Lika-Liku Single Parent

Lika-Liku Single Parent
Di Rumah Saja


__ADS_3

Melihat tanaman di teras rumah tante hatiku menjadi tenang, dari kemarin sore mas Arif betul-betul mengaduk emosiku, untung saja Vano tidak memahami.


"Rin... apa yang kamu pikirkan?" tanya mas Arif dengan suara pelan


"Mikirkan mau beli grendel untuk nutup pintu kamarku" kataku jutek


"He he he, bidadariku... semakin kamu marah semakin menggemaskan" katanya sambil tertawa


"Di pasang grendel?" tanyanya


"Iya, biar gak ada maling masuk terus seenaknya tidur di belakangku" kataku


"Rin... "katanya sambil tersenyum memandangku


"Apa lihat-lihat" kataku


"He he he kamu makin lucu menggemaskan Rin" katanya sambil tertawa dan meremas pipiku


"Aduh, sakit tau" kataku


"Aku janji gak masuk ke kamarmu lagi" katanya


"Janjimu semanis madu, tapi entah terlaksana atau tidak" kataku


Mas Arif tertawa mendengar ucapanku


"Oh ya..Vano ngapain mas?" tanyaku


"Asyik lihat tv sambil tidur-tiduran di karpet, gak mau diganggu lihat tv nya, makanya aku ke sini" katanya


Halaman depan dan belakang rumah ini cukup luas untuk ukuran perumahan, enak bersantai di depan maupun di belakang rumah, di lantai bawah penataan tanpa sekat jadi terlihat luas rumahnya, nanti kalau punya rumah sendiri pingin konsep seperti ini batinku


"Rin... kamu kenapa kok diam melamun saja, aku yang disampingmu tidak kamu hiraukan" kata mas Arif mengejutkan lamunanku


"Lihat bunga tante Rinda, hati jadi tenang mas, kalau punya rumah pingin punya halaman luas untuk ditanami banyak tanaman" kataku


"Yang membersihkan siapa?" tanyanya


"Ya aku mas?" kataku


"Gak capek?" tanyanya


"Ya enggak lah, kalau mas pulang ya bantu aku membersihkanya


"Mas, Vano kok gak terdengar suaranya?" kataku kemudian berdiri berjalan menghampiri Vano

__ADS_1


"Sudah tidur dia mas" kataku


"Biarkan mas tidur disitu, jangan dipindah ke kamar" kataku ketika mas Arif akan mengangkat tubuh Vano


"Rinda... kita ngomong bahasa orang dewasa, kamu jangan marah atau tersinggung, jujur Rin aku sudah tidak tahan setiap kali melihatmu, kita nikah sirih dulu ya?" katanya


"Enak di mas gak enak di aku" jawabku


"Sama-sama enak lah Rin" kata mas Arif


"Sudah berapa lama kamu tidak disentuh laki-laki?" tanya mas Arif


"Mas pikir aku ini perempuan apa? yang menyentuhku ya mantanku ketika masih jadi suami" kataku


"Kapan itu?" tanyanya serius


"Sudah lama sudah lupa mas, aku pisah rumah itu dua tahun kemudian aku mengajukan gugatan cerai proses tiga bulan, terus ketemu mas baru sebulan berarti dua tahun setengahan itu mas" kataku sambil mengingat-ingat, sebenarnya sih cuma sekali saja begituan itupun diperkosa, batinku


"Kamu bisa tahan Rin" tanya nya


"Loh fungsi ada agama apa mas?" jawabku


"Rin... ayolah nikah siri ya? ini menyiksaku terus, pusing aku Rin" katanya


"Awas ya nanti kalau sudah nikah, kamu minta terus" katanya


"Ya itu kewajibanmu juga memberi nafkah batin pada istri" jawabku


"Gak ada titik temunya Rin ngomong ini ke kamu, nanti aku bilang sama ibu juga bapakmu biar segera menikahkan kita" katanya


"Kamu lihat ini, loh... tegang kan padahal kita jauhan duduknya, kamu gak kasihan apa sama aku" katanya lagi sambil menunjukkan celananya


