup Vano" jawabku.
"Makan bubur ayam dulu ya, nanti tak belikan ayam kentucky" jawabku, Vano menggangguk dan mau makan walaupun sedikit
*****
Suara burung berkicau menambah semaraknya pagi hari yang cerah, senyum dari bibir mungil Vano menambah semangat hidupku, kupegang keningnya sudah tidak begitu panas, kuambil termometer di kotak p3k untuk mengukur suhu panas Vano, terlihat angka 37.
"Vano Bunda kerja ya?" pintaku, aku masih memikirkan laporanku kemarin yang seharusnya deadline hari ini.
"Tapi Bunda pulang cepat ya jangan sore-sore" jawab Vano.
"Insyaallah, kalau pulang sore kenapa gak boleh?" tanyaku.
"Vano pingin dekat Bunda" katanya.
"Insyaallah ya Vano, tapi Bunda tidak janji, Bunda hari ini harus menyelesaikan pekerjaan Bunda" bujukku.
Vano tersenyum dan menciumku, hmmm rasanya tidak tega meninggalkan anak ketika anak sakit begini tapi bagaimana lagi.
"Bu, nitip Vano lagi ya, aku gak enak ijin terus" pintaku sama Ibu.
"Kerjalah Rin, Vano biar aku yang jaga, nanti kalau ada apa-apa dengan Vano kamu Ibu kabari" jelas Ibu.
Menuju ke kantor, langit begitu cerah hari ini, perjalanan juga tidak pernah ada kendala karena ini kota kecil jadi tidak ada kemacetan berarti.
Sampai di kantor.
"Nia bagaimana kemarin? laporanku? tanyaku.
"Ini beberapa aku kerjakan, bagaimana dengan Vano?" tanyanya.
"Sudah lumayan sih" sambil mengambil print out yang ada di tangan Nia
"Makasih ya" ucapku
__ADS_1
Kuperiksa satu persatu laporan yang aku buat, Alhamdulillah tinggal sedikit lagi kelar dan siap untuk dilaporkan ke Pak Farid.
Tok...tok..tok pintu kantor Pak Farid aku ketuk.
"Masuk" suara dari dalam.
kubuka pintu kantor Pak Farid dan aku berjalan menuju meja Pak Farid.
"Maaf pak Farid agak terlambat memberikan laporan pemasarannya" ucapku.
"Belum terlambat Rin" jawab Pak Farid
"Bagaimana dengan anakmu? kemarin saya mencarimu kata Nia kamu dapat kabar dari keluargamu kalau anakmu sakit" lanjut Pak Farid
"Sudah lebih baik kondisinya Pak" jawabku sambil memberikan map ke Pak Farid.
Kulihat Pak Farid serius membolak balik laporan yang aku buat
"Oke..." ucapnya
"Kamu bisa meninggalkan ruanganku dan melanjutkan aktifitasmu kembali" lanjutnya
"Terimakasih Pak" jawabku sambil melangkah meninggalkan ruangan Pak Farid
Jam pulang tinggal beberapa menit lagi, aku segera berkemas-kemas kulihat yang lain juga berkemas akan meninggalkan kantor.
Sepulang kerja aku mampir ke atm dulu mau mengambil uang untuk keperluan sehari-hari
tiba giliranku masuk ke ruang mesin atm, Alhamdulillah bisa ambil uang pikirku karena di beberapa atm habis uangnya.
Kulangkahkan kakiku keluar membuka pintu dengan lenganku sambil memasukkan uang juga atm ke dalam dompetku.
"Rinda....!!" katanya.
Aku bergegas pergi meninggalkanya tapi dia terus mengejarku.
"Rinda... tunggu..." panggilnya.
Akhirnya aku berhenti.
"Ada apa?" suaraku pelan membuka percakapan.
"Ikut denganku dulu, ada yang mau aku bicarakan" katanya.
"Sepedamu taruh disini dulu, kita bicara di dalam mobil, ayo naik ke mobilku" lanjutnya.
