Lika-Liku Single Parent

Lika-Liku Single Parent
Romantisnya


__ADS_3

"Bentar Rin aku telpon kantor" kata Mas Arif.


tak lama kemudian Mas Arif mengambil hp nya dan menelpon kantornya menanyakan tentang cuti pernikahan kami, ku buka pintu yang menuju balkon, aku duduk di kursi melihat laut terhampar luas, di bawah ada jalan dan taman yang di bangun hotel ini.


Angin laut mengibaskan rambutku menutupi wajahku, ketika pandanganku menikmati luasnya laut, dan sesekali terlihat kapal nelayan yang mencari ikan Mas Arif duduk di kursi sebelahku.


"Suka Rin?" tanyanya.


"Iya Mas" jawabku sambil menyandarkan kepalaku di pundaknya.


"Mas... terima kasih" kata ku lagi.


"Rin... aku dapat tambahan cuti dua minggu, jadi cutiku masih tiga minggu lagi" kata mas Arif.


"Alhamdulillah... aku bisa lebih lama bersama suamiku" kataku dengan gembira.


"Rin... aku sebenarnya ingin membawamu ke Mimika disana sudah ada tempat tinggal untuk kita, kalau aku tinggal kamu di sini aku khawatir ada apa-apa denganmu dan Vano" kata Mas Arif.


"Mas... aku juga bingung" kataku.


"Rin..." kata Mas Arif kemudian berdiri dan mengajakku berdiri kami saling berpelukan.


"Sayang... aku lebih tenang kamu dan Vano berada di sampingku" bisiknya.


"Ayo masuk ke dalam saja Rin, panas di sini!" ajak Mas Arif sambil menggendongku masuk ke kamar dan merebahkan tubuhku di kasur.


"Rin... aku ingin menikmati setiap waktu bersamamu bersama Vano juga" bisiknya dan menciumku.


"Yapi...." kataku, sebelum melanjutkan bicaraku dipotong oleh mas Arif.


"Tapi apa? masih mau diganggu mantanmu, masih mau di ganggu Andi" kata Mas Arif dengan nada yang tidak mengenakan.


"Mas... sudah jangan bicara tentang ini, Mas sudah sewa hotel mahal ini, apa untuk kita bertengkar? rugi Mas, lebih baik kita menikmati keromantisan ini" kataku lirih.


Dan mencium bibir suamiku, berharap tidak ada kekecewaan lagi, aku tau dalam hatinya ingin aku meninggalkan kota ini, di sini ada mantanku yang tidak dia suka, tapi bagaimanapun dia juga ayahnya Vano, dia mau menikahiku seorang janda konsekuensinya juga menerima masa laluku, walaupun masa laluku penuh dengan luka batinku.


Dan aku masih terus menikmati ciuman kami


"Rin... i love you my wife" bisiknya.


"Love you too my hubby" kataku lirih.


Kami melepas ciuman kami, saling memandang dan tersenyum kemudian kami saling berpelukan.


"Sebentar aku mau turun ke bawa mengambil tas di bagasi" kata Mas Arif.


"Aku ikut Mas" kataku kemudian mengambil jilbab dan ikut turun ke bawa mengikuti Mas Arif.


Sampai di mobil, Mas Arif membuka bagasi dan mengambil koper.


"Loh kapan Mas Arif nyiapkan koper ini?" tanyaku heran.

__ADS_1


"Ya semalam sayang, saat kamu tidur" katanya.


"Oh..." kataku terpaku.


"Kamu kalau tidur nyenyak sekali" kata Mas Arif.


"Capek mas setelah perbuatan Mas" kataku sambil tersenyum manja.


"Tapi kan enak, dan minta lagi he he he" kata Mas Arif sambil mencubit pipiku.


"Mas... ayo ke sana" kataku menunjuk warung bakso.


