
Sebulan kemudian.
Malam hari jam sebelas malam suamiku pulang, dari seminggu yang lalu Ibuku pulang ke rumah karena Bapak sedang tidak enak badan, sedangkan Ibu mertua setelah seminggu di rumah kemudian kembali lagi ke Jogja.
Telpon berdering membangunkan tidurku, aku bangun dan mengambil hp, ada apa Mas Arif malam-malam telpon, batinku.
"Rinda, kamu keluar rumah bukakan pintunya aku sudah di depan ini" kata Mas Arif
Aku langsung meninggalkan hpku di meja nakas dan berjalan ke luar rumah.
Kulihat Mas Arif sudah berdiri di balik pintu pagar, aku buka pintunya dan langsung aku peluk suamiku aku ciumi pipinya, demikian juga dengan suamiku peluk cium diriku dan terakhir mengusap dan mencium perutku yang membuncit.
Aku tersenyum memandang suamiku, rasanya senang sekali bertemu dengannya.
"Ayo masuk dulu, kamu tadi sudah tidur?" tanya Mas Arif menggandengku masuk ke rumah setelah mengunci pintu pagar dan pintu rumah.
"Tiga bulan tidak bertemu istriku," kata suamiku kemudian memelukku kembali dan melepaskanku.
Mas Arif melangkah ke kamar Vano aku mengikutinya dari belakang, dia mencium Vano dengan lembut kemudian keluar lagi.
"Mas, cuci tangan kaki muka dulu terus berganti baju baru kita bersantai." Pintaku.
"Iya sebentar," kata Mas Arif sambil membawa tas ransel masuk ke dalam kamar kemudian menaruh tas di lantai, melepas jaket dan topinya dan masuk ke kamar mandi.
Keluar kamar mandi berganti baju, dan aku memeluknya dari belakang.
"Kangen Mas." Bisikku.
Mas Arif membalikan tubuhnya, mengusap perutku dan menciumnya.
"Ayah pulang nak." Bisik Mas Arif.
Aku tersenyum melihat tingkahnya dan mengusap rambutnya.
"Ayo istirahat sayang." Ajak Mas Arif.
Kami menuju ke tempat tidur dan merebahkan tubuhku di samping Mas Arif.
Aku memandangnya dan tersenyum.
"Mas pulang kok gak bilang-bilang?" tanyaku.
"Mau buat kejutan," jawab Mas Arif dan tersenyum lalu tertawa, "He he he."
"Rin, kamu hamil kok kelihatan cantik sekali ya, beda sebelumnya, apa perempuan anak kita?" tanya Mas Arif.
"Aku pasrah saja Mas, diberi laki atau perempuan," jawabku.
"Iya aku juga, yang penting kamu dan anak kita selamat," kata suamiku
__ADS_1
"Kamu kapan kontrol lagi?"
"Besok Mas," jawabku.
"Rin." Panggil Mas Arif kemudian mendekatkan wajahnya ke wajahku dan kami berciuman kemudian melepasnya kembali.
Aku tersenyum memandang wajah suamiku demikian juga dengannya, aku benamkan wajahku ke dalam pelukannya hingga aku mendengar irama detak jantungnya.
"Rin, bisa bercinta tidak, bahaya enggak untuk anak kita? dulu kan masih sebulan, lah ini sudah empat bulan." Bisiknya.
"Aku gak tau Mas, tau sendiri lah dulu seperti apa aku sama mantanku," jawabku.
"Besok tanya sama dokternya ya." Usul suamiku.
"Mas ya yang tanya, kalau Rinda ya malu," kataku tersipu malu.
"Sudah, ayo tidur, sini aku peluk, tiga bulan meluk guling saja di sana," katanya sambil memeluk tubuhku.
"Mas gak bisa dekat seperti dulu ya, ini terganjal perutku, he he he," kataku dan tertawa.
"He he he," kami tertawa bersama.
"Ayo tidur," ajak Mas Arif.
Waktu menunjukkan pukul 12 malam, kami terlelap dalam tidur saling berpelukan.
Keesokan harinya, aku bangun terlebih dahulu kemudian melaksanakan sholat subuh, Mas Arif aku bangunkan untuk menjadi imamku kemudian dia tidur kembali.