Di dalam mobil.
"Rin... maafkan aku dulu" katanya.
"Sudahlah mas, tak perlu mengungkit masa lalu kita, aku bukan seperti dulu, Rinda yang kamu kenal, aku sudah beda" kataku.
Dia adalah Mas Arif, kekasihku dulu waktu SMA yang meninggalkanku tanpa kabar berita setelah dia lulus SMA, selama itu aku hanya menunggunya tanpa kepastian, kuberusaha mencari info keberadaanya tak ada yang tau, tiba-tiba sekarang dia ada disebelahku.
"Mas...tak perlu minta maaf, kisah kita sudah berlalu bertahun-tahun lamanya, sekarang kita bukan seperti dulu, aku juga tidak tau bagaimana kehidupan mas setelah meninggalkan aku dan aku tidak mau tau" ucapku.
"Mas Arif maaf sekali lagi, aku permisi dulu" lanjutku.
__ADS_1
"Rin... tidakah ada kesempatan lagi untukku?" pintanya.
"Maaf Mas, aku tidak bisa menjawab" kataku.
Dan kubuka pintu mobil, aku keluar dari mobil Mas Arif menuju sepedaku dan keluar dari area atm tersebut.
Sepasang mata terus memandangiku dari kejauhan terlihat dari spion sepedaku, serasa ada penyesalan darinya.
Selama perjalanan pulang.
Lupakan lupakan dia batinku tapi disisi lain ayo kembalilah bukanya dia itu cinta terindahmu.
Pusing.... sudahlah untuk apa memikirkan dia bisa jadi dia sudah punya anak istri.
Aku buang jauh-jauh pikiranku tentang Mas Arif, aku tidak mau banyak berharap banyak denganya aku takut harapanku sirna seperti dulu.
Sampai di rumah, mobil ini... sepertinya... ah tak mungkin batinku.
Masuk rumah.
Deg... hatiku.
"Mas Arif... kok sudah disini" sapaku.
"Sudah lama? sebentar ya, aku ke dalam dulu" lanjutku.
"Barusan saja Rin, silahkan" jawabnya.
Di dalam rumah bertemu dengan Vano yang lagi asyik bermain, kupegang keningnya sudah tidak seberapa panas.
"Anak Bunda sudah sembuh ya" kataku.
"Lumayan Bunda, Bunda kok lama pulangnya?" tanya Vano.
"Bunda harus nyelesaikan pekerjaan Bunda Vano, bunda mandi dulu ya" jawabku.
"Vano ini bunda bawa pesanan Vano, Vano makan sendiri ya..." kataku.
Setelah mandi aku ganti baju gamis berkerudung menggendong Vano menemui Mas Arif yang jelas sudah sangat lama menungguku di ruang tamu, tak tau apa saja yang sedang diobrolkan dengan Bapak.
Memang dulu Mas Arif sering ke rumah ngobrol sama Bapak akrab sekali, beda Bapak dengan Mas Ardi ngomong cuma seperlunya saja, mungkin masih sakit hati dengan apa yang dilakukan padaku.
"Maaf Mas menunggu lama" kataku.
"Vano salam nak sama teman Bunda namanya Om Arif" pintaku dan Vano menjulurkan tangan mungilnya ke Mas Arif.
Bapak berdiri dari duduknya meninggalkan kami.
"Aku masuk dulu dilanjut sama Rinda ya" kata Bapak.
Beberapa saat tidak ada pembicaraan kami diam saja, hanya hati kami yang sedang berbicara, sedangkan Vano sibuk dengan mainanya.
"Rin... ini anakmu? lucu ya" Mas Arif memulai pembicaraan.
"Iya Mas" jawabku pendek.
"Suamimu mana?" tanyanya lagi dan
__ADS_1
aku diam tidak segera menjawab.
"Oh iya...Bapak tadi tidak bercerita tentangku ke Mas Arif?" tanyaku.