"mau beli bakso di sana?" tanya mas Arif, aku menganggukkan kepala, dan mas Arif memasukkan koper ke bagasi lagi mengunci mobil, memeluk pingganggku berjalan menuju warung bakso


"Rin... begini ya kalau kita cari waktu berdua hehehe" bisik mas Arif dan tertawa


"kenapa? nyesel ya nikah sama janda punya anak?" kataku


"ya enggak lah sayang, jangan marah" rayunya


"terus..." kataku


"kamu kan janda rasa perawan" katanya lagi


aku mendengarnya hanya memanyunkan mulutku


"hey... lagi..lagi..." goda mas Arif


Sampai di warung bakso


"Pak pesan bakso beranak dua, sama es kelapa dua" kata mas Arif


"bakso beranak hehehe, gak hanya manusia ya yang beranak tapi bakso juga" kataku berbisik dan tertawa


"nantinya kamu yang harus beranak untukku" bisik mas Arif, aku tersenyum malu


tak lama kemudian es kelapa dibawa ke kami kemudian bakso beranak


"oh... jadi di dalam bakso ada bakso kecil-kecil ada telur burung puyuh juga mas" kataku


"suka rasanya aku Rin, enak" kata mas Arif


setelah kami makan bakso, kemudian membayarnya dan kembali ke kamar hotel memadu kasih menikmati keromantisan tanpa gangguan Vano hehehe


Dalam kamar hotel yang tadinya rapi sekarang sudah berantakan, terlihat dua anak manusia tertidur pulas saling memeluk, suara alarm dari hp Arif terdengar keras dan membangunkan si empunya, jam dua lebih seperempat waktunya menjemput Vano, akhirnya Arif bangun berganti baju meninggalkan Arinda sendiri tertidur pulas di kamar, setelah mengunci pintu hotel Arif turun tangga menuju ke mobilnya berniat untuk menjemput Vano dan di bawah ke hotel lagi.


Ketika Rinda bangun tidak ditemukan suaminya di sampingnya, mungkin menjemput Vano, tidur lagi saja, nanti malam pasti berbuat lagi, batinku.


Tak lama kemudian mas Arif dan Vano datang, aku sudah mandi keramas dan sholat ashar


"bunda... kita di rumah siapa?" tanya Vano

__ADS_1


"ini hotel Vano" jawabku


"hotel? apa itu?" tanyanya lagi


"hotel itu tempat untuk menginap Vano, jadi kalau menginap di hotel harus membayar?" jelas mas Arif


"bunda... ada kapal di sana" teriak Vano sambil menunjuk arah laut.


Matahari mulai terbenam, terlihat semburat merah kekuningan dari arah barat, Vano melihat acara tv di kamar hotel, aku dan mas Arif berdiri menatap matahari terbenam, mas Arif memelukku dari belakang


"mas... " kataku dan menoleh mendongakkan kepala memandang wajah suamiku, kemudian berbalik menghadap suamiku dan memeluknya, menyandarkan kepala ini di dadanya


"apa sayang" katanya dan mencium keningku


"makasih my hubby, dari dulu tidak pernah berubah perhatian, dan kejutanmu untukku" kataku


"semua yang aku lakukan karena bidadariku yang selalu membuatku rindu, rindu semua yang ada di dirimu, dulu... aku merindukan kemanjaanmu, kecerewetanmu, dan ngambekmu, sekarang ditambah rindu bercinta denganmu" katanya


"ah.. mas Arif" kataku manja


"sayang... ayo jalan-jalan di bawah, Vano pasti suka" kata mas Arif


aku mengangguk dan mengikuti mas Arif kemudian keluar dari kamar hotel dan menguncinya, mas Arif menggendong Vano, tangan satunya memegang tanganku.


Setelah jalan-jalan di sekitaran hotel dan makan, kami kembali ke kamar, Vano terlihat sudah mengantuk.


Malam menjelang tinggal kami berdua


"apa mas...?" tanyaku menggoda suamiku


"pingin sayang" kata mas Arif kemudian memelukku


"hustt... jangan berisik, ada Vano" bisikku, mas Arif tersenyum kemudian bangun dari tempat tidur


"tunggu di sini dulu sayang" katanya dan keluar dari kamar hotel tak lama kemudian mas Arif kembali dengan petugas yang membawa kasur tambahan


"terima kasih mas" kata mas Arif ke petugas


"ayo... " kata mas Arif menyuruhku turun dan tidur di kasur tambahan


"ada saja ide mas Arif ini" kataku


"iya lah, untuk memuaskan istriku" bisiknya


"memuaskanku atau memuaskanmu" godaku


"saling memuaskan hehehe" katanya menggoda


"istriku... kamu memang menggoda dan membuatku rindu rasa nikmat ini" bisiknya lagi


"i love you istriku, tubuh dan hatimu untukku jangan beri pada lelaki lain" bisiknya lagi, aku mengangguk mencium suamiku, kami saling menikmati, saling memuaskan sampai lelah dan tertidur 😍

__ADS_1


__ADS_2