Ya pesan dengan nomer tidak tersimpan namanya di kontak hp.
"Astaghfirullah." Gumamku.
Kulihat ada foto perempuan setengah telanjang dengan tulisan pesannya, Rif kamu beneran tidak menginginkan tubuhku seperti dulu.
Tanganku gemetar, jantungku berdetak lebih kencang, dalam hatiku siapa dia.
Aku letakkan kembali hp Mas Arif dan aku mengambil minum kemudian menghela nafas panjang, berusaha untuk menenangkan diri.
Setelah agak tenang aku kembali menuju ke kamarku, kulihat suamiku masih pulas tidurnya.
Dasar laki-laki, tidak punya hati, bilang setia, bilang cinta, nyatanya masih juga menikmati perempuan lain, batinku.
Kenapa pula perutku kencang begini, aku usap-usap perutku, nak kamu tidak terima ya Bundamu marah sama Ayahmu, batinku.
Tak lama kemudian perutku sudah enakan.
Aku ambil hp suamiku kembali dan memegangnya, aku penasaran siapa perempuan itu? apa aku telpon saja, kalau nunggu penjelasanya, bisa jadi dia bohong, batinku.
Aku buka crome dari hp Mas Arif dan aku tulis wa web kemudian aku ambil hpku untuk scan barkote, sudah selesai aku sadap, batinku.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian no hp tersebut menelpon, aku segera membawa hp ke belakang rumah dan mengangkatnya, aku diam saja tidak ingin memulai bicara.
"Rif, sudah lihat foto tadi? aku masih sexy kan? ayo kapan kita bisa bercinta kembali? Aku tunggu di Timika tempat kita bertemu kapan hari," kata perempuan itu tadi.
Pikiranku sudah kemana-mana, sudah membayangkan suamiku meniduri perempuan itu tadi.
"Rif, Arif." Panggil perempuan itu tadi.
Aku langsung menutup telponnya duduk lemas di kursi taman belakang rumah.
Tak terasa air mataku mengalir dari pipiku, Ya Allah apa sebegitu mudahnya suamiku tergoda dengan perempuan yang lebih mahal paha ayam? kata hatiku.
Sambil mengusap perutku aku bergumam, "Yang sabar ya sayang."
Tanpa kusadari Mas Arif duduk di sampingku dan mengusap air mataku.
"Rin... ada apa?" tanyanya.
"Kenapa kamu membawa hpku?" tanyanya kembali.
"Tanya sendiri sama hati nuranimu, Mas sudah ngapain saja di sana? bilang menjaga pernikahan kita tapi apa? tidur dengan perempuan lain." Aku mulai marah-marah.
"Rinda... maksudmu apa?" tanya Mas Arif dengan wajah kebingungan.
"Pikir sendiri, mentang-mentang istri hamil tidak sexy lagi, Mas seenaknya saja main perempuan, kamu bayar berapa perempuan itu?" omelku.
"Perempuan apa sih?" tanya Mas Arif masih bingung.
Aku berjalan masuk ke dalam rumah dan menuju ke kamarku, aku ambil tas ku dan aku mulai memasukkan beberapa baju ke dalam tasku.
Mas Arif duduk di pinggir pembaringan menatapku dengan wajah sedih.
Kemudian menghampiriku memelukku.
"Lepaskan pelukanmu," kataku.
"Peluk saja perempuan itu," kataku kembali.
"Rin... ceritalah ada apa?" tanya Mas Arif lagi.
"Gak usah cerita, kamu tanya sama hatimu sendiri, kamu ngapain saja di sana? apa kamu tidak memikirkanku juga anakmu ini saat berbuat begitu?" tanyaku sambil menunjukkan perutku yang buncit.
"Rinda, aku ini baru pulang semalam, pagi-pagi kamu sudah marah-marah begini, ada apa dengan hpku?" tanya Mas Arif.
"Mana hpku!" Pinta Mas Arif.
"Gak usah, mau aku buang," jawabku jengkel.
"Aku mau pulang sekarang, aku bisa pulang sendiri," kataku masih emosi.
__ADS_1
"Rinda... duduklah dulu, aku mohon Rin, kamu cerita, ada apa dengan hpku itu" kata Mas Arif memohon.