
"Iya... Vano, Vano mandi dulu sama bunda nanti ayah antar" kata Mas Arif.
"Bunda... ayah tidur lagi" kata Vano.
"Ayo Vano mandi terus berangkat sekolah" kataku dan menggendong Vano ke kamar mandi untuk mandi di bak berisi air hangat.
"Sambil main-main ya Vano, Bunda menyiapkan sarapan" kataku berlalu menuju dapur, di dapur sudah ada ibu yang sedang memasak.
"Rinda bantu ya Bu?" kataku.
"Rin... setelah ini langsung pulang ke sana?" tanya Ibu.
"Kenapa memangnya Bu?" tanyaku.
"Masih kangen sama Vano" kata Ibu.
"Aku juga kangen sama Vano" sahut Bapak.
"Apa Vano hari ini ijin gak sekolah saja ya, biar disini sampai sore" kataku.
"Ya Rin, begitu saja" kata Ibu.
"Vano...hari ini gak sekolah ya, di rumah Mbah uti saja main disini bagaimana?" tanyaku ke Vano.
"Iya bunda" jawab Vano.
Selesai membantu Ibu masak dan merapikan Vano.
"Vano main di sana ya, sambil lihat tv" kataku.
Kemudian aku masuk kamar dan mas Arif masih tidur, aku kunci pintu kamar, kurebahkan tubuhku disamping mas Arif.
"Mas..." panggilku manja.
"Apa Sayang? pingin aku" katanya.
"Pingin apa Mas?" godaku.
"Kepingin dirimu disini" katanya dan memelukku erat, menciumku dengan mesra.
"Mas..." bisikku manja
"Apa" katanya aku tersenyum manja memeluk suamiku menikmati setiap belaianya menikmati syurga dunia di pagi hari.
"Love you istriku" bisik Mas Arif.
"Love you too suamiku" bisikku manja.
"Sayang... " bisik Mas Arif kemudian menciumku.
"Apa sayang?" bisikku lagi.
"Kamu selalu menggairahkan" bisiknya lagi.
"Mau lagi?" bisikku.
Dia menganggukkan kepala menciumku dengan mesra dan kami menikmati syurga dunia lagi.
"Mas... ayo bangun mandi, gak enak sama Ibu kalau di kamar terus" kataku lirih.
"Iya Rin, terima kasih" katanya kemudian bangkit dari tempat tidur.
Setelah mandi, kami sarapan juga Vano, ibu dan bapak sudah sarapan tadi sebelum bapak berangkat mengajar.
__ADS_1
"Bunda Vano mau main ke depan ya?" pinta Vano.
"Iya hati-hati sayang" kataku, kemudian Vano meninggalkan kami.
"Mas... kenapa melihatku begitu?" tanyaku.
"Kamu memang cantik luar dalam istriku" bisiknya.
"Hey... tahan dulu ada ibu nanti dilihat, jadi malu" bisikku
Ketika mas Arif akan mencium bibirku.
"Ayo ke depan Mas" kataku
Kemudian aku meninggalkan meja makan menuju teras rumah untuk duduk-duduk disana sambil melihat orang lewat, terlihat Vano bermain di halaman rumah tetangga, memang disana ada teman sebayanya, Mas Arif duduk di sebelahku.
"Mas... mas ini kenapa sih dari tadi lihat Rinda begitu, malu Mas" kataku lirih.
Dia tersenyum mendengar perkataanku.
"Kalau nanti aku balik ke Papua, bagaimana jika aku merindukanmu Rin?" tanyanya.
"Ya di tahan dulu lah Mas" jawabku.
"Rinda.... sudah sarapan?" kata Ibu dari dalam rumah.
"Sudah bu" jawabku.
"Vano kemana?" tanya Ibu lagi.
"Itu Bu main di depan" kataku.
Kemudian aku keluar rumah menuju rumah tetangga di mana Vano lagi bermain.
"Rin... kabarnya sudah menikah lagi ya?" tanya Bu Dyah.
"Iya Bu" kataku.
"Kok gak rame-rame Rin, ada apa?" tanyanya sambil pegang perutku.
"Nikahan dulu karena suami cutinya sebentar jadi belum bisa mengurus pestanya mungkin dua atau tiga bulan lagi" jawabku.
"Saya permisi dulu Bu Dyah" pamitku.