"He he he, urusanmu" kataku tertawa sambil merubah chanel tv


"Ini kita di rumah berdua loh Rin" katanya


"Mau apa memangnya, berani macam-macam, awas..." kataku lagi


"Mas aku pulang saja, daripada aku disini mau dimakan harimau buas" kataku lagi


"Apa... kamu bilang? aku harimau buas?" kata mas Arif


Tak lama kemudian hp Arif berbunyi, Arif masuk ke kamar mengambil hp nya, Deni yang menelpon, speaker suaranya aku aktifkan jadi Rinda biar mendengar pembicaraanya


"Ada apa den?" kataku

__ADS_1


"Gak ada apa-apa cuma memastikan kawanku ini, baik-baik saja kah di jawa" katanya


"Aku baik-baik saja Den, tapi pusing kepalaku" kataku


"Kenapa? punya uang banyak kok pusing" katanya


"Pusing sama bidadariku" katanku pelan


"Ha ha ha ha pasti di omel ya? ketika kamu inginkan dirinya" katanya


"Iya, ini dia disampingku" kataku


"Sudah dilanjut dulu Rif, silahkan menahan pusing di kepalamu ya hahaha" katanya dan ditutup telponnya


"Ngomongin aku ya" kataku


"He he he iya" jawabnya sambil tertawa


"Hey... jangan dekat-dekat banyak magnet di tubuhmu" kataku ketika mas Arif mencoba mendekatiku


"Awas ya... enam bulan lagi, tapi lamanya.... " katanya


"Rin kamu kelihatan mengantuk ya?" tanyanya


"Enggak enggak ngantuk aku" jawabku sambil membuka mata lebih lebar, padahal sebenarnya ngantuk, aku rebahkan tubuhku di sofa, mulai menguap


"Mas... jam berapa aku mas antar pulang?" kataku


"Aku pulang sendiri ya? kataku lagi dan tertidur di sofa


*****


Melihat Rinda tertidur di sofa, dan Vano tidur di karpet, anak dan ibu sama-sama doyan tidur batinku, hmmm... kenapa bajumu tersingkap, Rinda...Rinda... beneran kamu ini membuatku perang batin, aku melangkah masuk kamar mengambil selimut kututupi kaki Rinda yang sedikit terbuka ke atas, kucium pipi Rinda dengan pelan, pumpung tidur kalau bangun hmmm, setelah itu Vano juga aku cium, anak ibu ini sungguh menggemaskan, mereka yang mengisi hatiku saat ini.


Kulangkahkan kakiku keluar kututup pintu rumah dan pintu pagar dari luar, membawa sepeda Rinda keluar rumah, mending keluar rumah daripada di dalam rumah bener-bener ini tidak bisa diajak kompromi, tegang saja.


Berhenti di sebuah rumah makan, memesan beberapa makanan dan membawa pulang, sampai di rumah masih sepi berarti belum bangun mereka, kubuka pintu pagar kumasukkan sepeda dan membuka pintu rumah, benar ternyata mereka masih tidur seperti semula, kuletakkan makanan di meja makan dan kupindah ke beberapa wadah kemudian kututup dengan tudung saji, dan aku berjalan ke kamarku kurebahkan tubuhku, Ya Allah begitu susahnya menahan nafsu ini batinku, kalau aku antar pulang aku di rumah sendiri sepi, tapi kalau disini kenapa dia tegang terus, hmmm, kenapa kamu tidak bisa bekerja sama denganku batin Arif


baru kali ini bertemu perempuan yang kuat menjaga harga dirinya, walaupun dia janda tapi bener-bener beda, Ya Allah terima kasih engkau pertemukan aku dengan Rinda.


Waktu menunjukkan jam 13:00 mereka bertiga di rumah masih lelap dengan tidurnya di tempat yang berbeda


"Bunda... susu" kata Vano membangunkan Rinda, membuka mata dan melihat ada selimut di tubuhnya melangkah ke kamar mengambil susu untuk Vano, mas Arif kemana ya? batinku dan memberi susu ke Vano, menerima susu dariku meminumnya dan tidur lagi


Pintu kamar mas Arif tertutup apa dia tidur di dalam? kulangkahkan kakiku ke kamar mas Arif, membuka pintu kamar tidak terkunci, ternyata mas Arif sudah tidur, kulihat dari pintu, maaf mas, aku menyiksamu terus, tapi sabarlah... nanti pada waktunya pasti aku beri, sebentar lagi hubungan kita sudah halal mas, aku sayang mas Arif, batinku

__ADS_1


__ADS_2