Lika-Liku Single Parent

Lika-Liku Single Parent
Sendiri Lagi


__ADS_3

Tak terasa sudah dua minggu Vano di rumah orang tuaku.


"Mas, ayo jemput Vano" kataku ketika Mas Arif sedang membersihkan halaman belakang.


"Iya Rin setelah ini, kamu siap-siap dulu, aku rapikan tanaman ini dulu" kata Mas Arif sambil menggunting cabang tanaman untuk merapikannya.


Aku masuk ke dalam kamar berganti baju dan bersiap menjemput Vano.


Mas Arif juga demikian.


Kemudian berangkat menjemput Vano.


Dalam perjalanan.


"Mas, tadi Mas Deni telpon apa?" tanyaku.


"Masalah cutiku Rin, disana sudah kondusif suasananya, aku sudah dapat tiketnya" jawab Mas Arif.


"Jadi kapan?" tanyaku.


"Nanti malam Rin jam sepuluh" jawab Mas Arif dengan raut muka kecewa.


"Kok mendadak begini sih Mas, terus yang mengantar siapa ke Bandara, sedangkan Ibu masih di Jogja" kataku.


"Pak Dirman juga tidak mungkin kan malam hari" kataku lagi.


"Nanti habis maghrib antarkan aku ke halte dekat dengan stasiun, aku berangkat sendiri" kata Mas Arif.


Aku terdiam mataku sudah berkaca-kaca, seminggu lagi apa gak bisa, batinku.


Aku alihkan pandanganku ke samping dan menghapus titik air mataku dengan jilbabku.


Tak terasa kami sudah sampai di rumah orang tuaku.


Aku turun dari mobil dengan langkah lemas, dan tidak bersemangat.


Vano berlari ke arahku memeluk tubuhku dan menciumiku, rasanya rinduku kepada anakku ini terobati.


"Vano, ayo pulang ke nenek, Ayah nanti malam kembali bekerja" kataku.


Ibu yang mendengar pembicaraanku menyahutinya.


"Kok mendadak Rin, seharusnya kan seminggu lagi"


"Iya Bu, tadi pagi dapat telpon dari temannya juga sudah dapat tiket ke sana" kataku menjelaskan kemudian aku mengambil nafas panjang.


Masa cuti suamiku yang seharusnya minggu depan berakhir hari ini, seminggu saja rasanya berat sekali.


Ya kami menjalani hubungan jarak jauh, yang sangat rentan dengan permasalahan kalau kita tidak bisa menyikapinya, tidak bisa menoreh kenangan di saat kita bersama yang melekat dalam jiwa kami yang menjadikan hubungan diantara kami menjadi erat, walaupun jauh tetap selalu dirindukan, bisa jadi hubungan kita bermasalah, karenanya setiap kita bertemu selalu berusaha saling menyenangkan pasangan.


Kami mengobrol-ngobrol ringan dengan Ibu, karena Bapak dari kemarin ke luar kota untuk diklat, mungkin hari ini perjalanan pulang.


"Bu, sudah jam tiga, Rinda pamit dulu" pamitku ke Ibu.


"Arif hati-hati ya!" pesan Ibu.


"Iya Bu" jawab Mas Arif.

__ADS_1


Kami bertiga melangkah keluar rumah memasuki mobil dan mobil perlahan meninggalkan rumah kedua orang tuaku.


Dalam perjalanan menuju rumah Ibu mertua.


"Rin, makan dulu ya?" tanya Mas Arif.


"Iya Mas" jawabku.


Sampai di rumah makan yang biasa kami kunjungi, memesan makanan tak lama kemudian makanan datang, dan kami menikmati makanan tersebut.


Telpon berdering dari hp suamiku, diambil hp dari tas kecil yang biasa di bawah suamiku.


"Halo, iya bu ada apa?" tanya Mas Arif saat mengangkat telpon


"Siapa?" tanyaku.


"Ibu" jawab Mas Arif.


Mas Arif menerima telpon dari Ibu, aku dan Vano meneruskan makanan kami.


Tak lama kemudian telpon di matikan.


"Ibu ada kabar apa Mas?" tanyaku.


"Besok Ibu pulang, aku sudah mengabari kalau malam ini aku berangkat ke Papua" kata Mas Arif.


"Iya Mas" jawabku.


Kemudian Mas Arif meneruskan makannya, setelah selesai dan membayarnya.


Kami keluar dari rumah makan tersebut menuju ke dalam mobil, menaikinya. Mobil segera meninggalkan rumah makan tersebut dan sampai di rumah.


"Mas ayo sholat bareng" kataku.


Kami melaksanakan sholat berjamaah kemudian menyiapkan sesuatu yang dibawa Mas Arif.