Dalam hati pasti orang ini mikirnya aku hamil duluan, kan bigos banget dia, kemudian aku menggendong Vano pulang dan masuk ke dalam rumah.
"Bu... tetangga kita ini kok kepo juga bigos gitu ya Bu?" tanyaku ketika bertemu ibu di ruang keluarga.
"Kenapa?" tanya Ibu.
"Ya... begitulah kayak curiga Rinda hamil duluan karena nikah tanpa pesta dan cenderung mendadak" kataku.
"Gak usah di dengerin Rin" kata Mas Arif.
"Nikah salah, jadi janda salah, itulah ibu-ibu kurang kerjaan" kataku jengkel.
"Anggap angin lalu saja Rin, biarlah mereka begitu kan enak dosamu dibagi ke mereka" kata Ibu.
"Ibu ingat dulu waktu Rinda baru cerai, mereka bilang apa ke Rinda, janda muda kata mereka harus hati-hati sama suaminya, khawatir suaminya aku goda, emang aku perempuan apaan, eh segera menikah curiga hamil duluan" kataku kesal.
"Sepertinya kamu tidak cocok Rin tinggal di lingkungan sini" kata Mas Arif.
"Iya mas makan hati terus dengar omongan mereka" kataku.
__ADS_1
"Tinggal di rumah Ibu saja sementara, sebelum aku punya rumah sendiri" kata Mas Arif.
"Gimana bu?" tanyaku ke Ibu minta pertimbangan.
"Ya gak apa-apa Rin" kata Ibu.
Hari menjelang siang, kami tidak kemana-mana hanya di rumah dan ngobrol-ngobrol bersama dengan Mas Arif dan Ibu, Vano seperti biasa bermain dengan mainanya dan melihat acara tv.
"Bu Faris jarang pulang?" tanyaku.
"Katanya sabtu pulang Rin, bawa calonnya?" kata Ibu.
"Ibu sudah kenal?" tanyaku.
"Ya belum Rin, besok sabtu itu mau ke sini mengenalkan ke Ibu Bapakmu" jelas Ibu.
"Gak dikenalin ke Rinda Bu?" tanyaku.
"Lah sabtu kamu kesini apa tidak?" tanya Ibu.
"Kalau aku tidak kesini Faris biar ke rumah Mas Arif" kataku.
"Rin.. kalau mau aku antar kamu kesini jumat sore" kata Mas Arif.
"Iya Mas, aku mau tidur siang dulu" kataku dan berlalu meninggalkan mereka menuju ke kamar Faris.
Sore menjelang malam, aku masih di rumah kedua orang tuaku, masih bermalas-malasan di pembaringan.
"Rin... jadi pulang apa tidak?" tanya Mas Arif
"Iya mas, tapi Rinda masih malas bangun" kataku.
"Minta lagi?" goda Mas Arif.
Aku tersenyum mendengar perkataan suamiku kemudian aku cium lembut bibirnya.
"Mas... hehehe" kataku dan tertawa.
"Kenapa?" tanya Mas Arif.
"Gak kenapa-napa" kataku kemudian membenamkan diri ke dalam pelukanya, serasa nyaman sekali.
"Mas... apa sampai tua kita seperti ini ya?"
tanyaku.
"Mauku begitu Rin, tapi apa kamu masih mau dipeluk kakek-kakek jelek berkeriput he he he" tanya Mas Arif dan tertawa.
"Terus... apa Mas Arif mau juga memeluk nenek-nenek renta yang sudah gak punya gigi, berkeriput kulitnya berambut putih ha ha ha?" tanyaku juga dan kami tertawa bersama.
Kemudian Vano masuk ke kamar.
"Ada apa anak ayah?" tanya Mas Arif.
"Ayah gak pulang ke rumah nenek?" tanya Vano
"Ayo kalau mau pulang, tapi mandi dulu ya" kataku kemudian mencium Vano dan bangun dari pembaringan berjalan ke dapur.
Dapur ibu yang dekat dengan meja makan, terlihat bapak sedang duduk di meja makan.
"Bapak setiap hari pulang sore?" tanyaku.
"Iya Rin, karena hari sabtu minggu libur jadi waktu mengajar Bapak sampai sore" penjelasan Bapak.
__ADS_1
"Jaga kesehatan Pak" kataku sambil menyalakan kompor yang diatasnya sudah ada panci berisi air, kemudian berjalan ke meja makan dan duduk disana bersama Bapak.