"Rin aku sudah siap, ayo berangkat, sudah hampir jam tujuh" kata Mas Arif.


"Vano, ayo berangkat mengantar Ayah" kataku.


Kami keluar dari rumah, Mas Arif mengeluarkan sepedaku dan aku diboncengnya, Vano berdiri di depan Mas Arif.


Sepeda motor menuju ke halte, perjalanan kami cuma sepuluh menit untuk tiba di sana.


Aku turun dari sepeda kemudian juga dengan Mas Arif, aku memeluk suamiku.


"Hati-hati, jaga hatimu, jaga kesetiaanmu, semoga tiga minggu lagi ada kabar bahagia" kataku pelan saat melepas pelukanku.


Mas Arif tersenyum memandangku, mencium keningku.


"Hati-hati juga selama aku tinggal" katanya pelan.


Mas Arif menghampiri Vano menggendongnya dan menciumi pipinya.


"Ayah berangkat kerja, Vano jadi anak baik ya, jangan bikin Bunda marah" pesan Mas Arif ke Vano.


"Iya Ayah, segera pulang, Vano mau belajar menggambar lagi dengan Ayah" kata Vano penuh harap.

__ADS_1


"Iya pasti Ayah pulang kalau sedang cuti" kata Mas Arif.


Tak terasa air mataku menetes melihat dan mendengar pembicaraan dua lelakiku ini, hubungan Vano dengan Ayah sambungnya sangat dekat, sangat akrab, beda dengan hubungannya dengan ayah kandungnya, andaikan hubungan Vano dengan Ayah kandungnya baik, mungkin hubungan kami akan membaik untuk perkembangan anak, disisi lain Vano mendapat perhatian dari ayah sambungnya, di sisi lain juga mendapat perhatian dari ayah kandungnya.


"Rinda... melamun saja" kata Mas Arif mengagetkanku.


"Eh enggak Mas" kataku.


"Aku berangkat dulu, sudah malam kamu segera pulang, nanti aku kabari" pesan mas Arif setelah kami bersalaman dan berbalik melangkah menyeberangi jalan menuju ke bus antar kota yang sudah ada di sana.


Kulihat dari jauh, suamiku masuk ke dalam mobil, tersenyum memandang kami dan melambaikan tangannya.


Bus yang ditumpangi suamiku segera meninggalkan kami, aku menghidupkan sepeda meninggalkan tempat itu menuju rumah.


Air mataku tak terasa jatuh saat dalam perjalanan.


Kenapa perpisahan yang mendadak ini begitu menyakitkan. Satu bulan satu minggu Mas Arif bersamaku, melepas segala rindu yang telah terpendam selama dua bulan tidak bertemu.


Aku lihat Vano sudah mengantuk, aku perlahan mengendarai sepedaku, dan kami sampai di rumah.


Vano segera masuk ke dalam kamarnya, aku memasukkan sepeda di garasi dan menutup pintu pagar kemudian pintu rumah.


Hmmm sepi sekali rumah ini.


Masuk ke kamar Vano, aku menciuminya dan aku selimuti tubuhnya kemudian keluar dari kamar Vano tak lupa menutup pintunya.


Hpku berbunyi.


Apa Mas Arif yang menelpon? semoga saja, batinku.


Aku ambil hpku, untuk apa lagi ayahnya Vano menelponku jam delapan malam? batinku.


Apa ad hubungannya dengan Rista?


Tapi apa hubungannya denganku?


Pertanyaan demi pertanyaan menghampiri pikiranku, aku pandangi saja hp yang sedang berbunyi, setelah berhenti berdering berbunyi kembali.


Apa ada hal yang sangat penting sehingga dia menelpon berkali-kali?


Coba aku angkat saja.


"Halo Assalamualaikum" sapaku.


"Iya Waalaikum salam" jawab Mas Ardi.


"Ada apa Mas?" tanyaku pelan sambil duduk di kursi ruang tamu.


"Rinda... apa kamu ada waktu? aku ingin bertemu denganmu" kata Mas Ardi mengungkapkan maksudnya menelponku.


"Bicarakanlah di sini saja" usulku.


"Tidak enak, enak langsung bertemu denganmu, aku mohon kamu mau" kata Mas Ardi.


"Kamu tidak dengan Vano gak apa-apa, ada yang perlu aku bicarakan denganmu berhubungan dengan Vano" kata Mas Ardi.


Aku bingung harus menjawab apa.

__ADS_1


"Dalam satu minggu ke depan, hubungi aku lagi, saat ini aku masih sibuk, belum ada waktu" jawabku dan hp aku matikan.


__ADS_2